Titisan Naga

Titisan Naga
Bab 21. Sarlita Angel


__ADS_3

Ario mengernyitkan dahinya, ditatapnya seorang gadis yang melangkah keluar dari ruang personalia. Gadis muda yang dia perkiraan masih seumuran dengan Derrick ataupun Leo. Yang menjadi fokusnya adalah tujuan gadis itu datang, setahunya hingga detik ini perusahaan belum membuka lowongan di bagian manapun.


"Apa aku melewatkan sesuatu?" Pikirnya seraya melangkah menuju ruangannya yang berada di lantai 4.


Sesampainya diruangan Ario segera menghubungi bagian personalia. Tidak mungkin dia sampai tak tahu mengenai perekrutan karyawan jika tak ada sesuatu dibelakangnya.


"Siang, tuan."


"Siang Pak Adam, boleh saya bertanya sesuatu?"


"Si.. silakan tuan."


Lelaki yang dipanggil Adam tersebut nampak gugup. Meski hanya sebagai asisten, namun eksistensi Ario membuat para karyawan ketar ketir jika sudah berurusan dengannya. Sikap dingin dan setia pemuda itu membuat semua orang menciut seketika jika berhadapan dengannya. Tatapan bola matanya yang berwarna hijau itu nampak menyeramkan.


"Gadis tadi ada perlu apa? apa ada perekrutan karyawan tanpa sepengetahuan dariku?" Tanyanya tanpa basa basi.


"Itu nona Sarlita Anggi tuan. Beliau adalah anak dari tuan Gio. Dan atas rekomendasi beliau juga, nona Lita diminta untuk membantunya." Ucap Pak Adam sedikit terbata.


"Tuan Gio?"


"Benar tuan, tuan Gio meminta nona Lita untuk menggantikan sekretarisnya yang tiba-tiba berhenti untuk membantunya."


Ario menganggukan kepalanya, pemuda itu menampilkan seringaian tajam di ujung bibirnya. Tingkat kepekaan dalam dirinya memang tinggi, namun Ario mempunyai kelemahan. Dirinya tak akan bisa membaca apa yang akan terjadi kedepannya.


"Baiklah. Terimakasih, pak. Silakan lanjutkan pekerjaannya." Ario menutup panggilannya, dia kembali menyeringai dengan mata yang berkilat tajam.


"Bukannya sadar, dia ingin kembali berulah rupanya. Aku ingin melihat sebenarnya dia mau apa?" Lirihnya pelan.


Ario menjentikkan jarinya dan pintu ruangannya terkunci sempurna, setelahnya dia menuju ruang Derrick dan Leo berada. Dengan santai Ario melangkah karena memang keberadaan nya tak akan ada yang mengetahui.

__ADS_1


"Apa aku periksa ke ruangannya saja ya? sepertinya menarik."


Ario benar-benar memutar langkahnya, dengan langkah pasti dirinya masuk ke dalam ruangan dimana Gio berada. Ario memilih berdiri di sudut ruangan dengan menyandarkan bayangannya ke meja kecil yang terdapat disana.


"Cantik. Tapi sayang dia menjadi anak orang licik itu."


Masih bergumam sendiri sambil menatap Sarlita yang sedang memainkan ponselnya di sana. Gadis itu nampak tak bergeming sedangkan sang ayah sepertinya sedang menelfon seseorang yang entah siapa.


Sarlita menoleh setelah dirasa sang ayah telah selesai dengan kepentingannya. Gadis itu mendongak sebentar sebelum kembali menatap ke arah ponselnya.


"Jadi, apa yang harus aku lakukan setelah ini, papa?" Ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya.


"Tetaplah disini bantu papa, sambil mencari kesempatan untuk bisa mendekatinya."


"Aku penasaran, seperti apa dia hingga membuat papa kelimpungan seperti ini. Bukankah dia masih muda?" Sarlita meletakkan benda pipih kesayangannya diatas meja. Gadis itu beralih menatap lekat sang papa yang duduk di hadapannya kini.


"Dia pemuda biasa saja, tampan yang jelas dan papa yakin kamu bisa membuatnya takluk. Bukan masalah karena dia masih muda papa tak bisa melawannya, tapi kekuasaannya yang tak bisa papa tentang." Pria paruh baya tersebut menarik nafas dalam.


"Baiklah, serahkan padaku pa. Jangan kan satu, aku bahkan yakin bisa menaklukkan ke tiganya sekaligus. Dan pada saat itu, papa harus menepati janji papa untuk memberikan seluruh salon atas namaku." Sarlita mengerlingkan matanya.


"Apapun sayang, asal kau berhasil maka semua akan menjadi milik papa. Dan itu artinya kamu juga berhak atas semua itu."


"Baiklah. Sekarang aku mau pergi dulu, besok aku akan mulai bekerja. Hari ini aku akan memanjakan diriku dulu, dada papa."


Sarlita melenggang keluar dari ruangan sang papa. Dengan langkah angkuh dia berjalan keluar dari perusahaan dan mengendarai mobilnya menuju sebuah mall.


Sementara Ario yang sedari tadi menyaksikan interaksi ke duanya hanya menggelengkan kepalanya. Namun senyum tipis kembali tersungging di bibirnya.


"Waktunya untuk bermain, sepertinya akan seru. Aku akan meminta pangeran untuk mengikuti permainan yang direncanakan oleh Sarlita nantinya. Seperti akan menarik." Pemuda jelmaan ular hijau tersebut meninggalkan ruangan Gio dan melanjutkan langkahnya semula untuk bertemu dengan Derrick.

__ADS_1


Gio yang masih berada di tempatnya mengusap pelan tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin oleh hembusan angin padahal dirinya tak membuka jendela. Hanya ada ac yang menyala namun hembusannya terasa lebih kencang dari biasanya.


Tak ingin ambil pusing, pria paruh baya tersebut memilih menghidupkan cerutunya menghisap benda bernikotin tersebut dalam dalam guna membuat pikirannya lebih tenang.


*


*


*


Arsen tertawa terbahak ketika mendapati Arcila melompat tinggi bahkan gadis cantiknya tersebut sedang berada diatas sofa saat ini. Keduanya yang sedang bercengkrama di ruang tengah di kejutkan dengan kehadiran dua ekor tikus yang sedang berkejaran.


Arcila yang kaget bercampur geli sontak melompat ke atas sofa. Dada gadis itu naik turun dengan nafas yang sedikit memburu.


Dua orang yang pengawal yang merangkap sebagai petugas keamanan rumah tersebut segera masuk untuk memastikan apa yang terjadi mengingat teriakan Arcila cukup kencang terdengar.


"Hahaha, aduh maaf om. Tidak ada apa apa, hanya saja tadi ada tikus yang masuk membuat Cila kaget." Arsen yang masih berusaha meredakan tawanya segera berujar pelan kepada kedua orang yang dipercaya oleh mendiang sang ayah untuk menjaganya.


"Kami permisi kembali kalau begitu, Den."


"Silakan Om, sekali lagi kami minta maaf membuat om berdua kaget."


Keduanya mengangguk sebelum melangkah meninggalkan ruang tengah dimana Arcila memicingkan matanya dengan bibir yang mengerucut sebal ke arah Arsen.


Gadis cantik yang kesehariannya kini lebih banyak menggunakan wig dan juga softlens itu melipat ke dua tangannya depan dada dengan bibir yang mencebik kesal.


"Sayang, maaf. Aku hanya tak habis pikir, bukankah kalian tak akan takut dengan hewan kecil itu?"


"Itukan karena aku bukan seperti kak Derrick yang memang asli, aku hanya titisan yang hanya memiliki sedikit kemampuan dari ayah. Jadi wajar saja jika aku takut. Kakak jahat, sudah tahu aku ketakutan bukannya menolong tapi malah menertawakanku."

__ADS_1


Arsen merangsek mendekat dan menarik gadisnya ke dalam pelukan. Diciuminya pucuk kepala gadis itu penuh sayang.


__ADS_2