
Derrick bergegas keluar dari ruangannya diikuti oleh Leo yang selalu mengekor di belakangnya. Keduanya memasuki lift khusus untuk segera sampai ke basement dimana Ario tengah menunggu mereka.
Ada pertemuan dengan seorang klien yang berasal dari luar negri. Derrick memperhatikan penampilannya di dinding lift. Pemuda tampan dengan bola mata hitamnya yang tajam itu tersenyum simpul. Merasa lucu dengan tingkahnya saat ini.
Dia yang telah banyak bergaul dengan manusia membuat dirinya sering meniru kebiasaan mereka. Awalnya dia lakukan hanya demi menutupi identitas aslinya, namun kelamaan semua menjadi kebiasaan yang terkadang membuatnya menjadi bahan ledekan Leo dan Ario.
"Jangan tertawa, aku hanya ingin memastikan jika penampilan ku sudah menyakinkan." Ucapnya kala ekor matanya menangkap Leo yang sedang mengulum senyum di belakangnya.
Pemuda itu hanya menaikkan bahunya acuh membuat Derrick mendengus kesal.
Tak lama pintu lift terbuka dengan menampilkan seorang gadis cantik yang masuk ke dalamnya. Baik Derrick maupun Leo mengernyitkan dahi, pasalnya mereka saat ini berada di lift khusus yang hanya orang-orang tertentu saja di perbolehkan untuk menaikinya. Namun keduanya bergeming dan memilih tak peduli.
Sementara gadis yang baru saja masuk mengulum senyum di ujung bibirnya. Satu langkah lagi maka apa yang direncanakannya akan segera berhasil.
Lift berhenti ketika telah sampai di basement. Terlihat Ario tengah memicingkan matanya menatap kearah pintu lift yang terbuka dengan menampilkan wajah Derrick bersama Leo. Namun matanya menajam kala melihat sosok yang juga keluar dari dalam kotak besi tersebut.
Seorang gadis dengan dandanan modis seorang sekertaris berusaha menyamakan langkah dengan kedua pemuda tampan tersebut.
Ario tergelak pelan, bergumam pelan sebelum kemudian kembali menatap ke arah Derrick yang menuju ke arahnya.
"Kita berangkat, kak."
"Ya, tiga puluh menit lagi pertemuan dimulai. Kita harus bergegas." Ario berujar dengan langkah kakinya yang terayun menuju mobil yang telah disiapkan untuk mereka.
__ADS_1
Nampak dari ekor matanya dia melihat Sarlita mengikuti mereka secara perlahan. Sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil, Ario berbisik pelan pada Leo yang dengan segera mengangguk. Leo memutar setir mobil dengan perlahan meninggalkan perusahaan.
Sementara Ario dan Derrick nampak tersenyum menatap mobil Sarlita yang melaju tak jauh dari mobil yang dikendarai Leo.
Ario dan Derrick naik ke dalam mobil lainnya dan melanjutkan perjalanan ke tempat pertemuan.
"Apa dia orangnya?"
"Ya, dia adalah putrinya yang ku ceritakan kemarin. Entah apa yang mereka rencanakan, namun aku yakin sasarannya adalah diantara kita ber tiga. Tapi kemungkinan terbesar adalah pangeran. Dia dan ayahnya mengincar harta peninggalan nyonya dan waktu itu secara terang-terangan yang mulia Gara mengatakan jika semua harta atas namanya jatuh ke tangan pangeran dan putri. Mereka menganggap putri telah tiada saat ini, jadi pangeran adalah satu satunya target yang sedang mereka buru."
"Tapi aku merasakan sesuatu yang aneh pada gadis itu, kak."
"Apa? jangan bilang kau tertarik padanya."
"Anehnya aku tak dapat melihatnya dengan mata batinku, kak. Ada kekuatan yang menghalangi penglihatanku, tapi itu bukan ancaman buatku. Atau jangan jangan.."
Derrick dan Ario saling pandang, mereka yakin dengan apa yang mereka mikirkan adalah hal yang sama. Namun mereka harus menyudahi pembicaraan ketika mobil yang mereka kendarai telah memasuki halaman parkir restoran yang mereka tuju.
Sementara itu Sarlita nampak begitu kesal karena merasa dipermainkan. Dia yang telah mengikuti mobil yang di tumpangi Derrick harus kehilangan jejak setelah terjebak lampu lalu lintas. Gadis itu mengumpat kesal seraya memutar balik mobilnya kembali ke perusahaan.
"Si@lan, sedikit lagi padahal aku bisa mengetahui apa yang mereka lakukan dan bertemu dengan siapa. Menyebalkan!!"
Mobil berwarna merah itu melaju sedikit kencang kembali ke perusahaan. Sementara Leo yang melihatnya dari sebuah SPBU yang tak jauh dari lampu merah tadi tertawa geli. Pemuda yang telah biasa mengendarai motor dengan kecepatan diatas rata rata itu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Lagian nggak ada kerjaan lain apa selain nguntit orang lain. Ahh, pertemuan sudah berlangsung sepertinya. Lebih baik aku ke tempat kakak dulu saja. Lagipula pangeran sedang bersama kak Rio."
Leo kembali melaju namun kini dirinya telah mempunyai tujuan. Kantor sang kakak menjadi tujuannya kini. Sebuah gedung yang tak terlalu besar, hanya memiliki 3 tingkat dan sang kakak menyewa salah satu ruangan yang terdapat di lantai 2 gedung tersebut.
Leo melangkah memasuki lift yang membawanya ke lantai 2. Dengan kacamata hitam dan jaket kulit yang melekat ditubuhnya, Leo nampak gagah jauh berbeda dengan dirinya dua tahun lalu yang kasih merupakan seorang pelajar.
Tak ada lagi keinginan pada dirinya untuk melanjutkan pendidikan. Meski sang kakak maupun Derrick memaksanya. Namun demikian, Leo memiliki kecerdasan yang luar biasa dibandingkan dengan sang kakak. Meski tak kembali sekolah, Gara memberikan pemuda tanggung tersebut sebuah kaca yang dulunya dia gunakan untuk menatap wajah sang kakak kala dirinya rindu satu masih berada di istana. Dengan benda itulah, Leo mengikuti pelajaran dan mengingatnya dalam otak hingga dirinya tak benar-benar ketinggalan.
Di depan sebuah pintu di ruangan nomer 3 Leo menghentikan langkah. Telinganya berdengung kencang dan dirinya merasakan sesuatu sedang mendekat entah apa. Leo mengurungkan niatnya untuk segera masuk dan lebih memilih untuk bersembunyi di balik dinding dan mengamati sekitar.
Selang sepuluh menit berlalu belum ada tanda tanda ada sesuatu yang terjadi ataupun mendekat. Leo hendak kembali melangkah ke tujuan semula yaitu ruangan sang kakak. Namun kali ini matanya menangkap sebuah pergerakan yang sedikit mencuri perhatiannya. Dia yang selama dua tahun terakhir berada di istana Gara, berteman dan selalu berkecimpung dalam dunia mereka sedikit demi sedikit mengasah ke peka'an instingnya.
Leo kembali menatap ke arah bayangan tadi menghilang. Dengan langkah pelan dirinya mengikuti bayangan tersebut yang kemudian menghilang di balik sebuah pintu. Leo menatap tulisan yang berada di atas pintu "Pantry"
Merasa tak menemukan sesuatu akhirnya Leo kembali melangkah dan mengetuk pintu ruangan sang kakak hingga membuka pelan pintu tersebut ketika suara berat sang kakak sudah terdengar mengizinkannya masuk.
"Kak." Sapanya dengan senyum yang mengembang.
"Le, kamu datang." Arsen yang tadinya fokus pada desain yang baru saja di perolehnya dari sekertaris yang bekerja padanya langsung berdiri menyambut sang adik.
Keduanya saling memeluk singkat sebelum Arsen mengajak adiknya untuk duduk di sebuah sofa panjang di sudut ruangannya. Dari tempat tersebut langsung bisa terlihat pemandangan kota dengan bisingnya kendaraan yang berlalu lalang.
Suara ketukan di pintu membuat keduanya menoleh. Leo meminta ijin pada sang kakak untuk ke kamar mandi sebelum lelaki jangkung tersebut membuka pintu untuk mempersilahkan orang yang berada diluar sana untuk masuk.
__ADS_1