
Bibir Arcila masih cemberut meski kini keduanya sudah berada di rumah. Dia yang kesal sendiri nyatanya tak bisa menahan rasa cemburunya ketika dengan mata kepalanya sendiri melihat seseorang menatap lekat kearah Arsen.
Bahkan meski ada dirinya disana, gadis yang bernama Yoona itu masih curi curi pandang pada Arsen. Beruntungnya pemuda tersebut tak pernah menanggapinya. Sesekali bahkan Arsen mengecup jemari tangan Arcila, hingga membuat Yoona dan ayahnya pamit pada akhirnya.
"Tuh bibir kenapa jadi panjang begitu?" Arsen mencoba menggoda dengan mencolek bibir Arcila gemas.
Namun bukannya menjawab gadis itu malah memicingkan matanya ke arah Arsen.
"Kalau aku nggak datang, kakak tadi pasti sudah tergoda sama gadis itu. Ngaku!! ada aku saja dia masih berani menatap kakak begitu." Kesalnya.
Arsen tergelak dan menarik tubuh gadis kesayangannya untuk di peluk. Di ciuminya puncak kepala Arcila penuh sayang.
"Aku mencintaimu sejak dulu, beberapa tahun yang lalu. Ketika itu bahkan wajahmu masih sangat jelek dan bahkan tak ada yang menarik dari tubuhmu. Namun rasa cinta itu sudah melekat di sini." Arsen meletakkan jemari Arcila yang di genggamnya didadanya.
"Jangan pernah meragukan cintaku, Cila. Dia tumbuh subur disini. Jangan pernah takut akan ada yang menggantikan tempatmu di dalam sini karena itu tak akan mungkin terjadi. Aku janji dan aku pastikan semuanya." Arsen kembali mencium pucuk kepala Arcila.
*
*
*
Ario masih berdiri di tepi tebing. Pemuda bermata hijau tersebut menatap lurus ke depan. Melihat deburan ombak yang nampak tenang namun justru itulah yang lebih berbahaya.
Terdengar langkah kaki mendekat, pemuda tersebut masih berada ditempatnya tak bergeming sedikitpun. Sebagai seorang kepercayaan Gara tentu saja insting Ario tak bisa diragukan lagi.
"Kau sudah siap?" Ario bertanya tanpa perlu menolehkan wajahnya kepada lawan bicara.
"Iya, aku sudah siap."
__ADS_1
"Kau harus ingat dengan segala konsekuensi yang harus dirimu dan juga kakakmu alami setelah ini. Mungkin, kami bisa membantumu nanti. Tapi, kau tahu sendiri jika kami mempunyai batasan batasan yang tak mungkin untuk dilanggar. Kau harus berhati-hati mulai sekarang."
"Aku mengerti."
Ario menoleh, pemuda tersebut tersenyum kearah Leo yang berdiri tegak dihadapannya kini. Dia sangat suka dengan manusia yang mempunyai karakter seperti Leo. Tak ada keraguan yang tergambar di wajahnya.
Gara memberikan akses pada pemuda itu untuk berlatih. Dan beruntungnya, Ario sendiri yang mengajukan diri untuk melatih Leo. Tak banyak memang, namun sebagai pemula tentu semua sangat berarti baginya.
"Mungkin ini salah, namun aku tak punya pilihan. Mereka yang nyatanya bukan golongan manusia sepertiku malah mampu memberikan kenyamanan dan arti persaudaraan dibanding dengan manusia yang nampak baik di depan. Selama ini aku dibutakan dengan ucapan manis dan sanjungan, namun nyatanya semua hanyalah kepalsuan. Kak, tunggu aku!! sebentar lagi, aku pasti akan datang untuk menemuimu. Kita akan bersama untuk mengembalikan nama baik ayah. Dan membuat kebenaran terungkap." Gumamnya dalam hati.
*
*
*
"Yang mulia."
"Anda benar yang mulia. Saya bahkan hanya menunjukkan sedikit gerakan namun dia bisa mengembangkannya menjadi beberapa gerakan baru. Saya rasa, dia akan menjadi kuat dalam waktu singkat."
"Aku hanya ingin Leo mempunyai bekal untuk melindungi dirinya sendiri. Bagaimanapun, menjadi sahabat Derrick harus juga bisa melindungi diri agar kelak tak membuat putraku khawatir padanya. Leo memiliki tekat yang kuat sama seperti kakaknya. Aku beruntung, kedua anak itu memiliki ikatan yang kuat dengan anak anakku. Meski nantinya Derrick tidak bisa sepenuhnya menjalani kehidupan layaknya manusia seperti adiknya. Namun dia juga memiliki kesempatan yang sama untuk bersanding dengan mereka dalam pergaulan."
"Aku rasa, baik Leo maupun Arsen tak akan pernah membedakan Derrick. Tugasmu untuk terus melatihnya, beri dia juga pemahaman tentang penajaman insting agar mudah baginya membaca pergerakan lawan." Gara menatap dinding dimana lukisan Sena terpampang disana.
"Mengerti yang mulia. Bagaimana dengan pangeran?"
"Putraku sudah lebih baik. Aku sendiri yang akan melatihnya untuk mengontrol kekuatan. Sebelum usia mereka memasuki 20 tahun. Baik Derrick maupun Arcila harus bisa mengontrol semuanya termasuk emosi dan juga kekuatan mereka."
"Pergilah!! aku akan menemui putraku sebentar lagi."
__ADS_1
Ario menunduk, kemudian berbalik dan melangkah pergi. Menyisahkan Gara yang masih berdiri di tempatnya memandang wajah Sena yang tersenyum disana.
.
.
Derrick menunduk ketika sang ayah sudah nampak dihadapannya. Pemuda tampan dengan lambang ular yang samar berkilau didahinya itu tak sanggup menatap pada sang ayah. Dirinya mengaku salah karena telah mengeluarkan kekuatan yang selama ini memang belum diijinkan untuk dia gunakan.
Jiwa Derrick yang masih muda membuat gejolak dalam dirinya susah untuk dipadamkan. Kendali diri yang dimilikinya belum cukup kuat. Dan hal itulah yang membuat Gara memberikan larangan pada putranya untuk keluar istana.
"Ayah tahu, kau ingin marah pada ayah. Memisahkanmu dengan ibu dan juga adikmu mungkin kesalahan terbesar yang ayah buat, itu menurutmu bukan?" Gara berujar pelan.
Sudah saatnya putra nya mengetahui alasan yang sebenarnya. Oleh kerena itulah, hari ini Gara mengajak sang putra untuk masuk kedalam ruang pribadinya. Dimana, ruang itu hanya pernah dimasuki oleh dirinya dan Sena.
Derrick hanya menganggukkan kepalanya pelan. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Bukan hanya rasa kesal yang dirasakannya. Namun kecewa, sakit hati dan juga amarah menjadi satu dalam dadanya hingga menimbulkan rasa sesak.
"Kesalahan yang paling terbesar ayah lakukan adalah menikahi ibumu. Meski ayah tahu itu sangat beresiko dan bahkan membahayakan jiwanya. Namun ayah sangat mencintainya. Sama seperti ibumu yang tak perduli sejenis apa ayah ini. Pernikahan kami tak lazim terutama bagi golongan di mana ibumu berasal."
Gara menatap putranya sejenak sebelum kembali memulai ceritanya.
"Ayah akan menceritakan semuanya secara rinci nanti. Disaat umurmu dan adikmu genap 20 tahun. Hanya tinggal menunggu beberapa bulan menurut hitungan manusia untuk hari itu. Kalian berdua akan bertemu dan pada saat itulah, ayah akan mengatakan semuanya."
"Kali ini, ayah hanya ingin mengatakan sebagian pokoknya saja. Agar kau bisa mengerti dengan apa yang ayah lakukan. Jiwamu, sangat membahayakan ibu dan adikmu. Oleh karena itu, ayah dan ibu sepakat untuk memisahkan kalian sampai waktunya nanti untuk kalian bisa bertemu."
"Meski kembar namun kau lebih banyak mengambil gen ayah. Sedang adikmu lebih ke ibumu. Gen manusia lebih banyak padanya meski masih ada kekuatan dalam dirinya yang tersembunyi. Aku rasa hingga saat inipun adikmu belum menyadarinya. Sedangkan kamu, karena gen silumanmu lebih besar. Kau bisa membahayakan keselamatan mereka berdua. Jika ayah tak membawamu, mungkin kematian ibu mu bukan terjadi setahun yang lalu. Bahkan sejak kamu masih bayi ibu dan adikmu tak akan bisa selamat."
Pangeran. Ada banyak hal di dunia ini yang tak bisa langsung dimengerti. Kesalahan yang ayah dan ibu lakukan membuat kalian semua menderita. Bersabarlah, dan satu yang harus kamu selalu ingat. Ayah dan ibu menyayangi kalian berdua tanpa beda."
Gara menepuk pelan pundak Derrick. Putranya itu mendongak, mencoba menatap mata teduh sang ayah. Tak nampak kemarahan di wajah yang masih terlihat tampan tersebut. Tak ada lagi kemarahan seperti waktu lelaki tersebut datang menyelamatkan Leo kala itu. Hanya ada seulas senyum yang membuat Derrick memberanikan diri melangkah dan memeluk sang ayah erat.
__ADS_1
Dia tahu, sang ayah sama tersiksanya selama ini. Hanya demi mengunci kekuatan yang ada pada dirinya dan Arcila. Gara harus rela menjadikan dirinya tameng dan melakukan pertapaan yang membuatnya menghilang beberapa tahun ini.