Titisan Naga

Titisan Naga
Bab 15. Perubahan


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang Arcila hanya terdiam. Gadis itu banyak merenungi segala hal yang terjadi dalam hidupnya. Banyak yang sudah dirinya lewati baik kebahagia maupun kesedihan. Banyak kenangan yang membuat matanya terasa panas karena kerinduan yang harus ditahannya.


Arsen membawa gadis itu dengan perasaan yang campur aduk. Banyak pertimbangan namun pada akhirnya tak ada jalan keluar terbaik untuk dipilihnya.


"Kak."


Arcila menoleh sesaat ketika menyadari mereka tak lagi menuju jalan pulang. Waktu masih menunjukkan jam 2 siang ketika mereka sampai di bagian samping rumah mewah bekas kediaman keluarga Gerald.


Rumah itu masih berdiri kokoh meski kini hanya di huni oleh beberapa penjaga. Tak ada yang menempati rumah tersebut semenjak kejadian sadis yang menimpa penghuninya. Bahkan beritanya rumah mewah yang ditawarkan seharga 850 milyar itu belum laku terjual hingga detik ini.


"Kita masuk, nanti aku akan jelaskan semuanya ketika kita sudah didalam." Arsen tersenyum lembut.


Tak ada yang mengira jika rumah ini masih terawat dengan baik di dalamnya. Kecuali keadaan di luar memang sengaja di buat sedemikian buruknya hingga menimbulkan kesan seram kepada siapapun yang berminat membeli atau hanya sekedar melihatnya saja. Semua itu sangat mudah dilakukan oleh orang-orang Gara.


Rumah mewah tersebut tak akan pernah berganti pemilik karena pemilik yang sebenarnya masih ada dan orang yang sama.


*


*


*


Dody Gerald mengumpat kasar ketika kembali mendapat laporan dari anak buahnya yang tak berhasil masuk ke rumah mewah milik mendiang kedua orang tuanya tersebut. Pria berumur 35 tahun yang merupakan bungsu dari keluarga Gerald sebagaimana orang luar ketahui itu sudah berkali-kali mengirimkan anak buah untuk mengambil barang berharga yang masih berada dalam rumah tersebut.


Entah dari mana datangnya, setiap kali ada yang mencoba mengambil barang dari sana maka akan ada ribuan ular yang seolah membentuk brigade menghadang jalan.


Hal itu juga yang semakin membuat orang segan untuk membeli rumah yang kemudian di juluki rumah angker.

__ADS_1


Meski sudah 2 tahun berlalu namun baik Gio maupun Dody belum bisa berbuat banyak. Mereka terpaksa harus merasa puas hanya sebagai pengganti. Hingga kini nama Gara Anggara masih kokoh sebagai pemilik perusahaan begitupun juga dengan rumah mewah keluarga Gerald.


Meski sosok Gara tidak pernah hadir dalam perusahaan kurun waktu 20 tahun terakhir. Namun segala kebijakan yang ditetapkan selalu membuat para karyawan dan relasi bisnisnya puas.


Sosok asisten yang selama ini menggantikan Gara lah yang menjadi ujung tombak kebijakan yang di keluarkan oleh lelaki yang masih menjadi sosok misterius bagi sebagian orang.


Hari ini sosok Ario yang lebih di kenal dengan sebutan asisten Rio datang tak sendiri. Rapat dewan direksi yang dilakukan mendadak sempat membuat beberapa kolega saling bertanya-tanya tentang apa yang terjadi.


Seorang lelaki tampan dengan tubuh tegap dan jas hitam melekat di tubuhnya masuk ke dalam ruangan direktur utama. Ruangan yang menjadi tempatnya dulu untuk bisa memantau sang kekasih. Menjadi pengusaha adalah salah satu bukti nyata seorang Gara sangat menikmati perannya sebagai manusia normal pada umumnya.


Kesuksesan yang diraihnya tak lepas dari campur tangan wanita cantiknya itu.


Sebuah foto besar masih tergantung indah disalah satu dinding ruangan yang tak sembarangan orang diijinkan masuk ke dalamnya. Hanya Ario yang memiliki akses masuk kesana karena pintu pun dibuat secanggih mungkin untuk menjaga privasi yang memang sengaja disimpan disana.


Ya, hari ini untuk pertama kalinya Gara datang ke perusahaan. Dia tak sendiri tentu saja, sosok Derrick dan Leo masih setia mengekor di belakangnya bersama dengan Ario.


"Ayah, apa dulu ibu sering datang ke sini?"


Nampak beberapa foto Sena berada disana, meski hanya ada satu yang terbesar dan tergantung indah di dinding sebuah ruang pribadi. Namun ada beberapa lagi yang ternyata ada di meja kerja dan lemari buku.


Dalam berbagai pose, Sena terlihat sangat cantik. Wajar rasanya jika pada akhirnya seorang Gara bisa jatuh sejatuh-jatuhnya pada pesona wanita itu.


"Sebelum kalian hadir, selain menghabiskan waktu di halaman belakang. Ibumu suka berada disini menemani ayah." Gara tersenyum simpul seolah bayangan Sena hadir disana.


Derrick menganggukan kepalanya. Pemuda tampan dengan wajah yang mirip sekali dengan Arcila tersebut menatap segala penjuru ruangan. Mencoba menyelami aroma yang ditinggalkan sang ibu puluhan tahun lalu. Dia yang baru kali ini menikmati dunia baru yakni dunia dimana banyak macam model manusia yang dijumpainya. Merasakan energi yang berbeda. Pantas saja sang ayah selalu mengingatkannya agar bisa mengontrol diri.


Jiwa pelahapnya terkadang masih mudah terpancing ketika mendapati sosok manusia yang sedikit menarik perhatiannya. Semakin kesini akhirnya Derrick semakin mengerti alasan di balik pemisahan dirinya dengan sang ibu dan adiknya.

__ADS_1


Gara mengatakan jika godaan terkuatnya adalah nanti ketika dirinya bertemu untuk pertama kalinya dengan sang adik. Hasrat nya sebagai hewan yang bisa membunuh akan tumbuh sangat kuat, apalagi gen Sena yang melekat pada diri Arcila akan semakin membuat dorongan itu menghebat. Derrick harus bisa mengendalikannya jika tak ingin sang adik celaka.


Hal itu pulalah yang ditakuti oleh Gara dan juga Arsen.


Sebuah ketukan di pintu membuat semua menoleh. Ario dengan sigap berdiri dan membuka pintu perlahan. Nampak sesosok wanita cantik sedang berdiri dihadapannya. Wanita itu sedikit membungkukkan tubuhnya sebelum mengatakan jika semua orang sudah hadir dan menunggu di ruang rapat. Termasuk Gio dan Dody yang memang diharuskan datang kali ini.


Seperti yang sudah sudah, kedua orang tersebut selalu enggan hadir dalam rapat karena mereka merasa lebih pantas menjadi pemimpin di bandingkan dengan Ario yang hanya seorang asisten saja. Namun kali ini mereka terpaksa hadir kerena Ario mengancam akan membekukan segala kartu ajaib mereka berdua. Keduanya yang terbiasa hidup mewah tentu tak akan mau kehilangan semua itu.


Ario menjadi satu-satunya orang yang tak mampu mereka suap. Pemuda itu sangat sulit didekati meski sudah dipancing dengan wanita sekalipun.


"Lima menit lagi, kami akan datang. Persiapkan semuanya." Ario berkata tegas.


Wanita di depannya kembali mengangguk sebelum melangkah menuju ruang rapat sesuai perintah Ario.


"Sepertinya dia tertarik padamu, kak." Celetuk Derrick yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekatnya membuat Ario sedikit berjengkit.


Jika sifat jahil nya keluar begini jangan harap Ario akan bisa lepas dengan mudah dari ledekan ledekan yang keluar dari bibir merah alami milik pangeran dengan mata legam tersebut. Leo yang sejak awal hanya menjadi penyimak hanya tersenyum geli melihat mata Ario yang sengaja dibuat melotot, namun bukannya takut. Derrick semakin tergelak melihatnya.


Gara melangkah mendekati mereka, menepuk pundak Ario dan sang putra bergantian. Di mulai ini, Derrick akan memegang kendali perusahaan meski nantinya Ario masih tetap mendampinginya bersama dengan Leo.


*


*


*


"Waktunya perubahan, dan kalian harus bersiap untuk itu."

__ADS_1


__ADS_2