Titisan Naga

Titisan Naga
Bab 34. Pusingnya Ario


__ADS_3

Sesungguhnya dalam hidup itu tak ada yang namanya karma. Akan tetapi semua orang punya alurnya sendiri dalam menjalani takdir. Seperti pepatah yang mengatakan, jika hidup itu layaknya roda yang berputar. Kadang di atas kadang juga di bawah. Namun tak jarang orang akan stuck di satu tempat yang sama dalam waktu yang lama.


Sepertinya hal inilah yang sedang dijalani oleh Sarlita saat ini. Berada di titik dimana dirinya harus banyak bersabar dan menerima kenyataan. Sempat optimis jika apa yang diketahuinya adalah sebuah mimpi yang tak pernah menjadi nyata. Akan tetapi semua terpatahkan hingga dirinya pun tak mampu lagi berdiri untuk kakinya sendiri.


Dalam renungannya Lita banyak menyesali apa yang telah dia lakukan dulu. Dan apa yang dialami saat ini mungkin adalah teguran untuk dirinya agar cepat menyadari kesalahan.


Banyak hal yang disadarinya akhir akhir ini. Dalam kesendiriannya, Sarlita banyak mengingat kembali apa saja yang pernah dilakukannya dulu. Banyak hati yang telah dia sakit dengan penuh kesadaran dan semua seolah membalut rasa bersalahnya yang semakin besar.


*


*


*


Derrick menghela nafas berat, sang adik yang memang dia tahu sangat keras kepala itu membuatnya pusing. Dia dan Ario berusaha keras untuk menyingkirkan Gio dan Dody agar tak lagi menjadi batu sandungan kedepannya. Namun sang adik melarang keras semuanya.


Benar kata sang ayah, jika adik cantiknya itu mewarisi semua sikap sang mama. Dia yang diperlakukan tak adil bahkan dengan nyata terbukti bahwa ke dua saudara mamanya itu adalah dalang dibalik semua musibah yang dialami keluarganya, hingga detik ini Arcila masih enggan untuk bertindak. Sikap seolah memaafkan itulah yang membuat Derrick kesal pada akhirnya.


Pengambilan mustika ular di kediaman Gio dan dari tangan Lita langsung adalah ulahnya. Bahkan Derrick sendirilah yang secara langsung berubah menjadi ular dan muncul di kamar Lita kala itu. Dia jugalah pelaku utama yang membuat tanda jeratan pada lengan dan betis Lita.


Bahkan tanpa ada seorangpun yang menyadari jika Derrick telah memberi tanda pada tubuh Lita. Di punggung gadis itu terdapat gambar kepala ular dengan mata yang tajam, hingga saat ini pun Lita sendiri belum menyadarinya.

__ADS_1


"Apa apaan ini, kenapa aku malah memikirkannya." Derrick mengacak rambutnya frustasi.


Sejak keusilannya mengerjai Lita, wajah gadis yang sedang ketakutan dan memerah itu sering kali terbayang dalam benaknya. Derrick yang memang tak memiliki perasaan hanya merasa senang dan lucu ketika melihat bagaimana Lita yang sedang ketakutan malam itu.


Senyum Derrick berhenti seketika ketika sebuah tangan menempel di dahinya. Ario yang sudah berdiri disampingnya dari 10 menit lalu itu sedikit memicing menatap pangeran yang sudah dianggapnya sebagai adik itu.


Dahinya sedikit mengernyit ketika melihat pangeran senyum senyum sendiri sampai tak menyadari kehadirannya di ruangan itu.


"Tidak demam." Gumamnya pelan.


Derrick yang gantian dibuat bengong dengan sikap Ario yang menurutnya aneh. Dia malah menatap tajam sang kakak yang kembali mencoba menyentuh lehernya. Sontak saja Derrick menepis pelan tangan itu sebagai tindakan protesnya.


"Kakak kenapa?" Kernyitnya heran.


"Apanya yang kenapa? perasaan aku baik baik saja. Tak ada yang berubah, kakak yang aneh."


"Sejak tadi kau senyum senyum sendiri, kau pikir itu wajar?"


Derrick mengusap tengkuknya pelan, dia yang tanpa sadar diperhatikan oleh Ario menjadi salah tingkah. Dan anehnya, Ario malah memicing menunggu penjelasan darinya.


Mau tak mau Derrick menceritakan apa yang telah dilakukannya beberapa hari ini pada Lita. Karuan saja hal itu membuat Ario membulatkan matanya dengan sempurna. Bahkan hal besar semacam itu dirinya tak tahu.

__ADS_1


Ario menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan pangerannya ini. Sebenarnya dia benar-benar pewaris asli Gara Anggara atau bukan? kelakuannya sangat jauh berbeda dengan sang ayah yang sangat berwibawa dan penuh dengan perhitungan matang. Sementara Derrick tak sedikitpun mencerminkan sosok pangeran kerajaan ular. Dia lebih mirip dengan pemuda tanggung yang sedang menuju masa pendewasaan.


Apa darah Sena yang mengalir pada tubuhnya meski sedikit juga berpengaruh pada kepribadian yang dimiliki sang pangeran? bisa jadi Derrick juga sama dengan Arcila, yang bisa menjadi dua wujud dan kepribadian berbeda dalam satu waktu?


Ario kembali mendesah pelan, pemuda itu memijit pelipisnya pelan. Jika benar apa yang terjadi pada Derrick dan Arcila terjadi, bukankah hal itu juga berpotensi terjadi pula padanya? membayangkan dirinya berubah menjadi ular membuat Ario bergidik geli. Baginya cukup dengan kekuatan, insting serta ketajaman mata nya yang mengalami perubahan dan itu masih dalam hal wajar karena perubahan pada dirinya termasuk hal menguntungkan. Namun jika harus menjadi seekor ular sebenarnya, jujur saja Ario belum siap meski sadar betul dalam dirinya terdapat darah panas seekor ular yang mengalir.


*


*


*


Cila mengendarai mobilnya dengan seorang pengawal yang merangkap menjadi sopir pribadinya selama ini. Lelaki yang berumur 40 tahunan tersebut berperawakan biasa saja. Tak ada tampang menyeramkan seperti para pengawal kebanyakan.


Baik Arsen maupun Arcila lebih menganggap orang-orang yang tinggal bersama mereka adalah keluarga. Membuat mereka terlihat sangat akrab dan dekat. Seperti saat ini, tak ada canggung diantara keduanya saling bercerita dan bertanya. Kebanyakan, Arcila sering menanyakan tentang sosok mendiang calon ayah mertuanya yang tak lain kepala pelayanan keluarganya yang paling setia, Andress.


Sesekali keduanya tertawa ketika mendapati obrolan yang sedikit lucu. Hingga tanpa sadar mobil mereka telah sampai di perusahaan yang mereka tuju. Masih setia mengantar nonanya, pengawal tersebut dengan sigap membuka pintu dan meminta Cila untuk menunggunya sebentar. Setelah memarkirkan mobil dengan aman pengawal tersebut kembali menuju ke arah Cila. Keduanya melangkah masuk ke dalam perusahaan di mana Derrick menjadi pemimpin disana menggantikan posisi sang ayah.


Dada Arcila berdetak sedikit lebih kencang, berulang kali gadis cantik yang membiarkan rambut hitamnya tergerai bebas itu meremas kedua tangannya kuat ketika bayangan sang mama hadir di pelupuk matanya.


Pengawal yang bersamanya dengan sigap langsung menuju ke meja resepsionis, menanyakan ruangan Derrick atau Ario. Setelah mendapatkannya keduanya menuju ke arah lift untuk bisa sampai ke ruangan yang mereka tuju.

__ADS_1


Meski bukan kunjungan pertama kali terlebih untuk Arcila yang notabennya adalah anak pemilik perusahaan. Namun mereka harus bertindak se profesional mungkin agar penyamaran mereka tak terbongkar sebelum waktu yang di tentukan.


Derrick yang merasakan saudara kembarnya berada di dekatnya segera berdiri dan melangkah menuju pintu ruangannya. Dan benar saja, baru saja dirinya membuka pintu. Sosok cantik itu telah berdiri dihadapannya dengan senyum yang mengembang.


__ADS_2