Titisan Naga

Titisan Naga
Bab 29. Ular kembar


__ADS_3

Malam yang semakin larut mengantarkan jiwa setiap orang untuk terlelap. Tak terkecuali penjaga yang bertugas di kediaman Gerald. Tak seperti malam malam biasanya, namun khusus malam ini semua diambil alih oleh pasukan ular yang memang sedang bersiaga di bawa pimpinan Ario.


Tak ingin segala yang terjadi di halaman belakang di ketahui oleh banyak orang yang tak berkepentingan, maka Ario memiliki tanggungjawab itu.


Hanya ada segelintir orang yang masih terus terjaga, termasuk Arsen dan Leo. Keduanya adalah saksi hidup bagaimana sepasang ular yang berbeda warna itu saling membelit dan meluncur ke udara seolah menantang bulan. Sinar mata yang menyala terang diantara kedua ular tersebut nampak semakin indah bertemu dengan kilauan sinar bulan yang menerpa sisik sisik di sepanjang tubuh keduanya.


Berulang kali Arsen mengedipkan matanya, meski dirinya telah menerima namun rasa khawatir dan kacau dihatinya tak bisa di sembunyikan.


Jika di halaman belakang kediaman keluarga Gerald sedang ada atraksi dari kedua ular kembar berbeda warna tersebut maka di tempat pertapaannya Gara pun mengalami hal yang sama. Wujud ular besar telah nampak menggantikan sosok tampan nan gagah. Gara mendesis dengan lidah yang menjulur. Mata tajamnya menatap lurus ke arah ke dua anaknya yang sedang berada disana.


Tak sekhawatir di awal ketika keduanya di pertemukan. Saat ini Gara lebih percaya pada keduanya. Misi penarikan mustika ular harus dilakukan secepatnya demi Arcila Sanca bisa melindungi diri sendiri.


Mata merahnya menyorot tajam dengan sinar seperti laser yang menembus dinding istana dan bertemu dengan sinar bulan. Sinar merah jingga tercipta diatas kepala Derrick dan Sanca membuat keduanya berputar lebih kencang dengan hembusan angin yang semakin terasa menusuk tulang hingga membuat bulu kuduk berdiri.


Dari jauh nampak sepasang sinar merah melayang menuju ke arah keduanya. Dengan sigap Ario menyuruh pasukannya membentuk benteng pertahanan. Guncangan kuat terjadi membuat waktu terasa berhenti saat itu juga.


Tak ada yang tahu apa yang terjadi. Bahkan ketika Arsen membuka ke dua matanya nampak Arcila telah berada di depannya. Wajah cantiknya nampak berseri-seri di bawah sinar bulan. Tanda lahir berbentuk ukiran ular di dahinya nampak jelas terlihat. Mata bening gadis itu terlihat sangat indah membuat Arsen mengerjapkan mata beberapa kali demi mendapatkan kesadarannya.


"Sayang."


"Heem, kakak tak apa apa?" Senyum Cila mengembang kala Arsen berusaha menyentuh pipinya.

__ADS_1


Arsen menganggukkan kepalanya. Pemuda itu bangkit dan memeluk erat tubuh Arcila dihadapannya. Dengan lembut gadis cantik tersebut membalas dekapan hangat Arsen. Legah rassanya, Arsen bahkan menghirup udara beberapa kali untuk meluapkan rasa legahnya.


Rasa takut kehilangan benar-benar membuatnya lemah. Kini senyum itu kembali hadir dihadapannya.


*


*


*


Berbeda dengan Arcila yang dalam keadaan baik baik saja. Lagi dan lagi Derrick harus menahan sakitnya. Dengan segala upaya pemuda itu melindungi sang adik, menggunakan dirinya untuk melawan segala tekanan yang ada. Kekuatannya yang mungkin lebih besar dibanding dengan Arcila ditambah dengan mustika sang adik yang belum menyatu dengan tubuhnya membuat Derrick nekat menjadi perisai untuk Cila.


Ario yang dengan sigap membawa tubuh lemah Derrick kembali ke istana menidurkan pemuda itu di sebuah meja es. Dinamakan meja es karena meja tersebut nampak bening dengan uap yang menguar keluar seolah sedang terjadi pengasapan. Dengan telaten, Ario meminumkan semacam ramuan cair berwarna hijau itu ke mulut Derrick.


"Bagaimana keadaanmu?"


Ario segera mendekat kala mata hitam pekat itu terbuka. Rahang yang keras dengan mata yang tajam itu tersenyum kecil. Satu hal yang membuat Ario maupun Gara bangga pada sosok Derrick adalah kekuatan fisik nya. Pangeran yang merupakan putra mahkota yang dipastikan menjadi pewaris satu satunya penerus tahta Gara di istana ular. Pemuda itu seolah tak merasakan sakit sama sekali meski darah nampak keluar di ujung bibirnya.


"Aku tak apa, kak. Hanya benturan kecil tak akan membuatku tumbang." Ucapnya jumawa sambil mengerlingkan matanya kearah Ario yang mendengus kesal.


"Bagaimana keadaan Sanca, kak?"

__ADS_1


"Putri dalam keadaan baik, bahkan mungkin lebih baik dari sebelumnya. Mustika itu telah menyatu dengan tubuhnya. Yang kulihat, wajah putri semakin nampak bersinar dan ada aura beda seolah masuk dalam dirinya."


"Syukurlah, hanya tinggal melatihnya untuk bisa menggunakan kekuatannya melindungi diri sendiri. Lalu, bagaimana dengan gadis itu, kak?"


"Maksudmu anak gadis Gio?"


Derrick mengangguk, dia tahu jika selama ini kalung berliontin milik sang adik ada padanya. Sejak pertemuan pertama mereka di dalam lift waktu itu, Derrick merasakan adanya getaran yang sama dengan dirinya namun lebih halus. Mulai sejak itu secara diam-diam diamatinya gadis itu secara diam-diam. Hingga dirinya tak sengaja menatap liontin yang sedikit keluar dari dalam kemeja Lita kala dirinya menunduk.


"Dia baik baik saja. Mungkin akan sedikit syok karena kehilangan kalung itu."


"Tak ada gesekan yang dia rasakan dari mustika itu?"


Ario mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu. Dirinya memang tak menempatkan anak buah untuk mengawasi Sarlita di rumahnya.


Berbeda dengan apa yang Ario utarakan, karena sejatinya yang terjadi pada Sarlita bukan hanya syok. Namun gadis tersebut dibuat berteriak histeris ketika mendapati lengan kirinya panas dengan bekas seperti cambukan melintas disana. Sejak tadi ketika hawa panas seolah menggulung isi kamarnya merubahnya menjadi sebuah sauna, kini yang tersisa malah membuatnya menangis keras. Lengannya yang putih mulus mendadak cacat dengan adanya goresan yang nampak memanjang seolah bekas tercambuk.


"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa semua jadi aneh begini." Rutuknya disela Isakannya.


Mirisnya, dia sedang sendiri dalam rumah besar tersebut. Sang ayah, Gio entah sedang ada dimana karena memang dirinya telah terbiasa sendiri.


Lita masih meratapi lengannya yang dipastikan bahwa dirinya tak akan lagi bisa menggunakan pakaian terbuka yang menampilkan lengannya.

__ADS_1


"Apa kalung itu menyimpan kutukan? tapi dimana benda itu sekarang?" Lirihnya sambil menatap kotak penyimpanan dimana kalung berliontin tersebut tersimpan sebelumnya.


__ADS_2