Titisan Naga

Titisan Naga
Bab 37 Umpan


__ADS_3

Derrick benar-benar mempersiapkan semuanya kali ini. Kedatangan sang adik untuk ke dua kalinya, meski akan datang bersama dengan Arsen namun pangeran tampan dengan sorot mata tajam menakutkan itu tak mau peduli.


Apa yang dinikmatinya di dunia manusia ini hanyalah sementara saja untuknya yang sudah mempunyai segalanya di dunianya yang lain. Derrick hanya perlu memastikan keamanan sang adik, itu saja tak lebih.


Ario pun sama sekali tak lagi bisa membujuk keputusan Derrick. Meski akan menimbulkan berbagai polemik karena memang identitas asli Arcila yang belum diungkapkan. Namun Derrick menggunakan kesempatan dimana isu tentang hubungan asmaranya dengan sang adik tengah menjadi tranding saat ini.


Dari isu itu pulalah dirinya ingin melihat dan mengetahui, siapa siapa saja yang benar-benar tulus padanya atau mana yang memang ada maunya.


Derrick akan bertindak tegas dengan bukti dan fakta bukan lagi hanya mengandalkan insting seperti selama ini dirinya lakukan. Sadar jika musuh yang dihadapinya adalah jenis manusia licik dan licin maka tentu saja dirinya membutuhkan sebuah bukti untuk menjeratnya dengan kuat. Sesuai dengan apa yang diinginkan oleh sang adik. Menghukum sesuai dengan perbuatannya tanpa harus membunuh.


Arcila Sanca terlalu berharga untuk nya. Hanya dia saudara yang Derrick punya. Tak akan ada saudara lain lagi karena sang ayah lebih memilih mengasingkan diri kembali setelah kematian istrinya.


Adanya Ario, Arsen dan Leo tak cukup mampu menutup rasa bahagia ketika bisa melihat tawa sang adik pecah. Seperti siang ini, bak seorang putri kerajaan. Kedatangan Arcila disambut sendiri oleh sang kakak di lobi perusahaan. Arsen yang mendapatkan tatapan tajam dari calon kakak iparnya tersebut memundurkan langkahnya guna memberi ruang pada Derrick untuk memeluk sang adik.

__ADS_1


Tak hanya Arsen, Ario dan Leo yang turut berdiri disana dibuat bingung sendiri dengan kelakuan Derrick. Namun sesuai dengan apa yang dimau oleh pemuda tampan tersebut, semua hanya diam mengikuti alur yang sedang di buat oleh Derrick.


Masih teringat jelas oleh Arsen ketika malam itu dirinya mencoba bernego dengan jalan lain. Derrick malah menawarkan agar Cila berkencan dengan pemuda lain selain dirinya. Tentu saja hal itu tak akan pernah Arsen setujui sampai kapanpun juga. Bersama Derrick, Ario bahkan dengan Leo yang notabenya adalah adik kandungnya sendiri Arsen merasa keberatan apalagi melihatnya dengan orang lain.


Dengan sangat tenang Derrick menggandeng Cila dengan merengkuh pinggang sang adik lembut. Tatapan penuh cinta pun nampak diantara keduanya. Bukan drama bukan bagian dari rencana karena rasa saling mencintai dan menyayangi itu benar-benar keduanya rasakan. Namun tentu saja bukan cinta atau sayang yang berada di pikiran orang-orang yang berada di lobi perusahaan.


Keduanya melenggang pergi diikuti oleh Ario dan Arsen yang menundukkan sedikit badannya tanda hormat. Kerlingan mata Derrick sukses membuat Arsen mendelikkan matanya ke arah calon kakak iparnya yang menjengkelkan itu.


Sementara sang pelaku bersikap biasa aja seolah tak terjadi apa apa. Ario yang melihat hal itu hanya menggeleng pelan.


"Sayang, kenapa?" Arcila menatap penuh tanya wajah sang kekasih. Arsen hanya menggelengkan kepalanya pelan sebelum melabuhkan kecupan di kening Cila seperti biasa.


"Jelas jelas aku tahu dia kakaknya, tapi kenapa hati ini masih terasa panas karenanya." Arsen menatap lekat mata Cila.

__ADS_1


"Abang payah, begitu aja cemburu. Dasar bucin." Leo yang baru masuk membawa beberapa minuman di tangannya. Minuman dingin yang dia ambil di pantry tadi.


"Ckck, bilang aja kau iri." jawabnya pada sang adik.


"Kau yakin ini akan berhasil?" Ario mendudukkan dirinya di sofa tepat di hadapan Derrick.


"Tentu kak. Apa kalian tak menyadarinya tadi? kita sedang diperhatikan, tapi sejauh ini aku belum tahu siapa dan motifnya apa. Yang aku tahu secepatnya kita harus membuat kantor ini kondusif dan dihuni oleh orang-orang yang benar-benar kompeten dan juga dapat dipercaya. Terlebih, kita bisa tenang melepaskan adikku di kantor ini. Meski aku tahu kekuatannya sudah pulih secara perlahan namun aku tak ingin mengambil resiko apapun yang berhubungan dengan Sanca." Derrick menatap sang adik yang kini sedang menikmati minuman dingin dengan lengan Arsen yang menjadi sandaran kepalanya.


"Aku juga merasakannya tadi. Karena hal itu aku memilih untuk pergi lebih dulu ke arah pantry. Dari sana aku bisa mengawasi keadaan lobi kantor dari balik jendela kaca. Yang ku lihat, gadis tempo lalu itu yang sedikit mencurigakan. Itu masih dugaan sementara sih, karena kita perlu bukti bukti yang lebih akurat lagi." Leo berujar pelan.


"Itu sama artinya Cila dalam bahaya bukan? bisa saja mereka melampiaskan pada Cila karena dianggap sebagai penghalang. Apalagi sekarang secara terang-terangan kakak ipar seolah menunjukkan jika Cila adalah kekasihnya. Apakah itu tak akan membahayakan Cila?"


"Kau tenang saja. Ini hanya langkah awal untuk memancing mereka. Aku hanya butuh sedikit pergerakan dari mereka agar bisa membaca taktik dan strategi selanjutnya. Cila adalah adikku, terlepas dari itu semua. Cila adalah putri dari Gara Anggara, dia akan mendapat perlindungan khusus dari kaum kami. Aku sudah memperhitungkan semuanya dengan matang, jika pun ada kesalahan aku pastikan itu adalah kesalahan kecil yang tak akan berpengaruh apa apa."

__ADS_1


"Baiklah, aku percaya pada kalian semua. Kalian akan melakukan yang terbaik untuk Cila ku."


Leo memutar bola matanya jengah. Tak habis pikir dengan sang kakak yang telah berubah banyak saat ini. Kakaknya yang pendiam dan tak banyak tingkah itu telah menjadi lelaki yang posesif, pencemburu dan bucin akut. Meski begitu Leo patut berbangga, kakak satu satunya yang dia miliki mempunyai kecerdasan yang luar biasa.


__ADS_2