
Arcila benar-benar ikut malam ini. Keduanya pergi menuju sebuah restoran Jepang tempat yang sudah ditentukan oleh Pak Sandro. Dengan bergandengan tangan keduanya melangkah masuk ke dalam restoran.
Dengan menggunakan pakaian santai mereka terlihat bak pelanggan biasa. Semua itu memang sengaja keduanya lakukan untuk meminimalisir ada orang dari masa lalu yang masih mengingat keduanya. Jarak peristiwa yang memang masih terbilang baru membuat mereka harus extra hati hati dan waspada.
Pak Sandro yang memang telah menunggu mereka sejak 30 menit yang lalu segera berdiri dan menyambut kedatangan Alan alias Arsen dengan pelukan hangatnya.
"Ini.."
"Dia Sanca, Om." Aren mengenalkan Arcila yang nampak tersenyum manis dan menerima jabatan tangan Pak Sandro yang juga tersenyum hangat padanya.
"Calon?" Ledek pria paruh baya tersebut sambil tertawa ke arah Arsen yang mengangguk samar.
"Ayo, silakan duduk. Om sengaja memesan tempat ini, banyak kenangan yang terjadi di tempat ini dulu. Di sinilah, Om dan ayahmu sering bertemu, nak. Tempat ini adalah yang paling aman karena merupakan milik ayah mu sendiri."
Pak Sandro tersenyum ketika melihat wajah terkejut yang Arsen tunjukkan.
"Kau pasti tak mengetahuinya, bukan?"
Arsen menganggukkan kepalanya, selama ini sang ayah memang tak pernah menyinggung tentang hal itu. Yang dirinya dan Leo tahu, sejak remaja sang ayah telah mengabdi di keluarga Gerald. Bahkan hingga sampai dirinya menutup mata.
"Ini adalah usaha yang ayahmu siapkan untuk adikmu, Leo. Ayahmu merintisnya dari nol semenjak kelahiran adikmu itu. Dia hanya berharap, suatu saat nanti jika dirinya telah tiada. Hidup kalian berdua tetap akan terjamin. Andres juga mempercayakan pengelolaan resto ini pada Om. Surat wasiat yang ayahmu tulis juga berada di tangan pengacara Om. Selama ini, bisa dibilang kami berdua selalu berhubungan dengan baik. Sayang sekali, saat peristiwa naas itu terjadi. Om sedang berada di Inggris untuk menjenguk mertua om yang sakit keras. Saat Om kembali semuanya telah terlambat. Om kehilangan seorang teman sekaligus saudara bagi Om." Pak Sandro mengusap ujung matanya yang mulai ber air.
Pria tambun tersebut mencoba tersenyum meski sangat getir terasa. Teringat pertemuan terakhir yang terjadi antara dirinya dan Andres. Pertemuan itu terjadi sehari sebelum keberangkatan Pak Sandro ke Inggris. Yang artinya adalah sehari sebelum kejadian yang merenggut nyawa sang sahabat terjadi.
Pada kesempatan tersebut, Andres mengatakan jika dirinya telah mengalihkan semua tabungan dan juga barang berharganya atas nama kedua anaknya. Dia juga menitipkan beberapa surat penting dan juga sebuah kunci yang diletakkan dalam sebuah box. Hingga saat ini, Pak Sandro menyimpan semuanya.
__ADS_1
Dalam setahun terakhir, lelaki pengusaha hotel tersebut terus berusaha mencari keberadaan kedua anak Andres. Dirinya sangat yakin jika kedua anak tersebut akan selamat. Mengingat tak ada pemberitaan apapun terkait dengan Leo dan juga Arsen. Hanya saja keduanya dinyatakan hilang sejak saat itu.
"Om rasa, sudah saat nya kamu mengetahui semuanya. Om juga berharap kamu bisa memegang amanah yang telah ayah kamu berikan melalui Om. Sudah saatnya kamu bangkit, siapa tahu dengan begitu kamu bisa mencari petunjuk dimana adikmu berada saat ini."
"Aku terus mencarinya hingga saat ini, Om. Aku yakin, Leo masih hidup namun entah dimana."
Arsen menunduk sedih. Terbayang wajah tengil sang adik yang suka menjahilinya dulu. Dia rindu, sungguh rindu pada kejahilannya itu.
"Om akan bantu sebisa om. Besok, kalian usahakan datang ke kediaman Om. Semua ada disana, semua jawaban atas segala pertanyaan yang selama ini mengganjal pikiranmu.Apa yang harus kamu ketahui mulai saat ini, akan Om beritahukan semuanya. Kau juga harus ikut, nak. Kau juga harus tahu semua hal tentang calon suamimu ini. Karena semuanya akan berkaitan dengan mu juga."
Arcila yang sejak tadi hanya menjadi pendengar hanya menganggukkan kepalanya setelah menoleh pada Arsen dan mendapati anggukan dari lelaki tersebut.
Pak Sandro yang melihat interaksi keduanya merasa senang. Dia yang hanya memiliki satu orang putra yang kini tengah menyelesaikan studinya di Inggris tentu merasakan apa yang keduanya rasakan.
Pertama kali melihat Arcila yang dikenalkan dengan nama Sanca padanya, ada sesuatu yang membuat Pak Sandro langsung akrab dan sayang pada gadis cantik tersebut. Senyum Arcila dengan kedua lesung yang timbul di kedua pipinya mengingatkan dirinya pada Almarhum Sena. Wanita yang dulu sempat mencuri hatinya meski hanya sebentar.
*
*
*
Keduanya kembali saat malam semakin larut. Senyum nampak terukir indah di bibir gadis cantik tersebut. Hatinya sangat bahagia malam ini. Arsen mengenalkannya sebagi kekasih membuat hatinya menghangat.
Lelaki yang sedang fokus pada setir mobil disampingnya tersebut memang sudah beberapa kali mengatakan rasa sukanya. Namun selama itu juga, Arcila menganggapnya sebagai candaan dan bentuk suka seperti layaknya seorang adik. Yang orang lain lihat, keduanya memang nampak sebagai kakak beradik ketika sedang berada diluar.
__ADS_1
Arcila tidak mengira jika Arsen seserius itu dengan ucapannya.
"Kenapa senyum senyum begitu? ada yang menarik?" Arsen yang sejak tadi fokus pada jalanan didepannya menoleh sekilas pada gadis cantik disampingnya itu.
"Tidak ada, hanya bahagia saja."
"Benarkah?" Arsen mencibir gadis yang mencuri hatinya sejak kecil tersebut. Gadis manja dan cengeng itu telah menjelma menjadi gadis cantik yang mampu membuat harinya lebih berwarna.
"Aku masih tak menyangkah, jika paman Andres telah menyiapkan segalanya untukmu dan juga Leo. Sementara aku, aku tak punya apapun untuk ku banggakan saat ini. Bahkan keluargaku juga hancur. Aku hanya sendiri, jika tak ada kakak waktu itu. Entah bagaimana nasibku, mungkin aku juga akan menjadi salah satu korban mereka." Arcila menundukkan wajahnya.
Dia ingat betul, dua hari setelah bersembunyi dirinya nekat untuk keluar hanya ingin mencari pamannya yang tak lain adalah Gio dan Dody. Arcila yakin keduanya akan membantunya dan melindunginya setelah kepergian sang mama.
Hari itu, Arcila dengan penuh amarah pergi meninggalkan Arsen yang dianggapnya jahat karena selalu menghalanginya untuk pulang bahkan ketika acara pemakaman mama dan kakek, neneknya.
Arcila nekat naik taxi dan bergegas pergi ke hotel tempat kedua pamannya tersebut akan melakukan konfrensi pers terkait tentang kasus yang menimpa keluarganya.
Dengan penuh rasa yakin, Arcila melangkah menuju tempat akan berlangsungnya acara. Gadis itu berhasil mengelabuhi petugas hotel dengan menyelinap bersama dengan para wartawan yang sedang mengantri untuk dapat masuk.
Saat didalam itulah, Arcila memisahkan diri dari gerombolan dan memilih menyusuri jalan mencari tempat ke dua pamannya tengah bersiap.
Disaat dirinya melihat bayangan Dody itulah rasa bahagia Arcila terpancar. Namun belum sempat dirinya berteriak memanggil sang paman sebuah tangan mendekap mulutnya. Gadis itu di bawah berlindung dibalik pot bunga besar. Sempat memberontak namun pada akhirnya Arcila terdiam ketika mendengar gelak tawa dari ruangan yang tadi dimasuki sang paman.
Dengan sedikit ragu, Arcila menoleh pada seseorang yang mendekapnya yang tak lain adalah Arsen. Pemuda tersebut mengikuti Arcila, beruntung sekali seorang pengawal yang menyamar sebagai tamu sudah bisa masuk ke dalam hotel. Dengan susah paya pengawal tersebut pada akhirnya bisa menyewa kamar yang bersebelahan dengan kamar yang ditempati oleh Gio.
"Ayo!!"
__ADS_1
Arsen menarik tangan Arcila untuk mengikutinya. Keduanya masuk kedalam sebuah kamar, kemudian Arsen membuka pintu balkon yang terhubung dengan kamar sebelahnya. Meski tak begitu jelas terdengar, namun percakapan mereka membuat sesak dada Arsen dan Arcila. Terutama Arcila yang langsung menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Gadis itu jatuh terduduk dan menangis dalam diam. Sementara Arsen mengepalkan tangannya kuat kuat mendengar nama sang ayah dengan jelas disebut sebagai penghianat keluarga Gerald.