
Dengan sedikit menggerutu, Leo tetap melangkahkan kakinya kembali keparkiran. Sementara Derrick nampak tersenyum geli melihat sahabatnya tersebut.
"Derrick memilih naik ke mobil yang Leo kendarai, sementara Ario melajukan mobilnya sendiri menuju perusahaan. Pemuda dengan mata hijau tersebut nampak menatap lurus ke depan. Matanya tajam menatap jalanan dengan banyaknya mobil yang berlaku lalang.
Hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam mereka telah sampai ke perusahaan. Kedua mobil yang beriringan tersebut berhenti di parkir khusus.
Nampak Leo sudah tak lagi kesal, wajahnya telah berubah dengan senyum yang melekat di bibir tipisnya.
Ketiganya berjalan beriringan memasuki lobi kantor. Hanya Leo yang menyunggingkan senyum meski tipis. Sementara Ario dan Derrick terlihat datar karena sejak awal mereka memang seperti itu. Namun semua itu tertutup oleh wajah mereka yang tampan.
Derrick dengan mata hitam pekatnya mampu menghipnotis orang yang menatapnya. Begitupun dengan Ario yang tatapan matanya bisa membuat lawan bicaranya gugup seketika.
Beberapa karyawan yang mereka temui sepanjang jalan menunduk penuh hormat. Suasana terasa hening seolah orang-orang yang berada disana takut hanya untuk sekedar menarik nafas.
Pesona Ario yang tegas dan tak pandang bulu pada siapa saja yang melakukan kesalahan, membuat seluruh karyawan segan padanya.
Ketiganya memasuki lift khusus para petinggi menuju kantor mereka berada. Di balik tangga tepatnya di sisi meja resepsionis nampak seorang gadis menatap ke arah Derrick, Leo dan Ario. Semenjak ketiganya melangkah masuk, dirinya telah berdiri disana.
"Mereka tampan tampan, tapi tatapannya menakutkan." Gumam gadis itu yang tak lain ada Sarlita.
*
*
*
"Kak, bisa kita ketemu? ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kakak."
Derrick memeriksa ponselnya yang bergetar dan membaca pesan yang dikirimkan oleh Cila.
__ADS_1
"Sekarang?"
"Kakak dimana memangnya sekarang? apa tak sedang sibuk?"
"Baru balik ke kantor, tadi sempat keluar bertemu dengan relasi. Ada apa? apa sangat penting?"
"Iya, aku juga ingin mendengar pendapat kak Rio. Jadi lebih baik kita bertemu nanti setelah kalian selesai dengan urusan kantor."
"Bagaimana jika kamu pulang nanti malam? sekali kali kamu bisa menginap di rumah, dek."
"Aku ingin, tapi kakak tahu sendiri bagaimana jika aku berada disana? bayangan mama yang hadir membuatku sedih. Aku belum bisa menerima kenyataan bahwa mama telah pergi meski hati ini telah mengikuti ikhlaskannya. Aku harap kakak mengerti itu."
"Tentu.Tapi aku berharap kamu bisa segera menguasai diri. Bagaimanapun, rumah itu nantinya akan menjadi tempat tinggalmu."
"Aku tahu kak. Beri aku waktu sedikit lagi, agar aku bisa berdamai dengan semuanya."
"Baiklah, kabari lagi kakak nanti."
Naluri hewan dalam diri Derrick lebih kental dibanding nalurinya sebagai anak manusia. Derrick hanya tahu jika dirinya terlahir dari rahim seorang manusia dengan adik yang merupakan manusia juga.
Tak jelas bagaimana ketika dirinya lahir. Namun sang ayah mengatakan jika Derrick pun lahir dengan wujud manusia namun yang membedakan adanya tanda lahir yang berkilau di dahinya dengan gambar ular bermahkota nampak jelas disana juga tanpa tangis seperti bayi Arcila.
"Ada apa?"
"Sanca ingin bertemu, sepertinya ada hal penting yang ingin dibicarakan secara langsung. Karena tadi dia juga mengatakan ingin bertemu kakak juga." Tatapnya pada Ario yang duduk tak jauh darinya.
"Aku? ada apa ya?" Ucapnya sambil berpikir dan mengira ngira.
"Nanti dia akan menghubungi kita lagi. Oh ya Leo bukannya kamu baru dari sana? ada hal apa yang terjadi disana?"
__ADS_1
Meski Derrick dapat melihat apa yang telah terjadi melalui pikirannya. Tidak serta merta semuanya dia lihat. Derrick hanya sekilas saja tadi melihat pikiran Leo saat di restoran, hanya ingin tahu kemana pemuda itu menghilang.
*
*
*
Di ruangan Gio, nampak Lita sedang melamun. Gadis itu terpesona pada pandangan pertama kepada ketiga pemuda yang dilihatnya tadi.
Gio yang melihat putrinya senyum senyum sendiri menghampiri. Tak biasanya anak gadisnya tersebut bersikap demikian.
"Kamu kenapa, sayang? sepertinya sedang bahagia." Pria paruh baya tersebut mendudukkan dirinya disamping sang putri.
Sarlita mengernyapkan matanya pelan. Menatap sang papa sebentar sebelum mengalihkan pandangannya.
"Tidak ada pa. Aku hanya teringat sesuatu saja."
"Oh ya pa, boleh Lita bertanya?" Sarlita tak ingin sangat papa mengetahui apa yang sedang dipikirkannya.
"Soal apa? tumben ijin dulu sama papa."
"Ini beda pa. Aku sebenarnya masih bingung membedakan. Antara Ario dan Derrick, sedangkan mereka selalu saja bertiga."
"Yang membedakan mereka adalah mata, itu yang paling mendasar. Warna mata mereka berbeda. Wajah mereka juga berbeda meski sekilas nampak mirip. Namun Derrick memiliki badan yang tegap dengan wajah yang hampir 100 persen mirip dengan Arcila. Bola matanya berwarna hitam gelap. Sedangkan Ario memiliki bola mata berwarna hijau."
"Satu lagi?"
"Yang satu lagi entah ayah juga tak tahu dia berasal dari mana. Yang jelas dia bukan orang penting. Tugasmu hanyalah menarik perhatian antara Derrick dan Ario. Mendapatkan salah satu diantara mereka bisa membuat kita mudah untuk menguasai semua harta peninggalan Sena."
__ADS_1
Sarlita menganggukkan kepalanya paham. Gadis itu tersenyum manis dengan sejuta cara yang melintas dalam benaknya untuk bisa menaklukan salah satu dari mereka, kalau perlu ke tiganya.