TITISAN PARA DEWA

TITISAN PARA DEWA
BAB 1. BINTANG DAN BULAN. IDENTITAS KALUNG MATAHARI.


__ADS_3

Api membakar berbagai penjuru kota, menyebapkan langit berubah menjadi warna merah darah. Terikan pasukan menggema di mana mana, suara pedang terdengar jelas saling mengadu satu sama lain.


Seorang gadis menggenggam pedang keluar Dari bangunan yang runtuh. tubuhnya dipenuhi dengan debu, matanya tertutup sebuah Kain. Dia mengacungkan pedangnya ke leher seorang kesatria pria di depannya.


"Apakah semua ini harus terjadi kakak" ucap gadis itu


kesatria itu duduk bersila dengan pedangnya menancap ke tanah. Seluruh tubuhnya bergetar, Dia menghela nafas panjang, air mata jatuh membanjiri pipinya.


" Takdir memang kejam adikku, aku tidak berharap ini terjadi" ujar kesatria itu.


Kesatria itu menatap Langit, kemudian menutup matanya. Sambil menitihkan air Mata dia berkata:


"ini masih langit yang Sama, yang menaungi masa bahagia kita dahulu"


Beberapa tahun sebelumnya.


Negeri Berlian adalah sebuah negeri yang makmur, negeri itu di bangun oleh beberapa klan yang ternama. negeri yang amat luas dengan kekuatan militer yang amat ditakuti oleh negeri Lainnya. Istana megah terhimpit dua tebing yang tinggi nampak jelas berdiri di tengah negeri itu.


Di sebuah pasar tradisional di kota Berlian. Seorang anak lelaki nampak mengangkat beberapa karung berisi beras, dia memindahkannya dari kereta kuda menuju kesalah satu toko.


Anak itu memiliki otot yang lumayan kuat. Usianya berkisar 15 tahun. sehari hari dia bekerja mengangkat barang dagangan warga di pasar. anak itu bernama Bintang.


" Paman, ini sudah semuanya". ucap Bintang sambil menarik nafas karena kecapean.


" Bocah kuat, ini upahmu, lain kali kalo ada yang mau di angkat lagi, aku akan mencarimu" ujar salah seorang pedagang sambil memberikan upah ke Bintang.


Bintang dengan rasa bahagia mengambil upahnya, dia membungkukan badannya dan berterima kasih kepada pedagang itu. dengan upah yang dia pegang, dia bergegas membeli beberapa potong roti untuk dia bawa pulang.


Di perjalanan pulang tidak seperti biasanya, dia mencoba melewati sebuah lorong kecil guna mengambil jalan Pintas. Nampak tiga orang pemuda berdiri di tengah lorong itu, mereka menatap tajam Bintang yang berjalan mendekati mereka.

__ADS_1


Ketika Bintang berjalan melewati mereka, tiba tiba salah seorang pemuda melemparkan sebuah guci tepat mengarah ke kepalanya.Lemparan itu menyebapkan darah mengalir dari keningnya, darah yang mengalir menutupi sebagian Dari wajahnya.


Bintang yang mencoba menoleh ke arah tiga pemuda itu kemudian di serang bertubi tubi. puluhan pukulan jatuh ke berbagai tubuhnya, menyebapkan dia jatuh tersungkur, dan roti yang dia bawa berhamburan ke mana mana.


Akibat serangan tiba tiba yang dia alami. Tubuhnya bergetar menahan rasa sakit. penglihatannya mulai kabur dengan sebagian mata kirinya tertutup oleh darah segar yang mengalir dari keningnya.


Dengan sisa sisa tenaganya, dia meraih sebuah roti yang berhamburan dan memeluknya dengan erat. sambil memeluk roti itu, iya terus Saja menahan berbagai pukulan yang mengarah ke tubuhnya.


Tiba tiba serangan itu berhenti, Bintang mencoba membuka matanya untuk melihat keadaan yang terjadi. dengan penglihatan yang mulai kabur, dia melihat sebuah tangan menghampirinya. Tangan itu memiliki tanda lahir berupa lingkaran penuh yang ditengah lingkaran itu terdapat luka goresan, seakan membelah tanda lahir itu. Bintang mencoba melihat siapa pemilik tangan itu, bayangan seorang pria besar nampak di hadapannya, tapi mendadak kepalanya merasakan sakit yang hebat, matanya sudah tidak bisa lagi menahan kesadarannya. Dia pun pingsan sebelum melihat jelas wajah dari pria itu.


Tidak berselang lama kesadaran Bintang mulai kembali. dia terduduk di pinggiran lorong, Matanya perlahan membuka, darah di keningnya telah menghilang. dia melihat sekelilingnya dan tidak menemukan siapa siapa, seluruh rotinya sudah tidak ada lagi, hanya menyisahkan satu buah roti yang dia genggam dengan erat di pelukannya.


Dia perlahan mencoba untuk bangkit. Matanya menyempit menahan rasa sakit di tubuhnya, dengan kaki yang bergetar dia berjalan meninggalkan lorong itu.


Dengan sempoyongan Bintang akhirnya sampai di sebuah gubuk tua.


Gubuk itu nampak sederhana. Atapnya terbuat dari dedaunan kelapa. dindingnya hanya terbuat dari rautan bambu yang di ikat, sehingga isi dalam gubuk itu masih bisa terlihat dari luar.


Gadis itu bernama Bulan, dia adalah adik dari Bintang. Bulan nampak cantik di usinya, dia memakai baju sederhana, lesung pipi di kedua pipinya nampak jelas ketika dia tersenyum bernyanyi sambil membersihkan kuburan itu.


Bintang yang melihat adiknya, menarik nafas dalam dalam. Dia mencoba menegarkan dirinya, langkah kakinya yang tadi bergetar dia coba tenangkan, dia sedikit tersenyum untuk menutupi rasa sakit di tubuhnya.


"Bulan,, kakak pulang, lihat kakak membawakan roti untukmu" Teriak Bintang mencoba memanggil adiknya.


Bulan yang mendengar teriakan Bintang, bergegas berlari dengan senyum manis menemui Bintang. Dia bahagia kakaknya telah pulang.


Senyum manisnya perlahan hilang, Matanya perlahan memerah. Dia melihat sekujur tubuh kakaknya Kotor, tangannya agak membiru, dan luka di kening kakaknya nampak jelas terpampang.


Melihat kakaknya yang masih tersenyum dengan Luka di tubuhnya, membuat Bulan mencoba menutup Matanya, sebutir air mata jatuh dari mata bulatnya. dia menarik nafas dan kembali tersenyum kembali. Dalam fikiran Bulan, dia mencoba menaham kesedihannya di depan kakaknya, jika kakaknya bisa tegar menahan sakit di hadapannya, mengapa dia tidak bisa sekedar tersenyum untuk kakaknya.

__ADS_1


" ini Roti untukmu adik manisku, kamu makan ya, kakak tadi sudah makan di jalan" Ucap Bintang sambil menyodorkan sebuah roti yang sudah lusuh kepada Bulan. Bintang tau dia juga sedang kelaparan, tapi sebungkus roti tidak akan mengenyangkan mereka berdua, jadi dia lebih mementingkan adiknya ketimbang Dirinya.


"kreeeeaaaakkk" perut Bintan tiba tiba berbunyi,


Bulan yang mendengar suara perut dari Bintang lantas mengambil roti yang sudah lusuh itu, kemudian memotongnya menjadi dua, dia memberikan sepotong roti kepada kakaknya. dia tau bahwa kakanya berbohong dan belum makan apa apa dari tadi.


" ambil ini kak, jika kakak tidak mau memakannya, aku juga tidak mau" ucap Bulan.


Mendengar itu mata Bintang mulai berkaca kaca. dia mengambil sepotong roti pemberian Bulan, dan bersama adiknya mereka memakan roti bersama sama.


keesokan harinya.


Bulan terkaget ketika terbangun dia melihat Bintang merasa kesakitan. tubuhnya menggigil dan terasa amat panas, bekas luka di keningnya mulai menghitam.


Bulan segera berlari mengambil air untuk mengompres kening dari kakaknya. dia juga memasak sisa beras yang ada dan menjadikannya bubur untuk dia suapkan kepada Bintang.


Kegelisahan dari Bulan mulai tak terkendali, ketika setiap suapan yang dia berikan malah di muntahkan oleh Bintang.


air mata mulai menetes dari wajah Bulan. dia sama sekali tidak memiliki uang untuk membelikan ramuan obat kepada kakaknya, dia tidak sanggup melihat kakaknya menderita menahan rasa sakit.


Air mata Bulan tiba tiba berhenti, dia mengingat sesuatu. Bayangan kakeknya tiba tiba muncul dari ingatannya. dia mengingat ketika dulu kakeknya masih hidup, kakeknya sempat mempelihatkan sebuah kalung emas bermotif Matahari kepada mereka. kakeknya berkata bahwa kalung itu adalah identitas mereka, dan kelak kalung itu yang akan membuka jalan takdir yang besar kepada mereka berdua.


Bulan segera berlari menuju sebuah peti peninggalan kakeknya, dia membukanya dan menemukan sebuah kalung emas berbentuk Matahari, dia juga menemukan sebuah titah emas bergambar matahari di samping kalung itu.


Dia mengambil kalung dan titah emas itu, dia berencana untuk menjualnya. dalam fikiran Bulan yang terpenting saat ini adalah membelikan ramuan obat kepada kakaknya.


Bulan mengambil kain untuk menutupi kepalanya, dia mencium kening Bintang yang masih menggigil, kemudian bergegas pergi dari gubuk itu.


Semenjak kakeknya meninggal, hanya Bintang yang dia miliki, dia rela melakukan apa saja, walaupun itu harus menjual satu satunya peninggalan kakeknya, yang dikatakan merupakan kunci identitas mereka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2