TITISAN PARA DEWA

TITISAN PARA DEWA
BAB 4. NAMAKU MATAHARI. BINTANG MENGHILANG


__ADS_3

Bulan mulai sadar dari pingsannya. dia perlahan membuka matanya, mengamati keadaan sekitar. Dia dengan sedikit senyum melihat ikatan di tangannya telah terlepas.


Dia melihat seorang pria gila sedang memakan roti, duduk tidak jauh Darinya.pria itu memakan roti dengan lahapnya, sampai remah remah roti bertaburan di janggutnya yang tak terurus.


Bulan perlahan berdiri. Dia mencoba untuk pergi secara perlahan agar tidak mengagetkan pria gila. Sudah cukup baginya untuk dikejar oleh tentara, Bulan tidak ingin di kejar oleh pria gila juga.


Ketika Bulan mencoba berjalan, rasa skit di kakinya yang terkilir membuatnya sedikit berteriak, membuat pria gila menoleh dan menyadari tindakan dari Bulan.


Pria gila yang sadar bahwa Bulan ingin pergi, hanya melirik Bulan dengan tatapan kosong, sedikit tersenyum kemudian melanjutkan makannya kembali.


Bulan yang melihat pria gila tanpa reaksi sama sekali, mulai berani berjalan kembali, dia mencoba menguatkan Dirinya, sedikit demi sedikit Dengan menahan rasa sakit dia melangkahkan kakinya.


Langkah Bulan tiba tiba terhenti, kakinya sedikit bergetar. Seekor anjing Hitam sambil mengerang berdiri di depannya.


Bulan yang ketakutan perlahan berjalan mundur. tapi anjing hitam itu terus saja maju mengikutinya, anjing itu mengerang seakan marah dan kapan saja bisa melompat ke arah Bulan.


Bulan yang ketakutan dengan spontan memeluk pria gila.


pria gila melirik kearah Bulan, kemudian melihat seekor anjing yang sedang mengerang menatap Bulan.


Pria gila memotong sedikit rotinya, melemparkannya kearah anjing hitam itu.


" Kamu berhasil menakuti tamu kita Rambo" ucap pria gila sambil tertawa terbahak bahak.


Anjing hitam itu memakan roti yang dilempar kepadanya, dia sedikit mengibas ngibaskan ekornya, dan melompat ke arah pria gila kemudian menjilatinya. Ternyata anjing hitam itu peliharaan dari si pria gila.


Bulan merasa telah di kerjain oleh mereka berdua. dia dengan sedikit kesal melepaskan pelukannya dari pria gila. dan hendak pergi meninggalkan mereka berdua.


Belum sempat Bulan melangkah, dia di tahan oleh pria gila. pria gila itu mengeluarkan kalung yang tadi dijatuhkan oleh Bulan, dan memberikannya kepada Bulan.


"Matahari" ucap pria gila sambil memegang kepala dari kalung itu yang berbentuk matahari.


Bulan melebarkan matanya Melihat sebuah kalung yang disodorkan oleh pria gila. Dia dengan segera memeriksa lehernya dan baru sadar bahwa kalungnya telah menghilang.


Rasa kesal dari hati Bulan nampak hilang. Dia dengan segera mengambil kalung dari tangan pria gila. sambil sedikit membungkukkan badannya dia mengucapkan banyak terima kasih

__ADS_1


" terima kasih Paman Matahari, namaku Bulan" ucap Bulan. dia mengira bahwa kata Matahari yang diucapkan pria gila adalah sebutan untuk nama dari pria gila.


Pria gila yang mendengar dirinya disebut dengan Matahari mendadak berdiri. Dia tersenyum bahagia, sambil mengangkat anjingnya Rambo keudara dia bergumam namaku Matahari, ya namaku matahari, kemudian dia tertawa dengan lepas. dalam pikiran pria gila itu, Biasanya orang yang bertemu dengannya akan segera kabur melihat penampilannya, maka sudah lama dia tidak dipanggil dengan sebuah nama, bahkan sampai dirinya sendiri melupakan nama aslinya.


Melihat keakraban Matahari dan Rambo membuat Bulan mengingat akan kakaknya. rasa gelisa muncul di hatinya ketika dia mengingat ucapan dari salah satu prajurit yang tadi menangkapnya. Dia khawatir apabila kakaknya juga berusaha di tangkap oleh para prajurit.


" Maaf paman aku harus segera pergi" ucap Bulan, dia pun bergegas berbalik dan hendak pergi dari tempat itu.


tapi ketika dia hendak berlari, rasa sakit di kakinya akibat terkilir membuat dia terjatuh.


matanya sedikit menyempit menahan rasa sakit, dengan sedikit bergumam memanggil kakaknya dia berusaha bangkit kembali. dia mecoba melangkahkan kakinya secara perlahan tapi rasa sakit membuatnya jatuh kembali. isak tangis mulai muncul dari matanya rasa gelisah akan keadaan kakaknya melonjak tinggi di hatinya, dia sedikit memukul mukul tanah untuk menyemangati Dirinya, Dan mencoba berjalan kembali. dengan terpincang dia berjalan menahan rasa sakitnya.


Matahari yang melihat Bulan seketika hanyut dalam lamunan, dia seakan mengingat sesuatu. dia melihat tubuh Bulan berubah menjadi sesosok gadis kecil lain.


" Apa yang ayah lihat, ayo cepat gendong aku" ucap bayangan gadis itu.


Matahari segera menurunkan Rambo dari pelukannya.


" baik Rosa" ucap matahari dengan spontan.


bayangan gadis kecil itu berubah kembali menjadi Bulan yang sedang berjalan terpincang.


Matahari bangkit dari lamunannya. Dia berjalan melewati Bulan, kemudian duduk berjongkok membelakangi Bulan.


" Naiklah, aku akan mengantarmu" ucap Matahari.


" trimakasih paman, tapi aku tidak mau merepotkan Paman" ucap Bulan, dia malah berjalan melewati Matahari dan tidak naik ke atas punggung dari Matahari.


Matahari yang melihat itu sedikit kebingungan. dia berjalan dan duduk kembali di hadapan Bulan.


"Ayo naiklah" ucap Matahari.


Bulan melirik ke arah kakinya, dia berfikir sejenak jika dia hanya mengandalkan dirinya mungkin dia akan sampai di gubuknya ketika malam hari.


Bulan menghapus air matanya dan kemudian naik ke atas punggung dari Matahari. diapun mengucapkan banyak terima kasih kepada Matahari.

__ADS_1


Mataharipun bergegas pergi dari tempat itu diikuti oleh anjingnya Rambo dari belakang. dia sedikit berlari menyusuri lorong lorong dengan Bulan dipundaknya sedang menunjukan arah di mana gubuknya berada.


Sesampainya di gubuk milik Bulan.


Bulan terkejut melihat gubuknya hancur berantakan, banyak tengkorak prajurit bercecer di mana mana dengan armor yang masih melekat di tubuh mereka.


Matahari berjalan perlahan melewati tengkorak tengkorak itu. seketika hawa dingin menusuk masuk di raganya, membuat langkah kakinya menjadi bergetar. hal yang sama juga dirasakan oleh Rambo, anjing itu merasakan ketakutan yang teramat dasyat membuatnya bahkan tidak berani melangkahkan kakinya.


Sebuah cahaya tiba tiba muncul dari lengan Bulan, cahaya itu Seakan mengisap hawa dingin yang berada di tempat itu.


Matahari dan Rambo hanya bisa menutup Mata mereka akibat Silaunya cahaya itu.


ketika cahaya itu perlahan pudar. Matahari mencoba membuka matanya. Dia tidak merasakan lagi keberadaan dari Bulan di pundaknya Dan juga hawa dingin di tempat itu seketika lenyap.


Dia dengan panik dan kebingungan mencari cari keberadaan Bulan, dan akhirnya dia melihat seorang anak gadis berambut putih sedang terduduk lesu di atas gubuk yang telah Hancur. Dia perlahan mendekatinya mencoba memegang pudak gadis itu, dia mendengar anak gadis itu sedang menangis sambil memanggi manggil nama Bintang.


Belum sempat Matahari menggenggam pundaknya. Gadis itu menolehkan kepalanya ke arah Matahari. Menunjukan matanya yang mengeluarkan cahaya putih menyilaukan.


"paman, kakakku tidak ada di sini, dia hilang" ucap gadis berambut putih itu.


Matahari yang berada dekat dengan gadis itu hanya bisa menutup matanya sambil ketakutan karena cahaya menyilaukan yang keluar dari mata gadis itu.


ketika cahaya mulai menghilang kembali, Matahari mencoba membuka Matanya, gadis berambut putih itu tiba tiba menghilang dan menyisahkan Bulan yang pingsan di atas gubuk itu.


Matahari mendekati Bulan. Dengan perasaan yang bercampur aduk dia mencoba mengangkat dan menggendong Bulan yang sedang pingsan. dia kebingungan kenapa Bulan yang tadinya ada di pundaknya menghilang dan muncul di atas gubuk ini, kemana perginya gadis berambut putih tadi.


Matahari yang tenggelam dalam lamunannya tiba tiba terkejut. Dia mendengar Rambo dari kejauhan menggonggong dengan kerasnya. Dia menoleh ke arah Rambo dan melihat puluhan tentara dengan armor lengkap berdiri tak jauh dari hadapan Rambo.


Di depan para prajurit itu berdiri seorang pria kekar dengan set armor yang berbeda dari prajurit lainnya. Armornya berwarna perak dengan simbol Beruang berada di tengah tengahnya.


" itu salah satu anak yang kita cari, tangkap dia" ucap pria kekar yang memakai armor perak, sambil menunjuk kearah Bulan.


Matahari yang mendengar para pasukan itu hendak menangkap Bulan dengan spontan Berlari sambil memanggil Rambo ikut dengannya. Sambil menggendong Bulan yang pingsan, Dia berlari menuju ke arah hutan di dekat gubuk itu.


" Jangan biarkan mereka kabur" teriak pria yang mengenakan armor perak memerintahkan pasukannya agar segera menangkap mereka.

__ADS_1


Matahari berlari dengan kencangnya melewati beberapa pohon dan masuk ke kedalaman hutan. diikuti oleh puluhan pasukan yang mengejarnya dari belakang.


BERSAMBUNG


__ADS_2