TITISAN PARA DEWA

TITISAN PARA DEWA
BAB 11. SERANGAN BANDIT HUTAN TERHADAP PASUKAN KOMANDAN ARIF.


__ADS_3

Di sebuah ruangan dalam bangunan militer terlihat sebuah pertemuan antara Komandan Arif dan Jendral Hibo. Bangunan itu merupakan tempat dimana basis pasukan pengamanan kerajaan yang dipimpin oleh Komandan Arif Bermarkas.


Di luar ruangan itu terlihat puluhan pasukan yang telah berbaris rapi. Mereka mengenakan set armor lengkap. Sambil berbincang bincang mereka bersiap menunggu perintah langsung dari Komandan Arif.


Di dalam ruangan, nampak Komandan Arif berbincang bersama Jendral Hibo dengan wajah yang serius. mereka sedang menyusun rencana yang matang untuk merebut Bulan dari tangan keluarga Naga emas.


" Kali ini kau tidak boleh gagal dengan rencanamu, jika tidak, lupakan semua perjanjian kita". ucap Jendral Hibo mencoba mempringati Komandan Arif.


Mendengar itu seketika Komandan Arif mengepalkan tangannya, sanking kuat kepalannya hingga menyebapkan beberapa tetes darah keluar dari telapan tangannya. Dia mencoba menahan emosi. Baginya perjanjian dengan Jendral Hibo sangantlah penting.


" Aku akan berusaha sekuat mungkin walaupun nyawaku jadi taruhannya. Ayo kita berangkat". ucap Komandan Arif meminta kepada Jendral Hibo agar rencananya segera di mulai.


Di luar para prajurit merapikan barisan mereka. aktifitas saling berbincang mereka hentikan. Seketika tempat itu menjadi sunyi disusul keluarnya Jendral Hibo dan Komandan Arif bersiap memberikan perintah.


Jendral Hibo dan Komandan Arif naik keatas mimbar yang berada tepat di hadapan para prajurit. Jendral Hibo melangkahkan kakinya sedikit kedepan dan bersiap memerintahkan para prajurit itu.


" Hari ini kita akan menemui sahabat lamaku di dalam hutan Bulsar. Sahabatku itu sedikit kasar terhadap tamu, aku takut dia tidak akan mengenaliku, jadi aku meminta kalian untuk bersiap jika situasi memburuk". Pinta Jendral Hibo kepada para prajurit.


Para prajurit segera memberi hormat dan bersiap mengikuti Jendral Hibo.


Puluhan prajurit segera berangkat menuju hutan Bulsar di pimpin oleh Jendral Hibo dan Komandan Arif berjalan di depan mereka.


Gemuru langkah para prajurit memecah keheningan hutan Bulsar. Burung burung berterbangan dan hewan hewan berlarian ketakutan mencoba menjauh dari pasukan itu. Pasukan itu melangkah melewati sungai dan lembah guna masuk ke kedalaman hutan.


" Apa tuan yakin ini jalan yang tepat tuan, kita sudah berjalan beberapa jam dan sekarang sebentar lagi malam, tapi kita belum menemukan keberadaan mereka " tanya Komandan Arif.


" Kamu diam saja, dan terus melangkah. Bukan kita yang akan menemukan mereka tapi mereka yang akan menemukan keberadaan kita " ucap Jendral Hibo yang agak kesal dengan pertanyaan dari Komandan Arif.


Tidak lama berselang terdengar suara siulan yang saling sahut menyahut bagaikan burung burung yang sedang bernyanyi di kedalaman hutan.


Jendral Hibo yang mendengar siulan itu memerintahkan pasukannya untuk berhenti. Dia mendengarkan siulan itu sambil sedikit tersenyum.


" Mereka sudah menemukan kita, ini kelihatannya Teritori mereka" Ucap Jendral Hibo.


Karena hari sudah menjelang malam dia juga memerintahkan pasukannya untuk membangun sebuah perkemahan di sana Dan bersiap akan kemungkinan terburuk.


Malam telah tiba. Suara katak dan jangkrik mulai berbunyi memeriahkan kesunyian hutan. Api unggun memberikan cahaya di perkemahan itu. Para prajurit terlihat silih berganti berjalan di sekitar untuk menjaga perkemahan itu.


" SRRRAAAAAKKKKK "

__ADS_1


Tiba tiba beberapa anak panah menghujani para prajurit yang sedang berjaga itu. menyebapkan beberapa prajurit yang terkena anak panah tewas seketika.


Di susul munculnya puluhan bandit mulai menyerang perkemahan itu. mereka mengunuskan pedangnya dan melompat dengan liar untuk memulai pertempuran dengan para prajurit dari Komandan Arif.


Di tengah para Bandit itu nampak seorang wanita perkasa. bajunya berwarna hitam ketat yang menampakan lekukan tubuhnya. Dia mengenakan sebuah topeng kappa, dan menggenggam sebuah senjata berupa cambuk bercabang lima Dengan duri duri tajam di tiap cabangnya. dengan cambuknya itu dia berhasil membunuh beberapa pasukan milik komandan Arif dengan mudahnya.


" Semuanya bersiap,, kita di serang" Teriak salah seorang prajurit.


Para prajurit yang sedang beristirahat segera mengambil persenjataan mereka dan mulai menghadapi serangan dari para bandit itu.


Komandan Arif yang sedang bermeditasi di tendanya untuk menyerap energi chi, juga terbangun. dia mendengar keributan dan teriakan pertempuran dari luar tendanya. dia mengambil pedangnya dan keluar untuk bersiap menghadapi pertempuran.


Pertempuran sengitpun terjadi antara pasukan milik Komandan Arif melawan para Bandit yang dipimpin oleh wanita misterius.


" Di mana Jendral Hibo, mengapa dia tidak muncul di saat seperti ini" Ucap Komandan Arif sambil menebaskan pedangnya ke para Bandit satu persatu.


Wanita misterius itu berjalan santai sambil melancarkan beberapa serangan cambuknya keberbagai penjuru perkemahan, menyebapkan beberapa pasukan dari Komandan Arif tewas seketika, dan api unggun berhamburan terkena cambuk itu sehingga kebakaran hebat terjadi di perkemahan itu.


Komandan Arif yang melihat prajuritnya tewas satu persatu mulai naik pitam. wajahnya memerah karena marah, Dia menggenggam erat pedangnya terlihat getaran kemarahan muncul dari tangannya.


Komandan Arif dengan marah berlari menuju wanita misterus itu. Dia sesekali menebaskan pedangnya kearah para Bandit hutan yang mencoba menghalanginya.


Komandan Arif berlari mendekat kearah wanita misterius. Dia melompat sambil mengayunkan pedangnya kearah wanita itu, lompatannya sangat tinggi kira kira mencapai tiga meter.


" AAAKKKKKKKKKKK"


Teriak Komandan Arif sambil menghempaskan pedangnya yang penuh tenaga ke arah wanita itu.


"BBBBBRRRRAAAAAASSSSS"


Debu seketika bertebaran di sekitar komandan Arif. Debu itu begitu padat membumbung tinggi akibat benturan pedang milik Komandan Arif yang begitu bertenaga.


Debu itu perlahan sirna tertiup angin. menampakan sebuah kawah kecil bersama Komandan Arif. kawah itu tercipta akibat benturan keras pedangnya ke tanah.


Komandan Arif sangat marah ketika dia tidak menemukan mayat wanita itu di ujung pedangnya.


" Tidak semudah itu untuk membunuhku pria besar" ucap wanita misterius.


Komandan Arif melirik kearah suara itu. Emosinya semakin menjadi ketika dia melihat wanita itu duduk bersantai di atas mayat salah satu prajuritnya.

__ADS_1


Dia berlari kembali kearah wanita misterius sambil mengangkat pedangnya. Dia menebaskannya ke arah wanita itu sekali, dua kali, tiga kali tapi wanita itu dengan lihainya menghindari tebasan demi tebasan yang mengarah kepadanya.


Wanita misterius yang terus menerima serangan dari Komandan Arif perlahan melompat sedikit kebelakang, dia mencoba menjaga jarak dari tebasan Komandan Arif. setelah dia yakin akan jaraknya dia dengan segera melancarkan serangan cambuknya menuju Komandan Arif.


"SSSRRRAAAAATTTTCCHHHH"


Satu serangan mengenai tepat kepunggung Komandan Arif, membuatnya hampir jatuh kedepan, tapi refleksnya membuat dia menancapkan pedang ketanah dan sedikit berjungkir di atas pedangnya, untuk menyeimbangkan kembali posisinya.


" SSSSRRRRRAAAAAATTTCCCHHH"


Satu serangan cambuk kembali mengarah kepada Komandan Arif. cambuk itu melilit tepat kepedang dari Komandan Arif. dengan satu tarikan dari wanita misterius membuat pedang dari Komandan Arif terlepas dari genggamannya dan terlempar jauh.


" Sekarang apa pria besar" ucap Wanita misterius mencoba mengejek Komandan Arif.


Komandan Arif memandang wanita misterius dengan tatapan marah. dia mengepalkan tangannya dengan keras.


Sebuah aura keluar dari dalam tubuh Komandan Arif, Aura itu menyelimuti Dan mengelilingi seluruh tubuhnya. Tubuh dari Komandan Arif sedikit demi sedikit berubah menjadi seekor Beruang besar.


"AAAAKKKKKGHHHHHH"


Teriakan kemarahan Komandan Arif menggema ke angkasa. Dia akhirnya membuka kekuatan inti emasnya.


" Oh, Ou,,, Pria besar sedang marah, kini kau mulai serius ya,,, hmmn pria beruang". Ucap Wanita misterius yang masih santai mengejek Komandan Arif.


" Aaaaaakkkhhh, mati kau wanita sialan" teriak Komandan Arif sambil berlari menuju wanita misterius dan hendak menyerangnya.


Ketika Komandan Arif telah dekat dengan Wanita Misterius, tiba tiba sebuah rantai besar muncul dari tanah mencoba menyerang Komandan Arif. Komandan Arif dengan sigap melompat mencoba menghindar dari serangan rantai itu.


" Sialan siapa kau, jangan mengganggu, atau kau juga akan aku bunuh" teriak Komandan Arif.


Seorang Bandit muncul dari belakang wanita misterius. Bandit itu memiliki tubuh besar, kepalanya dia ikat dengan bandana merah, dengan cambangnya yang tumbuh subur dari wajahnya. Bandit itu bernama Austas, dia juga merupakan praktisi Inti emas, dengan kekuatan mengendalikan rantai.


" Nyonya, biarkan aku yang menghadapi pria beruang itu" ucap Austas sambil berjalan maju.


" Baiklah Austas, aku akan sedikit menonton, tolong beri pertunjukan yang menarik" Ucap Wanita misterius.


Austas mengangguk dengan permintaan Wanita itu. Dia berjalan maju untuk menghadapi Komandan Arif. Dengan satu sentakan tangan, empat buah rantai muncul dari tanah, rantai itu bergoyang goyang mengelilingi Austas yang berdiri di tengah.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2