
Wanita misterius berjalan memberikan ruang untuk pertempuran Eustas dan Komandan Arif. Dia dengan santainya duduk kembali di salah satu Mayat dari prajurit milik Komandan Arif.
" Kurang ajar kau,,,!" Teriak Komandan Arif murka, dia dengan cepat berlari kembali menuju wanita misterius itu.
SCCRRAAANNGGG, SCCCRAAAANGGG, SCCCRRRRAAANNGG, SCCRRAAAANNGGG.
Empat buah rantai berterbangan menyerang Komandan Arif.
Komandan Arif sedikit melompat, dia berputar putar mencoba menghindari serangan dari rantai milik Austas. Salah satu rantai mengenai tepat ke tubuh Komandan Arif, membuatnya terlempar mundur dan menabrak salah satu tenda di belakangnya.
" Jangan alihkan pandanganmu pria Beruang. Lawanmu itu adalah diriku" ucap Austas.
" AAAKKGGGHHHHHH" Teriak Komandan Arif, dia bangkit dan melempar serpihan tenda ke arah Austas, Sambil berlari kencang menuju kearahnya.
Austas menggerakkan salah satu rantainya mencoba menghempaskan serpihan tenda yang di lemparkan kearahnya.
"SCCCRRRAAANNGGGGG, BRRAAASSSSHHHH"
Serpihan kayu dan tenda satu persatu terlempar berhamburan terkena rantai milik Austas.
Komandan Arif muncul tiba tiba dari balik kain tenda yang terlempar. dengan cakarnya dia berusaha menyerang Austas.
" AAAKKKGGGHHHH" Cakar komandan Arif berusaha menyerang Austas.
SCCCRRAAANNNGGGGG,
Austas menggerakkan salah satu rantainya, membuatnya melilit melingkar seperti sebuah prisai.
Cakar Komandan Arif tertahan prisai rantai itu. tiba tiba dua buah rantai muncul dari samping prisai itu, kedua
rantai itu menyerang Komandan Arif dengan kerasnya. Komandan Arif hanya bisa mengambil posisi bertahan dari serangan Austas.
BRACCCAAAAASSS, BBRRAAAACCCSSSHHH
Puluhan pukulan dari rantai menghujani tubuh Komandan Arif. menyebapkan beberapa bekas luka merah di tubuhnya.
__ADS_1
Komandan Arif tanpa rasa menyerah terus maju menyerang, tetapi serangannya terus dibuntukan oleh prisai rantai milik Austas, bahkan Komandan Arif berulang kali terhempas oleh pukulan dari rantai rantai itu.
" Hahahahaha, Apa cuma segitu kekuatan pengguna inti emas berwujud Beruang" ucap Austas sambil tertawa.
" Ciihhh, rantai rantai itu sangat mengganggu, aku harus mencapai titik jangkauan seranganku agar bisa melukainya, jika tidak aku hanya akan menjadi bulan bulanan rantainya" Gumam Komandan Arif dari dalam hatinya.
Komandan Arif berdiri dengan tegap, dia menarik nafas dalam dalam. dengan tatapan tajam menuju Austas dia kembali berlari mencoba menyerangnya.
" Beruang bodoh, berapa kalipun kamu mencoba akan sama saja ,,,,!" teriak Austas, dengan lekukan tangannya dia menerbangkan keempat rantainya menuju kearah Komandan Arif.
Komandan Arif dengan lincah melompat Dan menunduk untuk menghindari serangan rantai rantai itu. sesekali rantai mengenai tubuhnya tapi tanpa getar Komandan Arif terus berlari maju mendekati Austas.
Ketika telah dekat dengan Austas, Komanda Arif mengambil kuda kuda serangan, kelima cakar di tangan kanannya telah siap mencengkram Austas.
" Tidak semudah itu" Teriak Austas. Salah satu rantainya kembali membentuk lingkaran prisai bersiap menahan pukulan Komandan Arif.
Komandan Arif yang melihat itu sedikit tersenyum. Dengan tumpuan kaki kirinya dia memutar tubuhnya melewati prisai itu dan segera mendekatkan tubuhnya tepat di samping Austas. Ternyata kuda kuda serangan tadi hanyalah sebuah pengalihan.
Kini Austas telah masuk jarak serangannya. Dengan gerakan memutar Komandan Arif telah siap menyerang tubuh Austas.
" Mati kaauuuuu,,,," teriak Komandan Arif.
Sebuah tinjuan tangan kanan dari Komandan Arif mendarat ditubuh milik Austas. membuat Austas terpelanting jauh, tubuhnya berputar putar dan akhirnya berhenti ketika tubuhnya menabrak pohon. benturan tubuh Austas sangat keras, bahkan menyebapkan pohon yang dia tabrak menjadi roboh, meninggalkan tubuh Austas terbaring di dekatnya.
" Kekuatan dari inti emas bertipe hewan adalah fisiknya yang kuat, kau harus membayar dengan nyawamu karena meremehkanku. Sekarang giliranmu wanita gila" ucap komandan Arif sambil melirik kearah Wanita yang mengenakan topeng kappa.
" Apa kau yakin telah membunuhnya, jangan membuang wajahmu darinya, anak buahku tidak selemah itu" ucap wanita bertopeng kappa sambil menunjuk kearah Austas.
SCCCRRRAAACCIINNNGGG
Sebuah rantai tiba tiba muncul dari tanah, rantai itu mengagetkan komandan Arif. dia mencoba menghindari rantai itu, tetapi belom sempat dia mengindar salah satu rantai berhasil menjerat tangan kanannya.
" Aaaaakkggg sialan" teriak komandan Arif sambil melirik kembali ke arah Austas.
terlihat Austas masih berbaring sambil mengangkat tangan kananya menuju Komandan Arif. Dengan sekali cengkraman dari tangan Austas membuat rantai yang mengikat Komandan Arif tertarik dan menyebapkan Komandan Arif terpelanting ke tanah.
__ADS_1
sebuah kawah kecil muncul dari bekas bantingan tubuh Komandan Arif. Komandan Arif mencoba untuk bangkit akan tetapi dua rantai lainnya ikut menjerat tubuhnya membuatnya susah untuk bergoyang sama sekali.
Austas mencoba bangkit. Dari mulutnya nampak sebuah darah segar yang keluar akibat pukulan dari Komandan Arif tadi. Di tubuhnya nampak sebuah rantai melilitnya, Rantai yang melilit itu yang melindungi Austas dari dampak besar pukulan Komandan Arif.
Di dalam sebuah tenda nampak Jendral Hibo sedang bersemedi dengan serius, dia tidak memperdulikan samasekali pertempuran di luar.
" Maafkan aku Komandan Arif. Demi rencanamu untuk melawan tua bangka itu, aku harus mengumpulkan energi dari para pasukanmu dan para bandit yang tewas. hanya itu yang bisa kulakukan agar sebanding dengan tua bangka itu" Guman Jendral Hibo di dalam hatinya.
Di luar pertempuran masih berlangsung.
" Chhiiihhh,, sialan,, jika bukan karena rantai ini melindungiku, satu serangan tadi sudah pasti membuatku taksadar diri" gumam Austas dalam hatinya.
" Sekarang apa pria beruang, bahkan jarimu saja tidak bisa kau gerakkan, Akan aku balas seranganmu tadi" Teriak Austas sambil mengarahkan satu rantai yang tadi melilit tubuhnya untuk menyerang Komandan Arif.
Komandan Arif yang terikat terus saja dihujani pukulan rantai bertubi tubi. dia hanya bisa berteriak kesakitan menerima serangan itu, tanpa bisa berbuat apa apa.
Dia menutup matanya mencoba pasrah menerima pukulan bertubi tubi itu. Dia sudah tidak sanggup lagi, tubuhnya perlahan berubah kembali menjadi manusia.
Tiba tiba muncul bayangan seorang wanita di benaknya, wanita itu sedang menunggunya di sebuah rumah sambil berdoa.
Komandan Arif yang mendapat bayangan itu membuka matanya, memperlihatkan Matanya yang merah membara seakan terbakar. Detak jantungnya berdetak kencang memaksakan energi inti emasnya untuk bangkit kembali. Tubuhnya yang tadi sudah berubah menjadi manusia perlahan berubah kembali menjadi seekor beruang.
Perubahan ini cukup berbeda. Tubuhnya sedikit mengecil layaknya manusia, di tubuh Beruangnya perlahan membentuk armor emas yang keras. kuku kuku beruangnya bertambah panjang dan tajam. wajahnya juga berubah sedikit menyerupai manusia. perubahan Inti emas milik komandan Arif kini telah berada di tahap evolusi.
" ou ou, pria beruang kini memakai baju, sepertinya kau mencapai tahap evolusi." Ucap wanita bertopeng yang masih duduk bersantai. sepertinya dia sama sekali tidak terkejut dengan evolusi dari inti emas milik Komandan Arif.
Getaran Hebat muncul dari tubuh Komandan Arif yang terikat. dia berusaha melepaskan dirinya dari ikatan kuat rantai rantai milik Austas.
" Kau kira rantaiku itu mudah untuk kau hancurkan, SIALAAN,,,,!" Teriak Austas sambil mencengkram tangannya agar ikatan di tubuh Komandan Arif semakin menguat dan satu rantainya terus memukul menghantam tubuh Komandan Arif.
Komandan Arif terus bersaha melepaskan ikatan yang makin mengerat. Perlahan tapi pasti ikatan dari rantai itu perlahan mulai retak. dengan sekali teriakan tiga rantai yang mengikat tubuhnya hancur berkeping keping.
wanita bertopeng dan Austas terperangah kaget melihat kekuatan dari komandan Arif.
"AAAAGGGGKKKKKKHHHH"
__ADS_1
Teriak komandan Arif yang mulai bangkit. Dia dengan cepat berlari menuju Austas yang masih terperangah kaget. kecepatannya kini, bahkan bertambah berkali lipat setelah inti emasnya berevolusi. Dia mengangkat cakarnya yang tajam dan hendak menyerang Austas.
Bersambung