
Xio Hong dengan perasaan bahagia memegang pundak Bulan. dia hendak memberitahu identitas asli dari Bulan. Tapi mulutnya seketika terhenti ketika melihat kodisi mental dari Bulan saat ini. Anak ini belum siap fikirnya. Dia lantas berdiri, sedikit mencium kening dari Bulan dan hendak bergegas keluar dari ruangan itu.
" Aku tidak mengetahui wajahnya saat ini, tapi aku akan mencoba mencari kakakmu" ucap Xio Hong sambil berjalan pergi.
Bulan yang mendengarnya tersentak kaget, lantas segera menoleh kearah Xio Hong. dia ingin mengucapkan sesuatu. tapi mulutnya tak bisa mengeluarkan suara sama sekali.
Di luar ruangan.
Xioe segera berlari menuju Xio Hong yang telah keluar dari ruangannya. Dia melihat sisa darah yang melekat di janggut putih milik ayahnya.
" Ayah ada apa, mengapa ada darah di janggut ayah" ucap Xioe nampak cemas.
Xio Hong hanya tertawa terbahak bahak. Dia sama sekali tidak mempermasalahkan kondisinya. Dia hanya menampakkan sebuah kebahagiaan dari wajah tuanya.
" akkkhhh,, ini cuma luka ringan, tidak usah di khawatirkan. Hari ini, kakek tua ini merasa sangat bahagia" ucap Xio Hong sambil memeluk tubuh Xioe kemudian mengangkat dan menggendong tubuh cucunya Xio wun.
Tidak lama berselang seorang pengawal datang menemui Xio Hong untuk melaporkan sesuatu.
" Tuan di luar ada puluhan pasukan kerajaan, mereka ingin menemui tuan" ucap pelayan itu sambil memberi salam kepada Xio Hong.
Senyum Xio Hong mendadak hilang. perasaannya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. mengingat identitas dari Bulan dan kekuatan Dewa apollo yang telah di wariskan kepada Bulan pasti anggota kerajaan juga sudah mengetahui salah satunya. apapupun yang terjadi dia harus menyembunyikan keberadaan dari Bulan.
Xio Hong menurunkan Xio Wun dari gendongannya. Dia memerintahkan Xioe untuk masuk dan merawat Bulan, dia juga memerintahkan beberapa pengawal untuk menjaga Bulan dan Matahari. Lantas dia sendiri pergi menemui pemimpin pasukan itu.
Di sebuah ruangan tamu milik keluarga Naga emas.
__ADS_1
" Aaaahhh,, Salam untuk tuan Xio Hong, aku Komandan Arif ingin sedikit berbincang bincang bersama tuan". ucap Komandan Arif ketika Xio Hong baru saja tiba.
" Salam Untuk Komandan Arif, Ada perlu apa tuan bertamu kekediaman sederhana kami" sahut Xio Hong.
" Aku menemukan kereta kuda dari klan kalian, kelihatannya baru diserang oleh Bandit gunung. tapi dari aura yang aku rasakan sepertinya kalian bisa mengatasi para bandit itu. Tapi mengapa kalian meninggalkan barang bawaan kalian, apa ada hal penting yang membuat mereka meninggalkannya" ucap Komandan Arif mencoba mengorek informasi.
" ahhh itu,, maafkan keteledoran putriku tuan. Beberapa pengawalku Ada yang terluka jadi nyawa mereka lebih penting dari barang bawaan itu" ucap Xio Hong mencoba mencari alasan.
" Aaaahh,,, kalian terburu buru. oh iya hampir lupa,, kebetulan kami ini sedang mencari buronan kerajaan yang hanyut di sungai, seorang pria, seekor anjing hitam Dan seorang anak gadis kecil. Apa kalian menemukannya..? karena dari yang aku lihat, aku juga menemukan jejak dari kuda kalian di pinggiran sungai, yang menurut tuan sedang terburu buru membawa pengawal yang terluka" ucap Komandan Arif yang sepertinya sudah yakin keberadaan dari Bulan di tempat itu.
" Aku sama sekali tidak tau apa maksut dari tuan, kami sama sekali tidak menemukan apa apa". ucap Xio Hong mencoba menutupi keberadaan dari Bulan.
Komandan Arif tersenyum mendengar perkataan Xio Hong. Dia lantas memerintahkan pasukannya untuk masuk membawa barang yang ditinggalkan oleh Xioe. dan segera pamit dari hadapan Xio Hong.
rasa gelisa muncul dari hati Xio Hong. sepertinya anggota kerajaan benar benar sedang memburu keberadaan Bulan. apapun yang terjadi demi sahabatnya di masa lalu, dia harus melindungi Bulan walaupun nyawa taruhannya.
dengan senyum Komandan Arif berjalan meninggalkan kediaman dari klan Naga emas. untuk saat ini dia telah tau keberadaan dari Bulan. di fikirannya dia telah membuat suatu rencana yang matang untuk menangkap Bulan, dan untuk awalnya dia membutuhkan suatu benda dari kerajaan.
Di dalam istana kerajaan Berlian nampak sebuah ruangan pertemuan yang sangat besar dan megah. di tiap sisi ruangan itu berdiri beberapa pasukan yang sedang menjaga ruangan itu. Di tengah tengah ruangan terdapat sebuah meja oval yang terdiri dari dua belas kursi yang saling berhadapan, kursi itu di duduki oleh masing masing jendral negri Berlian, dikatakan bahwa para jendral itu merupakan praktisi praktisi inti emas yang sangat hebat. Tidak jauh dari meja oval itu terdapat sebuah singgasana kosong yang tidak di duduki oleh seorangpun. Singasana itu memiliki sebuah motif Matahari yang terpahat di tengahnya, sebuah Motif yang sama dengan kalung yang di pakai oleh Bulan.
" Tuan Redolf, ada keperluan apa tuan mengumpulkan kami samua" ucap salah seorang Jendral.
Tuan Redolf adalah seorang jendral terkuat di negeri Berlian. dia memiliki perawakan tinggi dan besar, rambutnya berwana kuning emas dengan sedikit uban yang mulai nampak. Dia adalah seorang jendral yang memegang kekuasaan penuh di negeri Berlian semenjak singgasana raja di negeri ini kosong. Dia adalah orang yang sama yang ditemui oleh para pendeta kemarin.
"Apa ayah sudah berubah fikiran dan ingin menduduki singgasana itu, sehingga Ayah mengumpulkan kami di sini secara mendadak" ucap Jendral Rafons.
__ADS_1
Jendral Rafons adalah putra dari jendral Redolf. seperti ayahnya dia memiliki perawakan tinggi dan besar dengan rambut kuning emas yang dia sisir kesamping. Dia adalah seorang jendral yang paling muda, walaupun dia masih muda tapi kekuatannya bahkan berada di nomor dua dari para jendral lainnya. Dikatakan dahulu dia adalah murid langsung dari raja negeri berlian sebelumnya.
" Kau melukai hatiku Rafons, aku hanyalah seorang penjaga tahta tidak lebih. seorang raja adalah dia yang memiliki garis keturunan dari pengguna kekuatan dewa apollo" ucap Redolf dengan sedikit tertawa.
" jika seperti itu, mengapa ayah dulu melakukan pemberontakan terhadap raja" ucap Rafons dengan sebuah tatapan tajam mengarah langsung ke ayahnya.
Sepertinya Redolf dan Rafons memiliki hubungan ayah dan anak yang rumit.
" BRRRRAAAAKKKKK" Terdengar suara gebrakan meja dari tempat duduk salah seorang Jendral.
" Rafons kau diamlah, kau blom bisa paham dengan situasi waktu itu. jika kau berani mengejek Tuan Redolf, aku akan melupakan kau adalah anaknya dan segera menghabisimu" ucap jendral Nico sambil mengeluarkan energi inti emasnya untuk mengancam Rafons.
Jendral Nico memiliki perawakan yang sedang, tubuhya juga kekar seperti Redolf, dia memiliki rambut Hitam dan mohak.
" Coba saja jika kau bisa melakukannya" ucap Rafons. sambil mengeluarkan energi inti emasnya untuk menahan energi inti emas milik Jendral Nico.
Benturan kedua energi emas dari para jendral membuat meja di ruangan itu bergetar kencang.
para jendral lainnya terlihat tenang, mereka sama sekali tidak terpengaruh akibat benturan kekuatan itu. bahkan ada dari mereka dengan santainya berbincang satu sama lain.
" kalian berdua tenanglah. Aku memanggil kalian semua kesini mau membicarakan tentang Kekuatan Dewa Apollo yang telah di wariskan" ucap Jendral Redolf sambil meneguk segelas teh hangat.
Seketika ruangan menjadi hening. Mereka semua terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Jendral Redolf. bahkan Rafons Dan Nico yang tadi berselisih saling menurunkan energi mereka, mereka semua fokus dengan apa yang akan di sampaikan oleh jendral Redolf.
" Hhhhhh,,,, untung saja meja ini terbuat dari bahan anti energi inti emas, kalau tidak meja ini pasti berakhir seperti sebelumnya" Ucap jendral Redolf sambil mengelus ngelus meja itu.
__ADS_1
Bersambung