
Seluruh Jendral nampak terkejut dengan pengumuman yang diutarakan Jendral Redolf. Mereka semua menghentikan aktifatas acuh tak acuh mereka terhadap pertemuan ini, dan mulai fokus dengan apa yang akan dikatakan oleh Jendral Redolf.
" Ya,,, Pewaris tahta Dari Raja Eliasi masih hidup, bahkan pewaris itu telah mewarisi kekuatan nenek moyang mereka, kekuatan Dewa Apollo" ucap Jendral Redolf sambil tersenyum.
" Bagaimana Tuan bisa tau, jika pewaris itu telah mewarisi kekuatan Dewa Apollo". ucap salah seorang Jendral.
Jendral Redolf pun mencerikatan tentang pertemuan mendadaknya dengan para Pendeta dan tentang fenomena yang terjadi di kuil Dewa Apollo yang menandakan pewaris kekuatan Dewa Apollo telah hadir di dunia.
" Jadi apa yang harus Kita lakukan, aku takut sang pewaris juga akan mewarisi tekat dari Raja Eliasi, dengan kekuatan Dewa Apollo yang dimilikinya bahkan dua belas jendral tidak akan bisa menghentikannya." ucap salah seorang Jendral dari kursinya.
" Jika perhitunganku benar, mereka saat ini masihlah seorang anak kecil. Putra dan putri Raja Eliasi masih seperti tanah liat yang mentah, Aku yakin jika Kita menemukan mereka sekarang, kita masih bisa membentuk mereka sesuai keinginan kita" ucap Jendral Redolf dengan tatapan serius.
" Jika tidak sesuai keinginan Ayah, Ayah akan menghabisinya lagi kan seperti Raja Eliasi". ucap Jendral Rafons.
Jendral Nico yang mendengar ucapan Rafons seketika naik pitam kembali, Dia mengeluarkan pedangnya dan mengarahkannya ke arah Jendral Rafons.
" Hei Nico, jangan coba coba mengeluarkan senjata diruang pertemuan ini, terlebih lagi terhadap tuan Rafons, atau kau akan tau akibatnya" ucap salah seorang Jendral sambil mengeluarkan kekuatan inti emasnya diikuti beberapa Jendral lainya untuk mengintimidasi Jendral Nico.tetapi beberapa Jendral yang melindungi Nico juga mengeluarkan energi inti emas mereka untuk menahan kekuatan inti emas yang mencoba mengintimidasi Jendral Nico.
Seketika ruangan itu bergerumu Dengan dasyat, meja anti energi itu perlahan retak akibat benturan energi inti emas yang terlalu banyak.
Setelah penggulingan tahta terdapat dua kubu Jendral yang saling berselisih, ada yang masih setia dengan Raja Eliasi yang dipimpin oleh jendral Rafons dan ada yang memihak kepada Jendral Redolf. Jendral Redolf sebenarnya telah memberikan pilihan kepada para Jendral lainnya untuk mengikutinya atau meninggalkannya. tapi Jendral yang masih setia Kepada raja Eliasi memilih tetap Untuk menduduki kursinya, menunggu kesempatan untuk melawan balik Jendral Redolf.
__ADS_1
Redolf menatap Nico dengan tatapan lembut. dia tau betul watak berapi api penuh emosi milik Nico, tapi baginya kesetiaan Jendral Nico terhadapnya adalah yang terbaik dari semua Jendral.
Redolf mengangkat tangan kanannya, menatap Nico dan menyuruhnya untuk menurunkan pedangnya. Jendral Nico mengangguk dan segera menurunkan pedangnya kembali. diikuti menghilangnya energi inti emas dari para jendral lainnya.
" HAHAHAHHA, kalian semua itu Tiang penyangga kerajaan , jangan Ada perselisihan di antara Kita, jika tidak pria tua ini akan menangis di sini seperti bayi". ucap Jendral Redolf sambil tertawa, mencoba menenangkan situasi yang memanas di ruangan itu.
" aku paham dengan perselisihan di antara kita. tapi untuk saat ini, mari kita para jendral menyatukan tangan saling membantu Untuk menemukan pewaris tahta itu, dan mendudukannya ke singgasana yang telah lama kosong. Kita akan lihat akan dibawa kemana negri ini oleh pewaris itu, setelahnya keputusan ada di tangan kalian" ucap Jendral Redolf.
Para Jendral saling melirik satu sama lain. walaupun mereka memiliki impian berbeda untuk negeri ini tapi mereka memiliki keinginan yang sama yakni menemukan pewaris tahta lebih dulu. mereka semuapun menganggukkan kepala mereka dan setuju dengan permintaan Jendral Redolf. Hanya Jendral Refons yang nampak menunjukan wajah sinis seakan tidak menyukai apa yang dikatakan ayahnya.
Pertemuan itupun berlanjut dengan saling mengungkapkan stategi untuk menemukan sang pewaris tahta. Hanya Jendral Rafons yang diam dan nampak sudah tidak perduli dengan pertemuan itu.
Pertemuanpun berakhir. Semua para Jendral berdiri saling memberi salam dan meninggalkan ruangan. menyisahkan Jendral Redolf dan Jendral Nico berdua di ruangan itu.
" Kita tidak punya pilihan lain. Kau tau para Jendral masih ada yang setia terhadap Raja Eliasi. Jika aku menduduki tahta bisa jadi mereka semua akan memberontak melawan kita. Sudah cukup kita kehilangan banyak setelah penggulingan Raja Eliasi, negara kita akan menjadi Lemah. Yang kita butuhkan adalah sang pewaris tahta untuk meyakinkan para Jendral itu, sang Pewaris tahta akan aku didik sesuai dengan keinginan kita, jadi kita bisa mewujudkan impian kita tanpa ada pemberontakan sama sekali". ucap Jendral Redolf menjelaskan rencananya kepada Jendral Nico.
" Yang aku khawatirkan itu justru anakmu tuan. dia adalah murid langsung Raja Eliasi". ucap Jendral Nico.
Jendral Redolf hanya menarik nafas panjang mendengar itu. Dia kelihatannya sudah pasrah dengan sikap keras dari anaknya, dia merasa anaknyalah kelak yang akan menjadi penghalang besar untuk rencananya. Dia bisa saja mengusir atau bahkan menghabisi Rafons, tapi rasa sayangnya terhadap anak satu satunya itu terlalu besar di hatinya.
Di dalam sebuah ruangan di istana, nampak pecahan guci berserakan di mana mana. Di dalam ruangan itu nampak foto dari mendiang Raja Eliasi bersama dengan Jendral Rafons yang masih kecil. Di ruangan itu nampak Jendral Rafons bersama dengan salah seorang Jendral sedang mendiskusikan sesuatu.
__ADS_1
Nampak wajah kesal dari Rafons, rambutnya yang tadi tersisir rapi kini nampak acak acakan. dengan penuh emosi dia melempar sebuah titah emas bergambar Matahari hingga pecah menjadi dua. Titah itu adalah titah milik Bulan yang pernah Bulan jual untuk mengobati kakaknya Bintang.
" Ini semua salahmu Hibo, kau terlalu lama mendapatkan anak itu. percuma saja kita mengetahui lebih dulu keberadaannya dan tidak mendapatkan hasil apa apa. Sekarang semua Jendral sudah tau, terlebih tua bangka itu" ucap Jendral Redolf meluapkan amarahnya kepada Jendral Hibo.
Jendral Hibo adalah salah satu dari dua belas jendral negeri berlian. kesetiaannya berada pada tangan Jendral Redolf, dialah Jendral yang memerintahkan Komandan Arif untuk menangkap Bulan hidup hidup. Dia memiliki perawakan besar dengan Kulit sawo matang dan tidak memiliki rambut Sama sekali di kepalanya.
" Maafkan kesalahanku Tuan. kedua anak itu sangat licin seperti belut. seperti ada kekuatan yang selalu melindungi mereka, dan sekarang kita tahu kekuatan apa itu. saat ini keberadaan dari anak lelaki masih terus kami cari, tapi untuk anak gadis sepertinya dia berada di kediaman keluarga Naga Emas" ucap Jendral Hibo berusaha menjelaskan situasi.
" Tunggu apa lagi, cepat pimpin pasukan untuk mengambil anak itu, jika klan Naga emas menolaknya binasakan saja mereka" pinta Jendral Rafons.
" Tuan tau siapa pemimpin dari Klan Naga emas. dia bukan orang sembarangan, reputasi mereka sangat terkenal di negeri ini. Kemungkinan jika kita mencoba terang terangan melawan klan Naga emas, maka akan menimbulkan kecurigaan dari Jendral Redolf. hal terburuknya adalah mereka akan mengambil anak itu dan kita justru akan melawan ayahmu secara langsung" Ujar Jendral Hibo mencoba menenangkan kemarahan dari Rafons.
Jendral Hibo pun menjelaskan sebuah rencana yang telah disusun oleh Komandan Arif. Amarah Jendral Rafons seketika menghilang ketika mendengar rencana itu. sebuah senyum perlahan nampak dari wajah Refons.
Setelah menjelaskan rencananya, Jendral Hibo segera pamit dari hadapan Jendral Rafons untuk segera menjalankan rencananya.
Tidak lama berselang sejak kepergian Jendral Hibo. seorang prajurit yang tadi menjaga di pintu ruangan milik Rafons segera masuk Menemuinya. Dia memberi salam kepada Rafons dan menunggu perintahnya.
" Aku membutuhkan bantuan kekuatan inti emasmu, pergilah ke kediaman naga emas dan berikan laporan setiap apa saja pergerakan di sana kepadaku, Jendral Wakali". ucap Jendral Redolf.
Prajurit itu seketika tersenyum, mengiyakan permintaan Rafons. dan segera pergi mengikuti Jendral Hibo.
__ADS_1
BERSAMBUNG