
Hutan Bulsar adalah hutan yang dimasuki oleh matahari. hutan yang masih menjadi bagian dari negeri Berlian, hutan yang sangat luas di huni oleh beberapa satwa liar. hutan ini juga memiliki beberapa perbukitan batu dengan aliran sungai berada di dalamnya. di katakan bahwa hutan ini bahkan di huni oleh beberapa bandit yang kejam.
Matahari terus saja berlari tanpa henti. dia terus memasuki kedalaman hutan Bulsar, melewati beberapa perbukitan batu, sesekali dia menoleh kebelakang memastikan bahwa para prajurit tidak lagi mengikutinya.
Ketika dia telah yakin lepas dari pengejaran para prajurit, dia menghentikan larinya. dia dengan nafas yang terengah engah menurunkan tubuh Bulan dan menidurkannya di bawah sebuah pohon besar. Dia bersama dengan Rambo mengambil nafas panjang dan duduk beristirahat di samping Bulan.
"KRREEAAAAKKKK"
terdengar sebuah bunyi keluar dari perut Matahari. dia menggenggam perutnya. akibat dari tadi hanya berlari tak tentu arah membuat dia merasakan lapar. Matahari yang lapar kembali berdiri. dia memeriksa sekeliling tempat itu, siapa tau ada sesuatu yang bisa mereka santap.
Seekor kelinci tiba tiba muncul di hadapannya. Melihat itu, Matahari merangkak secara perlahan mendekat ke arah kelinci itu, ketika sudah dekat dia mengambil sebuah batu kecil dan melemparkannya kearah kelinci itu.
"BRUUUSSSHHHH"
Sebuah percikan api kecil muncul, ketika batu yang dilempar matahari meleset dan malah mengenai sebuah batu besar di dekat kelinci.
kelinci itu terperangah kaget dan segera berlari menjauh. Matahari yang melihat kelinci itu berlari segera memerintahkan Rambo untuk mengejarnya, Rambo pun mengejar kelinci itu diikuti oleh Matahari yang mengejar dari belakang.
Sangking kencangnya kejar mengejar antara Rambo dan kelinci membuat Matahari kehilangan jejak mereka. dia tidak berani mengejar mereka terlalu jauh dan membiarkan Bulan sendirian di hutan itu. Dia tahu bahwa Rambo pasti akan kembali.
Matahari menunggu dengan sabar kepulangan Rambo. Sambil menunggu dia memeriksa semak semak sekitar, siapa tau dia menemukan sesuatu yang menarik.
Ketika dia sedang jongkok memeriksa semak, Rambo menggonggong dari belakangnya, membuat dia melompat kaget dan kepalanya masuk kesebuah kubangan lumpur di dekat semak itu.
Matahari mengangkat kepalanya, wajahnya dipenuhi oleh Lumpur, membuat warna hitam seakan menyatukan wajahnya bersamaan dengan janggot dan kumisnya. Dia menoleh kesal ke arah Rambo dan hendak memarahinya.
akan tetapi Rasa marahnya hilang ketika dia melihat Rambo membawa seekor kelinci hasil buruannya. Dengan tersenyum dia mengelus elus kepala Rambo seraya berterima kasih.
Rambo menggonggong kegirangan seakan menertawakan wajah tuannya yang penuh Dengan lumpur.
Matahari dengan membawa kelinci, kembali duduk di samping Bulan yang masih pingsan. Dia menggaruk kepalanya sambil memutar mutar tubuh kelinci itu. Dia bingung bagaimana caranya untuk memasak kelinci itu.
Rambo yang melihatnya, segera mengambil sebuah batu kecil dan menaruhnya dihadapan Matahari, Matahari Dengan bingung mengambil batu itu, kemudian memasukkannya kedalam mulut dari kelinci, menunggunya sebentar dan tidak ada yang terjadi. Dia melirik kearah Rambo sambil menunjuk kebingungan kearah kelinci.
Rambo menggeleng gelengkan kepalanya melihat kebodohan dari tuannya.
Rambo kembali mengambil batu kecil, dia berlari kearah batu besar didekat tempat itu, kemudian menabrak nabrakan batu kecil kearah batu besar.
__ADS_1
melihat itu Matahari teringat ketika dia tadi melemparkan batu kecil kearah batu besar muncul sebuah percikan api.
Diapun mengambil kelinci itu, menaruh Beberapa daun dan ranting pohon kering di dekat batu besar, dia kemudian mencoba menggesekan Batu itu dan percikan api muncul membakar ranting kering di dekatnya.
Matahari mengangkat tubuh Rambo, dia memutar mutarnya seraya bernyanyi kegirangan. Akhirnya mereka bisa memasak kelinci itu. Rambo yang tubuhnya diputar hanya terdiam dengan mata yang berkunang kunang.
Di sebuah bukit di dalam hutan.
" Komandan Arif, coba lihat asap di Sana" teriak seorang prajurit yang berdiri di atas bukit, sambil menunjuk kearah kepulan asap.
Seorang pria kekar berjalan mendekat kearah prajurit yang berteriak. Pria kekar itu adalah pemimpin dari pasukan yang ingin menangkap Bulan. pria itu adalah prajurit yang mengenakan armor perak dengan simbol beruang di tengahnya.
"kepulan asap itu kecil, pasti bukan berasal dari para Bandit. itu pasti mereka, cepat semuanya kita kearah Sana" ucap Komandan Arif memerintahkan pasukannya.
seluruh pasukan yang dikomandani oleh Arif segera berlari menuju kepulan asap itu.
Matahari dengan gembira membawa kelinci yang telah masak menuju ke arah Bulan.
" haii gadis kecil bangunlah, lihat yang aku bawa" ucap Matahari sambil tertawa terbahak bahak.
Dia menarik ekor ular itu, membuat kepala dari ular menoleh marah kepadanya. Ular itu berdesit sambil memekarkan kepalanya, kemudian melompat dan mematuk lengan dari Matahari.
Matahari mengerang kesakitan akibat patukan ular itu, dia mencoba menguatkan dirinya dan menangkap kepala dari ular, kemudian segera membuang ular itu jauh jauh.
ular itu jatuh tepat di depan Komandan Arif yang telah tiba bersama pasukannya. dia tanpa rasa takut menginjak kepala ular itu sampai meledak menggunakan kakinya yang tertutup armor besi.
Matahari yang melihat para pasukan telah tiba, bergegas menggendong Bulan. dengan tangan terluka dia kembali berlari menjauh dari para pasukan itu.
" kepung mereka, jangan biarkan mereka lolos lagi" perintah Komandan Arif.
para pasukan segera berlari mencoba mengepung Matahari.
Matahari dengan menahan sakit ditangannya terus berlari sambil menggendong Bulan. Akibat gigitan ular membuat larinya tidak selincah tadi, matanya lesu dengan penglihatannya yang mulai buram dan nafasnya pun mulai terasa Berat.
Langkah kakinya terhenti tepat di atas bukit Batu yang curam. dia melihat kebawah, sebuah sungai dengan air yang cukup deras mengalir dibawah bukit batu itu.
Pasukan dari Komandan Arif yang dari tadi mengejar, juga telah sampai dibelakang mereka. Matahari benar benar terpojok sekarang. di depannya ada jurang yang terjal, dan di belakangnya ada puluhan pasukan sedang siap menangkap mereka.
__ADS_1
" Serahkan anak itu, maka akan aku berikan kematian yang cepat untukmu dan anjingmu" ucap Komandan Arif mengancam.
Rambo yang mendengar itu segera melompat dan mencoba menyerang Komandan Arif. tapi dengan sigap Komandan Arif menangkapnya dan membantingnya ke arah Matahari. Rambo yang terpental mencoba bangkit lagi dan ingin menyerang kembali.
" Rambo,, Jangan" ucap matahari sambil memeluk leher dari Rambo.
Sebuah ingatan tiba tiba muncul dari ingatan Matahari, ingatan itu memperlihatkan seorang gadis kecil dengan penuh darah memberikannya anak anjing.
Matahari yang mendapat sepenggal ingatan itu, mendadak menatap marah kearah Komandan Arif.
Dia mengambil sebuah batu dan melemparkannya tepat kearah dari wajah komandan Arif yang tidak tertutup oleh helm armor.
Komandan Arif merintih kesakitan sambil memegang kepalanya. Darah segar keluar dari bekas lemparan batu di Kepalanya, dia menatap marah kearah Matahari. menghunuskan pedangnya dan berjalan maju menuju kearah Matahari.
Matahari hanya diam menunggu komandan Arif mendekat seakan menunggu duelnya.
"SRRAAAAKKKK"
Sebuah anak panah meluncur dan menancap tepat di lengan Matahari. membuatnya memundurkan langkahnya. dan terjatuh ke jurang bersama dengan Bulan dalam gendongannya. Rambo yang melihat itu juga turut melompat mengikuti tuannya masuk kedalam jurang.
Komandan Arif yang melihat Matahari terjatuh terlihat marah. dia menoleh kearah pasukannya, dan melihat seorang prajuritnya memegang busur ditangannya. dia berjalan mendekat kearah prajurit itu, kemudian mengayunkan pedangnya dengan kencang.
"SRAAAAKKKKK"
tubuh dari prajurit itu terjatuh, kepalanya seketika terpisah Dari badannya.
komandan Arif mengambil sapu tangan disakunya dan membersihkan darah dipedangnya kemudian kembali menyarungkannya.
" Kita butuh anak itu hidup hidup, cepat telusuri sungai yang ada di bawah dan temukan anak itu. jika anak itu mati akan aku bantai kalian semua" ucap Komandan Arif dengan nada marah.
Semua prajuritnya ketakutan dan segera berlari mencari keberadaan Bulan. Meninggalkan Komandan Arif sendirian bersama dengan mayat prajurit yang kepalanya telah terpisah.
Komandan Arif yang tinggal sendirian membuka armor bagian atasnya, menunjukan banyak luka sayatan di dadanya. dia mengambil sebuah belatih di pinggangnya, kemudian menggorekan belatih itu, menambahkan sebuah luka gores lagi di dadanya.
" Maafkan aku, kau bisa membalasnya nanti di akhirat" ucap Komandan Arif sambil menitihkan air mata.
BERSAMBUNG.
__ADS_1