
Setelah aturan pindah tempat duduk setiap hari, Ana sedikit terbebas dari gangguan Elsa dan kedua temannya. Dia bisa mengikuti pelajaran dengan tenang. Meskipun teman-teman di dekatnya tidak peduli padanya, setidaknya mereka juga tidak mengusik ketenangan Ana. Itu lebih baik, daripada mendapat perhatian dari Elsa dan teman-temannya yang malah membuatnya tersiksa.
Ana sudah merasa bahwa Elsa dan teman-temannya sudah melepaskannya, dan tidak akan mengusik dirinya lagi. Sampai suatu pagi, kelas X IPS 2 ada jadwal pelajaran olah raga.
"Buruan ganti baju! Nanti langsung ke lapangan!" Mario memberi komando pada teman-temannya.
"Ya makanya, cowok-cowok buruan keluar! Biar kami bisa ganti baju di kelas!" Elsa menyahuti Mario.
"Iya deh, iya! Gaes, ayo buruan keluar! Biar cewek-cewek bisa ganti baju. Kalau harus ganti baju di kamar mandi, nanti antrinya lama." Mario mengajak teman-teman sejenisnya yang menjadi kaum minoritas di kelas itu.
"Oke, oke." Para siswa laki-laki segera meninggalkan kelas. Karena mereka tidak perlu repot ganti baju olah raga, tinggal melepas seragam luarnya saja, sudah berubah jadi berseragam olahraga.
"Yang duduk di dekat jendela, gordennya ditutup dong! Yang di dekat pintu sekalian, pintunya di tutup!" Elsa berteriak, memerintah teman-temannya.
Meskipun terdengar tidak nyaman, tapi tetap saja, siswa yang berada di dekat jendela dan pintu, segera melakukan perintah dari Elsa. Karena mereka juga butuh cepat ganti pakaian olah raga.
Ana ikut berganti pakaian olah raga, sama seperti teman-teman yang lainnya. Dia berjongkok di samping meja, supaya tidak terlalu terlihat oleh teman-temannya. Dia malu, meskipun sesama perempuan. Ana menanggalkan baju seragamnya, membiarkan tubuh bagian atasnya hanya tertutup pakaian dalam. Kemudian dengan cepat dia memakai kaos olah raga.
Sedangkan bagian bawah, dia memakai celana olah raga dulu, baru kemudian melepaskan roknya. Ana segera merapikan seragamnya, melipat dan meletakkannya di sandaran kursi, sama seperti teman lainnya. Ana tidak menyadari, ada kamera HP yang mengarah kepadanya sejak tadi.
Ana menunggu semuanya selesai berganti baju, sambil duduk-duduk. Kalau mau keluar dulu, otomatis membuka pintu kelas yang akan membuat teman-temannya akan terlihat dari luar.
"Udah belum? Nanti keburu telat. Kalau dihukum suruh lari keliling lapangan tujuh kali gimana?" Siswa yang duduk di dekat pintu kelas tidak sabar menunggu teman-temannya yang masih sempat untuk memperbaiki riasan mereka.
"Yaudah, ke sana aja dulu!" Elsa bersungut, dia masih asyik melihat video yang direkam oleh Linda tadi.
Satu per satu murid kelas X IPS 2 meninggalkan ruang kelas. Mereka langsung menuju ke lapangan, seperti yang diinstruksikan oleh Mario. Sedangkan Elsa dan kedua temannya sibuk menyusun rencana, sebelum akhirnya ikut bergabung ke lapangan.
Apesnya, mereka datang terlambat.
__ADS_1
"Dari mana aja kalian?" Pak Satya, guru olah raga menegur Elsa, Linda dan Dewi yang telat sampai di lapangan.
"Dari ganti baju, Pak." Elsa menjawab dengan santai.
"Kenapa lama sekali? Teman-teman kalian sudah selesai pemanasan, kalian malah baru datang." Pak Satya kembali memarahi Elsa dan kedua temannya.
"Ya, bukan salah kami, Pak. Salahnya Bapak memulai pemanasan sebelum muridnya lengkap." Elsa masih saja menjawab santai.
"Berani menyalahkan saya, ya! Kalau begitu, kalian bertiga saya hukum lari keliling lapangan 10 kali! Sebagai ganti keterlambatan, juga ucapan tidak sopan kepada guru. Silahkan dimulai!" Pak Satya dengan serta merta menghukum Elsa, Dewi dan juga Linda.
"Tapi, Pak?" Dewi hendak protes, karena cuma Linda saja yang menjawab dadi tadi. Kenapa dia dan Linda ikut dihukum keliling lapangan 10 kali? Hanya saja kemudian Dewi memilih menahan protesnya, daripada dia dimarahi oleh Elsa nanti.
"Tapi apa, Dew? Hukumannya masih kurang?" Pak Satya hanya memancing saja.
"Hehe, enggak, Pak. Udah cukup segitu aja." Dewi tersenyuk kikuk. Senyum yang sangat dipaksakan.
"Baik, Pak."
Elsa, Dewi dan Linda, dengan terpaksa lari keliling lapangan. Menahan malu, karena hanya mereka bertiga saja yang berlari-lari, menjadi bahan tontonan. Sedangkan teman-teman kelasnya, sebagian sudah mulai bermain basket. Sedangkan lainnya duduk menunggu di pinggiran.
Ana termasuk yang bermain basket lebih dulu. Dia bisa merasakan bahagia, punya tim yang solid. Meskipun hanya saat permainan itu saja, tapi itu sudah cukup membuat Ana bahagia.
"Hei! Larinya dipercepat! Jangan seperti kura-kura!" Pak Satya menegur Elsa dan kedua temannya yang hanya berlari kecil saja.
Dengan terpaksa, Elsa, Dewi dan Linda mempercepat langkahnya, karena Pak Satya masih tetap memperhatikan langkah mereka. Sampai akhirnya Pak Satya lengah, dia mengawasi anak-anak yang sedang bermain basket, sambil memberi arahan dan lain sebagainya.
"Pak! Udah keliling 10 kali, nih! Udah kan ya?" Elsa berteriak pada Pak Satya. Ia berbohong, padahal sebenarnya, dia belum menyelesaikan hukumannya.
"Beneran udah selesai 10 kali putaran? Kalian nggak bohong?" Pak Satya mendekati Elsa, Dewi dan Linda. Dia meragukan kebenaran pengakuan Elsa.
__ADS_1
"Iya, Pak. Kami udah keliling 10 kali. Bapak sih, nggak perhatikan! Jadinya nggak ikut ngitung ka" Linda ikut meyakinkan, bahwa mereka bemar-bemar sudah menyelesaikan hukumannya.
"Iya, Pak! Lihat nih, kami udah berkeringat gini. Udah lebih dari pemanasan, Pak!" Dewi tak mau kalah.
"Ya sudah, kalau begitu. Silahkan istirahat dulu! Nanti ikut main basket sesi ketiga." Pak Satya akhirnya percaya pada pengakuan Elsa dan kedua temannya.
"Baik, terimakasih, Pak." Elsa dan kedua temannya tersenyum puas. Akhirnya perkataan mereka dipercaya.
Pak Satya meninggalkan Elsa dan teman-temannya lagi. Dia kembali memperhatikan permainan basket yang sedang berlangsung. Pak Satya menilai satu per satu pemahaman muridnya tentang olah raga basket, terkait peraturan dan lain sebagainya.
Elsa dan kedua temannya memilih untuk berteduh di pinggir lapangan, menjauh dari teman-teman yang lainnya.
"Huh! Capek banget!" Elsa mengeluh. Dia mengipas-ngipaskan tangannya, mencoba mengurangi hawa panas badannya.
"Iya, jadi panas dan keringetan gini kan. Aduh, bau keringet nih! Hoek!" Linda mengendus bajunya sendiri, dia memang tidak suka pelajaran olah raga. Karena membuatnya jadi berantakan, berkeringat dan bau.
"Semua ini gara-gara Ana!" Elsa kembali menyalahkan Ana yang tidak tahu apa-apa.
"Iya, gara-gara menyusun rencana buat dia. Jadi telat kan kita!" Dewi ikut menyalahkan Ana. Meskipun secara tersirat, dia menyalahkan Elsa juga.
"Tunggu aja pembalasanku!" Elsa kembali tersenyum picik.
"Iya, kita jalankan rencana pertama kita!" Linda bersemangat, untuk mengerjai Ana.
"Sip! Kita nggak boleh ngeluh!" Elsa memberi semangat untuk dirinya dan kedua temannya.
Linda dan Dewi mengangguk.
"Udah gatel banget rasanya, lama nggak ngerjain dia." Elsa membunyikan buku-buku jari tangannya, seperti bersiap untuk memukul seseorang. Meskipun kali ini, mereka tidak akan memukuli Ana, tapi mereka punya rencana untuk mengerjai Ana lagi.
__ADS_1