Tolong Balaskan Dendamku!

Tolong Balaskan Dendamku!
Bab 27


__ADS_3

Keesokan harinya, seisi sekolah heboh dengan apa yang tersebar di dunia maya. Termasuk para guru. Mereka akhirnya mengadakan rapat, mengingat korban sudah tidak ada, tapi pelakunya masih ada di sekolah itu.


"Nad, Nad, ada berita penting!" Dewi berlari tergopoh mendekati meja Nadia.


"Berita penting apa?" Nadia menutup novelnya, menyambut berita yang akan disampaikan Dewi.


"Sekarang lagi ada rapat ketertiban!" Dewi bercerita dengan antusias.


"Rapat ketertiban apa emangnya?" Nadia belum mendengar berita itu sama sekali, dari tadi tidak ada yang membahas hal itu.


"Rapat bahas Elsa dan Ana. Guru sampai panggil wali dari Elsa juga Ana. Rasain si Elsa! Biar tau rasa dia! Orang tuanya bakalan tau, gimana perilaku anak kesayangan mereka selama ini!" Dewi menyeringai dengan puas.


"Panggil wali? Trus siapa wali dari Ana?" Nadia tidak menanggapi seringai puas dari Dewi, tapi justru bertanya hal lain.


"Nggak tau sih. Katanya wali dari panti. Aku nggak tau siapa tepatnya." Meskipun sedikit kecewa Nadia membahas hal lain, tapi Dewi tetap menjawab pertanyaan Nadia.


"Oh, bagus deh kalau gitu." Nadia tersenyum singkat.


"Kamu nggak seneng, Elsa akhirnya bakalan dikasih hukuman, Nad? Itu kan, misi kamu?" Dewi merasa ada yang aneh dengan sikap Nadia yang terkesan biasa saja. Padahal dia sudah bersemangat mengompori Nadia.


"Seneng banget lah, Dew. Tapi aku belum mau terburu-buru. Kita lihat dulu, hukuman yang bakalan di kasih ke Elsa nanti. Kalau cuma dimaafkan tanpa sanksi apapun, ya percuma kan?" Nadia menjelaskan alasannya bersikap seperti itu.


"Iya juga sih." Dewi manggut-manggut paham.


"Kita tunggu aja berita terbarunya, apa hukuman yang akan dikasih ke Elsa." Nadia tersenyum, kali ini lebih lebar.

__ADS_1


***


"Teman-teman! Elsa!" Cindy berteriak saat ia kembali ke kelas. Entah dari mana.


Mendengar teriakan Cindy yang meminta perhatian, seisi kelas seketika melihat ke arahnya.


"Elsa kenapa? Kan dia lagi di skors?" tanya salah seorang siswa di kelas itu.


"Iya! Elsa nggak cuma di skors, tapi dia dikeluarkan dari sekolah ini!" Cindy menjelaskan dengan mata yang melotot, saking kagetnya dengan berita yang dia peroleh.


"Hah?"


"Yang bener kamu?"


"Kok bisa?"


Berbagai macam pertanyaan langsung diajukan pada Cindy saat itu juga.


"Aku denger pembacaan hasil rapat guru! Aku juga denger ayahnya Elsa marah-marah, tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Keputusan sudah diambil berdasar suara terbanyak." jelas Cindy.


"Kenapa nggak dipolisikan aja sekalian? Cuma dikeluarkan di sekolah sih kurang greget ya!" celetuk salah seorang siswa.


"Iya, bener." jawab yang lainnya.


Nadia juga setuju dengan hal itu, tapi setidaknya dia masih bisa tersenyum puas. Apapun bentuknya, yang penting Elsa mendapat hukuman.

__ADS_1


"Awalnya guru ada yang usul untuk membawa masalah ini ke polisi, tapi ibu panti melarangnya. Dia memaafkan perbuatan Elsa, juga tidak enak, karena ayahnya Elsa adalah donatur tetap di panti. Jadi akhirnya diambil keputusan itu, supaya nama baik sekolah tidak ikut hancur, kalau hanya membiarkan Elsa tanpa memberinya hukuman." jelas Cindy lagi, dia benar-benar penyampai berita yang bagus.


"Oh, gitu. Baguslah, Elsa mendapat hukuman yang tepat. Lagipula tidak ada yang rugi kalau dia keluar." celetuk salah seorang siswa lagi, kemudian mereka kembali dengan aktifitasnya masing-masing. Tidak peduli dengan nasib Elsa selanjutnya.


"Syukurlah, sekarang kamu bisa tenang, Ana!" Nadia tersenyum puas. Dia kembali membaca novelnya.


***


PLAK!


Tamparan keras mendarat di pipi Elsa, membuatnya meringis sambil memegangi pipinya yang terasa panas sekaligus perih.


"Ayah!" Elsa menatap nanar wajah ayahnya yang terlihat merah padam dengan nafas yang memburu.


"Dasar anak nggak punya adab! Jadi itu kelakuan kamu selama ini? Setan apa yang merasukimu, sampai tega berbuat hal seperti itu, hah? Memalukan!" maki ayah Elsa.


Elsa tertunduk diam. Dia tau kalau dia salah, meskipun sangat sulit baginya mengakui kesalahannya itu.


"Awas saja kalau kamu membuat masalah di sekolah yang baru! Ayah nggak akan nganggap kamu anak lagi! Ingat itu!" lanjut Ayah Elsa sambil menunjuk-nunjuk wajah Elsa dengan marahnya. Kemudian pergi meninggalkan Elsa yang matanya sudah mulai berair.


"Ampun, Yah! Ampun!"


Elsa terduduk, dia tidak mau kalau hal itu sampai terjadi. Dia harus membenahi dirinya, mulai saat ini.


"Maafkan aku, Ana. Maafkan aku." bisiknya lirih.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2