
Nadia atau yang sebenarnya adalah Ana mengusap-usap pundak Sinta, mencoba menenangkan. Meskipun dia tau bagaimana sedihnya perasaan seorang ibu yang ditinggalkan anak semata wayangnya untuk selamanya.
"Jangan nangis lagi, Ma! Nadia udah tenang di alam sana. Dia orang yang baik, aku yakin, dia mendapat tempat terbaik di alam sana."
"Iya, Mama tau. Mama cuma masih nggak percaya aja, Nadia meninggal di usia yang masih sangat muda. Mama sudah tau kalau akhirnya akan seperti ini, tapi Nadia selalu semangat untuk sembuh, makanya Mama jadi selalu berharap kalau Nadia akan berumur panjang." Sinta menjawab disela tangisannya.
"Umur memang tidak ada yang tau, Ma. Semua menjadi rahasia dan hak sepenuhnya milik Sang Pencipta. Contohnya aku, aku udah berusaha memendekkan umurku dengan mencoba bunuh diri, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Tuhan menyelamatkanku melalui tangan Mama, Papa juga Nadia. Aku menyesal pernah melakukan hal bodoh itu, Ma. Sedangkan masih ada orang yang mati-matian berjuang untuk bertahan hidup, sedangkan aku justru pernah berusaha mengakhiri hidupku." Ana atau Nadia KW ikut menitikkan air mata.
"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Kamu tidak perlu mengingat itu. Yang penting sekarang kamu harus berubah, ya! Kamu sudah menjadi Nadia, kamu juga harus berprinsip seperti Nadia. Selalu berusaha untuk terus berjuang melawan apa yang sebenarnya sudah bisa dipastikan. Kamu janji, ya! Demi Nadia, demi Mama dan Papa juga! Kamu harus melupakan Ana dan semua hal buruk yang dialaminya, Ana sudah nggak ada. Yang ada adalah Nadia, kamu sekarang adalah Nadia yang hidup dengan penuh kasih sayang dan dikelilingi orang baik di sekitarnya! Janji, ya!" Sinta teesenyum, ia bergantian menghibur Ana yang sudah berganti wajah menjadi seperti Nadia, sejak Nadia meninggal, atas permintaan Nadia dan kedua orang tuanya beberapa bulan silam.
"Aku janji, Ma!" Nadia mengangguk mantap.
Sinta memeluk Nadia dengan erat. Nadia kembali mengingat saat dia ditemukan oleh keluarga Rama Wijaya hampir satu tahun yang lalu. Saat dia mencoba bunuh diri dengan melompat dari jembatan di atas sungai.
Saat ia sadar, dirinya sudah berada di dalam kamar milik Nadia, di lantai bawah rumah milik Rama Wijaya. Nadia tersenyum dengan lembut kepadanya. Wajahnya pucat tanpa riasan. Nampak dia menahan sakit yang tak berkesudahan.
"Halo, namaku Nadia. Nama kamu siapa?" Nadia tersenyum ramah.
"A - Ana." Ana menjawab dengan terbata.
"Kamu kenapa bisa jatuh ke sungai?" Nadia kembali bertanya.
"A - aku...." Ana memegangi kepalanya, dia ingat lagi kejadian yang dialaminya.
__ADS_1
"Nadia, tanya-tanyanya besok aja, ya! Kasian dia, baru sadar. Sekarang biar dia istirahat dulu." Sinta menghentikan Nadia dari rasa penasarannya.
"Baiklah, Ma." Nadia menunduk. Dia sedikit kecewa. Tapi akhirnya dia berkata lagi dengan semangat.
"Mulai hari ini, kamu tinggal di sini aja, ya! Jadi temanku, atau jadi saudaraku. Aku nggak pernah merasakan punya saudara. Kamu mau kan?" Nadia tersenyum lagi, berharap jawaban dari Ana.
Ana mengangguk lemah.
"Ma! Mama sama Papa mau kan? Angkat Ana jadi anak Mama dan Papa? Jadi saudaraku, Ma!" Nadia berganti bertanya pada Mama dan Papanya yang masih berdiri agak jauh dari ranjang tempat Ana berbaring.
"Kami mau, Sayang." Rama dan Sinta menjawab dengan lembut.
"Asyik! Trimakasih, Ma, Pa!" Nadia melompat kegirangan, dia memeluk mama dan papanya bersamaan.
Ana menitikkan air matanya, ia melihat betapa bahagianya Nadia, punya orang tua yang lengkap dan menyanyanginya sepenuh hati mereka.
"Aku cuma kepengen bisa seperti kamu, aku nggak pernah merasakan kehangatan pelukan ayah ataupun ibu. Aku bahkan tidak tau seperti apa wajah mereka." Ana sudah bisa berbicara dengan panjang lebar.
Nadia melihat ke arah Rama dan Sinta, mengisyaratkan mereka untuk memeluk Ana yang masih terbaring di kasur. Rama dan Sinta menurut, mereka mendekati ranjang Ana, bersama-sama dengan Nadia, mereka memeluk Ana dengan penuh kasih sayang. Padahal baru beberapa jam mereka bertamu dengan Ana, mereka sudah bisa menganggap Ana seperti anak sendiri.
Pelukan dari ketiga orang yang akan menjadi keluarga barunya itu justru membuat air mata Ana mengalir semakin deras.
"Terimakasih." Hanya itu yang mampu terucap dari bibir Ana.
__ADS_1
"Kamu tenang aja ya, Ana. Kami semua akan menyayangi kamu seperti keluarga kami sendiri. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun sekarang!" Rama mengetahui bagaimana perasaan Ana saat ini, dia berusaha membuatnya tenang.
"Kamu makan dulu ya, Nak! Biar Bi Narsih bawakan makanan ke sini." Sinta berkata dengan lembut.
"Aku juga mau makan di sini, Ma. Aku pengen makan bareng kakakku, eh, ngomong-ngomong kamu jadi kakakku apa adikku ya?" Nadia menggaruk kepalanya.
"Aku 16 tahun. Kalau kamu?" Ana bangun, duduk bersandar di bantal.
"Sama! Aku juga 16 tahun. Kalau gitu, aku anggep kamu kembaran aja, ya!" Nadia memutuskan.
Ana tersenyum. Akhirnya dia menemukan tempat di mana dia diterima dengan baik, selain di panti. Dia jadi kepikiran, bagaimana keadaan di panti? Mereka pasti kebingungan saat tau Ana tidak kembali.
"Pak, Bu. Aku boleh minta tolong?" Ana berkata pada Rama dan Sinta.
"Tentu saja boleh, apa yang bisa kami bantu?" Sinta menjawab dengan senyuman khas keibuan.
"Aku minta tolong, jangan bilang pada siapapun kalau aku di sini. Biarkan semua orang menganggap kalau aku sudah mati. Aku terlalu malu dengan kondisi di dunia luar, Bu. Videoku berganti baju sedang tersebar di dunia maya. Aku sudah tidak punya muka lagi, Bu!" Ana kembali menangis, meratapi hal yang membuatnya memutuskan untuk mengakhiri hidup.
"Maksud kamu bagaimana? Siapa yang tega melakukan itu?" Sinta kaget dengan pernyataan Ana. Ternyata itu sebabnya dia jatuh ke sungai, entah disengaja ataupun tidak disengaja.
"Aku belum tau, Bu. Tapi semua yang melihatku mencemoohku, Bu. Memandangku dengan tatapan jijik. Padahal aku tidak pernah melakukan hal itu. Aku dijebak, Bu. Makanya aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Aku berharap, dengan kematianku, orang-orang yang memperlakukanku tidak baik, akan dihantui rasa bersalah, atau mendapat sanksi sosial. Aku sudah bosan jadi korban perundungan di luar sana, Bu. Tolong jangan bilang pada siapapun kalau aku ada di sini!" Ana menceritakan sekilas tentang kejadian yang menimpa dirinya membuat Rama, Sinta juga Nadia trenyuh.
"Malang sekali nasib kamu, Nak! Kami janji, kami tidak akan memberitahu siapapun, kalau kamu masih selamat dan ada di sini, menjadi keluarga kami." Sinta duduk di ranjang, di samping Ana. Dia memeluk Ana sekali lagi.
__ADS_1
"Trimakasih, Bu." Ana kembali menitikkan air mata, dia terharu.
"Ternyata kehidupan di luar sangat keras ya, aku beruntung, selama ini jauh dari keramaian dunia luar. Ternyata dunia luar tak seindah apa yang selalu kuimpikan." Nadia ikut memeluk Ana, meskipun terhalang oleh tubuh ibunya.