
Ana berjalan meninggalkan taman. Dia pergi ke jembatan yang di bawahnya mengalir air sungai yang cukup deras. Ana berdiri di pinggir jembatan itu, dia melihat ke bawah. Dia mulai memperkirakan. Jarak jembatan dengan air sekitar 10 meter, aliran airnya banyak dan deras.
"Sepertinya cukup untuk membuatku mati dalam sekali lompatan." Ana mulai memanjat pagar pembatas jembatan.
"Bapak, Ibu, tunggu aku ya! Aku ingin segera bertemu kalian. Aku sudah lelah hidup di dunia yang sangat tidak adil ini. Tuhan, maafkan aku. Ibu panti, maafkan aku. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan aku!" Ana kembali meneteskan air mata.
Bayangan masa lalu kembali berkelibatan dalam benak Ana. Berbagai macam hinaan yang dia alami sampai saat ini, semua berputar-putar mengisi kepalanya. Dia kuat dengan semua, kecuali hari ini, jejak digital tidak akan mungkin mudah untuk hilang. Meskipun sudah diblokir, mungkin saja sudah ada yang mengunduh videonya, menjadi penikmat video dirinya. Meskipun tidak sepenuhnya tanpa busana, tapi tetap saja itu hal yang sangat hina bagi Ana.
"Semoga pelakunya dapat balasan yang setimpal." Ana mengusap pipinya yang basah karena air mata yang terus mengalir sedari tadi.
Ana melepaskan baju seragam sekolahnya, menyisakan seragam olahraga yang tidak sempat dia lepaskan tadi sekembalinya dari rumah sakit. Ana mengikatkan baju seragamnya di pembatas jembatan. Ia juga melepas rok, beserta sepatunya. Dia meninggalkan di dekatnya berdiri saat ini.
"Selamat tinggal dunia. Selamat datang akhirat. Semoga aku mendapat kehidupan yang lebih baik di sana. Aamiin."
Ana memanjat pagar pembatas jembatan semakin tinggi. Banyak kendaraan yang berlalu lalang, tapi tidak ada satupun yang berhenti untuk menghentikan tindakan Ana.
Ana menghirup udara siang hari yang penuh polusi itu sekali lagi. Dia kembali menata hatinya.
"Akhirat lebih baik, daripada di dunia seperti ini terus."
Beberapa detik kemudian, Ana melompat dari atas jembatan. Membiarkan dirinya masuk ke dalam sungai yang beraliran deras itu. Kemudian semuanya terasa gelap.
***
Ana membuka matanya. Dia memandang ke atas. Cahaya lampu terasa sangat menyilaukan. Ana mengerjap sebentar. Mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu.
"Apakah ini surga? Bersih dan bercahaya terang." Ana membatin.
Ana mengedarkan pandangannya. Dia berada dalam sebuah ruangan yang mewah, dengan berbagai macam hiasan yang terlihat mahal.
"Ini pasti surga. Tempat semua keindahan berkumpul di sini." Ana kembali membatin, sampai akhirnya dia mendengar suara seorang perempuan.
"Papa! Mama! Dia udah sadar!" Perempuan itu berteriak, memanggil mama dan papanya, kemudian mendekati Ana.
"Kamu udah sadar?" Perempuan itu bertanya pada Ana, dia seumuran dengan Ana.
"Sadar? Apa aku belum meninggal? Jadi sekarang aku ada di mana?" Ana kembali membatin.
__ADS_1
Tak lama kemudian tiga orang lainnya mendekati Ana. Dua laki-laki dan satu perempuan. Satu laki-laki di antaranya mengenakan seragam dokter, dengan stetoskop melingkar di lehernya. Ana yakin kalau dia seorang dokter.
"Saya periksa dulu, ya!" Dokter tersebut mulai memeriksa kondisi Ana. Mulai dari detak jantung, mata, lidah, kaki, dan lain sebagainya. Sementara tiga orang lainnya menunggu apa kata dokter.
"Semuanya berfungsi dengan normal, Pak, Bu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya perlu perawatan di rumah, makan bergizi, istirahat yang cukup. Kalau ada tanda lain yang mengkhawatirkan, bisa dibawa ke rumah sakit saja. Supaya di cek secara menyeluruh. Apakah ada efek benturan dan lain sebagainya." Dokter itu memberikan penjelasan pada kedua orang tua yang ada di ruangan itu.
"Baik, terimakasih banyak, Dok." Semuanya mengangguk khikmad.
"Sama-sama. Saya permisi dulu ya, kamu juga harus jaga kesehatan ya, Nadia!" Dokter berpesan pada perempuan seusia Ana.
"Baik, Dok." Nadia tersenyum, meskipun dia terlihat pucat.
Dokter meninggalkan ruangan. Menyisakan Ana, Nadia dan kedua orang tuanya. Nadia berjalan mendekati Ana yang masih terbaring di kasur yang nyaman itu.
"Halo, namaku Nadia. Nama kamu siapa?" Nadia tersenyum ramah.
"A - Ana."
***
"Aku akan cari tau, siapa yang merekam video dan mengunggahnya di medsos itu. Aku punya cara sekarang!" Nadia tersenyum, dia sudah memikirkan cara untuk mengetahui kebenarannya.
Saat tiba waktu istirahat, Dewi duduk sendirian di kantin. Nadia membawa dua makanan dan dua minuman, dia sengaja membawakannya untuk Dewi.
"Aku boleh duduk di sini?" Nadia bertanya pada Dewi yang hanya memainkan ponsel, tanpa memesan makanan ataupun minuman.
Dewi mendongak, melihat siapa yang berbicara dengannya.
"Oh, ya, boleh." Dewi kembali fokus pada HP-nya.
"Aku pesen dua bakso, sama es jeruk nih. Kamu mau nggak? Tadi niatnya mau aku makan sendiri, tapi rasa-rasanya aku nggak kuat." Nadia berbohong. Dia ingin melihat respon Dewi selanjutnya.
"Nggak ada racunnya, kan?" Dewi menyelidik.
"Ya ampun. Ya enggak lah! Ngapain juga aku ngeracuni diri sendiri? Kalau nggak percaya, kamu boleh pilih yang mana aja. Aku ambil sisanya." Nadia duduk, dia mendorong nampan mendekati Dewi.
"Oke deh, aku percaya. Aku pilih ini aja!" Dewi mengambil satu mangkok bakso, juga es jeruk dari atas nampan.
__ADS_1
"Makasih, ya!" Nadia tersenyum.
"Makasih buat apa? Harusnya aku yang bilang makasih sama kamu, udah kasih aku bakso sama es jeruk ini."
"Aku berterimakasih karena kamu mau menerimanya, jadi mereka nggak mubadzir." Nadia kembali tersenyum.
"Oh, oke deh. Sama-sama."
"Yaudah, yuk dimakan!" Nadia menyeruput kuah bakso miliknya, tes rasa, kemudian menambah kecap, saos dan sambal, sesuai seleranya. Begitu juga dengan Dewi.
"Kamu dulu sekolah di mana sih?" Dewi tiba-tiba bertanya pada Nadia.
"Oh, aku dulu sekolah di luar kota." Nadia berbohong, padahal selama ini dia sekolah di rumah, karena kondisi kesshatannya yang tidak memungkinkan untuk sekolah umum.
"Kok kamu bisa tau tentang Ana?" Dewi bertanya lagi, tanpa melihat ke arah Nadia.
Uhuk!
Nadia tersedak kuah bakso yang panas dan ledas itu. Membuatnya terbatuk beberapa kali.
"Eh, ini diminum dulu!" Dewi menyodorkan es jeruk milik Nadia, yang langsung diminum oleh Nadia.
Setelah mereda, Nadia baru menanggapi pertanyaan Dewi.
"Kok kamu tanya gitu?" Nadia balik bertanya, sebelum memberi jawaban terbaiknya.
"Ya aku kan memperhatikan sekaligus mendengar, kok kayaknya kamu tau banget tentang Ana, kalau kamu membuat Elsa terkena masalah, pasti kamu mengkaitkannya dengan Ana. Jadi aku pengen tau aja, sebenarnya, kamu ada hubungan apa dengan Ana?" Dewi menjelaskan, sebabnya bertanya seperti itu.
"Aku nggak bisa bilang itu, karena nanti kamu pasti bilang sama Elsa, kan?" Nadia berusaha untuk tidak memberitahukan hal yang sebenarnya.
"Enggak! Aku udah nggak temenan sama Elsa dan Linda! Mereka berdua bener-bener keterlaluan. Aku nyesel pernah temenan sama mereka!" Dewi menampakkan raut kebencian secara tiba-tiba. Bisa dipastikan dia masih terbawa emosi.
"Janji nggak bakalan bilang?" Nadia belum bisa yakin sepenuhnya pada Dewi.
"Janji!" Dewi menjawab mantap.
"Tapi ada syaratnya! Kamu mau penuhi syarat dariku?"
__ADS_1
"Apa syaratnya?"