
"Oke, ayo kita bantu laporkan video itu! Sekalian akunnya juga ya! Lagi pula ini demi nama baik kita juga, nama baik kelas kita, nama baik sekolah kita!" Salah seorang siswa di kelas Ana, mengajak yang lainnya.
"Iya benar! Ayo kita laporkan! Toh nggak butuh waktu lama juga!" Teman yang lain menyahuti.
Ana tersenyum, ternyata teman-temannya masih peduli padanya. Apapun alasan yang mereka berikan, yang penting mereka semua bersedia membantu. Itu saja sudah cukup bagi Ana.
"Kamu tunggu, ya! Mungkin butuh waktu 24 jam untuk memblokir akun itu, juga videonya. Kamu berdoa aja, semoga cepat dapat tanggapan dari instagram." Mario menenangkan Ana.
"Trimakasih banyak, semuanya!" Ana tersenyum. Dia kembali ke tempat duduknya. Kepalanya masih terasa pening. Belum lama terkena bola, kemudian ada kejadian yang tak terduga, benar-benar membuat kepalanya sakit. Tapi dia tetap harus mengikuti pelajaran selanjutnya.
Tak lama kemudian, Bu Lilis masuk ke dalam ruang kelas. Padahal bukan jadwal Bu Lilis mengajar kelas itu.
"Selamat siang, anak-anak!" Bu Lilis menyapa saat sudah berada di depan meja guru.
"Selamat siang, Bu!"
Para siswa yang semula berhamburan tidak karuan, kembali ke tempat duduknya>8'p masing-masing.
"Saya minta waktunya sebentar, ya!"
"Baik, Bu!"
"Saya mendengar kabar kalau siswa kelas ini ada yang memasang video tidak pantas, dengan embel-embel mengiklankan dirinya sendiri. Sebelum guru BK yang memanggil, saya ingin tau dulu bagaimana kebenarannya, karena saya wali kelas ini. Silahkan di jelaskan!" Bu Lilis bertanya secara umum, dia tidak ingin menunjuk Ana secara langsung. Dia ingin Ana mengaku dengan sendirinya.
"Iya, Bu! Si Ana udah buat nama kelas kita jadi jelek!" Elsa langsung menanggapi.
"Iya, tuh! Meskipun nggak punya duit, ya jangan gitu juga dong, caranya!" Linda ikut mendukung apa yang dikatakan oleh sohibnya itu.
"Maaf, Bu! Mungkin Ana masih tertekan karena hal ini. Jadi dia tidak bisa menjelaskan sendiri. Tapi dari hasil analisis kami, Ana bukan pelakunya. Dia memang benar yang ada di dalam video itu. Tapi itu bukan kemauannya. Dia dijebak, Bu!" Mario dengan lantang menentang ucapan Elsa dan Linda.
__ADS_1
"Maksud kamu bagaimana, Mario?" Bu Lilis meminta penjelasan lebih lanjut.
"Begini, Bu. Ana anak dari panti yang tidak punya fasilitas seperti HP atau apapun yang bisa digunakan untuk merekam. Kami juga tidak pernah melihat dia bermain HP seperti teman-teman yang lain. Kemudian, rekaman itu diambil dari sisi lain, bukan seperti Ana merekam dirinya sendiri dengan meletakkan HP di kursi atau semacamnya. Lagipula, hasil rekaman juga bergerak-gerak, mengikuti sudut pandang yang ingin dia rekam, berarti itu dipegang langsung oleh tangan." Mario menjelaskan panjang lebar. Bu Lilis manggut-manggut.
"Lanjutkan, Mario!"
"Jadi bisa dipastikan, ada orang lain yang sengaja merekam Ana saat ganti baju. Kejadiannya baru tadi pagi. Semua anak cewek berganti baju di dalam kelas ini bersama-sama. Tapi yang disorot cuma Ana. Itu artinya, perekam memang sengaja ingin menjebak Ana. Kemudian akun yang digunakan untuk mengupload itu juga masih baru, Bu. Berarti dibuat dadakan, hari ini juga. Sedangkan Ana dari tadi jam olahraga tidak memegang HP, dia juga sempat pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Saya ikut mendampingi, dan saya bersaksi, Ana tidak bermain HP sama sekali. Berarti, Ana memang sedang dijebak, Bu!" Mario kembali menekankan analisisnya.
"Baiklah, Ibu mengerti. Terimakasih, Mario, sudah menjelaskan. Ibu akan menjelaskan pada guru BK, supaya tidak perlu menghukum Ana. Karena dia adalah korbannya."
"Baik, Bu. Kami sekelas juga sudah melaporkan video itu supaya diblokir. Kalau bisa, minta tolong sama kelas lain untuk melakukan hal yang sama, Bu. Supaya lebih cepat ditanggapi, dan segera diblokir."
"Baik, nanti akan saya sampaikan. Terimakasih, saya ke ruang BK dulu! Selamat siang!" Bu Lilis meninggalkan kelas.
Ana masih berharap, semua akan baik-baik saja.
***
"Gila, ya! Ternyata anak sekolah kita ada yang jadi perempuan panggilan." Ana mendengar suara obrolan teman yang berjalan di belakangnya.
"Iya, nggak nyangka banget. Padahal masih SMA, udah dicoba berapa kali ya?" Sahut yang lainnya.
"Kalau promosi nggak malu-malu gitu, pasti udah banyak yang jadi pelanggannya."
"Astaga! Demi uang, dia rela ya, jual diri gitu. Bener-bener menjijikkan!"
"Nanti kalau udah kena penyakit, baru tau rasa!"
"Iya, bener."
__ADS_1
"Jangan sampai kita seperti itu, ya! Semiskin apapun, jangan sampai menjual diri seperti itu!"
"Aamiin. Semoga Tuhan melindungi kita dari perbuatan hina itu."
Telinga Ana terasa panas. Dia tidak pernah melakukan apa yang mereka tuduhkan, tapi kenapa teman-temannya menuduh dia melakukan hal sehina itu? Mereka juga sampai menyumpahi dia seperti itu.
"Ya Tuhan, apa salahku? Kenapa ada orang yang tega sekali berbuat seperti itu?" Ana menitikkan air matanya. Dia berjalan cepat, menjauh dari lingkungan sekolahnya.
Ana tidak langsung pulang seperti biasanya. Dia memilih untuk pergi ke taman yang tidak jauh dari sekolah. Ana memilih tempat duduk yang sepi dari pengunjung. Ana mengeluarkan buku diary dari dalam map plastiknya.
Ana membuka halaman yang masih kosong. Dadanya terasa sangat sesak. Dunia terasa sangat tidak adil saat ini. Ana mulai menuliskan apa yang dialaminya hari ini.
[Dear Diary
Hari ini adalah hari terburuk yang pernah kualami. Kepalaku terasa pening, entah sengaja atau tidak, tiba-tiba kepalaku terhantam bola basket sampai aku tak sadarkan diri. Beruntung tidak ada yang salah dengan bagian dalam kepalaku.
Belum juga peningku hilang, ada masalah besar yang terjadi. Ada videoku sedang ganti seragam olah raga tersebar di dunia maya. Dengan embel-embel, menerima panggilan. Aku sudah menjelaskan kalau tidak melakukan itu. Bahkan HP untuk merekam dan mengunggah video itu pun aku tidak punya. Suasana benar-benar kacau.
Beruntung teman-teman masih peduli padaku, mereka membantu melaporkan video dan akun abal-abal itu, supaya diblokir dan dihapus dari peredaran. Tapi semuanya sudah terlambat. Video itu sudah menyebar seperti jamur.
Bagaimana aku harus hidup seperti ini? Videoku sudah menjadi konsumsi orang lain. Aku benar-benar manusia yang kotor! Aku tidak bisa hidup seperti ini. Tuhan, ijinkan aku menyusul Bapak Ibuku yang telah Kau panggil terlebih dulu.
Bapak, Ibu. Maafkan anakmu ini!
Teruntuk siapapun yang membaca tulisan ini, aku mohon dengan sangat.
TOLONG BALASKAN DENDAMKU!
Aku akan berterimakasih dari surga. Semoga kamu mendapatkan kehidupan yang baik, selamanya.]
__ADS_1
Ana kembali menitikkan air matanya. Rasa sedihnya berubah menjadi keputusasaan yang mendalam. Dia menarik nafas dalam-dalam. Tekadnya sudah bulat. Dia akan mengakhiri hidupnya, hari ini juga.