
"Aku pura-pura berangkat sekolah aja, tapi aslinya main kan bisa?" Elsa tersenyum miring.
"Iya juga, ya. Pinter juga akal kamu." Linda ikut tersenyum.
"Iyalah, makanya, ayo ikut nemenin aku bolos aja!" Elsa membujuk Linda untuk mengikuti jejaknya yang sesat.
"Besok deh. Sekarang kamu mau kemana? Ke panti?"
"Iya nih, aku harus buat video permintaan maaf sama pengasuh di panti. Trus di kasih ke guru BK, sama di unggah juga ke sosmed dan grup sekolah. Bener-bener merepotkan." Elsa bersungut.
"Yaudah nggak papa, lah. Buat formalitas aja, daripada kamu nggak habis-habis hukumannya, kan?"
Elsa mengangguk.
"Yaudah deh, aku mau ke panti dulu. Bye!" Elsa menggendong ransel di satu sisi pundaknya.
"Oke, semangat ya!"
Elsa mengangguk, meskipun dia merasa lemas. Ia berjalan ke pintu keluar, sebelum ia keluar, ia sempat melihat Nadia menyeringai puas.
"Awas aja, kamu!" Elsa bergumam lirih, kemudian kembali melangkah meninggalkan kelas.
***
Elsa dengan malas pergi ke panti, dia langsung menuju ke kantor, beruntung ada yang sedang berjaga di sana.
"Selamat pagi, Mbak Elsa. Tumben pagi-pagi ke sini? Sendirian lagi, biasanya sama Pak Burhan ke sini kalau sore atau malam?" Laras, salah satu pengurus di panti itu menyambut baik kedatangan Elsa.
"Iya, Bu. Saya mau minta maaf sama ibu." Elsa berkata langsung pada intinya. Bahkan dia belum sempat masuk ke kantor.
"Minta maaf untuk apa, Mbak? Mari silahkan masuk dulu! Kita bicara di dalam." Laras mengajak Elsa masuk ke kantor dan mengajak Elsa duduk di sana. Elsa segera memasang kamera, untuk merekam permintaan maafnya nanti.
"Jadi begini, Bu. Ibu masih ingat sama Ana? Anak panti sini yang hilang itu?" Elsa mulai menjelaskan.
__ADS_1
"Oh, iya, Mbak. Tentu saja saya ingat. Dia anak yang baik, sopan, juga pintar. Dia tidak pernah mengeluhkan apapun pada kami, mungkin dia memendam semua masalahnya sendiri. Sampai memutuskan untuk berbuat nekat seperti itu." Laras mengenang sosok Ana yang sudah dia asuh sejak kecil.
"Saya minta maaf, Bu. Saya suka mengganggu Ana di sekolah. Mungkin itu salah satu sebab dari Ana mengakhiri hidupnya. Tapi saya nggak menyangka kalau Ana sampai akan berbuat nekat seperti itu, Bu." Elsa mengeluarkan air mata palsunya.
"Maksud Mbak Elsa gimana?" Laras bertanya memastikan.
"Saya sering memperlakukan Ana dengan tidak baik saat di sekolah, Bu. Saya benar-benad minta maaf, Bu. Saya menyesal. Saya dihantui rasa bersalah, karena kesalahan masalalu saya itu." Elsa mengusap air mata yang ia buat-buat itu.
"Sudahlah, Mbak. Tidak usah dipikirkan lagi. Mungkin ini memang sudah jalannya. Yang terjadi sudah terlanjur terjadi." Laras menepuk-nepuk pundak Elsa. Dia tertipu oleh air mata Elsa.
"Jadi, apa ibu memaafkan kesalahan saya pada Ana?" Elsa menatap pengurus panti itu lekat-lekat.
"Iya, Mbak. Tentu saja, sebagai manusia, kita harus saling memaafkan. Saya yakin, Ana juga pasti sudah memaafkan Mbak Elsa." Laras berkata dengan mantap.
"Trimakasih banyak, Bu. Semoga saya nggak dihantui rasa bersalah lagi setelah ini." Elsa memeluk Laras, meskipun dibaliknya, dia tersenyum sinis.
"Sama-sama, Mbak." Laras menepuk-nepuk punggung Elsa.
"Bu, maaf mau tanya lagi. Apa barang-barang Ana masih ada di sini?" Elsa mengubah topik pembicaraan.
"Oh, udah enggak, Mbak. Udah dibawa sama orang yang katanya menemukan Ana waktu itu." Laras menjawab dengan jujur.
"Orang yang menemukan Ana?" Elsa mengangkat sebelah alisnya.
"Iya, Mbak. Dia mengaku menemukan Ana, yang tak lama kemudian meninggal. Sebelum meninggal, Ana memberi pesan, untuk mengambilkan barang-barangnya yang ada di sini. Jadi tempatnya bisa dipakai anak lain yang membutuhkan." Laras menjelaskan lebih lanjut.
"Siapa yang menemukan Ana? Jadi Ana memang sudah meninggal? Bukan cuma tidak ketemu jasadnya saja?" Elsa kaget mendengar berita terbaru ini.
"Iya, Mbak. Namanya, mmm, kalau nggak salah, namanya Mbak Nadia." Laras mengingat-ingat nama Nadia.
"Nadia?" Elsa membelalakan matanya tidak percaya.
"Iya Mbak, namanya Nadia. Dia dan keluarganya yang menemukan Ana, merawatnya, juga mengurus pemakamannya setelah akhirnya tidak tertolong. Mereka hanya menunjukkan foto nisannya saja. Kami juga belum pernah mengunjunginya." Laras menjelaskan lebih lanjut.
__ADS_1
"Kalau boleh, saya mau lihat fotonya, Bu." Elsa semakin penasaran.
"Sebentar, Mbak!" Laras mengambil ponselnya. Kemudian mencari gambar yang dikirim oleh Nadia saat dia ke panti bersama kedua orang tuanya, juga menyumbang dalam jumlah yang besar.
"Nah, ini!" Laras menunjukkan foto batu nisan bertuliskan nama Ana, beserta tanggal meninggalnya.
"Kok aneh ya, Bu. Tanggal meninggal dengan tanggal hilangnya Ana selisih jauh." Elsa memperhatikan baik-baik tanggal yang tertera di sana.
"Iya, Mbak. Katanya karena memang Ana dirawat cukup lama, tapi Ana tidak mau sampai orang panti tau, jadi mereka tidak memberitahukan pada kami." Laras kembali menjelaskan.
"Dirawat lama? Berarti di rumah sakit ya, Bu? Rumah sakit mana katanya?" Elsa kembali bertanya menelisik lebih lanjut. Dia masih mencurigai banyak hal.
"Katanya dirwat di rumah aja, Mbak. Pakai dokter keluarga. Karena Ana menolak dibawa ke rumah sakit. Tujuannya memang ingin segera berpulang. Tapi keluarga Mbak Nadia yang tidak tega, jadi tetap memberi perawatan pada Ana. Meskipun akhirnya nyawanya tetap tidak tertolong."
"Pantas saja Nadia tau banyak tentang Ana. Ternyata mereka tinggal bersama selama ini." Elsa membatin.
"Ya sudah, Bu. Nggak papa kalau gitu. Trimakasih banyak informasinya ya, Bu. Saya mau pamit dulu." Elsa tetap menjaga sopan santunnya selama di panti. Dia tidak mau membuat nama baik papanya buruk di panti ini.
"Baik, Mbak. Hati-hati." Laras tersenyum, dia tidak mengetahui seberapa parah perlakuan Elsa pada Ana.
***
Saat jam istirahat, Nadia kembali mengunggah bukti bahwa Elsa melakukan kesalahan lagi. Dia mengunggah hasil tangkapan layar dari Dewi, ke grup sekolah. Tak lupa dia juga mengunggah ke berbagai macam media sosialnya.
"Sebenarnya menyakitkan, mengingat hal ini lagi. Tapi nggak papa, aku bukan yang dulu! Tidak masalah, sudah tidak ada yang mengenaliku lagi." Nadia membatin.
"Kamu pasti akan mendapat hukuman yang lebih buruk daripada saat ini, El! Kamu tunggu aja sampai BK tau!" Nadia menyeringai.
***
Benar saja, gambar itu segera meluas dan diketahui oleh banyak orang. Semua yang dulunya menjelekkan Ana dan menganggap jijik Ana berubah menjadi iba terhadap Ana serta menganggap buruk Elsa. Lebih buruk dari pada kemarin. Komentar nitizen benar-benar seperti apa yang diharapkan oleh Nadia.
"Aku penasaran, hukuman apa yang akan kamu dapatkan kali ini, El?" Nadia menangkupkan kedua tangannya dan menopang dagunya.
__ADS_1