
"Aku dulu emang bagian dari beberapa rencana Elsa. Tidak semuanya, tapi sebagian besar, dia selalu cerita sama aku dan Linda. Dulu aku emang jadi ikut benci sama Ana, aku juga suka ikut mengerjai dia. Karena namanya pertemanan, kamu pasti akan membela temanmu, kan? Meskipun yang dia lakukan adalah hal yang salah? Begitu juga dengan aku. Aku ikut menikmati, meskipun kadang aku tidak ikut beraksi." Dewi kembali memberikan penjelasan pada teman sekelasnya. Pagi ini benar-benar berbeda, kelas yang biasanya ribut saat tidak ada guru, kali ini semua diam memperhatikan kata demi kata yang terlontar dari mulut Dewi.
"Aku juga ikut tertawa saat Ana menjilati sepatu Elsa, aku juga ikut merencanakan pelemparan bola basket yang tepat mengenai kepala Ana, aku juga ikut berdiskusi saat Elsa mengambil video dan mengunggahnya menggunakan akun palsu." Pengakuan Dewi membuat seisi kelas tercengang.
"Hah? Jadi emang bener kalian bertiga pelakunya?"
"Bener-bener nggak punya perasaan!"
"Sadis banget ternyata kalian. Bercandanya nggak kira-kira!"
Berbagai komentar terlontar begitu saja dari siswa di kelas itu.
"Kamu ngomong apaan sih, Dew?" Elsa melotot tidak percaya, Dewi membongkar rahasia mereka bertiga.
"Jadi semuanya udah kalian rencanakan? Parah sih. Itu bisa jadi kejahatan yang direncana! Kalian bisa dapat hukuman dari pihak berwajib! Apa kalian nggak mikir sampai sana?" Salah seorang siswa berkomentar.
"Udah! Udah!" Nadia menghentikan keributan yang ada di kelas itu. Semua kini melihat ke arah Nadia.
"Apa kamu punya bukti kalau Elsa yang melakukan itu, Dew? Kalian mungkin memang akan dihukum, tapi kalau kamu bisa menunjukkan bukti bahwa pelakunya adalah Elsa, kemungkinan hukumanmu akan diringankan. Karena membantu mengungkapkan bukti." Nadia bertanya pada Dewi.
"Ada! Aku punya bukti kalau Elsa yang melakukannya. Jadi tolong kalian jangan menyalahkan aku juga, karena aku hanya sebagai saksi saja." Dewi mengeluarkan HP dari dalam tasnya, kemudian nampak menggeser-geser layar ponselnya.
Semua menunggu apa yang akan dijadikan Dewi sebagai bukti.
__ADS_1
"Nah, ini. Siapa yang mau lihat bisa ke sini!" Dewi menghadapkan layar HP ke arah teman-temannya.
Elsa yang sadar keadaannya semakin terancam mencoba merebut HP dari tangan Dewi.
"Apaan sih, El?" Dewi dibuat geram. Dia menggenggam erat HP-nya, jangan sampai terebut Elsa.
"Siniin, nggak!" Elsa masih tetap ngotot merebut HP Dewi. Linda bergerak maju, dia ingin membantu Elsa mengamankan HP Dewi.
"Tolongin aku!" Dewi minta pertolongan dari teman-temannya yang kurang gerak cepat. Seketika suasana kelas jadi ricuh.
Semua bergerak maju, mendekat ke arah Elsa dan Dewi. Begitu juga dengan Nadia, ia dengan cepat berlari maju, kemudian mengambil HP dari tangan Dewi. Sedangkan siswa lainnya memegangi Elsa dan Linda yang merusaha merebut HP milik Dewi.
"Lepasin!"
"Lepas!"
"Sakit, tau!"
Elsa dan Linda memberontak, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman teman-temannya.
"Makanya diem aja! Biar nggak sakit!" Elsa dan Linda justru mendapat bentakan balik dari teman-temannya. Meskipun mereka berdua superior, nyatanya kalah juga saat melawan teman satu kelas.
"Ada apaan sih? Pagi-pagi ribut banget?" Siswa laki-laki mulai berdatangan, tanda sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.
__ADS_1
"Tau, nih. Kalau ada guru lewat, bisa habis kita semua kena hukuman!"
"Ada kabar menggemparkan. Kalian diem aja! Nanti juga bakalan tau sendiri!" Sahut salah seorang siswa perempuan yang sedang memegangi Elsa.
Dewi segera mendekati Nadia, dia mengambil HP-nya kembali.
"Nad, nih lihat! Kamu kan yang paling gencar membela Ana, jadi aku rasa kamu yang paling layak melihat bukti ini." Dewi menunjukkan bukti yang dia punyai pada Nadia.
"Kamu lihat, ini grup khusus kami bertiga. Dan ini adalah video yang diunggah ke medsos dulu itu, dan yang ngirim ke grup adalah si Elsa. Jadi bisa dipastikan kalau Elsa lah yang merekamnya, kan? Nggak mungkin aku atau Linda, karena ini yang pertama kali mengirimkan emang nomernya Elsa." Dewi memberikan penjelasan pada apa yang ia tunjukkan pada Nadia.
"Iya, kamu bener, Dew. Ternyaga emang Elsa pelakunya, aku udah menduga sejak awal, karena cuma dia yang gencar banget ngerjain Ana sejak awal. Aku bisa sih, laporin dia ke kantor polisi. Dan aku yakin, dia nggak bakalan bisa membela diri. Kecuali kalau dia mengandalkan usianya yang masih di bawah umur. Jadi dia bisa dibebaskan dari kesalahan yang diperbuatnya." Nadia manggut-manggut. Dia memikirkan apa yang akan dia lakukan pada Elsa selanjutnya. Apakah sanksi sosial saja sudah cukup? Atau memang harus tetap dibawa le jalur hukum?
"Teman-teman! Ternyata emang Elsa yang mengambil video Ana waktu itu. Baiknya kita apakan dia? Kita lapor ke BK? Atau ke kepolisian sekalian?" Nadia meminta pendapat pada teman-temannya.
"Tolong jangan laporin aku ke polisi! Tolong, Nad! Aku bersedia melakukan apapun, asalkan jangan laporin aku ke polisi! Papaku bisa kena masalah besar kalau itu sampai terjadi." Elsa berteriak meminta ampun, sedangkan tangannya masih dipegangi oleh teman-temannya.
"Gimana menurut kalian, teman-teman?" Nadia kembali bertanya pada teman kelasnya.
"Mending ke guru BK dulu aja! Biar guru BK nanti yang menentukan. Akan memberi hukuman pada Elsa, atau melanjutkannya ke jalur hukum. Meskipun ini kasusnya udah lumayan lama, videonya juga udah nggak beredar lagi, tapi tetap saja ini sebuah kejahatan! Kecuali kalau Ana bersedia memaafkan perbuatan Elsa. Hanya saja gimana caranya kita tau dia sudah memaafkan atau belum? Sedangkan dia sudah tiada?" Cindy, salah satu murid di kelas itu memberikan usulan. Dia yang membantu Ana saat kasus itu sedang panas-panasnya.
"Gimana yang lain?" Nadia masih meminta pendapat yang lainnya.
"Gitu aja nggak papa. Biar guru BK aja yang memutuskan si Elsa mau dikasih hukuman apa. Kalau sampai ke polisi, mungkin nama sekolah kita juga akan jadi buruk. Jadi, lebih baik diselesaikan di internal sekolah saja." Salah seorang murid kelas itu ikut berpendapat.
__ADS_1
"Oke, biar guru BK aja yang menangani ini. Toh kita memang tidak bisa main hakim sendiri, kan? Trus aku rasa Elsa juga bakalan dapat hukuman berat dari BK. Karena kesalahannya bukan cuma satu, tapi ada beberapa. Mungkin dia akan di skors? Atau dikeluarkan dari sekolah? Atau orang tuanya dipanggil? Ditemukan dengan pengasuh Ana di panti? Dan diminta untuk meminta maaf?" Nadia mengira-ngira hukuman apa yang akan didapatkan oleh Elsa.
"Tolong! Ku mohon, jangan beri tau orang tuaku! Aku bisa mati kalau mereka sampai tau!" Elsa kembali berteriak, kali ini memohon belas kasihan dari Nadia dan teman-temannya.