
Kata-kata Elsa benar-benar membuat Ana sakit hati.
"Kamu boleh merendahkan, menghina dan mencaci maki aku. Tapi tolong jangan jelek-jelekkan pantiku!" Ana kembali buka suara.
"Yaudah, kalau emang nggak mau panti kamu tercinta itu dianggap jelek. Kamu harus buktikan, kalau kamu emang orang yang bertanggung jawab!" Linda ikut-ikutan menyudutkan Ana.
"Betul! Ikuti apa kemauan Elsa!" Dewi tak mau kalah, turut menyudutkan Ana.
"Nah, tiga lawan satu! Itu artinya, kamu harus jilati sepatuku, juga lantai itu!" Elsa menyeringai penuh kemenangan.
Ana terdiam cukup lama. Masih berpikir untuk menuruti kemauan Elsa yang sangat tidak masuk akal.
"Tunggu apa lagi? Cepetan, berlutut! Jilat sepatuku!" Elsa mengangkat kakinya lebih tinggi, ia benar-benar menginginkan Ana untuk menjilati sepatunya.
Tidak ada tempat untuk minta tolong bagi Ana. Entah kenapa, tidak ada murid atau guru yang lewat sana. Karena memang bel masuk sudah berbunyi dari tadi.
Dengan terpaksa, Ana mulai berlutut di depan Elsa. Kemudian membungkuk dalam-dalam. Rambut panjangnya menjuntai sampai ke lantai. Dia meletakkan buku yang dia pinjam dari perpustakaan tadi. Elsa, Dewi dan Linda tersenyum lebar. Merasa bahagia, bisa membuat Ana tersiksa seperti itu.
Dengan ragu, Ana mulai menjilat ujung sepatu Elsa yang terkena eskrim.
"Eh, di video dong! Video!" Elsa tersenyum girang.
"Oke, bentar!" Linda dengan sigap mengambil HP dari saku roknya. Dia segera mengambil video Ana yang tengah menjilati sepatu Elsa. Linda, Dewi juga Elsa tertawa penuh kepuasan.
"Eh, anak udik! Ini sebelah sini belum! Yang bersih dong!" Elsa menggerak-gerakkan ujung sepatunya, membuat Ana semakin tertekan.
Air mata Ana mulai menetes. Dia tidak menyangka, hari ini benar-benar tidak beruntung.
"Eh, si udik mulai nangis tuh, lihat!" Linda memperhatikan wajah Ana dari layar ponselnya.
__ADS_1
"Aduh, aku jadi kasihan. Hahaha." Dewi tambah semangat menertawakan Ana. Apa yang dia ucapkan, tidak sesuai dengan apa yang dia ekspresikan.
"Ya udah deh, karena aku baik hati. Jadi lelucon kali ini udah cukup. Yang penting kita udah punya videonya, jadi bisa dipakai buat hiburan sewaktu-waktu. Ya, kan geng?" Elsa menarik kakinya, mereka bertiga tertawa puas.
"Siap, udah aku simpan videonya. Nanti aku kirim ke grup kita ya! Apa mau aku sebarkan ke grup sekolah? Biar semuanya tau kalau anak udik ini benar-benar mengenaskan?" Linda punya ide gila.
"Jangan, dong! Nanti yang ada malah kita yang kena hukuman dari guru. Udah, mending buat koleksi kita bertiga aja. Jangan sampai bocor keluar!" Elsa menolak ide dari Linda yang bisa membahayakan dirinya. Biar bagaimanapun, dia tokoh utama dalam perundungan kepada Ana.
"Oh, iya juga ya. Yaudah, nanti aku kirim ke grup kita bertiga aja kalau gitu." Linda berpikiran sama dengan Elsa. Dia menyimpan ponselnya kembali.
"Oke, yaudah yuk! Kita ke kelas!" Elsa mengajak kedua temannya meninggalkan Ana yang masih menangis, meratapi nasibnya yang sangat malang.
"Daahh, Ana!" Linda dan Dewi melambaikan tangannya, meskipun terlihat sangat tidak tulus.
Ana segera bangkit setelah ditinggal oleh ketiga teman yang tidak berperikemanusiaan itu. Ana membawa bukunya, putar balik, mencari toilet yang terdekat dengan tempat itu. Di sana, dia berkumur-kumur. Ana menyogok tenggorokannya dengan telunjuknya. Berusaha memuntahkan isi perutnya.
Beruntung, dia berhasil muntah. Meskipun terasa sangat menyakitkan, dia rela. Daripada harus sakit, karena menelan kotoran dari sepatu Elsa tadi.
Setelah memastikan bekas muntahannya bersih, Ana berjalan keluar kamar mandi. Sekarang dia bingung lagi, harus ke kelas, atau bolos sekalian. Dia sudah terlambat masuk cukup lama.
"Nggak papa lah telat, daripada bolos." Ana menarik nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Dengan langkah pasti, dia berjalan menuju ke kelasnya di lantai tiga. Sesampainya di ruang kelasnya, Ana mengetuk pintu. Membuat perhatian semua orang di kelas itu tertuju padanya.
"Maaf, Bu. Saya telat masuk kelas." Ana meminta maaf dengan sopan.
"Darimana aja kamu? Kenapa telat lama sekali?" Bu Lilis, guru wali kelas X IPS 2 yang mengajar kelas saat itu, tentu saja bertanya-tanya. Tidak biasanya Ana terlambat seperti ini, apalagi ini bukan jam pertama.
"Maaf, Bu. Saya ketiduran di perpus, nggak dengar suara bel. Sampai akhirnya petugas perpus membangunkan saya, pas beliau tau kalau saya ketiduran." Ana membuat alasan, yang mungkin saja akan membuat dirinya berada dalam masalah lain.
__ADS_1
"Ana, Ana! Kalau ke perpus itu buat baca buku! Bukannya malah tidur! Ya sudah, silahkan masuk!"
"Terimakasih, Bu." Ana mengangguk sopan, kemudian masuk ke dalam kelas.
Elsa dan kedua temannya sudah ada di dalam kelas, entah mereka beralasan apa. Sepertinya mereka baik-baik saja.
Ana memilih untuk langsung duduk, tanpa melihat wajah Elsa dan kedua temannya. Dia tidak mau mendapat masalah lagi, hanya karena berani menatap Elsa dan teman-temannya.
Duk!
Elsa kembali menendang kursi Ana bagian belakang. Ana memilih untuk diam saja, tidak menanggapinya. Dia segera pura-pura fokus mengikuti pelajaran.
Seperti biasa, di akhir pelajaran Bu Lilis menanyakan kondisi anak didiknya.
"Bagaimana anak-anak? Semua baik-baik saja, kan?" Bu Lilis bertanya pada semua murid secara umum.
"Ya, Bu!" Semua anak menjawab kompak. Kecuali Ana, dia jelas tidak baik-baik saja. Tapi dia tidak mungkin mengatakan itu pada wali kelasnya itu. Bisa saja Elsa akan mengerjainya lagi.
"Baik, seperti biasa, Ibu selalu berpesan kepada kalian semua. Kalau ada masalah, bisa konsultasi ke saya, atau ke guru BK, ya! Supaya bisa kami carikan solusinya. Dalam hal apapun, kesulitan belajar dan lain sebagainya. Tolong jangan sungkan untuk memberitahu saya!" Bu Lilis mengemasi buku-bukunya.
Ana berpikir sejenak. Apa ini waktu yang tepat untuk mengadukan perbuatan Elsa? Atau lebih baik menemui Bu Lilis di ruang guru saja? Supaya Elsa tidak tau apa yang dia adukan pada Bu Lilis? Ana memutuskan untuk mencari solusi saja, sebelum Bu Lilis meninggalkan kelas. Ana menarik nafas, mengumpulkan keberaniannya.
"Bu!" Ana mengangkat tangannya.
"Ya, Ana. Ada yang ingin kamu sampaikan?" Bu Lilis menghentikan aktifitasnya.
"Bu, saya mau minta maaf." Ana memulai pengaduannya.
"Minta maaf kenapa?" Bu Lilis merasa heran, karena selama pelajaran, Ana tidak melakukan kesalahan, kecuali tadi datang terlambat. Dan itu sudah tidak dipermasalahkan.
__ADS_1
"Sebenarnya tadi saya bohong, Bu. Tentang alasan saya terlambat masuk kelas." Ana menunduk.
Elsa, Linda juga Dewi terkejut dengan apa yang diucapkan Ana. Mereka khawatir kalau Ana akan mengatakan alasan sebenarnya.