Tolong Balaskan Dendamku!

Tolong Balaskan Dendamku!
Bab 16


__ADS_3

Nadia berdiri, kemudian mendekatkan tubuhnya pada Dewi yang duduk berhadapan dengannya. Ia membiarkan mangkuk bakso berada di bawah badannya. Dewi yang paham dengan maksud Nadia, segera mendekatkan telinganya ke arah Nadia.


"Kamu bantuin aku, balasin dendam Ana!" Nadia berbisik pada Dewi, dia menutupi gerakan bibirnya dengan telapak tangannya.


Dewi nampak tercengang. Dia tidak menjawab.


"Bagaimana?" Nadia kembali bertanya mengenai kesanggupan Dewi.


"Ta - tapi? Bagaimana kamu tau tentang Ana? Dia sudah meninggal saat kami kelas 10, dan kamu belum sekolah di sini! Kematiannya sangat menggemparkan! Tidak ada yang menemukan mayatnya, hanya baju seragamnya saja yang ditemukan. Orang-orang berkesimpulan bahwa jasad Ana sudah dimakan buaya!" Dewi menceritakan bagaimana keadaan setelah hilangnya Ana, setahun yang lalu.


"Tapi mereka tidak menemukan tas Ana, kan?" Nadia tidak kaget dengan cerita Dewi.


Dewi menggeleng.


"Karena aku yang menemukannya." Nadia kembali berbisik, meskipun suaranya tetap terdengar jelas.


"Jadi?" Dewi ingin menarik kesimpulan, tapi urung ia ucapkan.


Nadia mengangguk, dia paham apa yang dipikirkan oleh Dewi.


"Jadi aku menemukan pesan terakhir dari Ana. Dia meminta tolong pada siapapun yang menemukannya, untuk membalaskan dendamnya, pada siapapun yang pernah menyakitinya." Nadia mengatakan dengan gamblang.


"Tapi? Aku juga termasuk salah satu yang suka mengusik Ana, meskipun aku tidak berniat melakukannya!" Dewi panik, dia berhadapan dengan orang yang akan membahayakan dirinya.


Nadia menggut-manggut.


"Aku tau! Semua sudah tertulis lengkap. Tapi kamu tidak perlu panik! Kamu akan bebas dari daftar balas dendam Ana, asalkan kamu bersedia membantunya membalas dendam juga! Bagaimana?" Nadia memberikan tawaran pada Dewi untuk bekerjasama dengannya.


"Kamu jamin itu?" Dewi nampak ragu.


Nadia mengangguk mantap.


"Aku jamin! Jadi, kamu mau bantu aku? Atau kamu pilih tetap menjadi salah satu dari daftar nama yang harus kuberikan hukuman yang setimpal?" Nadia memberikan tawaran, untuk yang terakhir kalinya.


"Emangnya, siapa saja yang ada dalam daftar Ana?"


"Elsa dan Linda!" Nadia berbisik lagi.


"Oke! Aku setuju! Aku bantu, aku juga sudah muak dengan mereka berdua!" Dewi menjadi lebih bersemangat, saat mendengar kedua nama mantan temannya itu disebutkan. Matanya menyorotkan kebencian yang mendalam. Nadia bisa melihatnya dengan jelas.


Dewi masih tidak mengira, hubungan pertemanan mereka akan hancur berantakan. Bahkan Elsa dan Linda tidak menanyakan bagaimana keadaannya. Apalagi meminta maaf dan mengajaknya untuk berteman lagi. Mereka dengan mudahnya melupakan Dewi.

__ADS_1


"Bagus! Kalau gitu, kita sama-sama beri mereka berdua pelajaran!"


Dewi mengangguk setuju. Nadia tersenyum, akhirnya dia mendapatkan partner untuk balas dendam. Semua jadi lebih mudah untuk melancarkan aksinya.


"Jadi, bagaimana rencananya?" Dewi tidak mau menyia-nyiakan waktu. Dia langsung ingin tau, bagaimana rencana Nadia berikutnya.


"Nanti jam istirahat kedua, kita ketemu di perpus aja! Aku jelasin lengkapnya di sana. Di sana aman, Elsa dan Linda tidak akan berada di sana, kan?"


"Oke, aku setuju!"


***


Saat jam istirahat kedua, Nadia memberi kode pada Dewi untuk mengikutinya. Dewi mengangguk, kemudian ikut di belakangnya.


Nadia mencari tempat duduk yang sepi dari pengunjung lain. Dewi menyusul, ikut duduk di sana.


"Kamu kok seperti udah hafal dengan lingkungan sekolah ini, sih? Padahal kamu belum lama pindah ke sekolah ini."


Nadia diam sejenak. Dia tidak mau terlihat menyembunyikan seuatu.


"Karena aku suka jalan-jalan, jadi aku cepat hafal lingkungan sekolah." Nadia tersenyum, tiba-tiba saja jawaban itu muncul di kepalanya.


"Sebenarnya ada tempat yang lebih nyaman."


"Oh ya? Di mana? Taman?" Dewi menebak.


Nadia menggeleng pelan.


"Trus?"


"Tempat ibadah. Di sana lebih nyaman dari pada tempat manapun di sekolah ini. Tapi karena ini misi balas dendam, aku rasa nggak pantes untuk dibahas di sana. Kita bisa mengotori kesuciannya. Meskipun menurut kita, apa yang kita lakukan ini hal yang benar." Nadia menjelaskan panjang lebar.


Dewi mengangguk paham.


"Jadi, bagaimana rencananya?" Dewi kembali fokus ke misi mereka.


Nadia mengeluarkan buku diary Ana yang dia masukkan ke dalam baju seragamnya. Dewi hanya memperhatikan saja.


Nadia membuka satu persatu halaman buku itu. Dia menunjukkan tulisan Ana. Dewi membacanya dengan seksama.


"Kamu tau kejadian ini?" Nadia bertanya pada Dewi yang terlihat memahami tulisan Ana.

__ADS_1


"Iya, aku tau. Aku ada di lokasi yang sama saat itu, aku melihat semuanya. Bahkan aku juga ikut menyuruh Ana untuk melakukan perintah Elsa." Dewi menjawab dengan jujur.


"Berarti kamu tau kalau ini direkam, kan?" Nadia bertanya lebih lanjut.


Dewi mengangguk mantap.


"Ya, Linda yang merekam semuanya. Dia merekam Ana yang tengah menjilati sepatu Elsa yang terkena es krim." Dewi membenarkan.


"Kamu punya videonya?" Nadia berharap, Dewi punya apa yang dia maksudkan.


"Sebentar aku cek dulu! Aku udah dikeluarin dari grup pertemanan kami bertiga. Tapi semoga aku masih bisa mengakses videonya. Aku nggak pernah hapus-hapus history, jadi semoga aja masih ada." Dewi mengeluarkan ponsel dari saku roknya.


"Oke, coba dicari dulu!" Nadia ikut mengintip, saat Dewi membuka-buka isi HP-nya.


Dewi menggulir-gulir layar HP-nya, mencari video yang dimaksud oleh Nadia. Setelah beberapa saat, akhirnya Dewi menemukan file videonya.


"Ini, ketemu!" Dewi sangat bersemangat.


"Syukurlah. Coba sini, aku lihat!" Nadia meminta HP dari tangan Dewi.


Nadia melihat videonya dari awal sampai akhir. Tak terasa air matanya menitik.


"Kamu oke?" Dewi melihat kesedihan Nadia.


Nadia segera mengusap air matanya.


"Aku baik-baik aja, kok." Nadia berusaha tersenyum.


"Kamu pasti nggak tega sama Ana, ya?" Dewi menebak. Nadia hanya mengangguk.


"Aku sebenarnya juga kasian sama Ana, tapi dulu saat kejadian itu, jujur aku menikmatinya. Aku menyukai itu, kami bertiga menganggap itu sebagai hiburan kami. Tapi mungkin sekarang hatiku udah terbuka, jadi bisa merasakan kasian sama dia. Apalagi sekarang Ana udah nggak ada, aku jadi merasa bersalah. Jujur saja, aku kadang dihantui rasa bersalah itu. Elsa dan Linda juga merasakan hal yang sama. Mungkin karena mereka merasa menjadi penyebab Ana bunuh diri." Dewi menunduk.


"Bahkan mereka berdua sampai pergi ke psikiater untuk konsultasi kesehatan jiwa mereka." Dewi menambahkan.


"Beneran?" Nadia tidak menyangka kalau ternyata sampai segitunya.


Dewi mengangguk mantap.


"Iya. Bahkan sampai saat ini, mereka berdua akan ketakutan kalau disebut nama Ana. Aku juga nggak tau, apa hantu Ana memang benar-benar ada dan menghantui mereka berdua, terutama Elsa. Kalau aku sendiri, memang dulu aku memimpikannya. Tapi aku tidak pernah melihat sosok hantunya." Dewi menjelaskan lagi.


"Kasian juga ya, mereka. Apa kita tidak usah membalas dendam saja? Mereka pasti sudah sangat tertekan, itu sudah lebih dari cukup sebenarnya." Nadia kini dalam kebimbangan, antara melanjutkan misinya, atau menyudahi saja.

__ADS_1


__ADS_2