Tolong Balaskan Dendamku!

Tolong Balaskan Dendamku!
Bab 6


__ADS_3

"Maaf, Pak." Ana menunduk, bersiap kalau Pak Maher marah lagi. Tapi ternyata, Pak Maher tidak membahas Ana lagi.


"Kita lanjutkan pelajaran, kembali fokus!" Pak Maher tidak mau membuang waktu mengajarnya lebih banyak lagi.


"Baik, Pak." Pelajaran matematika di jam itu kembali berlanjut. Ana memperhatikan dengan seksama, supaya dia bisa mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh Pak Maher.


Tak terasa, tiga jam pelajaran sangat cepat berlalu. Pak Maher mengakhiri kelas pagi itu, kemudian meninggalkan kelas, tak lupa membawa buku PR milik anak-anak kelas X IPS 2.


Setelah kepergian Pak Maher, suasana kelas menjadi gaduh. Anak-anak bercerita dengan teman dekatnya, ada yang sampai berjalan menyamperi temannya yang duduk berjauhan. Ada juga murid laki-laki yang menggoda perempuan incarannya. Termasuk Elsa kembali berulah.


Brak!


Elsa menggebrak meja Ana, membuat Ana menjingkat seketika karena kaget.


"Ini semua gara-gara kamu! Kalau aja kamu tadi langsung kasih buku PR kamu, aku nggak bakalan dihukum dan dipermalukan di depan kelas seperti ini!" Elsa masih saja mengungkit kejadian tadi. Dia belum bisa menerima, kalau itu memang kesalahannya. Yang dia gau hanya bagaimana caranya mengalahkan orang lain.


"Iya, bener banget!" Dewi dan Linda ikut mengompori Elsa dari tempat duduknya.


"Maaf, El." Ana hanya bisa mengucapkan kata maaf. Tadi pagi dia sudah menolak dan berargumen, tapi Elsa tidak bisa menerimanya. Dia tetap tidak mau kalau disalahkan, dan maunya Ana menuruti apa yang diinginkan.


"Maaf, maaf! Basi! Kamu tetap nggak bisa mengembalikan keadaan. Aku udah terlanjur dipermalukan di depan kelas." Elsa masih saja mengotot, seolah-olah dia orang yang paling tersiksa.


"Sstt! Tenang dan kembali ke tempat duduk masing-masing! Guru pelajaran selanjutnya udah sampai!" Mario mengingagkan teman-temannya yang gaduh.

__ADS_1


"Awas aja kamu! Urusanku sama kamu belum selesai!" Elsa bersungut, dengan terpaksa, dia kembali ke tempat duduknya lagi.


Ana kembali duduk dengan tenang, bersiap memperhatikan pelajaran selanjutnya. Dia menguatkan dirinya sendiri, tugasnya saat ini adalah belajar. Dia harus sukses di masa yang akan datang, jadi tidak akan mudah diinjak-injak oleh orang lain seperti saat ini.


***


Saat tiba jam istirahat, Ana menimbang-nimbang. Dia akan pergi ke kantin, atau ke perpustakaan saja. Kalau ke kantin, kemungkinan akan bertemu Elsa lagi. Tapi kalau ke perpustakaan, kemungkinan besar tidak akan ada Elsa di sana. Kalaupun Elsa ada di perpus, dia tidak akan bisa menhakitinya, karena di perpus penjagaan sangat tetat. Juga tidak boleh berisik.


Ana memutuskan untuk pergi ke perpustakaan saja. Dia bangkit dari duduknya, kemudian berjalan cepat ke perpustakaan. Takut kalau jam istirahat segera habis.


Sesampainya di perpus, Ana berjalan-jalan di antara rak-rak buku. Memilih buku yang kira-kira menarik untuk dibaca. Ana mengambil sebuah buku, kemudian membaca sinopsisnya. Tapi dia kurang suka, jadi mengembalikannya lagi.


Ana kembali memilih buku dan membaca sinopsisnya. Kali ini ceritanya menarik. Dia membaca bab-bab awal. Sampai akhirnya suara bel masuk kelas kembali berbunyi.


Ana menutup buku, membawa ke meja depan dan mendaftarkan peminjaman buku itu kepada petugas perpustakaan. Setelah itu, dia bergegas kembali ke kelas yang lumayan jauh dari perpustakaan. Jangan sampai dia terlambat masuk kelas lagi.


"Aduh! Jatuh kan eskrimku! Punya mata nggak sih, ka...." Elsa seketika menengok, jelas saja dia marah, saat punggungnya tiba-tiba ada yang menabrak, membuat eskrimnya jatuh dan mengotori sepatu mahalnya. Linda dan Dewi yang berjalan bersama Elsa ikut menengok, masih sambil asyik menjilati es krim mereka masing-masing.


Mendengar suara yang familiar, membuat Ana mengangkat wajahnya.


"Oh, jadi kamu, anak udik! Kalau jalan itu lihat-lihat! Bajuku jadi kotor nih, ketempelan sama baju kamu! Udah gitu sepatuku juga jadi kotlr, kena noda es krim!" Elsa marah-marah, juga dengan menghina Ana.


"Maaf, aku nggak sengaja. Aku buru-buru, takut telat masuk kelas lagi." Ana menjawab, membuat Elsa semakin marah.

__ADS_1


"Maaf, maaf terus! Bosen aku dengernya! Minta maaf, terus buat kesalahan lagi. Minta maaf lagi, buat aku jengkel lagi. Kamu itu ya, heran aku. Kenapa sih, harus ada kamu di dunia ini? Coba aja kalau kamu nggak ada di sini, pasti hidupku selalu tenang dan bahagia. Nggak kena masalah terus! Nggak marah-marah gini tiap hari! Bikin darah tinggi!" Elsa meluapkan unek-uneknya. Dia sendiri juga tidak tau bagaimana mulanya, kenapa dia sangat tidak suka pada Ana. Semua berjalan begitu saja. Dia selalu saja merasa sebel saat melihat Ana.


"Sekali lagi aku minta maaf, El. Tapi kita harus cepet masuk kelas!" Ana berusaha untuk menerobos jalan yang terhalang oleh Elsa, Linda dan Dewi.


"Eh! Enak aja, mau kabur." Elsa dan kedua temannya tambah rapat menghalangi jalan Ana.


"Bersihin sepatuku dulu! Baru boleh pergi!" Elsa memajukan kaki kirinya yang terkena noda es krim coklat tadi.


"Kita ke kelas dulu, ya? Nanti sepatumu dilepas di kelas. Biar aku bersihin sepatumu nanti di kamar mandi." Ana mencoba bernegosiasi.


"Nggak! Aku nggak mau kamu bersihin sepatuku pakai air!" Elsa mensedekapkan tangannya.


"Terus pakai apa? Pakai tisu? Aku ada, tapi di dalam kelas. Ayo kita ke kelas aja! Atau aku ambil tisu dulu, terus aku bawa ke sini lagi?" Ana memberikan opsi yang lain.


"Nggak! Aku juga nggak mau kamu bersihin sepatuku pakai tisu." Elsa tidak menerima penawaran dari Ana.


"Terus pakai apa? Nggak mungkin pakai daun, kan?" Ana menebak-nebak apa yang diinginkan oleh Elsa.


"Bukan! Aku nggak suruh kamu bersihin sepatuku pakai daun."


"Terus pakai apa?" Ana bingung sendiri, apa lagi permintaan Elsa kali ini?


"Aku mau, kamu jilatin es krim yang ada di sepatuku! Sekalian juga yang udah menetes di lantai itu! Kasian kan, sama petugas kebersihan? Gara-gara kamu, lantainya jadi kotor kena noda es krim." Elsa tersenyum penuh kemenangan, dia menyeringai semakin lebar. Begitu pula dengan Linda dan Dewi. Mereka sangat senang, akan mendapat hiburan.

__ADS_1


"Tapi? Sepatu dan lantainya kotor. Masa aku harus menjilati tempat kotor?" Ana menolak mengerjakan perintah Elsa yang sangat tidak masuk akal.


"Salah sendiri! Kalau kamu nggak nabrak aku, sepatu dan lantainya nggak akan jadi kotor gini! Kamu harus mau tanggung jawab, dong! Atau emang di panti kamu, nggak diajari jadi orang yang tanggung jawab, hah?" Elsa sengaja memancing emosi Ana.


__ADS_2