
Nadia memeriksa ponsel yang sedari tadi di makam belum disentuhnya lagi. Ia bergegas melihat postingannya di grup sekolah maupun di sosial media miliknya.
Nadia membaca beberapa komentar yang ada. Ia mengulas senyum.
"Rasakan itu, El! Kamu akan dihujat oleh semua orang yang melihat video itu!" Nadia tersenyum penuh kemenangan.
***
Keesokan harinya, Nadia berjalan dengan tenang menuju ke kelasnya. Namun tiba-tiba dia dikagetkan dengan suara yang terdengar khas di telinganya.
"Heh! Anak baru!"
Nadia menoleh ke belakang. Dia bermaksud melayani apapun yang akan dikatakan oleh Elsa nantinya.
"Ya?" Nadia menjawab singkat.
"Apa maksudmu? Kenapa kamu sebarkan video orang yang udah meninggal itu? Apa mau kamu? Kamu mau membuatku dihantui rasa bersalah? Kamu sengaja kan? Mau buat namaku buruk? Apa sih salahku sama kamu? Kenapa kamu suka banget jail sama aku? Balas dendam untuk Ana? Emangnya kamu siapanya Ana? Kenapa kamu repot-repot membalaskan dendam orang yang udah lama mati itu? Hah?" Elsa memberondong Nadia dengan berbagai macam pertanyaan. Dari nada bicaranya, dia menunjukkan kekesalan yang mendalam pada Nadia.
"Harusnya kamu berkaca pada dirimu sendiri! Tanyakan pada dirimu sendiri! Apa yang kamu lakukan sama Ana emang bener-bener keterlaluan. Jadi, kamu pantas mendapatkan ini semua. Lagi pula, bukankah kamu sendiri yang bilang, kamu akan sangat suka melihat video itu? Video yang sangat menghibur, bagimu juga teman-temanmu? Jadi, apa salahnya kalau orang lain juga melihat video yang sangat menghibur itu?" Nadia tersenyum sinis. Dia benar-benar puas, melihat Elsa ketakutan seperti itu.
"Beraninya kamu, ya!" Elsa maju selangkah, tangannya cepat bergerak maju, hendak menjambak rambut Nadia.
"Ets! Kamu mau ngapain? Mau jatuh miskin? Aku masih berbaik hati, ya! Jangan sampai aku minta sama papaku buat mencabut semua uangnya di perusahaan papamu!" Nadia tersenyum lebih lebar, bukan senyum ramah, tapi senyum penuh kemenangan, berhasil menakut-nakuti Elsa dengan perkataannya.
"Awas kamu, ya!" Elsa membuang genggaman tangannya. Dia marah, kesal, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.
"Udah, El. Tenang, tenang! Lebih baik kita sementara menghindar dari dia. Daripada buat kamu jadi darah tinggi." Linda menepuk pundak Elsa dari belakang.
"Tapi aku nggak bisa tinggal diam, Lin! Kita bisa kena bully orang satu sekolahan. Bahkan sama nitizen dunia maya juga bakal ikut membully. Oh iya, kamu nggak ada di video itu, jadi kamu bisa tenang. Tapi nggak dengan aku, Lin. Gimana aku bisa tenang? Sedangkan mukaku terpampang nyata di video itu. Sedangkan kalian berdua, cuma terdengar suaranya aja. Atau, jangan-jangan, kamu yang udah kasih video kita sama dia? Karena nggak ada yang tau video itu, selain kita bertiga!" Elsa jadi berprasangka buruk pada Linda.
__ADS_1
"Eh, kok jadi nuduh aku sih? Nggak mungkin aku kasih video itu sama dia. Aku aja nggak pernah deket-deket sama dia! Ngapain juga aku kasih video sama dia? Lagi pula, aku yang ngrekam semua video jahil kita ke Ana. Jadi, kalau semua tersebar, aku juga bakalan kena kan?" Linda membela dirinya.
Sedangkan Nadia memasang telinga lebar-lebar. Mendengar perkataan Linda tadi, membuatnya jadi berpikir, mungkin yang merekam dirinya berganti pakaian olah raga waktu itu, dan mengunggah ke media sosial adalah Linda. Tapi dia tidak mungkin bertanya pada Linda, dia tidak akan mengaku. Lebih baik tanya pada Dewi yang memang sudah berada di pihaknya.
"Trus, siapa yang kasih video itu sama dia dong? Kan yang tau video itu cuma kita bertiga. Atau?" Elsa memelototkan matanya, dia baru kepikiran sekarang.
"Dewi!" Linda berpikiran hal yang sama dengan Elsa.
"Kurang ajar! Dia bener-bener nggak bisa dipercaya! Musuh dalam selimut!" Elsa menggenggam tangannya geram.
Nadia hanya tersenyum, mendengar dua orang yang jadi musuhnya tengah berpikir keras. Ia memilih untuk berbalik arah dan melanjutkan langkahnya kembali, menuju ke kelasnya.
"Kita harus kasih Dewi pelajaran!" Nadia masih mendengar Elsa berkata demikian.
***
Sesampainya di kelas, Nadia diserbu dengan pertanyaan dari teman-temannya.
Nadia hanya mengangguk.
"Itu bukan hasil editan?" Teman yang lain ikut bertanya.
"Bukan lah, aku nggak pinter edit-edit. Apalagi itu video durasinya lumayan lama lho, mana bisa aku lakuin itu." Nadia menjawab dengan santai.
"Jadi, itu beneran Elsa dan mendiang Ana?" Mereka bertanya memastikan.
Nadia tidak buru-buru menjawab pertanyaan itu. Dia melihat ke belakang, ternyata Elsa sudah berada di pintu masuk kelas.
"Kalian tanya aja sama yang ada di video itu!" Nadia berjalan santai ke mejanya.
__ADS_1
"Jadi video itu beneran, El? Ana menjilati sepatu kamu?" Semua yang ada di kelas langsung melihat ke arah Elsa.
"Bener-bener nggak punya hati kamu, El! Kamu lebih kejam daripada iblis!" Teman yang lainnya menyahut.
"Jangan-jangan emang kamu yang jadi penyebab Ana bunuh diri?"
"Tega banget kamu, El! Nggak nyangka sih, kamu jahilnya kelewatan!"
Berbagai macam komentar ditujukan pada Elsa yang memang pantas mendapatkan itu.
"Eh! Kalian kalau nggak tau apa-apa, mending nggak usah komentar, deh! Aku nggak nyuruh dia buat jilatin sepatuku! Tapi dia sendiri yang mau lakuin itu! Dia sok mau bertanggung jawab, bersihin sepatuku yang kena es krim, gara-gara dia nabrak aku!" Elsa membela diri.
"Kalau mau ngelak itu yang pinter dikit dong, El! Mana ada orang yang mau jilatin sepatu orang lain, kalau nggak karena dipaksa, diancam dan lain sebagainya? Emangnya siapa kamu? Kok dia mau jilatin sepatu kamu? Ibunya juga bukan!" Elsa justru mendapat cemoohan tambahan, alasannya memang tidak masuk akal.
"Udah salah, masih aja ngelak! Dosa kamu, El! Orang udah meninggal, masih aja kamu fitnah seperti itu! Kami bener-bener nggak nyangka sih, hati kamu sebusuk itu!"
"Astaga! Ternyata ada perempuan berhati iblis di kelas kita. Enaknya, kita apakan dia ya, teman-teman?" Salah seorang siswa kelas itu bertanya pada teman yang lainnya.
"Guyur air aja! Biar dingin! Sifat apinya bisa padam!" Salah satu siswa di barisan belakang menyahut.
"Enak banget cuma diguyur air! Sedangkan dia udah memperlakukan Ana dengan sekejam itu. Gimana kalau kita suruh dia jilati sepatu kita semua? Biar dia ngrasain apa yang dirasakan oleh Ana!" Siswa yang lain ikut berpendapat.
"Setuju! Ide bagus itu! Biar impas! Siapa yang mau daftar dijilat sepatunya duluan?"
"Aku!"
"Aku!"
"Aku!"
__ADS_1
Siswa yang sudah datang pagi itu berebut, semua ingin menjadi nomer satu pada antrian jilat sepatu oleh Elsa. Hal itu membuat ketar-ketir, kalau sampai semua menuntutnya seperti ini, dia harus bagaimana? Kepanikan tergambar jelas pada raut wajahnya. Sampai akhirnya seseorang dari sudut belakang kelas itu berteriak.
"STOP!"