Tolong Balaskan Dendamku!

Tolong Balaskan Dendamku!
Bab 22


__ADS_3

Semua siswa yang ada di kelas itu menoleh ke sumber suara. Ternyata Nadia yang menghentikan keributan yang ada di kelas itu.


"Apaan sih, Nad? Kamu nggak asik deh!" Celetuk salah seorang siswa yang ada di kursi barisan tengah.


"Maaf ya, teman-teman! Aku nggak bermaksud menghalang-halangi keseruan kalian. Tapi coba kalian pikir, kalau kita menyuruh Elsa untuk menjilati sepatu kita, lalu apa bedanya kita sama dia? Kita sama-sama seperti iblis dong? Nggak berperikemanusiaan? Jadi, lebih baik nggak usah deh lakuin hal itu." Nadia memberikan alasannya menghentikan teman-temannya.


"Iya juga, sih."


"Iya, bener."


Siswa di kelas itu akhirnya membenarkan apa yang dikatakan oleh Nadia.


"Trus, apa yang harus kita lakukan? Biar dia tau rasa?" Salah seorang dari mereka kembali bertanya. Mereka sepertinya tidak akan memaafkan Elsa begitu saja.


"Kita serahkan saja pada guru BK. Biar beliau yang memberi hukuman pada Elsa. Kalau masalah Ana, dia sudah tenang di alam sana. Jadi, kalian tidak perlu mengkhawatirkan dirinya." Nadia memberikan usul.


"Tapi, kalau ternyata dia melakukan hal yang sama pada siswa yang lain gimana? Cuma kita aja yang belum tau. Jujur aja sih, jadi takut berurusan sama dia, ternyata kejam banget gitu."


"Enggak, aku yakin dia nggak akan melakukan hal itu pada siswa lain. Elsa itu hanya suka usil saja pada Ana. Tanpa alasan apapun. Dia cuma merasa senang menjahili Ana, itu aja. Tanpa alasan. Sangat disayangkan sih sebenarnya, mengingat orang tuanya salah satu donatur tetap di panti Ana. Pastilah mereka orang yang baik." Nadia menjeda ucapannya sejenak.

__ADS_1


"Tapi ternyata anaknya justru suka menyiksa salah satu anak dari panti itu. Aku yakin sih, kalau orang tuanya tau kelakuannya itu, pasti dia bakalan kena marah besar. Atau mungkin nggak diakui sebagai anak lagi? Bagus deh kalau begitu, jadi anak kok cuma bisa bikin buruk citra orang tuanya aja!" Nadia tersenyum, membayangkan hal itu terjadi pada Elsa. Mengingat dia mengunggah video itu di berbagai macam sosial media, yang memungkinkan akan dilihat oleh semua orang, termasuk orang tua Elsa.


Elsa dan Linda berpandangan.


"Kok dia kayak tau banget tentang kamu sih, El?" Linda bertanya-tanya, heran denga Nadia yang seperti tau banyak hal tentang Elsa.


"Nggak tau, aku juga heran. Dia itu sebenarnya siapa sih? Kok bisa tau banget kelemahanku? Juga tau banget banyak hal tentang diriku, bahkan keluargaku. Dan yang lebih aneh lagi, kenapa dia selalu membela Ana. Dia itu sebenarnya siapanya Ana sih?" Elsa juga bertanya-tanya tentang identitas Nadia yang sebenarnya.


"Ada yang nggak beres ini. Kita harus selidik, El. Kalau enggak, kita bisa terus-terusan jadi korban kejahilannya dia!" Linda ikut ketar-ketir menghadapi Nadia.


"Kita pikirkan itu nanti, sekarang kita pikirkan, gimana caranya menjelaskan hal ini pada orang tuaku. Bisa gawat kalau Ayah melihat video itu. Aku bakalan dapat hukuman berat pasti! Aduh! Aku harus gimana ini?" Elsa mengkhawatirkan banyak hal.


"Dia sepertinya datang ke kelas ini dengan membawa misi. Mempermalukan kamu dan lain sebagainya, juga menjadikan Ana sebagai alasan saja." Linda setuju dengan apa yang diucapkan oleh Elsa.


"Apa sebenarnya hubungan dia dengan Ana? Padahal mereka tidak pernah bertemu kan? Nadia baru datang setelah Ana tidak ditemukan selama beberapa lama, dan dinyatakan meninggal." Elsa berpikir keras memikirkan hal yang sulit ia pahami itu.


"Kita harus selidiki ini lebih lanjut!" Linda ikut gemas juga dengan berbagai macam tingkah yang dilakukan oleh anak baru itu.


"Iya, nggak boleh seperti ini terus. Kenapa dia seperti tanpa celah sih?"

__ADS_1


"Tenang, El. Nggak ada manusia yang sempurna. Dia pasti punya celah yang belum kita ketahui saja." Linda menenangkan Elsa.


"Gemes banget aku rasanya! Pengen cepet-cepet nemu kelemahan dia! Tapi apa? Sampai saat ini aja kita nggak dapat petunjuk!" Elsa meremas jari-jari tangannya.


"Gimana kalau kita minta maaf sama Dewi aja. Aku yakin, Dewi yang kasih video itu ke Nadia, mungkin dia jengkel sama kita, karena kejadian di kantin waktu itu. Jadi dia pilih membelot, berbalik mendukung Nadia dan justru menyerang kita." Linda memberi saran.


"Iya juga ya, ini pasti perbuatan dia. Kalau kita nggak bungkam dia segera, bisa jadi dia membocorkan rahasia kita lebih banyak lagi. Haduh! Bisa gawat!" Elsa berpikiran hal yang sama.


"Nah, makanya itu. Kita kan nggak mau sampai hal itu terjadi. Lebih baik kita antisipasi. Nggak papa deh, ngemis-ngemis maaf dari dia, meskipun kita sebenarnya nggak salah. Daripada kita dapat masalah lebih banyak lagi, kan?" Linda kembali meyakinkan Elsa. Meskipun kata-katanya tetap terdengar meninggi.


"Nanti kita samperin dia kalau udah dateng." Elsa akhirnya memutuskan. Linda mengangguk setuju. Mereka berdua berjalan menuju ke meja masing-masing. Mengabaikan suara teman-temannya yang masih meributkan video itu.


"Emang dasar nggak punya malu sih, ya! Udah tau salah, eh dia masih tenang-tenang aja. Dasar muka tembok! Jangan-jangan emang bener, Ana bunuh diri gara-gara dibully terus sama kalian, ya? Emang dasar, nggak punya hati sih! Ternyata separah itu kalian memperlakukan Ana!" Celetuk salah satu siswa yang gemas melihat tingkah Elsa yang masih tetap saja angkuh, meskipun dia sedang dalam perbincangan yang tidak mengenakkan.


"Kalian itu maunya apa sih? Aku memohon ampun sama Ana yang udah mati itu? Ogah deh! Lagian, dianya aja yang mentalnya lemah. Tiba-tiba aja bunuh diri tanpa sebab. Bukan aku yang jadi sebab dia bunuh diri! Jadi, kalian jangan salah-salahin aku atas masalah yang udah lama terkubur itu!" Elsa yang belum sempat duduk itu kembali berteriak membela dirinya.


"Tapi bisa jadi kamu salah satu penyebab dia bunuh diri! Kalau melihat perlakuan kamu sama dia yang sangat keterlaluan itu. Lama-lama nggak betah juga, kan?" Salah seorang siswa yang lain ikut menyahuti. Dia benar-benar geram pada Elsa.


"Kamu salah, El! Kamu dan Linda adalah penyebab Ana bunuh diri! Kalian yang sudah membunuh gadis malang itu!" Nadia berkata dengan lantang, meskipun hatinya menjerit, mengingat kenyataan pahit tentang tindakan bodoh yang pernah ia lakukan.

__ADS_1


"Oh ya? Apa buktinya? Kamu jangan sok tau, deh! Lagian kamu itu siapa, sih? Kenal sama Ana juga enggak! Ngapain kamu bela-belain jadi suara hatinya? Atau, jangan-jangan roh Ana yang sudah merasuki kamu?" Elsa tertawa dengan pemikiran konyolnya itu. Mana mungkin roh bisa masuk ke jasad orang lain? Emangnya ini jaman perdukunan?


__ADS_2