Tolong Balaskan Dendamku!

Tolong Balaskan Dendamku!
Bab 23


__ADS_3

"Nadia bener, Elsa emang penyebab dari Ana bunuh diri!" Tiba-tiba saja Dewi menyahuti dari pintu kelas. Semua kini melihat pada Dewi.


"Maksud kamu apaan sih, Dew?" Elsa melotot ke arah Dewi.


"Kalian ingat dengan video Ana ganti baju yang di unggah di sosmed waktu itu?" Dewi tersenyum sinis.


"Ya, aku ingat."


"Aku juga ingat. Setelah tersebarnya video itu, si Ana menghilang, dan yang ditemukan cuma baju seragamnya aja di pembatas jembatan."


Siswa di kelas itu mengangguk-angguk setuju. Memang benar seperti itu yang mereka ingat.


"Nah itu dia, berarti video itu yang membuat Ana memutuskan untuk bunuh diri. Dan apa kalian tau, siapa yang merekam dan mengunggah video Ana itu?" Dewi kembali memancing pemikiran teman-temannya. Sedangkan Elsa dan Linda matanya bertambah melotot. Memberi kode pada Dewi, supaya tidak membocorkan rahasia mereka.


"Siapa? Kita cari tau dari dulu tapi belum ketemu. Kasian Ana. Pasti dia masih belum tenang." Celetuk salah seorang teman.


"Iya, Dew. Siapa orangnya? Kamu tau?" Sahut yang lainnya.


Nadia tidak berkomentar. Dia akan menyerahkan semuanya pada Dewi saja. Sepertinya dia memang dendam sekali pada Elsa dan Linda.

__ADS_1


"Ayo, Dew! Cepet katakan di sini aja! Biar mendiang Ana bisa tenang di alam sana! Dia pasti juga masih mencari tau, siapa orang yang sangat jahat kepadanya itu!" Dewi terus saja didesak oleh teman-temannya. Mereka tidak sabar menunggu jawaban dari Dewi.


"Benar seperti yang dikatakan Ana. Pelakunya ada di kelas ini juga." Dewi menatap tajam ke arah Elsa dan Linda yang ada di barisan meja belakang.


"Beneran? Siapa pelakunya?" Semuanya tidak sabar dengan jawaban Dewi selanjutnya.


"Elsa dan Linda pelakunya! Mereka berdua yang sengaja merekam Ana, membuat akun palsu dan mengunggah video itu." Dewi melihat ke arah Elsa. Dia tersenyum puas, bisa membongkar kebusukan Elsa.


"Eh, jangan sembarangan kalau ngomong! Emang kamu punya buktinya?" Linda membela diri.


"Iya, apa buktinya? Menuduh tanpa bukti, itu namanya fitnah! Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan!" Elsa juga ikut bersuara, tidak terima dirinya dipojokkan seperti itu.


"Kalian semua dengar kata-kata Elsa barusan?" Dewi justru bertanya pada teman-teman sekelasnya.


"Kata-kata itu juga yang dia ucapkan, saat Ana dulu menebak kalau Elsa adalah pelakunya. Elsa dengan gampangnya mengatakan dirinya difitnah, dituduh tanpa bukti. Fitnah lebih kejam dari pembunuhan dan lain sebagainya. Tapi ternyata apa? Justru dia yang sangat kejam. Membuat Ana sampai bunuh diri, hanya karena dia tidak mau mengakui perbuatannya! Bukankan itu tingkat kekejaman yang paling tinggi?" Dewi berteriak dengan lantang, menyuarakan apa yang menjadi pendapatnya. Dia benar-benar muak dengan Elsa dan Linda, sampai akhirnya memilih untuk menjatuhkan keduanya.


"Coba aja kalau dia dulu ngaku, dia yang mengambil video dan mengunggah ke akun yang dia buat juga. Aku yakin, Ana bakalan maafin mereka, yang penting videonya dihapus dari peredaran. Dan mungkin saat ini Ana masih ada di sini bersama kita. Tapi Elsa dan Linda memilih untuk diam, memuaskan hawa nafsu mereka, menyiksa Ana secara perlahan. Bahkan sampai saat ini pun, mereka tetap tidak mau mengaku! Benar-benar tidak beradab! Aku menyesal dulu pernah berteman dengan mereka berdua. Tapi sekarang aku sadar, mereka berdua tidak pantas mendapatkan teman." Dewi meluapkan apa yang ada di hatinya.


"Heh! Kamu jangan sembarangan ya! Nuduh tanpa bukti! Kalau mau ngomong itu dipikir dulu! Jangan asal nuduh! Merugikan banget buat kami!" Elsa menunjuk-nunjuk ke arah Dewi. Meskipun dia tidak sampai menyamperi Dewi yang masih ada di dekat pintu kelas.

__ADS_1


"Bukti apa yang kamu mau? Bukannya kamu sendiri tau, kalau emang kamu yang nglakuin itu? Coba deh, kamu tanya sama dirimu sendiri! Coba jujur sama dirimu sendiri! Jangan sembunyi di balik kesombonganmu itu!" Dewi mencoba berbicara tetap santai.


"Emang apa yang udah aku lakukan?" Elsa tetap tidak mau mengaku.


"Saranku, lebih baik kamu ngaku aja, El. Akui semua kesalahanmu. Daripada nanti kamu malu sendiri!" Dewi tersenyum miring.


"Kamu kenapa sih? Ngotot banget nuduh aku jadi pelakunya? Apa gara-gara kamu sakit hati? Udah aku putuskan hubungan pertemanan kita? Jadi kamu berniat membongkar semua keburukanku?" Elsa kembali maju ke depan kelas, dia mendekati Dewi.


Dewi hanya tersenyum. Dia sudah mengira kalau Elsa akan mengatakan ini.


"Ternyata jalan pikiranmu sepicik itu! Kamu harus ingat! Apapun yang kulakukan pada Ana, kamu juga ikut andil di dalamnya. Jadi, jangan coba-coba melemparkan kesalahan padaku dan linda saja, trus kamu sok-sokan jadi pahlawan dan bebas dari pandangan buruk orang lain! Kamu salah! Kalau kamu membocorkan apa yang menjadi rahasia kita, kamu juga akan dapat pandangan buruk dari orang lain!" Elsa menunjuk-nunjuk atas dada Dewi sebelah kanan. Dia mencoba memperingatkan Dewi, supaya dia tau bagaimana posisinya.


"Kalau aku sih nggak masalah, dapat citra buruk! Toh aku tidak terlalu banyak ikut campur tangan dengan apa yang kamu lakukan." Dewi tetap tak gentar. Dia tidak selemah Ana. Jadi, dia tetap bertahan.


Semua orang di kelas itu memperhatikan perdebatan sengit antara kedua mantan sahabat itu. Teemasuk Nadia. Dia tidak ingin mengotori tangannya. Jadi, dia hanya menyimak tontonan bagus dihadapannya itu.


"Oh, jadi kamu mau lempar batu sembunyi tangan? Melimpahkan mesalahan sama aku dan Linda aja? Kamu mau cuci tangan, gitu?" Elsa masih saja ngotot, tidak terima dengan jawaban Dewi yang dia nilai sok bijak.


"Terserah kamu mau bilang aku ini apa. Kamu mau anggep aku apa juga terserah. Yang penting, sekarang aku mau mengungkap semua kebusukanmu. Biar semuanya tau, gimana busuknya dirimu!" Dewi tak mau kalah.

__ADS_1


"Jadi gini teman-teman. Awal mula Elsa jadi benci pada Ana itu sebenarnya karena dia dibanding-bandingkan oleh orang tuanya, semenjak mereka jadi donatur di panti dan mengetahui bahwa anak-anak panti itu berprestasi. Dari sana, orang tua Elsa membanding-bandingkan Elsa dengan anak-anak panti itu. Sebenarnya orang tua Elsa tidak menyebutkan nama Ana secara spesifik. Tapi, berhubung di kelas ini satu-satunya anak panti adalah Ana, jadilah dia benci Ana. Makanya, dia berusaha bagaimana membuat Ana kerepotan, kehilangan prestasi, bahkan kehilangan kepercayaan orang lain." Dewi menjelaskan panjang lebar, tanpa halangan dari Elsa.


Nadia menggut-manggut, sekarang dia baru paham. Jadi ternyata alasan Elsa, iseng dengan Ana selama ini hanya simpel saja? Karena dia anak panti. Pantas saja Elsa hanya menargetkan dirinya sebagai sasaran keisengannya, karena dia satu-satunya anak panti di kelas itu.


__ADS_2