
"Maksud kamu bagaimana, Ana? Bohong bagaimana? Jadi, apa alasan yang sebenarnya?" Bu Lilis bertanya, bingung dengan apa maksud Ana yang sebenarnya.
"Iya, Bu. Saya tadi bukan ketiduran di perpus. Tapi saya...." Ana ragu akan mengatakan hal yang sebenarnya.
"Kamu apa, Ana? Coba jelaskan dengan lengkap, jangan diputus-putus seperti itu!" Bu Lilis gemas, Ana tak kunjung mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.
"Saya merasa kurang nyaman duduk di kursi ini, Bu. Saya bosan, jadi saya malas untuk masuk ke kelas." Ana menyembunyikan hal yang sebenarnya, hanya saja dia mengadu secara tersirat.
"Jadi kamu maunya bagaimana?" Bu Lilis tidak langsung memberikan solusi.
"Kalau boleh, saya pengen ganti tempat duduk, Bu. Kalau perlu setiap hari ganti tempat duduk, jadi nggak bosen. Juga matanya tidak terus menerus menatap ke papan tulis dari arah yang sama." Ana akhirnya berani menyatakan keinginannya.
"Bagaimana yang lain? Ada yang sependapat dengan Ana? Ada yang mau tukeran tempat duduk? Atau ada yang punya usul lain?" Bu Lilis memandang berkeliling mencari pendapat murid-murid yang lain.
"Iya, Bu! Kami juga pengen berubah tempat duduk!"
"Nggak mau, Bu! Udah enak seperti ini!"
Murid-murid terbagi dalam dua pendapat, membuat Bu Lilis jadi kebingungan, harus bagaimana. Sampai akhirnya dia mendapat sebuah ide.
"Baik, kita voting saja. Keputusan ikut suara terbanyak. Yang kalah suara, harus menerima keputusan. Tidak boleh menolak. Bagaimana?" Bu Lilis menawarkan solusi pada anak-anak muridnya.
"Setuju, Bu!" Semua menjawab dengan kompak.
"Baik, kita voting dengan angkat tangan saja ya. Ketua kelas, tolong kamu yang hitung ya!" Bu Lilis memberi mandat pada Mario.
"Baik, Bu." Mario siap sedia.
"Siapa yang ingin tetap duduk seperti saat ini? Silahkan angkat tangannya tinggi-tinggi!" Bu Lilis memimpin voting.
__ADS_1
Sebagian anak kelas mengangkat tangannya. Mario segera menghitung tangan teman-temannya yang terangkat.
"Yang pengen tetap seperti ini ada 17 anak, Bu." Mario berkata lantang.
"Baik, kemudian yang ingin pindah tempat duduk? Silahkan angkat tangan tinggi-tinggi!" Bu Lilis memberikan pilihan yang kedua.
Sebagian anak yang lain mengangkat tangan mereka, sesuai instruksi. Mario segera menghitungnya.
"Bagaimana, Mario?" Bu Lilis bertanya pada Mario.
"Sama, Bu! Jumlahnya 17 anak juga. Seri." Mario menjawab dengan semangat.
"Seri ya, apa ada yang nggak berangkat? Anak kelas ini seharusnya ada 35 anak lho. Kok ini baru 34. Siapa yang nggak berangkat?" Bu Lilis memeriksa buku absen, tidak ada yang tertulis ijin. Bu Lilis berganti melihat ke seluruh ruangan. Tidak ada meja dan kursi yang kosong. Semuanya terisi.
Suasana jadi gaduh, mereka saling memeriksa teman yang ada di dekatnya. Semuanya lengkap. Memang tidak ada yang absen.
"Bu! Itu, Pak Ketua Kelas belum kasih suara!" Tiba-tiba saja salah seorang siswa sadar dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Hehe, maaf teman-teman." Mario merasa tidak enak, karena dirinya, seisi kelas jadi gaduh.
"Astaga, Mario! Kamu sibuk ngitung, sampai lupa nggak angkat tangan." Bu Lilis geleng-geleng kepala.
"Maaf, Bu." Mario tersenyum canggung, tidak enak juga sama Bu Lilis.
"Bagaimana, Mario? Kamu pilih pindah-pindah tempat duduk, atau mau tetap seperti ini?" Bu Lilis memberikan kesempatan pada Mario, untuk menentukan hasil voting kali ini.
"Saya pilih pindah-pindah tempat, Bu. Supaya bisa merasakan posisi duduk di tempat lain juga. Biar teman-teman juga nggak terlalu nyaman dengan temlat duduknya sendiri. Juga biar tidak meninggalkan barang apapun di laci meja. Saya suka jengkel kalau ada anak yang meninggalkan buku pelajarannya di sekolah. Terus mereka di rumah belajar pakai apa? Juga biar nggak menyimpan sampah di laci juga sih, Bu." Mario memberikan suara, sekaligus alasannya.
Bu Lilis manggut-manggut, setuju dengan apa yang jadi argumen Mario.
__ADS_1
"Baiklah, berarti sudah jelas ya. Lebih banyak yang memilih untuk pindah-pindah tempat duduk. Meskipun selisihnya sangat tipis, tapi tetap saja, tebih banyak yang memilih untuk berpindah-pindah tempat duduk. Kalau begitu, sekalian saja ya, saya jelaskan bagaimana berpindahnya. Barisan ganjil, geser ke kiri kemudian ke belakang, baris genap, geser ke kanan kemudian ke belakang. Membentuk zigzag. Paham?" Bu Lilis menggerakkan tangannya, supaya anak-anak lebih paham dengan apa yang dia ucapkan.
"Paham, Bu!"
"Baik, setiap hari bergeser ya!" Bu Lilis memutuskan.
Ana tersenyum, keputusan Bu Lilis sesuai dengan yang dia inginkan. Dia yang berada di barisan genap akan bergeser ke kanan, sedangkan Elsa yang berada di barisan ganjil, akan berpindah ke belakang dan bergeser ke kiri. Jadi, akan ada sekat antara Ana dan Elsa beserta teman-temanya.
"Baik, besok pagi, tolong semuanya berpindah tempat duduk! Jangan lupa untuk membersihkan laci meja masing-masing, juga membawa pulang buku pelajaran, kalau memang ada yang suka meninggalkan bukunya di laci." Bu Lilis memberikan pesan, sebelum menutup pelajarannya.
"Baik, Bu!" Anak-anak menjawab dengan kompak, meskipun ada yang sangat terpaksa, berat memang, untuk menerima keputusan yang tidak sesuai dengan keinginannya.
"Kalau begitu, saya tutup ya. Silahkan mengikuti pelajaran selanjutnya dengan tertib! Selamat siang!" Bu Lilis meninggalkan kelas. Membuat suasana kelas menjadi gaduh.
"Heh, anak udik! Kamu seneng ya? Keinginanmu terwujud?" Elsa kembali berkata sinis pada Ana.
Ana hanya diam saja, meskipun dia mendengar perkataan pedas dari mulut Elsa.
"Iya, tuh! Sengaja banget mau menghindar dari kita!" Linda ikut berkomentar.
"Iya, emangnya siapa dia sih? Sok banget, emangnya siapa juga yang mau deket-deket sama dia?" Dewi ikut juga berkata sinis.
"Iya, untung aja sih, kita bertiga tetep bisa duduk barengan. Meskipun bergeser tiap hari." Elsa menenangkan kedua temannya. Meskipun dalam hati dia sebal juga, kalau tidak ada Ana di dekatnya, dia tidak akan bisa menyontek pekerjaan Ana lagi.
"Iya, bener banget. Untung cara bergesernya nggak buat kita jadi berpencar." Linda setuju dengan ucapan Elsa.
"Iya, udah geng! Kita biarkan aja, anak udik yang berusaha lepas dari belenggu kita. Di jam pelajaran, dia bisa bebas. Tapi kita masih bisa kerjain dia kalau lagi jam kosong, atau jam istirahat, kan?" Elsa masih saja berpikir untuk mengerjai Ana, meskipun pasti tidak bisa se-sering saat ini.
"Iya juga sih. Biarin aja, dia tersenyum sejenak. Suatu saat, kita buat dia menangis lagi, kalau pelu biar keluar aja dari sekolah ini. Biar mataku nggak perlu lihat 'sampah' setiap hari." Linda menyahuti, perkataannya sangat pedas. Karena menyamakan Ana seperti sampah yang menjijikkan.
__ADS_1
Ana memilih diam tidak berkomentar. Tidak masalah kalau dirinya yang diinjak-injak. Asalkan tidak menjelek-jelekkan pantinya.