Tolong Balaskan Dendamku!

Tolong Balaskan Dendamku!
Bab 25


__ADS_3

Nadia tersenyum penuh kemenangan. Dia sekarang tau kelemahan Elsa lagi, ternyata dia sangat takut pada orang tuanya.


Bel masuk berbunyi, membuat kerumunan anak kelas XI IPS 2 terpaksa bubar.


"Kamu SS chat yang tadi, tolong kirim ke aku, ya!" Nadia berpesan sambil mengembalikan ponsel Dewi.


"Oke." Dewi melenggang pergi, menuju ke mejanya. Termasuk juga Nadia dan yang lainnya.


Elsa bersungut, ia mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa sakit, karena di pegang erat-erat oleh teman-temannya tadi. Begitu juga dengan Linda. Mereka ikut kembali ke tempat duduknya.


Tak lama setelah bel berbunyi, Bu Yuni, guru yang mengajar jam pertama masuk ke ruangan. Mereka mengikuti pelajaran dengan tertib. Sampai saat di tengah pelajaran, guru BK datang mengetuk pintu. Seketika semua perhatian beralih pada guru BK tersebut.


"Maaf, yang namanya Elsa benar dari kelas ini?" Bu Sarah, salah satu guru BK di sekolah itu bertanya pada Bu Yuni.


"Iya, betul, Bu. Ada apa, ya?" Bu Yuni belum tau apa yang sedang heboh di sekolahan itu.


"Elsa, silahkan ke ruang BK sekarang! Ada yang harus saya sampaikan. Mohon diberikan ijin ya, Bu!" Bu Sarah meminta ijin.


"Baik, silahkan. Elsa, silahkan ke ruang BK dulu!" Bu Yuni dengan serta merta memerintahkan Elsa untuk mengikuti Bu Sarah.


"Ya, Bu." Elsa bangun dari duduknya dengan malas. Dia sudah tau apa yang akan dibahas oleh Bu Sarah nantinya. Pasti tentang video itu. Dia pasrah saja, akan mendapat hukuman apa nantinya.

__ADS_1


***


Setelah beberapa saat, Elsa kembali ke kelas. Dia langsung mendekati meja guru. Semua mata tertuju padanya. Semua ingin tau, hukuman apa yang diterima Elsa, akibat video itu.


"Maaf, Bu. Saya mau ijin pulang sekarang."


"Ijin kenapa, Elsa?" Bu Yuni melihat ke arah Elsa.


"Saya di skors, Bu. Karena video yang beredar kemarin. Dan saya harus ke panti, untuk meminta maaf pada pengurus di panti, karena sudah berperilaku buruk terhadap Ana yang sudah tidak ada. Jadi, permintaan maaf saya tujukan ke pengurus di panti, mengingat Ana tidak punya orang tua juga." Elsa mengatakan alasannya ijin.


Terjawab sudah rasa penasaran dari seisi kelas. Mereka berbisik-bisik dengan teman meja sampingnya.


"Emang pantas sih dapat hukuman seperti itu."


"Iya, bener. Paling guru BK belum tau kalau ada yang lebih menghebohkan. Makanya dia cuma di skors dan suruh minta maaf aja."


"Sayang banget ya, rasanya masih kurang puas gitu, dia cuma di skors. Kenapa nggak dikeluarkan dari sekolah sekalian?"


"Entahlah."


Elsa mendengar semua tanggapan sinis dari teman-teman kelasnya itu. Tapi dia memilih untuk tidak meladeni, dia sadar posisi. Membuat keributan di kelas mungkin akan menambah berat hukumannya.

__ADS_1


"Ya sudah kalau memang begitu, silahkan!" Bu Yuni tidak bisa menahan Elsa.


"Baik, Bu."


Elsa berjalan menuju mejanya. Kemudian mengemasi barang-barangnya.


"Kamu beneran di skors?" Linda bertanya memastikan.


"Ya, gitu deh." Elsa menjawab lemah.


"Berapa hari?"


"Seminggu."


"Yah, trus aku sama siapa kalau kamu nggak berangkat sekolah?" Linda panik duluan. Dia memang tidak punya teman akrab, selain Elsa dan Dewi yang sekarang sudah tidak mau berteman lagi.


"Apa mau nemani aku nggak berangkat sekolah?" Elsa menawarkan ide gilanya.


"Trus, kalau orang tua kita tau gimana? Bisa mati kita!" Linda takut-takut menerima tawaran Elsa.


"Tenang aja! Aku udah pikirin gimana caranya." Elsa menjawab santai.

__ADS_1


"Gimana emangnya?"


__ADS_2