Tolong Balaskan Dendamku!

Tolong Balaskan Dendamku!
Bab 19


__ADS_3

Semenjak malam itu, Ana tinggal di rumah keluarga Rama Wijaya. Dia diangkat sebagai anak oleh keluarga kaya itu. Ana juga ikut home schooling, seperti Nadia yang ternyata mengidap sakit kanker darah, membuatnya tidak bisa beraktifitas di luar rumah karena dikhawatirkan menyebabkan kelelahan dan memperburuk kondisi kesehatannya.


Ana dan Nadia menjadi sangat akrab, Nadia bahagia, akhirnya punya teman seumuran di rumahnya. Mereka sering melakukan aktifitas bersama. Begitu juga dengan Rama dan Sinta, mereka menganggap Ana sebagai anak sendiri. Ana menjadi bagian dari keluarga yang sangat bahagia.


"Trimakasih ya, Nad." Ana tiba-tiba saja berterimakasih pada Nadia, saat keduanya sedang duduk bersama.


"Terimakasih untuk apa, An?" Nadia bingung juga, dia tidak merasa melakukan sesuatu untuk Ana.


"Terimakasih untuk semua kebahagiaan yang kamu bagikan padaku, kasih sayang orang tuamu juga rela kamu bagikan padaku. Aku benar-benar berterimakasih, aku tidak pernah merasa bahagia seperti saat ini." Ana tersenyum, kembali mengungkit hal itu lagi.


"Jadi, selama ini kamu tidak merasa bahagia?" Nadia bertanya dengan polos. Kebiasaannya yang hanya bergaul dengan orang-orang di rumah, membuatnya kurang pergaulan. Jadi bahasa yang digunakan terasa kaku.


"Aku bahagia saat di panti. Tapi aku tersiksa saat di sekolah. Di panti, semua orang bersikap baik padaku, karena kami memang dari latar belakang dan nasib yang sama. Berbeda kalau di sekolah, aku selalu dianggap hina dan rendah. Dan saat di sini, aku bisa merasakan kasih sayang orang tua juga saudara, meskipun bukan kandung, tapi aku merasakan kasih sayang kalian benar-benar tulus. Aku juga senang, tidak harus berinteraksi dengan orang luar yang kadang benar-benar kejam." Ana menjelaskan, apa yang terjadi padanya.


"Kenapa bisa begitu?" Nadia kembali bertanya.


"Entahlah, aku nggak tau apa salahku. Apa karena aku anak yatim piatu? Karena aku anak panti? Karena aku anak miskin? Padahal apa salahnya? Aku juga tidak meminta dilahirkan seperti itu. Tapi entahlah, mereka selalu menganggapku menjijikkan dan pantas mendapat perlakuan buruk dari mereka." Ana kembali mengingat masa lalu yang menyakitkan itu.


"Kenapa mereka tega sekali, bagaimana kalau mereka terlahir tidak mampu, kemudian mendapat perlakuan yang sama seperti kamu? Pasti mereka juga tidak akan mau kan? Tega sekali mereka. Harusnya mereka berkaca sebelum bertindak! Benar-benar tidak punya hati! Padahal kan yang kaya itu orang tuanya! Bukan dirinya sendiri, jadi apa yang perlu dibanggakan?" Nadia yang biasa lemah lembut, meledak-ledak juga emosinya, mendengar cerita dari Ana.


"Selama ini aku bertahan dengan apapun yang mereka lakukan, sampai akhirnya videoku berganti pakaian di unggah ke media sosial, meskipun tidak sevulgar model, tapi tetap saja, aku sangat malu. Aku sudah tidak punya muka lagi. Ditambah dengan pendangan orang-orang yang melihatku dengan jijik, karena foto itu di beri caption menerima panggilan. Daripada aku menanggung malu seumur hidup, aku memutuskan untuk bunuh diri saja. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, aku masih diberi umur panjang dan dipertemukan dengan keluarga ini yang benar-benar baik hati. Aku tidak tau harus membalas kebaikan kalian dengan apa." Ana melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


"Tidak perlu membalas dengan apapun, cukup dengan bertahan hidup saja. Suatu saat, kamu pasti akan mendapatkan keadilan. Aku yakin, orang-orang yang berbuat jahat itu akan mendapat balasan yang setimpal." Nadia menenangkan Ana.


"Trimakasih sekali lagi, ya. Kalau ada kesempatan, aku akan membalaskan dendamku. Aku sudah memberi pesan terakhir di tulisanku, tapi sepertinya tidak akan ada yang menemukan tulisanku, karena sampai saat ini, tulisanku masih ada ditanganku." Ana menunduk lemah.


"Semoga suatu saat kamu bisa membalaskan dendammu, aku akan membantu sebisaku." Nadia menepuk-nepuk pundak Ana.


"Trimakasih, Nad. Aku akan memikirkan bagaimana caranya." Ana tersenyum, dia merasa kuat, karena ada yang mendukungnya.


"Coba kita mulai dari sekarang, kita mulai dari mencari kelemahan orang yang selalu berbuat nakal padamu." Nadia menggiring Ana, mengajak untuk melihat laptopnya.


"Siapa nama orang yang jahat itu?" Nadia bersiap mengetik, mencari informasi apapun tentang orang yang selama ini berbuat jahat pada Ana.


Nadia dengan gesit memasukkan nama yang disebutkan oleh Ana. Mereka berdua mencermati data apa saja yang ditemukan, termasuk nama orang tua, pekerjaan, nama perusahaan dan lain sebagainya. Sampai akhirnya Nadia menemukan kelemahan Elsa, yakni perusahaan orang tua Elsa menerima investasi yang besar dari orang tua Nadia.


"Kalau kita minta Papa untuk menarik semua dana yang diinvestasikan di perusahaan orang tua Elsa, pasti mereka akan kesulitan pendanaan. Dan aku yakin, perusahaan orang tua Elsa akan bangkrut, jadi Elsa nggak bisa lagi berlagak superior hanya karena harta orang tua lagi." Nadia memberikan ide yang masuk akal.


"Tapi, apa Papa mau melakukan itu? Mengingat ini hanya urusan anak remaja yang memang biasa berbuat seenaknya?" Ana ragu.


"Kita coba aja, lagi pula, Papa pasti akan melakukan apapun, untuk kebahagiaan anaknya." Nadia berkata dengan yakin.


"Tapi aku?" Ana masih sadar posisinya yang hanya anak angkat di keluarga itu.

__ADS_1


"Kamu juga anak Papa! Dan pasti Papa akan berusaha membuatmu bahagia!" Nadia kembali meyakinkan Ana.


"Semiga saja. Tapi aku pikir-pikir dulu tentang hal ini. Kita tidak bisa bertindak gegabah." Ana memutuskan.


"Baiklah, semua keputusan ada padamu. Aku hanya bisa mendukung, apapun keputusanmu." Nadia tersenyum.


"Sekali lagi terimakasih, Nad." Ana memeluk Nadia dengan erat.


Ana dan Nadia sering bercerita tentang banyak hal. Nadia bisa mengetahui bagaimana dunia luar, dari cerita Ana. Demikian pula sebaliknya, Ana bisa mengetahui artinya bertahan hidup, dari Nadia yang berjuang untuk melawan penyakitnya.


Sampai suatu ketika, tiba-tiba kondisi kesehatan Nadia memburuk, sehingga mengharuskan Nadia dalam perawatan intensif. Semua orang di keluarga Rama Wijaya bersedih, tak terkecuali Ana.


Dari hari ke hari, kondisi Nadia semakin memburuk. Dokter meminta semuanya untuk bersiap dengan segala hal yang bisa saja terjadi pada Nadia. Orang tua Nadia beserta Ana menunggui Nadia siang dan malam. Mereka tidak mau menyesal dikemudian hari.


"Pa, Ma. Aku mau minta sesuatu, boleh?" Nadia berkata dengan lemah.


"Boleh, Sayang! Tentu saja boleh. Kamu mau minta apa?" Sinta menjawab dengan lembut, sekuat tenaga dia menahan tangisannya. Dia tidak mau membuat putrinya semakin sedih.


"Aku minta tolong, sayangi dan kasihi Ana seperti kalian menyayangi dan mengasihi aku, Ma, Pa. Aku ingin kalian menganggap Ana sebagai aku. Jadi, kalau aku tidak ada nanti, kalian masih punya Ana. Kamu mau juga kan, An? Menjadi aku?" Nadia mengutarakan permintaan yang membuat semuanya bingung. Rama dan Sinta saling berpandangan. Ana hanya terdiam, tidak bisa menjawab apa-apa.


"Kalian mau, kan?" Nadia bertanya sekali lagi pada kedua orang tuanya juga Ana.

__ADS_1


__ADS_2