
Setelah beberapa waktu, tiba saatnya Elsa CS bermain basket. Sedangkan kelompok yang tidak bermain, dipersilahkan untuk menonton di pinggir lapangan. Mereka bersorak, menyemangati tim yang sedang bermain.
Pada mulanya, semua baik-baik saja. Sampai saat Elsa memegang bola. Dia tersenyum licik.
"Elsa! Sini!" Linda mengacungkan kedua tangannya siap menerima bola. Dia membelakangi Ana.
Elsa tersenyum, kode dari Linda.
"Siap, tangkap ya!" Elsa melemparkan bolanya dengan keras ke arah Linda, tapi bukannya menangkap bola, Linda justru menghindar. Alhasil, bola basket yang berat dan keras itu mengenai kepala Ana yang tidak tau apa-apa. Ana jatuh terlentang. Seketika juga ia tak sadarkan diri.
"Ana!" Semua anak yang melihat kejadian itu segera mendekati Ana. Termasuk Pak Satya. Dia panik, tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini. Biar bagaimanapun, dia bertanggung jawab atas kelas ini selama jam pelajaran olah raga.
"Mario! Tolong ajak teman-teman cowok untuk gendong dia. Bawa ke teras sebelah sana!" Pak Satya menunjuk area teras sekolah di pinggir lapangan. Supaya tidak terlalu panas.
"Baik, Pak! Ayo teman-teman!" Mario mengajak teman-teman cowok di kelas itu, mereka menggotong Ana ke teras.
"Tolong jangan dikerubungi, ya!" Pak Satya memecah kerumunan murid-muridnya.
"Cindy, tolong ambilkan minyak kayu putih, atau apapun yang berbau menyengat di UKS!" Pak Satya memerintah salah seorang murid perempuan.
"Baik, Pak!" Cindy segera berlari, mengikuti perintah Pak Satya.
Semua tampak panik, kecuali Elsa, Linda dan Dewi yang hanya tersenyum saja. Mereka berhasil mengerjai Ana. Mereka tidak peduli, jika yang mereka lakukan itu sudah keterlaluan.
"Ada yang lihat kronologinya secara jelas?" Pak Satya bertanya pada murid-muridnya, setelah memanggil ambulance.
"Itu, Pak. Elsa lempar bola ke arah Linda, tapi si Linda malah menghindar. Jadinya kena kepala si Ana." Salah seorang murid memberi kesaksian.
"Betul, Pak. Sepertinya mereka sengaja!" Timpal murid lainnya.
__ADS_1
"Enak aja! Jangan sembarangan nuduh, dong!" Elsa tidak terima dituding sengaja melempar bola ke kepala Ana, meskipun sebenarnya memang demikian adanya.
"Iya, jangan asal nuduh! Namanya juga kecelakaan. Kami nggak sengaja, kok!" Linda ikut membela diri.
"Sudah! Sudah! Oke, Bapak anggap ini sebagai kecelakaan. Tapi kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Ana, kalian berdua harus ikut tanggung jawab!" Pak Satya menghentikan kegaduhan.
"Loh, kok kami yang harus tanggung jawab?" Elsa dan Linda menjawab berbarengan.
"Ya iya, karena kalian berdua penyebabnya. Sengaja atau tidak sengaja, kalian sudah membuat celaka teman kalian. Jadi, kalian harus bertanggung jawab, kalau memang terjadi hal buruk pada Ana. Kalian tau nggak? Kepala itu organ yang sangat vital. Kalau terjadi benturan keras, bisa sangat berbahaya!" Pak Satya memarahi Linda juga Elsa.
"Jadi, kalau Ana sampai gegar otak atau yang lain, kalian berdua harus ikut tanggung jawab!" Pak Satya melanjutkan.
Elsa dan Linda menunduk. Mereka tidak berpikir sampai sejauh itu.
"Pak, ini minyak kayu putihnya!".Cindy memberikan minyak kayu putih pada Pak Satya.
"Baik, terimakasih." Pak Satya meninggalkan Elsa dan Linda, juga Dewi yang bebas dari amukan Pak Satya, karena meskipun terlibat dalam rencana itu, dia tidak terlibat dalam pelaksanaannya.
"Ana! Ana! Bangun, Ana!" Pak Satya memanggil Ana berkali-kali. Mencoba merangsang indra penciuman sekaligus pendengaran Ana.
Setelah beberapa waktu, Ana sadar. Dia memegangi kepalanya.
"Ana, bagaimana? Apa yang dirasakan?" Pak Satya memberondong Ana dengan pertanyaan.
"Pusing, Pak!" Ana menjawab dengan lemah.
"Sebentar lagi Ambulance datang, kita harus ke IGD. Mario, tolong kamu temani Bapak ke rjmah sakit, ya!" Pak Satya kembali meminta bantuan Mario.
"Baik, Pak." Mario mengangguk setuju.
__ADS_1
"Yang lainnya, tolong bersesi peralatan yang kita gunakan, dan kembalikan ke gudang. Jam olahraga diselesaikan lebih awal. Boleh kembali ke kelas dan berganti baju." Pak Satya memberi arahan pada murid yang lainnya.
"Baik, Pak!" Semuanya menurut. Mereka segera mengemasi barang-barang yang mereka pakai dan membubarkan diri. Termasuk Elsa, Linda dan Dewi.
Mereka benar-benar tidak berempati sama sekali. Jangankan menanyakan kondisi Ana, melihatnya pun tidak.
Tak lama kemudian, Ambulance sudah sampai. Ana segera dibawa ke IGD, ditemani Pak Satya dan Mario, si ketua kelas. Di sana, Ana mendapat penanganan. Beruntung tidak ada indikasi yang mengarah pada kerusakan otak. Jadi Ana bisa segera pulang.
Ana dan Mario kembali ke kelas, ternyata jam kosong. Tidak ada guru yang mengajar saat itu. Semua mata langsung tertuju pada Ana, membuatnya merasa risih. Dalam hati ia bertanya-tanya, ada apa lagi? Kenapa semua memandang ke arahnya? Apa karena mereka peduli dengan keadaannya?
"Cantik, sih. Tapi sayang, murahan!" Salah satu siswa di kelas itu memandang tubuh Ana dari bawah atas sampai ke bawah.
"Maksud kamu apa?" Mario tidak suka dengan perkataan temannya yang kasar itu.
"Oh, ternyata. Eh temen-temen, si ketua kelas belain cewek murahan nih!" Elsa ikut nimbrung.
"Apaan sih maksudnya?" Mario tidak paham dengan kondisi yang terjadi saat ini. Begitu juga dengan Ana. Dia tidak merasa melakukan kesalahan apapun, tapi kenapa temannya mengatakan demikian? Kenapa mengatai Ana sebagai cewek murahan?
"Bentar-bentar! Coba sekarang, siapa yang bisa jelasin semuanya? Ada apa sebenarnya? Kenapa mengatai Ana dengan sebutan yang sangat tidak pantas?" Mario mencoba menanyakan langsung pada teman-temannya.
"Ketua kelas kita ini emang yang terbaik, ya. Dia mengayomi semua teman-teman di kelasnya, termasuk perempuan yang nggak bener sekalipun, tetap dia ayomi. Bahkan dia rela jadi juru bicaranya." Linda ikut meledek tingkah Mario yang memang terlihat seperti mewakili Ana.
"Astaga! Apa salahnya sih? Aku cuma tanya apa yang terjadi. Kalian nggak kasian sama dia? Dia baru aja kesakitan bahkan sampai pingsan. Dan sekarang, kalian bersikap tidak baik dengan dia? Teman macam apa kalian itu?" Mario menggelengkan kepalanya.
"Tadi emang kami kasian, karena wajah dan sikapnya yang polos. Tapi ternyata dibalik kepolosannya itu, dia benar-benar beringas!" Cindy ikut menimpali.
"Iya, benar! Kami malu jadi teman satu sekolah sama dia, terlebih teman satu kelasnya! Kami benar-benar malu!" Teman sekelas Ana yang lain juga ikut menambah panas suasana.
"Beringas bagaimana? Dia menyerang siapa? Kenapa harus malu satu kelas sama dia? Dia memang anak yang sederhana, tapi tetap berprestasi, kok. Di mana bagian yang memalukan?" Mario masih tetap berusaha mencari alasan, perubahan sikap teman-temannya yang tiba-tiba itu.
__ADS_1
"Coba kamu lihat ini!" Cindy memperlihatkan ponselnya pada Mario. Ana ikut melihat ke ponsel milik Cindy, mengingat ini adalah tentang dirinya. Dia harus tau apa yang sebenarnya terjadi. Seketika itu juga dia membekap mulutnya sendiri, tidak percaya dengan apa yang ia lihat.