
"Ke - kenapa bisa seperti ini?" Ana tidak percaya, videonya tengah berganti baju diposting di media sosial, dengan caption terima panggilan. Bahkan akun yang digunakan juga namanya, lengkap dengan foto dirinya.
"Menjijikkan! Dirinya sendiri yang upload video gituan, tapi pura-pura nggak sadar! Jangan pura-pura amnesia deh kamu, Na! Semuanya udah jelas!" Cindy menutup ponselnya.
"Tapi? Bagaimana mungkin? Bahkan HP pun aku tidak punya! Bagaimana mungkin aku merekam diriku sendiri saat berganti pakaian? Dan itu di sekolah! Pasti pelakunya salah satu di antara kalian semua! Iya, kan?" Ana berusaha tetap kuat menghadapi semua ini. Di sini dia sebagai korban, dia harus membela dirinya.
"Jadi kamu nuduh salah satu dari kami yang melakukannya?" Cindy bertambah muak dengan Ana. Mewakili teman-temannya yang tidak terima dengan tuduhan Ana.
"Ya! Pasti salah satu di antara kalian yang melakukannya! Tidak ada CCTV di dalam kelas. Sorotnya juga dari bawah. Bisa dipastikan itu ada yang sengaja merekam aku ganti pakaian olahraga tadi. Cepat katakan! Siapa yang melakukan ini padaku?! Kenapa kalian tega banget sama aku?! Apa salahku sama kalian?! Kenapa kalian seperti ini?!" Ana berteriak dan menjerit sejadi-jadinya. Dia yang awalnya mencoba kuat, nyatanya rapuh juga. Air matanya mulai berlinang.
Semua yang ada di dalam kelas itu hanya terdiam melihat reaksi Ana yang seperti itu.
"Cepet, ngaku! Atau kalian semua akan kulaporkan pada kepala sekolah! Kalau perlu kulaporkan pada polisi! Aku pastikan kalian akan kena pasal berlapis! Pelanggaran Undang-undang ITE? Pornografi? Perlindungan perempuan dan anak? Kalian mau aku laporkan? Cepet ngaku! Siapa yang udah rekam aku ganti pakaian olahraga? Aku juga yakin, dia juga yang mengunggah video itu dan mengatasnamakan aku!" Ana mengeluarkan semua uneg-unegnya.
Mungkin dia akan dibenci satu kelas saat ini, dianggap aneh dan lain sebagainya. Tapi dia harus membela dirinya, semampunya.
"Heh! Anak udik! Berani ya, kamu ngancem kami? Kamu punya bukti apa? Jangan asal nuduh gitu!" Elsa yang tadinya duduk di belakang, maju menghampiri Ana yang masih berdiri di depan kelas bersama Cindy dan Mario.
__ADS_1
"Aku emang nggak ada bukti, tapi aku yakin itu yang terjadi. Aku curiga kalau kamu yang merekam video itu. Kamu juga yang mengunggahnya di internet dengan caption seperti itu." Ana menatap tajam ke arah Elsa. Baru kali ini dia punya keberanian menatap Elsa seperti itu. Entah, kekuatan itu muncul dari mana. Padahal selama ini, dia selalu mengalah.
"Heh! Atas dasar apa kamu nuduh aku seperti itu? Menuduh tanpa bukti itu namanya fitnah! Dan kamu juga pasti tau, kan? Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan!" Elsa tak mau kalah.
"Atas dasar apa kamu bilang? Selama ini kamu memang sering mencari gara-gara dan selalu membuatku dalam kesulitan. Jadi, bukan tidak mungkin kalau kamu juga yang menjebakku sekarang ini, kan?" Ana memberikan penalarannya yang masuk akal.
"Sudah! Sudah! Berhenti! Kita luruskan kesalahpahaman ini!" Mario yang sedari tadi hanya menyimak, berusaha melerai keduanya.
"Salah paham apa? Sudah jelas kalau ini adalah kejahatan! Aku dijebak, Pak Ketua!" Ana tidak terima jika dia dianggap hanya salah paham saja.
Ana menarik nafas panjang. Sedangkan Elsa mengibaskan rambut dengan tangan kanannya, kemudian melenggang, kembali ke mejanya.
"Cin, aku minta tolong sama kamu. Kamu yang perempuan, tolong kamu lihat lagi video yang tadi. Terus kamu analisis, posisi Ana ada di mana dan sorot kamera dari arah mana. Dari situ kita bisa tau siapa pelakunya. Karena seperti yang kita tau, Ana tinggal di panti yang nggak memungkinkan dia untuk punya HP sendiri. Juga dari video yang kulihat sekilas tadi, dia juga tidak mengambil videonya sendiri. Karena dari awal saja sudah langsung menyorot Ana yang sedang membuka seragamnya. Maaf ya, Ana." Mario memberikan jalan tengah yang bisa mereka ambil.
"Oke." Cindy sebagai wakil ketua kelas, menerima permintaan dari Mario.
"Trimakasih." Ana tersenyum, dia berharap masalah ini akan segera selesai. Dia menunggui Cindy, dia juga ikut melihat videonya, berusaha ikut memecahkan masalah itu.
__ADS_1
"Gimana? Udah tau siapa pelakunya?" Mario kembali bertanya pada Cindy.
"Bener-bener nggak ketebak. Soalnya ini dari arah meja belakang sana, dan di sana nggak ada yang nempati. Jadi siapa aja bisa pindah ke sana. Dan tadi itu emang semua sibuk ganti baju olah raga. Jadi nggak ada yang merhatiin, siapa yang merekam itu. Dan nggak tau kenapa Ana yang disorot secara khusus. Menurutku sih emang dia punya dendam tersendiri sama Ana." Cindy memberitahukan hasil analisisnya.
"Oke, kalau gitu kita nggak bisa menemukan pelakunya dan nggak bisa menyuruhnya untuk menghapus video itu. Kita coba bantu Ana dengan melaporkan video itu, biar diblokir sama aplikasi. Dengan begitu, video itu nggak akan muncul lagi." Mario mencari jalan keluar lain.
"Maaf ya, Na! Kami nggak bisa bantu kamu dengan cepat. Tapi semoga cara ini bisa membuat video itu hilang dari peredaran. Kami juga mungkin nggak bisa memulihkan nama baik kamu di luaran sana." Mario meminta maaf dengan tulus. Dia merasa harus bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi di kelasnya.
Ana hanya bisa mengangguk lemah. Setidaknya masih ada yang peduli dengan dirinya dan bersedia membantunya.
"Teman-teman! Mohon perhatian!" Mario berteriak di depan kelas. Semua mata menjadi fokus padanya.
"Aku mau minta tolong sama kalian semua! Teman sekelas kita, Ana, menjadi korban penyebaran video yang tidak pantas untuk dipertontonkan. Seperti yang kita tau, Ana adalah anak yang tinggal di panti. Dia jauh dari kata mewah. Bahkan HP saja dia tidak punya. Jadi, tidak mungkin dia merekam dan mengiklankan dirinya sendiri seperti itu. Jadi ini semua adalah kerjaan tangan jahil, yang kemungkinan besar juga anak dari kelas ini. Hanya saja kita tidak bisa menuduh tanpa bukti. Jadi aku mohon sama kalian semua untuk percaya, bahwa Ana tidak melakukan hal itu!" Mario menjelaskan duduk perkaranya secara jelas, sehingga dapat diterima oleh teman-temannya.
"Selanjutnya, aku minta tolong sama kalian semua, untuk melaporkan video itu. Supaya video itu diblokir sama pihak aplikasi, jadi video itu akan berhenti beredar. Kita mungkin bisa memahami kalau Ana tidak mungkin melakukan itu, tapi tidak dengan orang lain. Mereka tidak tau bagaimana kondisi Ana sebenarnya. Jadi sebelum menyebar tambah luas, lebih baik kita laporkan, biar segera diblokir. Aku mohon dengan sangat! Silahkan dikerjakan!" Mario memberikan perintah selanjutnya.
Ana menunggu, bagaimana reaksi dari teman-temannya. Apakah mereka akan bersedia membantunya? Mengingat selama ini, teman-teman sekelasnya cenderung tidak peduli dengannya?
__ADS_1