Tolong Balaskan Dendamku!

Tolong Balaskan Dendamku!
Bab 20


__ADS_3

"Aku mohon, jadilah aku ya, An. Demi aku. Sekolahlah lagi di sekolahmu dulu, dengan wajahku. Buat keinginanku menjadi nyata, An. Meskipun hanya nama dan wajahku yang bersekolah di sekolah formal, itu sudah membahagiakan untukku." Nadia kembali memohon pada Ana.


"Dengan wajahmu? Maksudmu bagaimana?" Ana tidak mengerti.


"Rubahlah wajahmu jadi seperti aku! Dan ubahlah identitasmu menjadi aku!" Nadia memberitahukan maksudnya.


"Jangan tersinggung, tapi tolong penuhi permintaan terakhirku ini! Kalian mau, kan?"


Ana melihat pada papa dan mamanya, meminta pendapat mereka. Keduanya hanya mengangguk, mereka sudah tidak mampu berkata apa-apa lagi.


"Baiklah, aku mau." Ana mengangguk mantap.


"Trimakasih, Ana. Sekarang aku bisa pergi dengan tenang, kamu jalankan juga misi kita tempo hari!" Nadia menambahkan.


"Trimakasih, Nad. Kamu benar-benar orang yang baik." Ana meneteskan air matanya. Bahkan dalam kondisi kritis saja, Nadia masih memikirkan Ana.


Nadia mengangguk lemah.


"Mama, Papa, tolong penuhi apapun permintaan Ana, sebisa kalian ya! Anggap Ana sebagai aku, anak kalian yang selalu kalian usahakan apapun yang terbaik untukku. Tolong ingat permintaan terakhirku ini, Pa, Ma!" Nadia memandang arah mama papanya yang hanya bisa memeluk satu sama lain, saling menguatkan.


"Pasti, Sayang! Kami akan melakukan apapun permintaanmu." Rama menjawab permintaan putrinya, sedangkan Sinta hanya bisa menangis di pelukan suaminya. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia berharap keajaiban terjadi, tapi selebihnya dia pasrah. Putrinya sudah berjuang melawan sakit sejauh ini. Kalaupun pada akhirnya Tuhan memanggilnya, mungkin memang itu yang terbaik. Putrinya tidak akan merasakan sakit lagi.


"Mama jangan nangis! Aku baik-baik aja, kok!" Nadia tersenyum lemah. Ucapannya justru membuat kedua orang tuanya semakin nelangsa. Bahkan dalam kondisi seperti ini, Nadia masih memikirkan orang lain.


Sinta beralih tempat, dia kini duduk di samping ranjang Nadia. Sinta menggenggam erat tangan putrinya, mencoba memberi kekuatan, berharap Nadia akan tetap bertahan.


Nafas Nadia terdengar semakin tidak teratur, kadang terdengar cepat dan dalam, kadang juga terdengar dangkal dan berat. Sinta berpikir itu adalah pengaruh dari obat, tapi tidak dengan Rama, dia bisa melihat berbagai macam alat medis yang dipasang pada tubuhnya, menandakan penurunan kondisi tubuhnya.


Rama segera keluar dan memanggil dokter, supaya bisa memberi penanganan pada Nadia. Sedangkan di dalam ruangan, masih ada Ana dan Sinta menunggui Nadia, dengan pakaian yang khusus digunakan di ruangan ICU.

__ADS_1


"Ma, aku ngantuk banget. Mataku rasanya berat." Nadia kembali berkata dengan lemah.


"Istirahat, Sayang. Tidur dulu nggak papa, mudah-mudahan kamu bisa pulih lagi." Sinta berkata dengan lembut, meskipun matanya tidak berhenti mengeluarkan air mata.


"Mama temani aku terus, ya! Nanti bangunin aku, aku takut kalau tidur dan nggak bisa bangun lagi." Nadia kembali mengatakan hal-hal yang menyayat hati.


"Pasti, Sayang! Mama pasti temani kamu di sini! Nanti Mama bangunin kamu." Sinta tersenyum, meskipun dengan terpaksa. Bagaimana mungkin dia bisa tersenyum, melihat anaknya berjuang antara hidup dan mati?


Ana menatap pilu, dia tidak tega melihat pemandangan di depannya itu. Nadia memejamkan matanya dan mulai tertidur. Sinta tak henti-hentinya memegang tangan Nadia, sambil melihat wajah dan mengusap kepala putrinya. Dalam hati dia berdo'a, semoga Nadia baik-baik saja dan bisa melewati masa kritisnya.


Cairan infus menetes lebih lambat, tubuh Nadia seperti menolak menyerap cairan itu. Bunyi alat pendeteksi detak jantung berbunyi dengan cepat dan terasa menyesakkan dada. Sinta memejamkan matanya, berharap ada keajaiban yang terjadi. Sampai akhirnya alat deteksi detak jantung menunjukkan garis datar.


Tiiiitttt!


Sinta menggoyang-goyangkan tubuh putrinya, berharap detak jantung putrinya bisa kembali lagi. Meskipun hasilnya nihil. Tim dokter datang bersama Rama. Mereka mencoba berbagai cara untuk mengembalikan jantung Nadia berdetak kembali, namun hasilnya nihil. Nadia sudah tenang di alam lain.


Keluarga Rama berkabung untuk beberapa hari, tapi tidak ada satupun pelayat yang datang. Tidak ada yang diberitahu bahwa Nadia telah meninggal. Di atas makam Nadia, justru terukir nama Ana di sana. Padahal Ana sedang melakukan operasi plastik, sesuai dengan permintaan Nadia.


***


"Eh, iya. Belum, Ma." Nadia mengusap air matanya yang menetes di pipi.


"Yaudah, ayo kita pulang, dan makan siang. Meskipun terlambat, tidak masalah. Jam makan malam masih lama, takutnya kamu pingsan." Sinta mencoba bergurau.


"Sebentar, Ma! Aku mau bilang sesuatu pada Nadia."


"Baiklah, silahkan!"


"Nad, terimakasih atas semua yang kamu berikan padaku. Termasuk kepercayaan untuk menggunakan wajahmu ini. Aku tau, kamu mungkin bisa melihat dari atas sana, tapi aku tetap akan bercerita. Aku benar-benar tidak dikenali di sekolah, tidak ada yang berani mengganggu dan memperlakukan aku semena-mena lagi. Aku yakin, kalau kamu yang berada di sekolah, pasti kamu juga akan disegano olah orang lain. Tidak seperti aku yang selalu dianggap buruk dan hina. Aku juga sudah berhasil menjalankan misi kita, sedikit demi sedikit. Aku bahkan bisa membuat pertemanan mereka hancur, dan salah satu dari mereka mengkhianati temannya sendiri. Bukankah itu sangat keren?" Ana membatin, apa yang ingin dia sampaikan pada Nadia. Dia tidak bisa mengucapkan secara langsung, karena ada Sinta di sana. Dia tidak mau mamanya mengetahui, apa yang terjadi di sekolahannya.

__ADS_1


"Ana sudah mati, yang ada sekarang adalah Nadia. Aku adalah Nadia!" Ana kembali memantapkan hatinya, sebelum pergi meninggalkan makam itu.


"Sudah, Nak?" Sinta kembali menegur Nadia yang sedari tadi mengusap-usap batu nisan bertuliskan nama 'ANA TATRIANA' itu.


"Udah, Ma!" Nadia mengangguk mantap.


"Yaudah, ayo kita pulang! Lain kali kita kembali berziarah ke sini lagi." Sinta berdiri sambil menggandeng lengan Nadia, mengajaknya berdiri juga.


"Iya, Ma." Nadia tersenyum.


***


Sekembalinya dari makam, Nadia dan mamanya sudah disambut oleh Bi Narsih.


"Non Nadia kok lama banget sih perginya? Masakannya keburu dingin lagi." Bi Narsih mengomel.


"Hehe, maaf, Bi. Dingin juga nggak papa kok, Bi. Masakan Bibi tetep enak, disantap dalam kondisi apapun! Yang penting enggak basi aja!" Nadia tersenyum menggoda pembantu senior di rumah itu.


"Ah, Non Nadia bisa aja!" Bi Narsih tersipu, mendapat pujian dari Nadia.


"Beneran, Bi. Aku nggak bohong! Masakan Bibi bener-bener enak!" Nadia mengacungkan dua jempolnya.


"Yaudah, ayo dimakan dulu! Kasihan kalau nggak dimakan, lho!"


Sinta tersenyum, melihat kedua orang dekatnya itu.


"Sana makan dulu, nanti Bibi ngambek lho. Bisa repot kalau dia mogok masak!" Sinta ikut menggoda Bi Narsih.


"Ah, Nyonya, bisa aja!" Bi Narsih semakin tersipu.

__ADS_1


Nadia tidak bisa menolak lagi, kalau mamanya yang menyuruh. Dia segera ke ruang makan, untuk makan siang yang terlambat. Dia makan dengan segera, dia ingin cepat-cepat melihat HP-nya. Dia ingin tau, bagaimana respon dari orang-orang yang melihat postingannya.


__ADS_2