
"Yah, jangan berhenti, dong. Kita harus tetap melanjutkan misi!" Dewi berapi-api, meyakinkan Nadia untuk melanjutkan misinya.
"Oke, yang penting kamu bersedia membantu!" Nadia menjadi lebih yakin lagi.
"Pasti, aku siap membantu apapun rencananya!" Dewi mengangguk mantap.
"Aku berniat mengupload video ini ke grup sekolah, biar si Elsa mendapa kecaman dari teman-teman. Syukur kalau dia dipanggil sama guru. Ya, meskipun Ana sudah nggak ada, tapi ini tetap saja sebuah kejahatan yang harus diberikan balasannya." Nadia membeberkan rencananya.
"Oke, aku siap menguploadnya. Biar aja sekalian mereka benci sama aku!" Dewi merelakan dirinya.
"Jangan! Jangan kamu yang melakukannya. Kamu bisa kena masalah lagi nantinya. Mending aku aja! Kalaupun Elsa tau aku yang melakukannya, dia nggak akan berani mengganggu aku!" Nadia berkata mantap.
"Emangnya kenapa?" Dewi masih belum tau posisi Elsa dan Nadia.
"Karena ayahku menginvestasikan banyak uang ke perusahaan ayahnya Elsa. Kalau aku minta ayahku mencabut investasinya, bisa dipastikan, perusahaan ayahnya Elsa bakalan bangkrut!" Nadia berkata dengan yakin.
"Wah, ternyata kamu keren juga, ya! Aku nggak nyangka kalau ternyata kamu orang kaya. Soalnya penampilan kamu ya, biasa aja. Nggak menandakan kalau kamu orang kaya. Aku lihat juga kamu pulang pergi sekolah naik angkutan umum." Dewi memperhatikan lagi penampilan Nadia yang tidak neko-neko.
"Hehe, iya emang. Karena yang kaya orang tuaku. Bukan aku. Jadi apa hebatnya pamer harta kekayaan orang tua, kan?" Nadia tersenyum. Dia menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Hal yang membuatnya tidak mau untuk pamer.
"Apa kamu nggak takut dapat ancaman kejahatan dari saingan ayahmu? Kalau kamu nggak pakai pengaman pribadi, atau sopir pribadi gitu." Dewi kembali bertanya.
Nadia hanya menggeleng, sambil terus memperlihatkan senyumnya.
"Udah ya, nggak usah bahas hal ini. Aku nggak terlalu suka pembahasan ini." Nadia menghentikan pertanyaan-pertanyaan Dewi selanjutnya.
"Oke, oke."
Tak terasa mereka mengobrol cukup lama, waktu istirahat sudah habis. Mereka harus kembali ke kelas.
"Kamu kirim aja video itu ke aku, biar aku yang unggah ke grup sekolah!" Nadia menutup buku diary Ana.
__ADS_1
"Oke." Dewi mengangguk paham.
"Sebenarnya masih ada yang ingin kutanyakan lagi. Tapi besok aja, masih ada banyak hari. Sekarang, kita lancarkan rencana kita ini dulu." Nadia kembali memasukkan buku diary Ana ke dalam baju seragamnya, kemudian menjepitnya pada bagian pinggang dengan roknya, supaya tidak jatuh.
"Kalau boleh tau, kenapa lamu menyimpan di san" Dewi menunjuk bagian perut Nadia, tempatnya menyimpan buku Ana.
"Karena aku nggak mau buku ini sampai hilang!" Nadia tersenyum, kemudian kembali ke kelas. Nadia dan Dewi berjalan dengan jarak yang cukup jauh. Mereka berdua tidak mau kalau kedekatan mereka diketahui teman yang lainnya.
***
"Aku pulang, Ma!" Nadia membuka pintu rumahnya yang besar dan megah. Suasana rumah nampak sepi.
"Non An, eh maaf, Non Nadia udah pulang ya. Nyonya lagi nggak ada di rumah, Non. Beliau berpesan, Non Nadia untuk makan dan beristirahat saja kalau pulang sekolah." Bi Narsih, pembantu setia di keluarga Rama Wijaya, lari tergopoh, menyambut kedatangan Nadia.
"Oh, gitu. Mama lagi kemana emangnya, Bi?" Nadia bertanya pada Bi Narsih. Dia tidak mempermasalahkan bibinya yang sempat salah panggil tadi. Dia sadar, memang susah untuk merubah sesuatu yang sebelumnya tidak seperti ini.
"Ke makam, Non. Katanya mau melihat rumah baru Non Ana, eh, Non Nadia pertama. Aduh, gimana sih ini? Jadi bingung Bibi nyebutnya, Non." Bi Narsih menggaruk-garukkan kepalanya yang sudah hampir semuanya memutih.
"Iya, itu maksudnya. Non Nadia mau makan apa? Biar Bibi siapin." Bi Narsih mengalihkan pembicaraan.
"Apa aja yang ada, Bi. Nasi sama lauk yang tadi pagi masih, nggak?" Nadia memilih untuk tidak terlalu merepotkan perempuan yang sudah cukup sepuh itu.
"Yah, jangan makan makanan tadi pagi, Non. Nanti Bibi dan mbak-mbak di sini yang kena marah tuan dan nyonya. Bibi masakin aja, ya? Non Nadia pengen makan apa?" Narsih berkata dengan sopan santun.
"Yaudah apa aja deh, Bi. Aku bisa makan apa aja, kok." Nadia tersenyum, sebagai orang baru, ia hanya bisa mengikuti aturan yang sudah lama ada di rumah itu.
"Baik, Non. Tunggu, ya! Nanti Bibi panggil kalau masakannya udah jadi."
"Oke, Bi." Nadia pergi ke kamarnya di lantai atas. Di sana dia merasa benar-benar berada di kamarnya. Bukan hanya kepalsuan dan kepura-puraan saja.
Setelah menutup pintu, Nadia tidak segera berganti baju. Dia memilih untuk duduk dan kembali merenung.
__ADS_1
"Apa aku bisa tetap bertahan seperti ini? Meskipun mereka semua baik padaku, nyatanya aku bukan siapa-siapa di keluarga ini. Aku hanyalah anak pengganti." Nadia meneteskan air matanya.
"Apakah semakin lama semuanya akan terbiasa?" Nadia masih betah bergumam sendiri.
"Tahan, tahan. Jangan nangis! Kamu Nadia! Kamu perempuan yang kuat!" Nadia mengatur nafasnya.
"Sekarang, kamu harus fokus menjalankan misi balas dendam terlebih dahulu! Yang lain, urusan belakangan! Abaikan perasaan tidak enak dan lain sebahainya!" Nadia menguatkan dirinya sendiri.
Nadia mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ia membuka galeri, melihat lagi video perundungan terhadap Ana dulu. Dia benar-benar kasihan dengannya.
"Aku tidak seperti Ana! Aku harus kuat! Jangan sampai aku diinjak-injak seperti Ana!" Nadia meyakinkan dirinya sendiri. Kemudian dia membagikan video perundungan tersebut ke grup sekolah, juga ke akun-akun media sosial yang dia miliki belum lama ini.
"Rasakan pembalasanku, Elsa!" Nadia tersenyum puas.
***
Nadia berganti pakaian, dia berpikiran untuk menyusul mamanya ke makam. Dia membawa tas kecil berisi dompet dan HP saja.
"Bi, aku mau nyusul Mama, ya! Makannya nanti aja!" Nadia memberitahu pembantu setia di rumah itu. Meskipun sudah sepuh, Bi Narsih dipercaya untuk mengatur pekerjaan asisten rumah tangga lain yang usianya lebih muda dari dirinya.
"Tapi, ini udah mau mateng, Non. Nggak mau makan dulu?" Bi Narsih yang sedang membolak-balik masakan menengok ke arah Nadia.
"Nanti aja, Bi. Tadi di sekolah juga udah jajan, kok. Aku pergi dulu, ya!" Nadia pergi meninggalkan Narsih yang tidak bisa menghentikan Nadia.
Nadia segera memesan ojek online, dengan tujuan makam.
"Makasih, Pak!" Nadia memberikan uang tarif ojol dan mengembalikan helm milik driver ojol itu. Kemudian bergegas menuju ke tengah area pemakaman. Ternyata Sinta masih ada di sana.
"Nadia, kamu kok ke sini?" Sinta mendongakkan wajahnya, melihat siapa yang datang.
"Iya, Ma! Aku pengen nyusul Mama." Nadia tersenyum.
__ADS_1
Seketika tangis Sinta pecah lagi, Nadia berjongkok dan memeluk mamanya yang masih mengusap-usap batu nisan yang tertulis nama "ANA TATRIANA", meskipun jasad yang terkubur di dalamnya bukanlah milik Ana.