Transmigrasi Mendadak Kaya

Transmigrasi Mendadak Kaya
TMK 01


__ADS_3

Allen Putri Daisha, seorang gadis bar-bar yang memiliki nasib tragis ketika ingin menyelamatkan anak kecil di tengah jalan  Namun, naas entah dia yang ceroboh atau memang sudah takdirnya dia di hantam oleh truk besar dari belakang yang melaju dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi.


"Dek, woi awas," teriak Alle.


Alle yang mendengar suara klakson mobil saling bersahutan pun dengan spontan berlari dan mendorong anak kecil tersebut, namun naas ketika dia ingin berjalan ke tepi tiba-tiba saja kakinya mendadak kram yang membuat dia terduduk di tengah jalanan. Suasana yang awalnya hening seketika ricuh ketika klakson truk menggelegar dan teriakan warga yang menyuruhnya untuk segera beranjak. Tetapi baru saja ia beranjak dari duduknya, tubuhnya di hantam sebuah truk.


Bruk


Tubuhnya terlempar sejauh 10 meter dari tempat kejadian, semua badannya terasa remuk dan darah terus saja keluar. Seketika semua orang berhamburan mendekati korban dan membantu memperlancar jalanan yang sempat terkendala.


"Buna maafin Alle, kalau selama ini Alle selalu buat Buna marah. Abang, Alle titip Buna sama bil-bil Alle sayang kalian semua, Alle mau ketemu ayah," gumamnya dengan nafas yang mulai melemah.


Beberapa menit kemudian barulah terdengar suara sirine ambulan yang bertepatan dengan Alle menghembuskan nafas terakhirnya.


×××


Di waktu yang sama di tempat berbeda, di sebuah lapangan salah satu sekolah terkenal terdapat segerombolan remaja dan seorang gadis putri dengan wajah yang menyamping menahan mata yang ingin mengeluarkan lahar dingin dan terdapat bekas tamparan di pipi kanan gadis tersebut.


"Gue bilang stop bully Ira!" Bentak Fabio dengan wajah penuh emosi, sedangkan Ira sendiri menangis dan di temani oleh sahabat Fabio.


"Gue Gak akan bully orang, kalau orang itu engga mengusik kehidupan gue!" Sentak Meira.


Alister bangkit dan berjalan menuju adiknya, tangan yang terkapar spontan ia buka dan lagi melayangkan sebuah tamparan di tempat yang sama di pipi adiknya, "Ira salah apa sama Lo bangsat."


"Ab-bang tampar aku cuma karna ****** kecil itu? Aku kecewa sama abang," lirih Meira yang menekan beberapa kata membuat Alister spontan menatap tangannya, setelah mengatakan itu Meira berlari keluar lapangan dengan air mata yang terus bercucuran.


Membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga mobil tersebut kehilangan kendali sehingga menabrak pembatas jalan dan...


Bom


Mobil tersebut mengeluarkan asap tebal, membuat warga yang berada di sekitar tempat kejadian segera berlarian mencoba menyelamatkan korban dan menghubungi polisi dan juga ambulance.


×××


Tepat satu bulan setelah kejadian, Meira dinyatakan koma belum ada tanda-tanda iya ingin membuka matanya, seorang dokter dan ditemani dua orang suster mengantar menatap miris terhadap pasiennya sama satu bulan ah yang hanya ditemani oleh pembantu dan super keluarganya.


"Dokter tangan pasien bergerak," pekik salah seorang suster.


"Puji Tuhan han akhirnya pasien diberi mukjizat," ujar sang dokter.


"Eunghh,"


"Nona sudah sadar? Nona mau apa?" Tanya dokter beruntut.


"mi-minum, saya kenapa dokter?" Tanya Alle.


"Non Meira mengalami kecelakaan yang membuat non Meira tidak sadarkan diri satu bulan lamanya," tutur sang dokter.


"Meira? Siapa Meira?" tanya Alle.


Tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka menampilkan wanita terus baya yang diketahui namanya bi Imas.


"dokter bagaimana keadaan non Meira?" tanya bi Imas.


"Anda siapa?" tanya Meira, pertanyaan dari Meira membuat bi Imas shock.


"non enggak kenal bibi? Tanya bi imas yang dibalas  gelengan.


"sebelumnya saya hanya ingin mengatakan bahwa dari kerasnya benturan yang terjadi, membuat setengah ingatan non meira hilang," tutur sang dokter.


"Hilang apanya sih dok? saya bahkan masih ingat sama saya dan lagi nama saya itu Allen Putri Daisha bukan meira, ini lagi bun-bun mana?" ujar alle.


"Alle siapa non? nama non itu meira Bramantyo anak dari tuan Bagas bramantyo dan nyonya geraldine bramantyo," jelas bi Imas.


Sekelebat ingatan melintas di kepala Alle membuatnya merasakan pusing dan kembali tidak sadarkan diri, yang membuat bi Imas dilanda kecemasan, "kasihan sekali hidup non harusnya nyonya dan tuan menemani non selama di rumah sakit."


***


Beberapa menit kemudian Meira kembali membuka matanya, ia memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Gue malu punya adek pelacur kaya Lo!"


"Lo tuh anak yang gak pernah di harapin mama papa,"


"Dasar gatau diri, pembunuh!"


"Gue ingetin sekali lagi jangan pernah ganggu gue lagi, murahan,"


"Sekali murahan tetap murahan euy,"

__ADS_1


"Dasar anak gatau diri,"


"Masih mending saya dan suami saya mau menampung pembunuh seperti kamu,"


Kalimat cacian terus saja terngiang di kepala Meira, entah seberapa menderitanya Meira dulu Membayangkannya saja sudah membuatku kembali pusing.


"Shhhh," ringis Alle.


Bi Imas yang melihat itu segera menghampiri Meira, "non, apa yang sakit bilang bibi!" Seru bi Imas.


Tiba-tiba air matanya jatuh tanpa ia minta, "bi, emang bener ya kalau aku anak yang tidak di inginkan?"


Bi Imas yang mendengar itupun lantas menggelengkan kepalanya.


"Aku capek di tuduh pembunuh, pa-padahal bukan aku yang bunuh dia bi," lirih Meira.


"Iya bukan non, udah ya non jangan nangis. Nanti dia ikutan sedih disana," imbuh bi Imas.


Bi Imas segera membawa tubuh mungil itu kedalam dekapannya, nyaman itu yang di rasakannya.


Bibi berharap semoga non selalu bahagia dan tersenyum, batin bi Imas.


Beberapa menit kemudian setelah dirasa sedikit tenang Meira melepaskan pelukannya sembari menatap bi Imas, "boleh minta tolong ceritakan tentang bagaimana masa lalu ku bi?" Tanya Alle.


"Non Meira yakin?" Tanya bi Imas yang di balas anggukan.


Bi Imas pun mengambil nafas dalam-dalam, "nama non Meira Bramantyo, anak terakhir keluarga Bramantyo. Non punya satu Abang dan satu kembaran, tetapi kembaran non harus lebih dulu berpulang. Kehidupan non berubah setelah kepergian saudari kembar non, non dulu selalu disayang, dimanja nyonya, tuan, Aden, bahkan keluarga besar non. Hingga akhirnya 11 tahun yang lalu, 3 orang anak kecil berlarian di sebuah taman kompleks...."


Flashback on


"Lali, dol dol abang kena yey," pekik Meira kecil.


"Akh berhenti bang dek," ujar Meisya, "Capek banget, kalian larinya kencang banget."


"Cemen kamunya aja yang lambat," ejek Meira.


"Engga kalian aja yang terlalu cepat," titah Meisya.


"Hufh, udah jangan berantem," ucap Alister sembari mengusap kepala kedua adiknya, "gimana kalau abang traktir kalian eskrim?"


"Mau," pekik keduanya.


Terlalu lama menunggu, membuat kedua perempuan itu bosan, "kak gimana kalau kita nunggu Abang sembari kita main petak umpet?" Usul Meira.


"Gak usah dek, nanti abang nyariin lagi."


"Ayolah ka,"


Meisya pun menghela nafas dan akhirnya menyetujui ajakan sang adek, "ya udah ayo, kakak yang jaga kamu sembunyi."


"Satu,"


"Dua,"


"Tiga,"


"Sembilan,"


"Sepuluh,"


"Mei, kamu dimana? Kakak datang nih jangan pergi,"


"Adek,"


Meira yang bersembunyi dibalik semak-semak pun terkikik heboh mendengar sang kakak memanggilnya.


"Udah yuk dek, kakak nyerah nih," teriak Meisya.


Meira pun bangkit dan berjalan perlahan ke arah sang kakak dan


Dor


"Hahaha yey Mei menang, kakak kalah," pekik Meira, Meisya yang melihat adeknya tersenyum pun ikut tersenyum.


Saat pandangan Meisya menatap ke arah taman, ia di kejutkan dengan laki-laki paruh baya yang berada tepat di belakang Meira sembari membawa pisau. Meisya yang melihat pria itu ingin menusuk sang adik dari belakang pun segera mendorong sang adik kesamping hingga akhirnya.


Jleb


"Akh!"

__ADS_1


Setelah menancapkan pisau itu di dada kiri Meisya, laki-laki itu berlari meninggalkan Meisya yang terbaring lemah di atas rumput dengan paha sebagai bantalan, "kak Eca, bangun jangan tinggalin Mei," teriak Meira.


"Tolong,"


"Tolongin kakak Mei"


"Mei, maafin kakak. Jaga diri kamu kakak sayang kalian semua,"


Nafas Meisya semakin menipis, ia berusaha membuka matanya. Tangannya terangkat menghapus air mata yang turun dari sang adik, "ya Allah Meisya ikhlas kalau Meisya harus pergi sekarang," batin Meisya. Ia menghirup nafas sekali lagi hingga akhirnya matanya pun terpejam bertepatan dengan nafasnya.


"Hiks, kakak bangun,"


"Tolong,"


"Astagfirullah, adek kenapa? Pak Bu, tolong bawa adek ini kerumah sakit terdekat," ujar salah seorang warga.


Di detik itu juga Alister kembali dengan membawa 2 cup es krim, Alister menjatuhkan es krim itu ketika melihat Meira memegang pisau yang ada di perut Meisya.


***


Setelah di bantu warga membawa Meisya ke rumah sakit, Alister dan Meira duduk di kursi tunggu dengan Alister yang menatap sinis ke arah Meira, "ini semua gara-gara kamu dasar pembunuh!" Serkas Alister.


Terdengar langkah kaki, sepasang suami istri datang dengan wajah khawatir setelah mendapat telfon dari pihak rumah sakit, "Alister bagaimana keadaan adik mu?" Tanya sang mama dengan nada khawatir.


"Meisya masih di dalam ma," lirihnya.


"Bagaimana semua ini bisa terjadi boy?" Tanya sang ayah.


"Ini semua karena pembunuh kecil itu ma, pa," sentaknya sembari menunjuk kearah Meira.


Meira yang dituduh pun hanya bisa menundukkan kepalanya sembari menggeleng pelan.


Sang kepala keluarga pun berjalan menghampiri salah satu anaknya, mencengkeram kuat dagu sang anak, "kalau sampai terjadi sesuatu sama anak saya, kamu akan saya hukum," bentaknya.


Meira hanya bisa menundukkan kepala dan berdoa semoga sang kakak bisa di selamatkan, beberapa menit kemudian pintu ruangan terbuka menampilkan sosok laki-laki dengan jas kebesarannya.


"Keluarga pasien?" Tanya sang dokter.


"Saya mamanya, bagaimana keadaan anak saya dokter?"


Sang dokter hanya bisa menghela nafas sebelum kembali berbicara, "korban mengalami luka tusuk yang sangat dalam bahkan hingga mengenai salah satu organ korban." Jelasnya.


Keluarga Bramantyo semakin di buat khawatir oleh sang dokter, bahkan Meira menatap wajah sang dokter seolah mengatakan bahwa saudari kembarnya pasti selamat dan sekarang belum sadarkan diri.


"Sebelumnya saya meminta maaf sebesar-besarnya kepada pihak keluarga, saya sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi Tuhan lebih sayang anak kalian, saudari Meisya dinyatakan meninggal dunia sebelum di bawa kemari," jelas dan dokter.


Duar


Bagai disambar petir di siang bolong, nyonya besar keluarga Bramantyo shock ketika mendengar kabar tersebut. Tidak hanya nyonya besar Bramantyo tetapi semua yang berada di rumah sakit juga merasakan kehilangan, nyonya besar Bramantyo berdiri menerobos masuk kedalam ruangan sang anak hingga, menatap lurus tubuh kaku nan dingin sang anak.


Pecah sudah tangis yang selama ini di tahannya, anak yang susah payah ia lahirkan, harus berpulang terlebih dahulu kepangkuan sang ilahi.


"Kenapa kamu ninggalin Mama sayang, kamu udah gak sayang mama," lirihnya.


"Ma, udah Ka Meisya sedih liat mama kaya gini,"


"Diam kamu, dasar pembunuh," bentak nyonya Bramantyo.


"Saya mau kamu jangan pernah datang ke hadapan saya, dan jangan pernah datang ke rumah anak saya!" Sentaknya, "anak saya malu punya kembaran seperti kamu," lanjutnya.


"Ma, bukan aku yang salah,"


"Jangan percaya ma, gak ada maling yang ngaku atas kesalahannya," ujar Alister.


"Tapi memang bukan aku pelakunya ka,"


Tuan Bramantyo pun berjalan menuju sang anak, menarik paksa tangan sang anak hingga membuat pergelangan tangan itu memerah.


"Pa, lepas tangan Mei sakit,"


"Diam kamu,"


"Saya akan kasih kamu hukuman karna perbuatan mu,"


"Am-ampun pa,"


"Tidak ada ampun,"


Tuan Bramantyo terus menyeret anaknya hingga  sampai kerumah.

__ADS_1


__ADS_2