
Banyak penonton yang ikut menghayati bahkan tak jarang mereka juga menitihkan air matanya, lagupun selesai, "terimakasih," ucapnya.
Penonton pun bertepuk tangan meriah, dan berteriak ingin mendengar ia menyanyikan sebuah lagu lagi, karena tak mau membuat penontonnya kecewa akhirnya iya pun menyanyikan sebuah lagu lagi.
"Lagi-lagi,"
"Lagi ka,"
"Baiklah, mau dinyanyikan lagu apa?"
"Surat cinta untuk starla," teriak salah seorang pengunjung.
"Baiklah, selamat menikmati satu buah lagu berjudul surat cinta untuk starla,"
Alunan piano mulai terdengar, hingga akhirnya Meira menyanyikan baris pertamanya suara tepuk tangan dari penonton, banyak dari mereka yang juga ikut menyanyi bahkan tak jarang memvideo juga.
Kutuliskan kenangan tentang caraku menemukan dirimu
Tentang apa yang membuatku mudah berikan hatiku padamu
Takkan habis sejuta lagu untuk menceritakan cantikmu
Kan teramat panjang puisi tuk menyuratkan cinta ini
Bidikan kamera mengarah kearahnya, Meira tak menyadari bahwa pemilik dari cafe sudah menatapnya sendari tadi.
Telah habis sudah cinta ini tak lagi tersisa untuk dunia
Karena telah kuhabiskan sisa cintaku hanya untukmu
Aku pernah berpikir tentang hidupku tanpa ada dirimu
Dapatkah lebih indah dari yang kujalani sampai kini
Alle, gadis cantik yang memiliki banyak kelebihan, gadis yang slalu dijaga oleh Abang dan ayahnya. Sama seperti starla yang slalu diperlakukan istimewa oleh ayahnya.
Aku selalu bermimpi tentang indah hari tua bersamamu
Tetap cantik rambut panjangmu meskipun nanti tak hitam lagi
Bila habis sudah waktu ini tak lagi berpijak pada dunia
Telah aku habiskan sisa hidupku hanya untukmu
Dan telah habis sudah cinta ini tak lagi tersisa untuk dunia
Karena tlah kuhabiskan sisa cintaku hanya untukmu
Untukmu hidup dan matiku
Bila musim berganti sampai waktu terhenti
Walau dunia membenci, ku kan tetap disini
__ADS_1
Bila habis sudah waktu ini, tak lagi berpijak pada dunia
Telah aku habiskan sisa hidupku hanya untukmu
Dan telah habis sudah cinta ini, tak lagi tersisa untuk dunia
Karena telah kuhabiskan sisa cintaku hanya untukmu
Karena telah kuhabiskan sisa cintaku hanya untukmu
Suara tepuk tangan kembali terdengar meriah, sang orkes yang biasa menyanyi disana pun segera mengambil alih setelah mendapatkan pesan dari sang pemilik cafe.
"Oke baik, mungkin dua buah lagu telah kita dengarkan sekarang gantian kita cowok-cowok yang akan menemani kalian semua,"
Meira pun kembali berjalan kearah sang kasir, "mba Meira ya? Mari saya antarkan keruangan pemilik cafe,"
Mereka berdua berjalan beriringan, Ale yang memang tidak bisa diam saja pun mulai bertanya-tanya, "mba sudah lama ya kerja disini?" Tanyanya.
"Emm iya sekitar satu tahunan, kayaknya kamu masih anak sekolah ya?" Kini gantian sang kasir yang di ketahui namanya Sasa
"Iya mba,"
"Sudah sampai, ini ruangan si bos kamu ketuk aja," ucap Sasa.
Tok tok tok
"Masuk," teriak dari dalam.
"Permisi pak, saya Meira yang mau ngelamar disini," ujarnya.
"Silahkan duduk," ujarnya membuat Meira sontak duduk dihadapannya, "perkenalkan saya Liam Maheswara, pemilik cafe 44 ini," lanjutnya sembari menyodorkan tangannya dan dibalas oleh Meira.
"Oke kamu mau ngelamar di bagian apa?" Tanyanya.
"Bagian apa saja insyaallah saya akan menerimanya pak," jawab Meira.
"Jangan panggil saya pak, saya belum terlalu tua untuk di panggil pak, panggil Liam saja," ucap Liam, "kalau seumpama saya kasih di bagian nyanyi bagaimana?" Lanjutnya.
"Emm baik ka Liam, terserah kakak saja tapi kalau boleh tau kenapa ka Liam menaruh Meira di bagian itu?"
"Karena saya melihat penonton banyak yang suka dengan pertunjukan mu, untuk soal gaji kamu tidak usah khawatir dengan itu semua," jawab Liam, "dan kamu bisa mulai kerja mulai besok, kamu bisa datang sore saja dan jam kerja mu sampai jam 21.00," lanjutnya.
"Baik ka sekali lagi Meira ngucapin terimakasih," ujarnya, "kalau begitu Meira pamit keluar ka, sekali lagi Meira ngucapin makasih banget," lanjutnya.
Meira pun keluar dari ruangan sang pemilik cafe dengan wajah yang berseri-seri, setidaknya dia punya pemasukan dan tidak terus mengandalkan uang dari Bagas-selaku sang ayah.
"Gimana Mei di terima atau bagaimana?" Tanya Sasa begitu melihat Meira keluar dari ruangan atasannya.
"Alhamdulillah di terima mba," jawab Meira.
"Alhamdulillah Mei, mba ikut senang juga semangat ya semoga kamu betah, btw mulai kerja kapan?" Tanyanya lagi.
"Emm besok mba, kalau begitu Meira pamit pulang dulu ya mba," pamitnya yang dibalas anggukan kepala.
__ADS_1
Meira berjalan menyelusuri trotoar sepanjang jalan, banyak motor yang berlalu lalang hingga, dia melirik jam yang bertengger manis di tangannya yang menunjukan pukul 13.45 WIB.
Entah kenapa langkah kakinya membawa ia menuju sebuah panti asuhan Kasih Bunda, pastinya sebelum ia kesana ia mampir sebentar untuk membeli beberapa camilan dan beberapa sembako dari uang tabungannya.
"Assalamualaikum, permisi."
"Waalaikumsalam, eh silahkan masuk nak, silahkan duduk nak."
"Em, kalau boleh tau ibu pemilik panti asuhan Kasih Bunda?"
"Iya nak."
"Perkenalkan saya Meira Bu, kedatangan saya kemari karna tak sengaja melihat panti asuhan ibu, dan ini ada sedikit dari saya buat ibu dan anak-anak yang ada disini."
"Alhamdulilah makasih banyak nak Meira, perkenalkan nama ibu Susi, nak Meira repot-repot sekali, ibu jadi engga enak sama nak Meira."
"Tidak apa-apa Bu, ini tidak seberapa, kalau diizinkan saya mau melihat anak-anak yang ada disini boleh Bu?"
"Tentu nak Meira, mari saya antarkan."
Meira dan Bu Susi berjalan berdampingan, panti asuhan ini tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Banyak anak-anak yang bermain bersama, ada juga yang belajar tetapi ada seorang anak yang membuat pandangan Meira terfokus padanya saja.
Ibu panti mengikuti arah pandang Meira, seorang anak laki-laki yang duduk di bawah pohon yang begitu rindang dan menatap kearah pagar seolah sedang menunggu seseorang datang menjemputnya.
"Dia Dion Antariksa A. Memang paling pendiam diantara yang lain, Dion ini susah berinteraksi dengan teman-temannya, jangankan berinteraksi berbicara saja dia jarang." Jelas Bu Susi yang membuat Meira menolehkan kepala kearahnya, "Dion sudah di titipkan di sini sejak dia masih berumur 2 tahun, dulu Dion di tinggal begitu saja di depan pagar, dan ketika saya tanya kemana orang tuanya? dia hanya menjawab 'om sama tante lagi beliin Dion es krim sama coklat, nanti pasti Dion di jemput lagi' namun, hingga sekarang tak ada tanda-tanda kehadiran sanak saudaranya. Hingga akhirnya saya membawa dia masuk kedalam panti asuhan Karena cuaca waktu itu sudah mendung." Lanjut Bu Susi.
"Kenapa Dion di tinggal begitu saja Bu?"
"Entahlah mba saya juga kurang faham kalau itu, dulu Dion slalu berangan bahwa dia akan di jemput dan kembali bersama keluarganya lagi."
"Tetapi dari cerita yang saya dengar, sepertinya Dion ini bukan di tinggalkan namun, di culik oleh seseorang mungkin musuh keluarganya,"
"Saya juga berfikir seperti itu mba, tetapi saya sering kasihan sama Dion karena sifat dia yang terlalu tertutup membuat dia di jauhi teman-temannya."
Perbincangan mereka terus berlanjut, bahkan tak ayal Bu Susi juga menceritakan beberapa tentang kehidupan anak-anaknya.
Langit berubah menjadi gelap, padahal siang tadi langit masih amat cerah, tiba-tiba saja langit berubah warnanya sepertinya hujan akan turun membasahi bumi. Meira pun segera pamit kepada ibu panti.
Di perjalanan pulang, benar dugaannya tiba-tiba saja hujan mengguyur kota Jakarta. Untung saja dia sudah berada di halte, banyak sekali orang yang ikut meneduh juga di halte. Hujan turun semakin lebat, diiringi dengan angin dan cuaca yang dingin.
Meira pun menggosok-gosokan telapak tangannya sembari sesekali meniupnya, tiba-tiba saja dia di kejutkan dengan sebuah jaket yang tersampir di bahunya.
Meira pun menoleh, "buat Lo, pasti kedinginan kan."
"Ta-tapi,"
"Sttt, udah gue ga bakal kedinginan."
"Emm, terimakasih ka...."
****
Yuhu happy reading guys!
__ADS_1
TBC