Transmigrasi Mendadak Kaya

Transmigrasi Mendadak Kaya
TMK 05


__ADS_3

Mungkin bagi semua orang Hidup itu tentang uang, uang, dan uang. Tetapi apa jadinya jika kita mempunyai itu semua tapi, tidak dengan satu yaitu kasih sayang dari keluarga? Lalu apa arti kehidupan?


Tidak semua anak mempunyai rumah untuk pulang, ada yang rumahnya utuh, kasih sayang yang melimpah, ada juga yang rumahnya hancur tetapi kasih sayangnya tetap melimpah, dan ada juga yang rumahnya utuh tetapi ia kehilangan kasih sayang.


Menatap indahnya malam di temani secangkir teh, disana ada bulan yang selalu di kelilingi bintang untuk menerangi bumi. Bulan dan bintang malam ini sangatlah terang, dengan bulan yang berbentuk sabit membuat siapa saja pasti betah menatap keindahan alam tersebut.


"Apa kakak liat semuanya dari atas sana?"


"Kakak bahagia? Mei kesepian ka, harusnya kita tumbuh bersama, harusnya kakak ada di samping Mei, kakak jahat ninggalin Mei sendirian di neraka berwujud rumah ka,"


"Munafik ya ka, kalau Mei bilang Mei gapapa, padahal Mei lagi ga baik-baik saja ka,"


"Papa, mama, bang Alister semua berubah semenjak kakak pergi ninggalin Mei,"


"Coba aja kalau waktu itu kakak ga nolongin Mei, pasti sekarang kakak yang lagi bercanda sama mereka,"


"Ka Eca, Mei mau cerita tentang seseorang yang Mei suka ka," ujarnya sembari tersenyum, "namanya Fabio dia ganteng banget ka, berwibawa, Mei suka semua yang ada di dalam diri Fabio apalagi senyumnya mungkin kalau ka Eca ada di sini ka Eca bisa liat senyum Fabio juga."


Meira menjeda ucapanya, merasakan udara malam yang semakin dingin membuat dia mau tak mau mengakhiri sesi curhatnya bersama Meisya, "udah ya ka, Mei mau masuk jangan lupa datang ke mimpi Meira ya ka peluk Meira," pamitnya.


Berdiri dari duduknya, Meira berjalan menelusuri setiap lorong mansion Bramantyo, hingga sampailah ia di sebuah ruangan yang menemaninya ketika senang maupun sedih. Ruangan yang tidak terlalu besar namun, cukup bagi Meira.


"Fabio udah tidur belum ya?"


"Coba chat ah, siapa tau dia masih online.


Bubu


Bubu, udah tidur apa belum?||20.30


Bubu jangan malam" ya tidurnya||20.30


Selamat malam bubu, jangan lupa mimpi Meira ya|||20.30


Tanda di bawah nama yang semua online tiba-tiba saja hilang, Meira menghela nafas panjang, lagi dan lagi chatnya hanya ceklis dua tanpa di baca maupun di balas.

__ADS_1


"Ya udah deh, lebih baik gue tidur aja," ucapnya, "selamat malam dunia, sampai jumpa esok." Lanjutnya.


***


Tanpa sepengetahuan Meira, sendari ia berada di taman semua kegiatannya terpantau oleh sebuah alat canggih yang memang mengarah kearah taman.


Di depan sebuah komputer, pria paruh baya menatap semua kegitan bahkan ia juga mendengar semua percakapan sepihak Meira. Tangannya mengusap sebuah bingkai foto yang terpajang di ruangan itu, "princes papa apa kabar sayang?"


"Kamu pasti sekarang udah bahagia ya Ca disana, papa rindu kamu Ca," ungkapnya, "tak terasa tahun ini menginjak 12 tahun kamu pergi ninggalin kita semua ca," lanjutnya.


"Andai kamu masih disini, pasti papa mama akan rayain ulang tahun kamu ke 17 dengan meriah dan mewah seperti yang kamu impikan dulu," lanjutnya.


Flashback on


Duduk bersila di ruang tamu, ditemani dengan setoples camilan dengan dua princess kecilnya juga membuat diri seorang Bagas Bramantyo merasa bahwa hidupnya sempurna. 


"Papa, bagus ga gambaran Mei?" Tanya Meira kecil.


"Bagus, putri papa jago juga gambarnya," jawab Bagas sembari mengusap lembut rambut sang anak. 


"Eca gambar kue ulang tahun, disana ada papa, mama, bang Ai, dan Meira lagi tiup lilin, bagus gakL pa?" Tanya Meisya.


"Bagus banget, princes mau ulang tahun ke 7 tahunnya dirayakan?" Tanya Bagas lagi yang dibalas anggukan oleh keduanya. 


"Tapi, Eca mau tiap ulangtahun harus mewah dan ada hiasan bunga Lily ya papa," ujarnya. 


"Iya sayang, nanti papa buatkan pesta yang mewah buat princess-princess papa," ujar Bagas yang mendapatkan pelukan dari sang anak.


"Sayang papa banyak-banyak," ujar Double M.


Flashback off


"Minggu depan kamu ulang tahun ke-17 Ca, harusnya kita ngerayain birthday party buat kalian tapi kamu pergi dulu," ujar Bagas.


Ternyata memang benar, bahwa cinta pertama anak perempuan itu ayahnya. Kehilangan satu putrinya membuat hidup Bagas seperti kehilangan jiwanya.

__ADS_1


Tak terasa sudah menunjukan pukul 00.00 WIB, Bagas pun beranjak dari kursi kebesarannya menata kembali figura kecil dan meninggalkan ruangan kerjanya.


***


Seperti pagi-pagi sebelumnya, Meira akan bangun awal membuat bekal Fabio dan pergi meninggalkan kediaman Bramantyo tetapi pagi ini sepertinya berbeda dari sebelumnya.


"Aish, sial kenapa tiba-tiba pusing sih," ujarnya sembari memegangi kepalanya yang berdenyut hebat.


Meira mencoba untuk duduk kembali sembari menunggu kepalanya tidak pusing lagi, setelah itu dia keluar kamar menuju kamar mandi yang sudah di sediakan untuk asisten rumah tangga melakukan kegiatannya, dimulai dari mandi, wudhu, shalat dan terakhir membuat sarapan.


Tiba-tiba saja nyonya Bramantyo sudah berada di dapur, suasana berubah menjadi canggung jika biasanya Meira akan bergelayutan dan berusaha mencari cara agar dia bisa berbicara dengan sang ibu namun, kali ini berbeda.


"Pagi nya," sapanya.


Nyonya Bramantyo merasa ganjal dengan panggilan tersebut, tiba-tiba saja hatinya merasakan sakit mendengar panggilan itu dari Meira.


"Ada dengan mu Mei?" Batinnya bertanya-tanya.


Nyonya Bramantyo sesekali melirik ke arah Meira yang sedang Menyiapkan bekal berupa sandwich, Meira telah selesai menyiapkan bekalnya, Meira masih mempunyai etika walaupun setiap kali dirinya menyapa pasti sapaan itu hanya akan dibawa angin.


"Meira permisi dulu nya, nyonya jangan kecapekan," pamitnya.


Meira meninggalkan dapur sembari bersenandung ria, hingga dia tak sengaja berpapasan dengan Bi Imas yang sedang membersihkan taman samping melihat itupun Meira berjalan kearah taman samping.


"Pagi bi Imas," sapa Meira dengan senyum cerahnya.


"Pagi non, udah cantik aja nih udah mau siap-siap ke sekolah ya non?" Tanyanya yang di balas anggukan kepala.


"Meira berangkat dulu ya bi, doain semoga apa yang Meira dapat berkah," ujarnya sembari menyodorkan tangannya.


"Hati-hati non, aamiin semoga apa yang non Meira dapat di sekolah bisa jadi berkah buat non," ucap Bi Imas sembari membalas jabatan tangan Meira.


"Dada bi, Meira berangkat ya mcuah," pamitnya.


Semua kejadian itu lagi-lagi disaksikan langsung oleh nyonya Bramantyo, sebenarnya dirinya ingin mengejar Meira ketika tak sengaja melihat susu kotak milik Meira tertinggal tetapi sewaktu berjalan mencari Meira ia tak sengaja melihat dua orang sedang berbicara dengan sesekali tertawa hingga akhirnya salah satu dari mereka mengakhiri percakapan itu.

__ADS_1


"Ya Tuhan kenapa sesakit ini melihat Meira lebih dekat dengan Bi Imas," batin nyonya Bramantyo.


__ADS_2