Transmigrasi Mendadak Kaya

Transmigrasi Mendadak Kaya
TMK 06


__ADS_3

Suasana yang masih sepi dan sunyi, Meira menyelusuri koridor sekolah di temani dengan earphone dan lagu Ed Sheeran perfect. Sampalah dia di depan pintu kelas yang masih tertutup, perlahan dia membuka pintu tersebut. Berjalan menuju bangkunya, sesampainya dia meletakan tas dan menelungkup-kan wajahnya dibalik tangan. 


Tak terasa sudah lama Meira memejamkan matanya, kini suasana kelas sudah ramai kembali. Meira bangkit, mengambil tempat bekal yang dia siapkan dari rumah, berjalan menyelusuri koridor menuju kelas XII-Mipa 2 dimana Fabio dan teman-temannya belajar. 


"Permisi ka Fabio ada?" Tanyanya pada seseorang. 


"Ada, masuk aja," jawabnya. 


Meira pun melangkahkan kakinya ke bangku paling belakang dimana Fabio dan teman-temannya berada, mereka semua sibuk bermain game online. 


"Hai boo, ini aku bawain bekal buat kamu jangan lupa dimakan ya," ujar Meira dengan senyum cerianya. 


Fabio hanya melirik sekilas kearah bekal tersebut namun, bukan Meira namanya kalau menyerah begitu saja. Dia membuka tempat bekal tersebut, dan menyendokan nasi goreng spesial dengan telur mata sapi diatasnya, "ayo aa boo, makan dulu nanti boo sakit kalau boo ga mau makan," ucapnya. 


Bukannya membuka mulut Fabio menampel suapan Meira, "ayolah boo, kamu harus makan dulu biar engga sakit," ujarnya lagi.


"CK, bisa diem ga sih gue udah pernah bilang sama lo ga usah sok bawain gue bekal kaya anak kecil tau ga," sentaknya sembari membanting tempat bekal itu. 


Semua orang yang ada disana hanya bisa diam, tanpa ingin membantu Meira, hingga akhirnya Gabio yang baru datang berceletuk, "ya udah sih Fab, kalau ga mau ga usah gitu juga minimal hargailah dia," Ujar Gabio sembari berjalan kearah meja sahabatnya, "udah Mei, udah biarin aja ntar biar gue yang bersihin," lanjutnya. 


"Ga usah ka, biar Meira aja kan ini semua gara-gara Meira," ujarnya, Gabino pun menunduk dan berjongkok berniat membantu Meira membersihkan nasi goreng yang berceceran di lantai. 


"Lo ngapain sih Gab, kurang kerjaan Lo sampai bela-belain si *****," ujar Elvan. 


"Gue masih punya hati nurani ya, engga kaya kalian semua," jawabnya. 


"Ma-makasih ka, Meira permisi dulu," pamitnya yang dibalas anggukan oleh Gabino. 


Sepergian Meira, Gabino berdiri dan duduk di samping Alister, "kalau emang lo ga suka, jangan segitunya lah Fab," ujar Gabino, "Meira itu cewe, ga seharusnya Lo perlakukan begitu. Lo juga Al, Meira itu adek Lo, bukannya belain atau apa ini malah diem aja," lanjutnya. 


"Ogah gue punya adek pembunuh kaya dia," bantah Alister. 


"Gue ingetin ya sama kalian semua, hukum karma itu ada jadi hati-hati aja, kalau kalian kena karma gue orang pertama yang bakal ketawain kalian semua," ujar Gabino. 


***


setelah dari kelas Fabio, Meira tidak langsung ke kelas melainkan ke taman samping yang jarang di kunjungi siswa/siswi. Hening, dia menatap kotak bekal yang ada di pangkuannya, butuh waktu lama untuk dia menyiapkan makanan tersebut tetapi naas semua berujung tidak sesuai ekspektasi.


Terlalu asik melamun, hingga tak sadar bahwa bangku kosong disampingnya telah di isi oleh seseorang.

__ADS_1


"Lagi ngelamunin apa sih? Kayaknya dalem banget," celetuk Andra.


"Astagfirullah, bisa ga sih Ndra, kalau datang itu jangan bikin orang jantungan terus," kesal Meira.


"Dih siapa yang bikin orang jantungan? Orang gue udah dari tadi disini, lo-nya aja yang ga sadar ada orang ganteng disamping Lo," jawabnya.


"PD sekali anda," ujar Meira.


Andra hanya tersenyum menanggapi hal itu, matanya tak sengaja menatap kotak bekal yang berada di pangkuan Meira.


"Enak tuh kayaknya, boleh dong gue minta sedikit aja," celetuk Andra sembari mengambil alih kotak bekal itu.


"Eh Ndra, jangan udah kotor itu buang aja," kata Meira yang ingin mengambil alih kotak bekalnya.


"Kotor apanya? Masih bersih ini, gue makan ya Mei," ucapnya.


"Jangan Ndra, nanti lo sakit udah kotor kena kuman itu," jawab Meira.


"Dih apa itu sakit, Andra mah kuat anti sakit-sakit club bro," ujarnya.


"Ya udah deh, tapi kalau lo sakit gue ga ikut-ikutan ya," ucapnya.


"Gampang."


"Inwi ewnawk bawngewt," ujar Andra dengan mulut yang penuh nasi.


"Di telan dulu Ndra, ga ada yang bakalan minta juga," seru Meira yang diakhiri tawa kecil.


Mereka berdua menghabiskan waktu bersama, hingga bel masuk berbunyi tanpa sepengetahuan mereka, sendari tadi ada sepasang mata yang menatap semuanya dengan pandangan yang berbeda.


Seseorang itu menghela nafas panjang, dan pergi begitu saja rasanya muak menyaksikan semua adegan roman yang dilakukan Meira dan Andra.


***


Sedangkan di negara berbeda, seorang pria paruh baya duduk di kursi kebesarannya dengan di temani sebatang rokok. Senyum miring terpampang jelas di wajahnya, menatap layar komputer melihat semua aktivitas yang dilakukan oleh musuh terbesarnya.


Hingga sebuah ketukan, membuatnya memutar bola mata malas, sebelum akhirnya mengijinkan orang itu masuk.


Tok tok tok

__ADS_1


"Masuk,"


Laki-laki dengan pakaian yang serba hitam, memasuki ruangan yang bernuansa hitam abu tersebut sembari membawa map, "permisi tuan ini ada berkas data yang anda minta," ujarnya.


"Bagaimana kabar dia disana?" Tanyanya.


"Satu bulan yang lalu dia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan ia kehilangan seluruh ingatannya tuan,"


"Apakah mereka masih semena-mena dengannya?"


"Iya tuan, mereka semakin seenaknya,"


"Sialan,"


"Terus pantau, dan laporkan apapun yang terjadi sama dia dan kau harus cepat selesaikan urusan kita disini, kita harus cepat kembali dan mengambil alih dia,"


"Baik tuan, kalau begitu saya izin permisi," pamitnya yang di balas anggukan kepala.


"Sialan, berani-beraninya kalian mengusik miliki, tunggu saja kehancuran mu dan karma ada di depan mata mu Tn. Bagas Bramantyo." Sinisnya.


***


Bel istirahat berbunyi lima menit yang lalu, semua murid berhamburan keluar kelas untuk menuju ke kantin mengisi perut masing-masing.


Begitupun dengan Meira dan teman-teman, mereka berjalan beriringan menuju kantin. Banyak pasang mata yang melihat betapa kompaknya kelas Meira, kelas yang selalu mendapat predikat kelas terbaik, dan kelas terkompak memang pantas mereka dapatkan, seperti sekarang ini mereka berbagi tugas ada yang memesan makanan ada yang mencari tempat duduk, ada juga yang memesan minum.


"Mejanya gabungin aja, biar kita enak duduknya." Usul sang ketua kelas.


"Nah iya gitu aja,"


Mereka pun berbondong-bondong menyatukan empat meja menjadi satu, hingga beberapa pesanan mereka mulai datang dengan bantuan sang penjual mereka yang memesan makanan dibantu membawanya.


"Makasih ya mang," ujar Clara.


"Sama-sama neng,"


Sepergian sang mamang, satu persatu pesanan pun diantar mereka berdoa menurut kepercayaan dan keyakinan masing-masing, makan dengan suasana hening itulah kebiasaan mereka semua.


Hingga suasana hening itu berubah mencengkram, ketika seseorang tiba-tiba saja menumpahkan kuah bakso yang panas, ah tidak hanya panas tetapi peda juga karena terlihat banyak sekali biji cabai.

__ADS_1


Byur


"Udah pernah gue peringati jangan pernah bully Ira bangsat!"


__ADS_2