
Korban tabrak lari di bawa ke rumah sakit terdekat, dengan luka di beberapa bagian seperti tangan, dan kepala. Beberapa warga melihat banyaknya luka di tubuh korban segera memberikan pertolongan pertama kepada korban sebelum di bawa ke rumah sakit.
Sedangkan sang pengemudi mobil yang sudah menabrak itu melarikan diri, setelah dirasa jauh dari TKP. Sang supir tersenyum miring, sembari menyalakan earphone berbicara melalui sambungan earphone.
"Satu perintah terlaksana bos, korban mengalami cidera dan mengeluarkan banyak darah."
"Bagus, sekarang bakar mobil itu dan pergi ke perusahaan B'crop secepatnya kirim yang sudah saya siapkan."
"Baik laksanakan bos."
***
Disebuah perusahaan yang bergerak di bidang marketing sedang dihebohkan dengan sebuah box yang berisi beberapa bangkai tikus dan sebuah surat ancaman.
"Bersiaplah untuk bertemu malaikat mautmu tn.Bagas."
Keributan itu sampai di telinga sang CEO, membuat ia harus turun langsung dan mengecek keributan. Beberapa karyawan menyingkir guna memberikannya jalan, sesampainya di depan ia mengerutkan keningnya melihat apa isi di dalamnya dan
Bomm
dia pun terkejut.
Sang CEO pun segera merubah ekspresi terkejutnya itu, ia pun menyuruh beberapa karyawan untuk segera membereskan semuanya. Lalu ia pun kembali ke ruangannya, berjalan dengan tergesa-gesa dan tatapan wajahnya yang semakin dingin dan datar membuat beberapa karyawan takut untuk menyapanya.
"Sialan ternyata ada yang mau main-main sama aku." Geramnya.
***
Berita tentang korban tabrak lari langsung di muat di media sosial, beberapa stasiun televisi mulai berbondong-bondong membicarakan tentang tabrakan itu. Banyak yang berasumsi bahwa kecelakaan itu sudah di atur sedemikian rupa.
Dan sekarang korban kecelakaan dibawa ke rumah sakit, korban mengalami beberapa luka serius kepalanya harus di perban tangan kirinya penuh luka-luka dan jangan lupa bahwa kakinya juga. Dokter sempat kesusahan menghentikan perdarahan yang terus keluar dari kepala korban, namun untungnya bisa di atasi.
Sahabat, guru dari pihak korban masih senantiasa menunggu di depan pintu dengan harapan dan doa untuk sahabat dan teman mereka di dalam.
Dua puluh lima menit berlalu, hingga akhirnya seseorang dengan berpakaian jas dokter keluar.
"Bagaimana keadaan pasien dok?"
"Puji Tuhan, pasien berhasil melewati masa kritisnya...
Dan sekarang kita hanya perlu menunggu pasien sadar saja dan pasien akan di pindahkan ke ruang rawat biasa, kalau begitu saya pamit undur diri."
Sepergian dokter semuanya pun bergegas masuk, di bankar itu seorang gadis dengan kepala yang di perban, tangan kanan di gips dan alat bantu pernafasan yang terpasang juga bibir pucat wajah itu terlihat sangat amat damai.
"Cepat sembuh Mei, kita semua tau lo kuat,"
"Kita semua balik dulu Mei, nanti kita bakal gantian jagain lo kok."
"Cepat sembuh Meira."
Yaps, korban jiwa dalam peristiwa tabrak lari tersebut adalah Meira Bramantyo, gadis yang tidak tau apa-apa menjadi korban dalam peristiwa yang sudah direncanakan tersebut.
Miris sekali hidup mu Mei.
***
Di sebuah mansion mewah, seorang wanita paruh baya duduk termenung di ruang tamu dengan mata yang tak henti-hentinya menatap ke arah jam dinding. Entah kenapa tiba-tiba perasaannya tertuju ada sang bungsu, perasaan yang ia sendiripun tidak tau.
"Kamu dimana Mei."
Jam sudah menunjukan pukul 17.45 dan hari pun semakin gelap, belum juga ada tanda-tanda orang yang ia tunggu kembali. Hingga sebuah derap langkah kaki mengalihkan perhatiannya.
"Loh, mama tumben nunggu papa di sini?" Ujar sang suami.
"Papa sendirian?" Bukannya menjawab, ia kembali melontarkan pertanyaan untuk sang suami.
"Emangnya papa harus sama siapa? Anak-anak kan udah pulang dari tadi ma."
Perasaan cemas pun kembali menyergap hatinya, ia pun bangkit dan berjalan menuju dapur kotor. Meninggalkan sang suami yang penuh dengan tanda tanya.
"Lah, ini gue di tinggal gitu?" Gumamnya.
__ADS_1
"Ah Bodoamat,"
Di dapur kota dua orang wanita paruh baya saling menatap, yang satu dengan tatapan cemas dan yang satunya dengan tatapan bingung.
"Maaf nya, ada apa ya?"
"Bi-bi tau Meira ngga? Kenapa udah pulang atau belum bi?"
"Oh, non Meira saya dari tadi juga belum melihatnya nya,"
"Mungkin non Meira pulang telat, karena harus pergi ke tempat kerja dulu nya."
"Kerja?"
"Kerja dimana bi?"
"Kalau engga salah kerja di cafe nya,"
"Biasanya pulang jam berapa bi?"
"Kurang lebih jam 21.00 atau ngga 21.30 nya."
"Oalah, ya sudah makasih bi."
"Sama-sama nya."
Wanita yang di panggil nyonya pun kembali ke kamar, ketika ia akan pergi ke kamar ia berpapasan dengan anak laki-lakinya yang sudah siap dengan pakaiannya.
"Emm, anak mama ganteng banget mana harum lagi mau kemana?"
"Keluar lah ma, makan angin biasa anak muda."
"Awas hati-hati kalau kembung nanti kebanyakan makan angin." Gurau sang mama.
"Engga lah ma, Ister kan kuat."
"Ya udah ya ma, Ister berangkat dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, hati-hati kamu engga makan dulu sayang?"
Sang mama pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia pun kembali melanjutkan langkahnya ke kamar.
***
Di sebuah jalan, banyak kendaran yang berlalu lalang. Seorang pemuda tampan dengan gayanya yang khas memberhentikan kendaraannya sementara diantara beberapa penjual kaki lima, membeli beberapa makanan untuknya dan teman-teman di basecamp.
Setelah mengantri cukup lama ia pun kembali melanjutkan perjalanannya dengan beberapa kantong plastik.
Tak membutuhkan banyak waktu, 25 menit ia sampai di rumah yang sering ia gunakan sebagai basecamp.
"Assalamualaikum,"
"Wah tau aja kalau kita lagi pada laper."
"Salamnya di jawab dulu bagong,"
"Kan gue Kristen maaf." Ujar Bastian sambil menggaruk tengkuknya.
"Oh, iya sorry gue lupa."
"Nih makan, keburu dingin."
"Si bos mana?"
"Ada noh di kamar."
"Ya udah gue ke kamar dulu,"
Ujarnya yang di balas anggukan kepala oleh teman-temannya yang lain. Ia pun berjalan menyusuri lorong-lorong yang sangat sepi yang di setiap lorong di hiasi beberapa figura dan ornamen-ornamen lainnya.
Kriekk
__ADS_1
Terlihat dari arahnya seorang remaja tengah berbaring dengan pandangan yang mengarah ke langit-langit kamar, dan kaki yang menjuntai ke bawah.
"Kenapa?"
"Black wolf ngajak buat balapan menurut lo gimana?"
"Apanya yang gimana?"
"Kita ikut atau engga bego,"
"Oalah, terserah sih gue mah ayo-ayo aja."
"Tapi kita juga harus jaga-jaga, Lo tau sendiri Black wolf gimana mainnya?"
"Okey, tapi yang akan terjun langsung siapa?"
"Elo lah,"
"Kagak, fikiran gue lagi penuh bakal bahaya kalau gue turun langsung."
Alister pun menghela nafasnya, "ya udah gue aja."
"Bagus, sekarang turun dan kasih tau anak-anak semuanya gue mau siap-siap dulu."
Setelah itu Alister keluar dan berjalan menuju teman-temannya yang lain. Mereka pun bersorak gembira akhirnya mereka bisa melihat aksi balap liar.
Semuanya sudah siap dengan motor masing-masing, menunggu ketua mereka hingga akhirnya keluar lah sosok laki-laki dengan jaket kebesarannya yang berlambang naga dan pedang yang menancap di tengah-tengah naga itu ah dan jangan lupakan mahkota yang bertengger manis di kepala sang naga.
"Are you ready guys?" Teriak Fabio.
"yes we are all ready bos,"
"One"
"Two"
"Go!"
Motor mereka semua memenuhi Marka jalan yang sudah lumayan sepi tersebut, dengan barisan depan Fabio di samping kanannya ada Alister dan samping kirinya Gabino dan di ikuti Elvan, Galbino.
Brum
Brum
Brum
Brum
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka semua sampai di tempat balap motor. Sudah sangat ramai penonton, dan tentunya sang lawan yang sudah bertengger di atas motornya.
Suara ricuh penonton yang menyambut mereka mulai terdengar, "wah-wah gue kira kalian ga akan datang karena takut kalah hahaha."
Mendengar itupun Elvan yang notabenenya mudah tersulut emosi pun maju ingin memberikan Bogeman namun, di tahan oleh Gabino.
"Jangan main kekerasan bego!"
"Wau ada yang terbakar tapi bukan kertas guys,"
"Ughh takut."
"Hahahaha buruan deh sini lawan gue,"
"Kalau gue menang Black cobra harus bubar,"
"Dan kalau kita yang menang kita bakal dapat apa?"
"Kalian bisa dapet apa aja terserah kalian."
"Okey."
Alister dan Ronald yang ketua black wolf sudah bersiap untuk pertandingan itu. Penonton pun bersorak histeris, hingga seorang wanita dengan pakaian minim dan bendera di tangannya memulai acara tersebut.
__ADS_1
Keduanya saling salip menyalip tak ingin terkalahkan, Alister menyeringai di balik helm full face nya.
"Kita lihat siapa yang akan menang dan akan menangis karena kekalahannya bangsat."