Transmigrasi Mendadak Kaya

Transmigrasi Mendadak Kaya
TMK 02


__ADS_3

Meira menghela nafas panjang, melihat kekanan dan kekiri. Usang, berdebu dan banyak kuman. Setelah Meira di seret paksa oleh Bagas-tuan Bramantyo, Meira di kurung di dalam gudang.


Flashback


"Ini hukuman karena kamu dengan teganya membunuh anak saya,"


"Saya akan memberikan hukuman untuk kamu, jangan harap kamu mendapatkan makanan selama seminggu dan jangan harap kamu bisa keluar dari sini,"


"Am-ampun pa, bukan Mei pelakunya,"


"Tidak ada ampun, sekali pembunuh tetaplah pembunuh," tekan Bagas.


Bagas pun pergi meninggalkan Meira yang hanya bisa menatap punggungnya yang semakin menjauh.


Flashback off


Tidak ada lagi cahaya, ruangan itu sudah kembali gelap, seorang gadis kecil merengkuh diantara tumpukan kardus. Dingin, dia hanya bisa memeluk dirinya sembari berdoa semoga Tuhan mengirimkan pangeran kuda untuknya.


Semuanya kisah yang telah tersusun rapi telah dimulai.


***


Bi Imas yang melihat perubahan ekspresi dari nona-nya itu pun lantas kembali merengkuh tubuh rapuh itu, Meira sendiri sudah dianggap anak oleh bi Imas dan juga pak Mam


"Non gak boleh sedih lagi ada bibi sama bapak yang selalu menemani non Meira," papar Bu Imas yang di balas anggukan kepala.


***


Semenjak tiga hari semenjak dinyatakan sadarkan diri, ditemani bi imas dan pak mamat ia membereskan barang-barang nya hari ini meira sudah diperbolehkan pulang ke rumahnya.


Mira menatap kosong jalanan ibukota dia membayangkan bagaimana kehidupan mira yang asli dulu dikucilkan, dibenci, bahkan disiksa oleh keluarganya sendiri. Mungkin jika alle yang merasakan yang apa yang dirasakan meira ia pasti akan mengakhiri hidupnya secara tragis.


"Non, non teh kenapa?" Tanya Bu Imas.


"Eh iya bi, udah beberesnya? Maaf Meira gak bantu bibi," jelas Meira.


"Udah, non Meira mau pulang sekarang?" Tanya Bu Imas yang di balas anggukan.


"Emm, tapi sebelum pulang aku boleh minta tolong sama bibi dan pak mamat buat nganterin aku ke tempat Meisya?" Tanya Meira.


"Boleh atuh non, tapi apa non Meira yakin?" Tanya pak Mamat yang dibalas anggukan dan senyum tipis.

__ADS_1


Memakan waktu kurang lebih 45 menit perjalanan dari rumah sakit menuju ke pemakaman, saat ini Meira menatap sendu pada batu nisan di depannya itu.


MEISYA BRAMANTYO


BINTI


BAGAS BRAMANTYO


lahir: 24 Juni 200*


Wafat: 13 Juni 201*


Sekelebat ingatan tiba-tiba muncul yang membuat Alle meneteskan air matanya, entah ia sendiri tidak tau. Mungkin kah ini perasaan Meira yang masih tertinggal?


"Hai, maaf ya aku pinjam tubuh saudari kembar mu," lirih Alle.


"Pasti kamu udah ketemu Meira kan? Aku yang sekarang menggantikan menempati raganya aja bangga apalagi kamu saudari kembarnya,"


"Aku cuma mau bilang tolong sampaikan kepada Meira, bahwa aku berjanji akan memperbaiki namanya dan merubah pandangan orang kepada dirinya."


"Aku pamit dulu, bahagia terus kalian aku akan sering-sering kesini," pamit Alle.


***


"Non, turun yuk kita udah sampai," ucap Bi Imas yang dibalas anggukan.


Terdengar suara gelak tawa dari dalam rumah tersebut Mira mengela nafas panjang sebelum melangkah memasuki rumah megah itu.


"Masih hidup Lo? Gue kira udah di siksa malaikat," ejek Galbino yang mengundang gelak tawa sahabatnya.


"Hahaha bener, eh emang mau malaikat deket-deket manusia sampai kaya Lo? Upss," ejek Elvan.


Mira yang mendengar itu hanya bisa terdiam dan melanjutkan langkahnya menuju kamarnya mencoba menganggap angin omongan para sahabat abangnya.


"Hufh, kuatkan bahu hampa tuhan agar bisa melewati semuanya," batin Meira.


***


Matahari sudah yang menggantikan bulan gadis remaja sudah siapkan antara kami SMA dengan tas mungil yang sudah bertengger manis di bahunya menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya mulai keluar kamar untuk membuat bekal mungkin jika dulu jika mengira yang dulu dia tidak akan merepotkan diri untuk membuat bekal tetapi sekarang yang menempati ragam Aira adalah seorang alin Putri seseorang yang sudah biasa membawa bekal untuk dia makan di sekolah.


jika kalian mengira kalau mengira tidur di kamar mewah kalian semua salah mengira tidur di salah satu kamar yang hanya berbentuk kotak persegi di samping dapur bersama dengan Bi imas atau sering di sebut kamar pembantu.

__ADS_1


Dengan bersenandung kecil, Meira mulai menuangkan beberapa bahan yang sudah ia siapkan, "non Meira ngapain pagi-pagi di dapur? Perlu bibi bantu? Atau biar bibi aja yang buat" Ujar Bi Imas yang membuat Meira terkejut.


"Bibi, bikin kaget aja," jawabnya sembari mengelus dadanya, "oh ini Mei mau bikin bekal cuma tumis sosis kok bik, Meira bisa sendiri," lanjutnya.


Setelah 15 menit masakan yang dibuat Mira jadi dan telah siap di dalam kotak bekal yang sebelumnya telah ia siapkan bukan hanya bekal dia juga membawa satu susu kotak dan satu minum air mineral untuk dia minum nanti.


Sebelum berangkat dia mencari keberadaan seseorang, dan ternyata orang yang dua cari berada di dekat kolam renang.


"Bibi, Mei cariin ternyata disini," ujar Meira.


"Emangnya kenapa non? Non mau bibi buatin bekal baru atau gimana?" Tanya bi Imas yang dibalas senyuman manis.


Berjalan mendekat kearah sang bibi, Meira mengambil tangan bi Imas dan menciumnya yang membuat bi Imas terkejut dan reflek menyentak tangan Meira.


"Non Meira kenapa cium tangan bibi? Kan bibi bukan ibu non," ujar bi Imas.


"Bi, Mei cuma minta restu supaya apa yang Mei dapat nanti di sekolah bisa berkah," jelas Meira, "soal bibi ibu Meira atau engga, Meira engga perduli, karena Meira sayang banget sama bibi jangan pernah ninggalin Meira ya bi," lanjutnya sembari memeluk bi Imas.


Bi Imas pun membalas pelukan tersebut dengan erat, sembari mengusap pelan kepala sang nona. Semua kejadian itu tak luput dari sepasang mata yang menatap sendu ke bawah, entah apa yang harus dia lakukan hati kecilnya mengatakan bahwa putri kecilnya tidak bersalah, tetapi seluruh bukti mengarah kearah sang putri.


Menghela nafas dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke dalam, dan ia harus membangunkan anak laki-lakinya. Sewaktu ia membuka pintu kamar bertepatan dengan itu, Meira berjalan kearah pintu utama.


"Lihat lah pasti sebentar lagi akan berdrama seperti biasanya," batinnya.


Namun, apa yang ia pikirkan ternyata salah Meira melewatinya begitu saja dengan pandangan dingin dan tajam.


"Ada apa dengan anak itu? Tidak biasanya ia begini," gumamnya.


Meira berjalan kaki untuk menuju ke halte, kalau biasanya ia akan membawa mobil sekarang ia tak lagi mengendarainya ia akan menggunakan transportasi umum sebagai kendaraannya.


Sendari tadi, Meira sudah mengetahui jikalau nyonya besar Bramantyo-Geraldine menatapnya sendari awal ia selesai menjupai bi Imas. Kalau dulu ia akan berusaha mengemis perhatian sang mama, sekarang ia tak akan lagi mengemis itu semua.


"Kalian yang memulai dan kalian juga yang akan mengakhirinya," gumam Meira.


Setelah menunggu bis beberapa menit akhirnya Meira sampai di depan SMA Internasional Hardijaya school.


Menatap datar beberapa siswi yang menatapnya sembari berbisik-bisik tentangnya, entahlah dia akan menjadi bodoamat sekarang. Ketika hendak berjalan menuju ke kelas, entah dia yang tidak melihat jalan atau bagaimana, tiba-tiba saja dia menabrak dada bidang seseorang.


Bruk


"Maaf-maaf gue harus buru-buru," ujar seseorang, "sekali lagi gue minta maaf," lanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2