Transmigrasi Mendadak Kaya

Transmigrasi Mendadak Kaya
TMK 15


__ADS_3

Plak


"Oh masih ingat rumah? Saya kira kamu sudah lupa dan memilih tidur dengan lelaki hidung belang itu."


"Pa-papa."


"Apa benar kan yang saya ucapkan? Saya tidak menyangka kamu menjajankan tubuh mu dengan sukarela."


"Bu-bukan pa, Meira bukan seperti itu."


"Alah jangan percaya om, kemana lagi dia seharian kalau bukan sama laki-laki hidung belang bikin malu keluarga aja," adu Soraya sepupu Meira yang sangat tidak suka dengannya.


Bagas yang mendengar itupun semakin mendidih, sedangkan Meira hanya mampu menundukkan kepalanya, menjawab pun percuma semua orang di sini tidak ada yang percaya dengan semua ucapan yang keluar dari mulutnya.


Plak


Satu tamparan lagi-lagi Meira dapatkan dari sang mama, tamparan yang lebih kuat dari sebelumnya. Meira mendongak menatap sang mama dengan mata yang berkaca-kaca dan tersenyum getir, bahkan mama-nya pun ikut menamparnya.


"Saya malu dan menyesal sudah melahirkan dan membesarkan kamu, kamu memang cuma bisa membuat malu keluarga saja!" Bentak ny.Bramantyo.


"Kalian malu dan menyesal udah melahirkan Meira? Kenapa ga dari dulu kalian bunuh, kalau memang kalian malu," sentak Meira, "mau Meira berbicara sebanyak apapun bahkan samai mulut Meira berbusa pun kalian tidak akan mempercayai ucapan Meira bukan? Apa pernah Meira minta ke kalian untuk memberikan kasih saya untuk Meira?" Lanjutnya dengan sebulir air mata yang jatuh membasahi pipinya.


"Bahkan kalian hanya tahu cara menyiksa saja tanpa tahu seberapa besar luka yang kalian toreh untuk ku, mungkin luka fisik bisa sembuh apa pernah mama, papa, kakak tanya gimana batin Meira selama kalian siksa? Meira diam bukan berarti Meira lemah, karena Meira masih menghargai kalian sebagai orang tua yang sudah membesarkan dan mendidik Meira, ingat ma, pa, ka, ga semua orang yang diam berarti lemah ada masanya dia menunjukan sisi lain dari dirinya. Sekarang terserah kalian mau menganggap Meira apa, Meira sudah tidak perduli lagi."


Meira melangkahkan kakinya menuju kamar di pertengahan jalan ia melihat Bi Imas yang sudah siap dengan tasnya, bi Imas menghampiri Meira sebentar dan memeluk Meira memberikan kekuatan untuk Meira.


"Non Meira ikut bibi aja ya? Bibi ga tega liat non Meira sendirian," ujarnya dengan tatapan ragu.


Meira tersenyum, ternyata walaupun keluarganya tidak menginginkannya ia masih memiliki seseorang yang membuat ia mempertahankan hidupnya, "gapapa bi, Meira disini nanti siapa yang beres-beres rumah kalau Meira ikut bibi?"


"Tapi non, bibi khawatir sama non."


"Stt udah bi Meira bisa jaga diri kok, lagi pun kita kan masih satu kota," ucap Meira berusaha tersenyum, "nanti Meira akan main ke rumah bibi nanti kita ngobrol-ngobrol tentang semuanya." Lanjutnya.


"Janji?"


"Janji, tapi bibi harus jaga kesehatan Meira ga mau liat bibi kalau bibi sakit," ucapnya di ikuti senyum tulus.


Bi Imas kembali memeluknya, gadis yang dari dulu ia rawat sekarang sudah tumbuh menjadi gadis manis dan gadis yang menyimpan ribuan luka, "bibi pamit ya non," pamitnya yang di balas anggukan kepala.


Berat rasanya untuk meninggalkan rumah yang sudah mau menerimanya dengan tangan terbuka, apalagi untuk meninggalkan Meira rasanya sangat berat.


Meira yang melihat kepergian bi Imas pun tersenyum kecut, sekarang salah satu orang yang ia miliki pergi tinggal mang Ujang yang ia miliki di rumah.


'ya Allah kuatkan bahu ku lagi'


Pemandangan sewaktu bi Imas dan Meira berpelukan terjadi di depan mata nyonya dan tuan Bramantyo, Cintya yang melihat itu merasakan sedikit iri di hatinya namun, sebisa mungkin ia menampik itu semua.


Semua anggota keluarga kembali ke kamar masing-masing, di sebuah kamar bernuansa luar angkasa seorang remaja merebahkan tubuhnya sembari menatap langit-langit kamarnya.


"Apa selama ini gue terlalu dalam ya buat ia terluka?"


"Tapi apa yang dia dapat ga sebanding sama apa yang dia buat pada adik ku."

__ADS_1


"Ya Tuhan kenapa rasanya berat."


Ia bangkit dari tidurnya dan berjalan kearah meja belajar, menatap sebuah figura terlihat foto disana yang awalnya menampilkan 2 anak perempuan dan 1 anak laki-laki, akan tetapi sekarang foto itu tinggal 2 orang saja.


Membongkar figura itu dan melihat sebuah foto yang terlipat, tak ayal ia merindukan masa-masa dulu ketika semua saudarinya masih lengkap dan keluarganya masih utuh tanpa adanya perpecahan.


Nasi sudah menjadi bubur, dia sudah kehilangan kedua adiknya harusnya dia bisa menjaga adiknya. Bersandar di kursi sembari memejamkan matanya sejenak, bayang-bayang ketika ia menyiksa, mencaci maki adiknya di depan banyak orang berputar di otaknya.


Bicth


******


Murahan


Kata-kata itu yang slalu keluar dari mulutnya, dia hanya memikirkan perasaannya yang kehilangan adik yang paling dua sayangi, tapi dia tak pernah memikirkan apa yang terjadi setelah dia menyiksa adiknya begitu hebat.


Suara helaan nafas terdengar sangat panjang, ia pun bangkit dan merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk hingga tak sadar alam bawah mimpinya membawanya pergi jauh.


***


Di sebuah mansion yang tak jauh dari milik keluarga Bramantyo, sebuah keluarga yang sangat harmonis banyak anak yang menginginkan kehangatan di dalamnya namun, seberapapun manusia berharap Tuhan punya rencana tersendiri.


"Anji balikin ga tuh PS gue!" Teriak sang kakak.


"Apaan sih ka, gantian dong ini juga punya gue kaki."


"Gada itu punya gue, ayah beliin buat gue bukan buat Lo."


"Dih, bunda bang Fabio rebut PS Anji!" Teriak sang bungsu.


Fabio yang mendengar teriakan sang bunda pun mengepalkan tangannya, berjalan ke depan yang membuat Anji ketar-ketir dibuatnya.


"Mau kemana Lo?"


"A-ah i-itu ma-mau pi-pis ah iya mau pipis, Jawabnya sembari terbata-bata.


Melihat Anji yang lari terbirit-birit pun mengundang gelak tawa dari Fabio, ia pun sesegera mungkin mengambil PS dan memindahkannya di kamar laki-laki itu.


Di kamar bernuansa drak, ia mulai memasang PS tersebut, banyak ornamen-ornamen mobil antik yang yang sudah ia koleksi sendari kecil. Suasana pun tenang membuat ia merasa nyaman selama permainan dimulai, akan tetapi suasana itu seketika hilang setelah mendengar sebuah teriakan cempreng.


"Abang kenapa PS-nya di lepas kan Anji baru main!" Teriak Anji di iringi pukulan pada pintu kamar milik Fabio.


Duk


Duk


Duk


Duk


"Abang buka ga pintunya!"


"Aku hitung sampai 3 kalau Abang ga buka aku nangis!"

__ADS_1


Satu


Dua


Ti-tiga


Tak ada reaksi apapun yang Anji dapatkan, pintu itu masih tertutup rapat. Mata yang tadinya berkilat marah pun berubah menjadi berkaca-kaca, pertahanan itu pun hancur ketika ia mendengar suara langkah kaki.


"Hua, bang Fabio jahat Anji ga di kasih pinjam PS-nya," raung Anji.


Membuat seorang pria paruh baya menghela nafasnya, ada saja setiap hari pertengkaran hebat dari anak-anaknya.


"Ayah, Abang jahat," adunya kepada sang kepala keluarga.


"Kenapa sayang?"


"Adek gak pernah di pinjamin PS-nya."


Sang ayah pun menghela nafas sebelum akhirnya, "Fabio keluar dan kembalikan PS itu atau ayah sita semua fasilitas mu selama satu bulan!"


Fabio di dalam yang mendengar itupun tentunya panik jangan sampai kejadian satu bulan yang lalu kembali terulang, membayangkan semua fasilitasnya di sita saja Fabio sudah ngeri-ngeri sedap. Akhirnya dia mau tak mau melepas PS nya dan berjalan membuka pintu, menatap dua orang yang berbeda generasi itu dengan cengiran khasnya.


"Hehehe ayah udah pulang," jawabnya sembari mencium punggung tangan sang ayah dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.


"Eh ada adik Abang yang paling ganteng, nih Abang kasih PS buat kamu," ucapnya selembut mungkin yang membuat sang adik menatapnya sebal.


'giliran ada ayah aja langsung sok baik emang Abang laknat' batin sang adik.


"Buruan minta maaf sama adek kamu, ayah ga mau anak ayah saling berantem!" Ujarnya yang tak mau di bantah.


Fabio menghela nafas dan berusaha senyum semanis mungkin, "hallo adek Abang yang paling ganteng tapi masih gantengan Abang," ucap Fabio.


Anji yang mendengar itupun menatap sang ayah, "Fabio Capello!"


"Hehehe iya iya ayah," kata Fabio, "Abang minta maaf ya, janji deh nanti Abang traktir Anji cilok mang Uus," lanjutnya.


Mendengar kata traktiran pun membuat Anji berbinar dia harus bisa memanfaatkan situasi, "maaf tidak di terima kalau hanya cilok mang Uus."


"Maaf baru di terima kalau Abang mau beliin Anji es krim, coklat, dan mainan," ujarnya dengan wajah songong-nya membuat Fabio ingin mencekik sang adik jikalau tidak ada sang ayah.


Fabio pun berusaha untuk tidak mencekiknya dan hanya tersenyum, "baiklah kalau begitu Abang beliin apapun yang Anji mau."


Mendengar itupun Anji berteriak girang, "ya sudah cepat turun kita makan, kasihan bunda sudah menunggu sendari tadi," ucap sang ayah.


Tiga laki-laki yang memiliki paras sama namun berbeda generasi itu berjalan beriringan dengan Anji yang berada di gendongan sang ayah dan Fabio yang di rangkul pundaknya oleh sang ayah. Sang bunda yang melihat itupun tersenyum, ia selalu berdoa semoga keluarganya selalu dalam keadaan sehat-sehat.


***


Hai guys kenalin, gue Fabio Capello anak pertama dari Andre Capello dan Ayunda Rossela, umur gue 17 tahun, cucu pertama dari keluarga Capello membuat apa yang gue inginkan selalu di turuti tetapi itu dulu sebelum bunda ngelahirin satu tuyul yang membuat gue slalu harus mengalah akan tetapi gue tetap menyayangi tuyul satu itu. Kata bunda sebenarnya bunda ga ingin hamil, tetapi ya karna itu akhirnya terlahirlah tuyul menyebalkan.


Gue punya 4 sahabat, diantaranya Alister, Galbino, Gabino, Elvano mereka yang udah menenin gue dari duduk di bangku SMP sampai sekarang, gue berharap pertemanan ini sampai tua nanti


Terimakasih mungkin itu perkenalan singkat gue, terimakasih sudah baca Transmigrasi: mendadak kaya semoga yang baca jadi orang paling kaya juga....

__ADS_1


Aamiin...


Bye bye semua♥️


__ADS_2