
Dan masih banyak lagi pekikan dari murid lainnya. Andra yang mendengar itupun hanya bisa menatap datar sedangkan Meira merasa malu di perlakukan seperti itu, hingga akhirnya ia menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
"Kenapa di tutup mukanya?" Tanya Andra.
Meira pun menjawab sembari menggelengkan kepalanya, "malu tau dilihatin banyak orang."
"Udah buka aja, kita udah sampai parkiran kok," ujar Andra.
Meira pun menatap sekelilingnya dengan tatapan lugunya, yang membuat Andra gemas akan hal itu dan tanpa sadar mengusap lembut rambut Meira.
"Udah sekarang masuk, ikut aku ke suatu tempat," Ujarnya sembari membukakan pintu samping kemudi.
***
Selama perjalanan hanya keheningan yang terjadi diantara mereka, ditemani dengan lagu Diary Depresiku-Last Child Meira terbuai dengan lagu tersebut lagu yang menggambarkan dirinya sekarang tanpa sadar dirinya ikut menyanyikannya dengan suara merdunya, Andra yang mendengar itu ikut terbawa suasana.
"Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian
Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam
Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan."
Sekelebat ingatan tentang Meira dulu dan keluarganya masih berkumpul bersama, bercanda riang, selalu berbagi cerita entah itu sedih maupun bahagia. Tanpa Meira sadari sebulir air mata terjatuh, mengalir membasahi pipinya.
"Ternyata sesakit itu jadi dirimu Mei," batin Alle.
Hingga pada saat Andre menyodorkan sebuah tisu, membuat Meira tersadar dari lamunannya, "gak usah nangis sini cerita, ada masalah apa hari ini?" Tanyanya.
Bukannya menjawab Meira hanya tersenyum seolah-olah mengatakan bahwa ia baik-baik saja sembari berkata, "gapapa, i'm fine."
"Turun yuk," ajak Andra sembari keluar dan memutari mobil untuk membukakan pintu samping kemudi.
"Makasih," ujarnya.
__ADS_1
Mereka sampai di sebuah basecamp yang biasa dipakai Andra dan teman-temannya, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, suasana basecamp kali ini sepi tidak ada siapapun kecuali Andra dan Meira, "mau minum apa Mei?" Tawar Andra.
"Emm, terserah aja ndra makasih ya," jawab Meira.
Meira menatap sekelilingnya, ada beberapa pasang foto yang terpampang jelas di dinding abu-abu itu, senyum bahagia tercetak jelas disana. Berjalan kearah lain ada foto sebuah keluarga, membuat Meira yang melihat itu tersenyum kecut kapan dirinya bisa foto seperti itu bersama keluarganya?
Jangankan foto, dianggap ada saja dia sudah bahagia. Jika kalian bertanya apakah Meira akan memperjuangkan kata maaf dari keluarganya? Maka Meira akan menjawab iya, tetapi itu dulu. Sekarang bagi Meira mau mereka memaafkan atau tidak dia sudah ikhlas, dia di kasih tempat tinggal walaupun hanya di gudang saja dia sudah sangat amat bersyukur atas itu semua.
"Kapan ya gue bisa ngerasain semua itu?" Tanya dalam hati.
Dari arah dapur, Andra melihat semua gerak-gerik Meira dirinya sudah tau semua tentang Meira yang dikucilkan, Meira yang selalu mendapatkan kekerasan dari keluarganya, tentang Meira yang di benci keluarganya, bahkan tak jarang Alister yang notabene merupakan kakak dari Meira pun tak segan-segan melakukan kekerasan terhadap sang adik.
"Gue bangga lo bisa bertahan sampai sekarang Mei," gumam Andra, "semoga Tuhan slalu senantiasa memberikan kebahagiaan buat Lo," lanjutnya.
Andra pun keluar dapur, membawa nampan dan berjalan kearah Meira, "Mei, ini minumnya aku buatin teh hangat buat kamu," ujarnya.
"Makasih ndra, maaf ngerepotin kamu," ucap Meira sembari berjalan menuju kursi di ruang tamu.
Mereka duduk bersebelahan dengan Andra, berbincang-bincang sedikit dimulai dari tugas sekolah, keseharian Andra selama di basecamp dan masih banyak lagi.
***
"Maaf Mei, mungkin Abang telat untuk ini semuanya," gumamnya.
Flashback on
"Abang sayang ga sama Meira?" Tanya Meira kecil.
"Sayang banget dong, Abang sayang banget sama dua princess kecil abang ini," jawab Alister kecil.
"Jangan pernah berantem hanya karna sesuatu ya bang, dek, Promise," ujar Meisya kecil sembari menyodorkan jari kelingkingnya.
"Promise," ujar keduanya, "dan harus saling menyayangi, menjaga, dan melindungi satu sama lain," ujar Meira yang di balas anggukan mereka pun berpelukan erat menyalurkan rasa sayangnya.
Flashback off
__ADS_1
Sebulir air mata jatuh tanpa diminta, "tanpa Abang sadari, Abang udah ingkar sama janji Abang sendiri dek," ujarnya sembari menatap langit yang nampak sebentar lagi akan menumpahkan tangisnya.
"Abang gagal jadi Abang yang baik buat adik Abang, Abang ga bisa jagain adek kecil abang, Abang gagal jadi Abang yang baik buat Meira, Ca Abang harus gimana?" Monolognya.
Alister memejamkan matanya sembari menikmati sejuknya angin dari atas gedung-gedung, sembari membayangkan betapa bahagianya dirinya, Meira, dan Meisya dulu.
***
Di lain tempat, seorang wanita paruh baya menelusuri setiap sudut dikamar yang dulunya adalah kamar kedua princessnya, menatap foto yang terjejer rapi disana.
Setelah dokter mengatakan bahwa dia sedang mengandung kembar dia merasakan bahagia yang sangat besar, bahkan sang suami juga memanjakannya.
"Mama apa kata pak dokter?" Tanya Anak laki-laki dengan aksen cadelnya.
"Kata pak dokter, kamu akan menjadi pangeran untuk kedua princess kita nanti," jawab sang ibu dengan senyum yang terus terpatri diwajah cantiknya.
Sang kepala keluarga yang mendengarnya ikut tersenyum dan mengusap pelan perut istrinya, "sehat-sehat ya anak papa, pappa tunggu kehadiran kalian," ujarnya yang di tutup kecupan singkat.
Bulan-bulan berlalu, hingga akhirnya 6 Mei dua orang kakak beradik terlahir dengan selamat tanpa kekurangan sedikit pun, tangis haru pecah dari kedua keluarga itu.
Makasih ya ma, udah mau jadi ibu serta istri yang baik untuk aku dan anak-anak," ujar sang suami yang di balas senyuman.
"Bagas, apakah kau sudah punya nama untuk kedua princess ku?" Tanya Tuan besar Bramantyo.
"Sudah ayah, yang kakaknya namanya Meisya Bramantyo sedangkan sang adik Meira Bramantyo," jelas sang anak.
"Nama yang bagus, Eca dan Mei," ungkap Nyonya besar Bramantyo.
Satu tahun, dua tahun, tiga tahun, hingga pada tahun ke lima keluarganya kembali di guncang masalah besar membuat keluarga itu terpuruk beberapa saat selepas kepergian putri kedua keluarga Bramantyo, dan semua berubah semenjak hari itu.
Flashback off
Nyonya Bramantyo menatap sendu foto putri pertamanya, "kamu apa kabar Eca? Pasti kamu bahagiakan sekarang? Mama rindu kamu Ca, datang ya ke mimpi Mama sebentar juga gapapa, mama sayang Eca sayang banget," gumamnya sembari memeluk foto sang anak.
Tiba-tiba saja pandangan nyonya Bramantyo jatuh pada foto anak perempuan lain, yang tersenyum ceria memamerkan gigi kelincinya, "semua ini gara-gara anak itu Ca, kalau saja anak pembawa sial itu tidak mengajak kalian petak umpet pasti kamu tumbuh menjadi gadis cantik sekarang, mama rindu banget sama kamu sayang," ujarnya lagi.
__ADS_1
Hingga akhirnya nyonya Bramantyo beranjak dari kamar sang princessnya dulu, menatap sekali lagi sekeliling sudut dan akhirnya menutup rapat-rapat pintu kamar dan menguncinya kembali.
"Aku ga boleh sedih, pasti Meisya ikutan sedih juga nanti," gumamnya.