Transmigrasi Mendadak Kaya

Transmigrasi Mendadak Kaya
TMK 03


__ADS_3

"aneh," gumam Meira sembari mengangkat bahunya acuh.


Meira terus menyelusuri koridor dengan tatapan dingin nan tajam, suasana koridor yang awalnya ramai kini sunyi seolah semua orang takut menghembuskan nafasnya sedikit.


"Sttt, diem-diem ratu bullying datang,"


"Makin serem gak sih auranya, anjir bulu kuduk gue berdiri,"


"Meira seminggu gak masuk, sekalinya masuk makin cakep,"


"Cakep kalau ratu bullying percuma,"


"Diem, jangan ngomongin dia yang ada kalian bakal jadi korban selanjutnya,"


"Ngapain harus diem? Dia siapa? Cuma ****** yang pintar menggoda anak laki-laki,"


Meira yang merasa dirinya direndahkan pun berhenti, dan berbalik arah menuju salah seorang murid.


"repeat again," ujar Meira.


"Siapa lo nyuruh-nyuruh gue?" Tanya seorang murid bernama Nova.


"I said repeat.your.words.about.me," tekan Meira.


"Lo ****** yang bisanya cuma godain pacar orang," jelas Nova.


Meira berjalan perlahan menuju Nova, tepat disamping Nova ia membisikan sesuatu. "Nova Margaret, a prostitute in a night club, the lust of striped men, and even worse she is the affair with the CEO of AM company, benar begitu Nova Margaret?" Tanyanya sembari berjalan mundur menatap wajah Nova yang merah padam.


Nova yang mendengar itu hanya mampu menelan ludahnya kasar, "kau, jangan sembarangan berbicara bicth," serkas Nova.


"Wow, kita lihat saja siapa yang bicth disini," ujar Meira lalu pergi meninggalkan segerombolan orang.


Nova yang mendengar itu menggeram kesal, "awas aja kau Meira kita liat nanti," gumam Nova sembari tersenyum miring.


Semua kejadian itu tak luput dari banyak mata, termasuk segerombolan remaja yang baru saja turun dari motor mereka.


"Gila-gila itu tadi Meira? Demi apa?" Pekik Elvan.


"Biasa aja kali liatnya gak usah segitunya juga sampai muji-muji dia segala," ujar Alister.


Berbeda dengan yang masih menatap Meira dengan tatapan kagumnya. Fabio menatap punggung Meira, dia merasa aneh dengan sikap Meira baru-baru ini, "cabut," ujarnya berjalan mendahului teman-temannya.


***


Sesampainya di kelas, Meira menatap para teman-temannya. Suasana kelas yang awalnya ramai menjadi sunyi setelah kedatangannya, semua menatap takut pada Meira sedangkan yang di tatap mengangkat sebelah alisnya.


"Kenapa pada diam?" Tanya Meira.


Hening


"Biasa aja kali, gue ga makan orang. Btw tutup mulut Lo takutnya entar kemasukan lalat," ujar Meira pada Bian.


Bian yang di tegur seperti itu hanya bisa menampilkan watados, sembari mengusap tengkuknya.


Meira berjalan kearah bangku paling depan, menaruh tas dan kemudia duduk disamping seorang nerd, yang selalu di kucilkan di dalam kelasnya.

__ADS_1


"Eh Mei, lo kenapa duduk disana?" Tanya Salsa.


Meira yang ditanya pun mengangkat sebelah alisnya, "emangnya kenapa? Sama aja kan?" Ujarnya.


"Em, kan dia cupu dan lagi emangnya lo ga takut ketularan virusnya juga? Iyuh," Ejek Salsa.


Sedangkan gadis yang biasa panggil cupu itu hanya bisa menundukkan kepalanya, sudah biasa ia mendapatkan cacian seperti tadi dari teman-temannya, "emangnya kenapa kalau dia cupu? Toh dia aja engga keberatan gue duduk disini iya kan?" Tanya Meira yang di balas anggukan.


"Tapi kan Mei," ujar Salsa yang dipotong oleh Bagus, "udah deh Sal, lebih baik lo diem ga usah bacot pagi-pagi," titahnya.


Suasana kelas kembali hening, semua murid kembali ke aktivitas mereka masing-masing. Hingga jam pertama pun di mulai, bagi kelas XI-MIPA 2 hari Rabu adalah hari yang paling mereka tidak sukai, di jam pertama hingga jam ke Empat tertulis di jadwal kalau matematika peminatan, di jam ke lima sampai istirahat ada fisika dan di jam ke tujuh sampai pulang ada kimia dimana semua guru pengajarnya di kenal galak.


"Selamat pagi semuanya, mari kita koreksi tugas kemarin dan kerjakan tugas selanjutnya lalu kita koreksi setelah itu siapkan selembar kertas kita ulangan harian sekarang," ujar pak Bondan.


Semua murid yang mendengar itu menatap pak Bondan tak percaya, padahal baru Minggu lalu ulangan sekarang ulangan lagi? Yang benar saja.


"Pak yang benar saja? Masa baru Minggu lalu ulangan sekarang ulangan lagi?" Ujar Putra yang mendapatkan anggukan dari teman-temannya.


"Loh, memangnya kenapa? Kan saya mau mengetes kemampuan anak didik saya, dan juga ingat disini saya gurunya jadi terserah saya," ujarnya.


"Ga bisa gitu dong pak, bapak tidak berperi kemuridan," ujar Bagus.


"Sudah-sudah siapkan selembar kertas kita mulai sekarang, hanya dua soal," ujarnya membuat beberapa murid berdecak kesal.


"Dua soal tapi cabangnya banyak, dasar udah tua kenapa ga pensiun aja sih," batin Bagus yang kelewat kesal dengan gurunya itu.


"Waktu mengerjakan 45 menit, dan jangan menyontek semua buku, handphone di kumpulkan di depan," ujar pak Bondan sembari menuliskan soalnya membuat murid lain semakin menatap kesal pak Bondan.


25 menit berjalan, banyak murid kelas XI-MIPA 2 yang masih dibuat pusing oleh soal itu. Suara kursi membuat mereka semua mengalihkan pandangannya, menatap kearah salah satu temannya. Meira, ya dia dapat menyelesaikan dua soal dalam 25 menit, kalau mungkin Meira dulu akan melakukan berbagai cara supaya dapat mencontek sekarang tidak lagi, karena sekarang yang menempati raganya adalah Alle seseorang murid berprestasi.


"Apakah saya sudah boleh keluar?" Tanya Meira.


"Sebentar saya cek terlebih dahulu," ujar pak Bondan sembari menatap pekerjaan Meira, 5 menit berlalu pak Bondan hanya menggelengkan kepalanya sembari menatap tak percaya kepada Meira,"bagaimana bisa jawab mu benar semua? Kamu tidak menyontek kan Meira?" Tanyanya lagi yang dibalas gelengan.


"Ya sudah kamu boleh keluar, ingat jangan membolos," titah pak Bondan.


Teman-temannya menatap tak percaya kepada Meira, apakah satu bulan tidak masuk sekolah membuatnya seketika menjadi pintar? Itulah yang ada di pikiran teman-temannya.


***


Meira berjalan di koridor yang sunyi di temani earphone yang terpasang indah di telinganya, yang memutar lagu ziva-Pilihan yang terbaik, sesekali Meira ikut bernyanyi.


Di lapangan terdapat sepasang mata yang menatap kearah Meira dengan senyum tipis, akan tetapi senyum itu seketika memudar ketika mengingat bahwa Meira telah berubah sekarang, ia rindu dengan Meira yang dulu Meira yang selalu ada disampingnya, dimana ada dia pasti disana ada Meira tetapi semua itu berubah Meira sudah tak ingin bahkan jijik jika ada dia disampingnya, mengingat itu membuat hatinya sakit.


"Andai waktu bisa di putar kembali, Abang rindu kamu Mei," batin Alister.


Ya, sendari tadi Alister lah yang menatap kearah Meira. Sekelebat ingatan tiba-tiba muncul, kenangan dirinya bersama dengan kedua adiknya dulu ia selalu berjanji akan menjaga semua adiknya.


Sedangkan Meira sendiri, karena terlalu fokus dengan ponsel hingga tak terasa langkahnya membawa ia ke lapangan, tempat yang membuat ia di permalukan dan di caci maki banyak orang. Hingga sebuah bola memantul dengan cepat dan mengarah kearah Meira, Meira yang belum siap pun tidak bisa mengelak hingga akhirnya...


Bruk


"Meira," teriak Alister yang panik melihat adiknya jatuh pingsan.


Baru saja ia ingin melangkahkan kakinya menuju ke kerumunan orang-orang, tetapi langkahnya terhenti ketika melihat seseorang membopong tubuh sang adiknya itu.

__ADS_1


Ia hanya bisa mengikuti langkah orang itu menuju UKS, sesampainya di UKS ia menatap orang itu seperti khawatir terhadap sang adik, ia hanya bisa menghela nafas dan berjalan kearah kantin untuk membeli bubur dan minum untuk sang adik.


Sedangkan di ruang UKS sendiri, seorang remaja pria menatap wajah pucat itu, sudah sendari dulu ia ingin mendekati gadis kecil didepannya akan tetapi waktunya belum tepat. Setelah dia mendapat kabar bahwa gadisnya Kembali sekolah dan dikabarkan hilang ingatan, dia akan berjuang untuk mendapatkan gadis kecil itu lagi.


"Bangun Mei, jangan buat gue khawatir, gue tinggal sebentar buat beliin lo makanan ya Mei, tunggu sini," gumamnya sembari memegang tangan Meira.


Setelah mengatakan itu ia beranjak dari duduknya menuju ke kantin untuk membeli sesuatu untuk sang gadisnya.


Eunghhh


Akhirnya Meira pun sadar dari pingsannya, berusaha bangun akan tetapi ia merasakan pusing dan juga ia menatap sekelilingnya yang sepi hingga akhirnya suara pintu terbuka menampilkan sosok yang selama ini selalu menatapnya sinis.


"Sudah enakan Mei?" Tanyanya.


"Apa urusannya sama anda?" Bukannya menjawab, Meira kembali bertanya kepada orang itu.


Alister hanya bisa menghela nafas dan tersenyum kecut ia menyadari bahwa sang adik pasti akan membenci dirinya setelah kejadian dilapangkan satu bulan kemarin, "Abang kesini cuma ingin memastikan adik kecil abang baik-baik saja atau tidak aja," ujarnya.


"Maaf siapa yang anda maksud adik kecil? Mungkin salah bankar, disini tidak ada adik kecil anda tuan Alister terhormat," Sinisnya.


Meira pun berusaha bangkit dan turun dari bankar, membuat Alister yang menatap itu berjalan mendekat ingin membantu sang adik, "kamu belum sehat Mei, jangan banyak gerak dulu," ujarnya.


"Bukan urusan anda tuan Alister," ucapnya sembari berjalan keluar.


Lagi-lagi ketika ia ingin melangkahkan kakinya, ada seseorang yang menabraknya membuat ia harus jatuh terduduk sembari menatap kesal orang itu.


"Bisa ga sih kalau jalan tuh pakai mata," keslalnya.


Bukannya merasa bersalah, orang itu hanya tersenyum menatap Meira sembari tersenyum, "Lo lagi, bisa ga sih kalau jalan tuh liat-liat keknya hobi banget nabrak orang," ujarnya sembari mencoba berdiri.


Aleandra Galaskay, menatap Meira dan berjongkok di depan Meira sembari mengulurkan tangannya, "sini gue bantu atau kalau perlu gue gendong sampai ke kelas?" Tanyanya.


"Ga perlu, gue bisa sendiri," ujarnya.


Tetapi ini adalah Andra seseorang keras kepala yang tak suka penolakan, baru saja satu langkah Meira merasakan tubuhnya melayang dan ternyata benar Andralah pelakunya.


"Aaa, lepasin ga?" Pekiknya.


"Sttt, diem Mei jangan berisik nanti tenggorokan lo sakit," ujarnya.


"Masa bodo, yang penting turunin gue sekarang bangsat," sentaknya.


"Udah diem aja, nanti gue turunin di depan kelas atau perlu kita ke ruangan gue aja?" Ujarnya yang mendapatkan geplakan dari Meira.


Andra yang mendapat itu hanya tersenyum, "gue senang bisa liat Lo dari deket Mei, walaupun gue harus buat lo jatuh dulu," batin Andra.


Banyak siswi SMA yang memekik melihat pemandangan tersebut, seorang ketua osis yang di kenal cuek menggendong seorang perempuan cantik yang mendapat julukan Queen bullying.


"Aaa Mak, anak mu juga mau kaya Meira"


"Aduh, ka Andra dede sakit tolong anter Dede ke uks,"


"Ka Meira tukeran posisi yuk,"


"Ka Andra aku juga mau di gendong kaya ka Meira,"

__ADS_1


Dan masih banyak lagi pekikan dari murid lainnya. Andra yang mendengar itupun hanya bisa menatap datar sedangkan Meira merasa malu di perlakukan seperti itu, hingga akhirnya ia menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.


__ADS_2