Transmigrasi Mendadak Kaya

Transmigrasi Mendadak Kaya
TMK 18


__ADS_3

Sebuah diskotik mewah, seorang gadis dengan baju yang sangat minim. Baju diatas paha dengan pundak yang terekspos menampilkan pundak yang putih mulus. Banyak pasang mata yang menatapnya dengan tatapan seperti ingin memakannya, sudah hampir 1 jam lamanya ia duduk di salah satu sofa bar.


"Tambah lagi."


Sang bar tender pun menambahkan sesuai yang ia minta, tanpa di sadari bahwa di ujung sana ada yang tersenyum miring.


"Satu"


"Dua"


"Ti-tiga"


Tepat pada saat hitungan ke tiga, gadis itu merasakan panas pada tubuhnya. Sang gadis yang merasakan panas ada tubuhnya pun, mulai bangkit dan berjalan sempoyongan sesekali ia terjatuh namun segera bangkit.


Saat sudah sampai di pintu samping mobil ia terjatuh, diam-diam seseorang mengikutinya orang itu melihat sekeliling.


Sepi


"Mau kemana?"


"Mau pulang om."


"Ayo saya bantu nganterin pulang."


Gadis itupun hanya menganggu kan kepalanya, ia tak mampu menjawab pertanyaan itu karena ia ini cepat" sampai rumah, lelaki hidung belang tersebut senyum miring sembari membantu gadis itu masuk ke kursi samping pengemudi.


Selama di perjalanan sang lelaki memutarkan stirnya ke sebuah hotel bintang lima yang sebelumnya sudah ia booking. Dengan susah payah ia membopong tubuh mungil itu, setelah mengambil kunci dia pun membopong tubuh mungil itu dan merebahkannya ke kasur sembari tersenyum menyeringai.


"Tak sia-sia aku menuruti kata-katanya selain mendapatkan uang aku juga mendapatkan gadis cantik yang mempunyai body mulus."


Dan kegiatan yang tak di inginkan pun terjadi hingga menjelang pagi hari. Setelah selesai ia pun pergi dari sana, sebelum keluar dari hotel ia menelfon seseorang mengatakan bahwa tugasnya sudah selesai.


***


Seperti kegiatannya setiap hari bangun pagi, masak, beres-beres rumah setelah itu ia baru bisa siap-siap untuk pergi ke sekolah. Kali ini ia memasak nasi goreng dengan telur mata sapi, ia juga membawa bekal karena hari ini ia akan lembur di cafe.


"Semuanya sudah siap, waktunya sekarang aku berangkat."


Ia pun bersenandung kecil, ketika ia sampai di ruang tengah tak sengaja ia berpapasan dengan Cintya yang bertepatan saat itu juga ingin ke dapur. Meira tersenyum menyapa sembari membukukan badannya, "mari nya," ujarnya.


Sedangkan Cintya hanya bisa menghela nafasnya ketika melihat putrinya mulai menjaga jarak dengannya, bahkan ia sampai bangun pagi hanya sekedar ingin melihat putrinya dan supaya ia bisa masak dengannya namun, lagi-lagi ia telat.


Pagi hari pasti Meira akan berangkat ketika orang rumah belum bangun, dan malam harinya ia akan pulang saat semua orang rumah sudah tertidur. Bahkan kalaupun weekend dia hanya akan menghabiskan waktu di kamar setelah semua pekerjaannya selesai, bukan ia tak mau keluar akan tetapi dulu ia pernah di permalukan di depan teman-teman arisan sang mamanya.


Cintya berbalik badan menatap punggung rapuh yang semakin menjauh itu, ingin sekali ia memutar kembali waktu, ia ingin bisa mengikuti tumbuh kembang sang putrinya akan tetapi nasi sudah menjadi bubur.


"Mama harap mama bisa meluk kamu lagi Mei, mama tahu kalau harapan mama itu cuma angan-angan tapi mama sangat berharap," batin seorang ibu.

__ADS_1


***


Meira berjalan ke depan gang untuk mencari angkutan umum, sudah hampir 20 menit ia menunggu angkutan umum tetapi tidak ada satupun yang lewat. Hingga sebuah deru mesin terdengar di telinganya, suara itu berhenti di depannya membuat Meira mau tak mau mendongakkan kepalanya.


Di sana, diatas motor sportnya Andre sudah bertengger manis dengan helm yang ia lepas dan senyuman cerah yang menghiasi wajahnya.


"Selamat pagi tuan putri, udah lama ya nunggu angkotnya?"


"Iya, mumpung kamu udah disini yaudah aku nebeng ya soalnya bentar lagi udah masuk."


"Dengan senang hati tuan putri," jawab Andre lalu menyerahkan satu helm lagi.


Meira pun naik, untuk mengantisipasi terbangnya rok Meira Andre menaruh jaketnya di paha Meira. Ia tak ingin paha Meira menjadi tontonan banyak orang.


Tak membutuhkan waktu lama akhirnya mereka sampai di sebuah bangunan menjuntai, beberapa siswa sudah berbondong-bondong masuk halaman sekolah.


Banyak pasang mata yang menatap kearah mereka, Meira pun turun dari motor melepas helm setelahnya ia membenarkan kembali tatanan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Makasih sudah mau kasih tumpangan."


"Iya sama-sama."


Andre pun segera turun dan mulai menyusuri koridor bersama Meira dengan tangan yang saling bertautan. Mereka pun sampai di kelas dan duduk di kursi masing-masing.


***


Tet


Tet


Tet


Bunyi bel sudah berdengung di seluruh kelas, semua murid berbondong-bondong untuk segera mengisi perutnya sebelum kembali bertempur dengan mata pelajaran selanjutnya. Namun, lain dengan satu orang yang masih sibuk membereskan mejanya.


"Mei, ke kantin bareng kita aja," tawar Jeje.


"Em, ga usah deh Je kalian ke kantin aja," tolaknya secara halus, "soalnya aku bawa bekal juga," lanjutnya.


"Ouh ya udah kita duluan ya Mei, kalau butuh sesuatu chat kita aja," ucap Angel yang dibalas anggukan kepala.


Jeje dkk pun pergi meninggalkan kelas, setelah di rasa sudah masuk ke dalam tas semua Meira pun bangkit sembari membawa bekalnya. Niatnya ia akan makan bekalnya itu di taman sekolah yang Asri.


Meira berjalan menyelusuri koridor dengan langkah pelan sembari tangan yang membawa bekal, sesampainya di taman ia pun segera mencari tempat yang nyaman dan ya akhirnya ia menemukan tempat itu di bawah rindangnya pohon.


Sesuap, dua suap, ia menikmati bekalnya suasana hanya hening hingga bekalnya habis. Ia melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya, masih ada 15 menit sebelum bel *** di mulai.


"Uh, kenyangnya," ujarnya sembari menyandarkan tubuhnya di kursi.

__ADS_1


Tiba-tiba saja ponselnya bergetar, sebuah pesan singkat masuk di ponselnya.


Unknown


Waktu hidup mu tinggal 3 bulan lagi!


Berhati-hatilah sebab malaikat mautmu akan menjemput


Meira yang membacanya pun membulatkan matanya, dirinya terkejut akan isi pesan itu. Terlalu terbawa suasana dari pesan itu ia tak sadar kalau sendari tadi pergerakannya selalu di awasi oleh orang berbaju hitam yang berdiri di roptoof sembari tersenyum menyeringai.


'permainan akan segera di mulai gadis manis, berhati-hatilah'


Setelah mengatakan itu semua, ia segera pergi dari sana sebelum ada yang melihatnya.


***


Di sebuah ruangan gelap, seorang pria paruh baya duduk membelakangi pintu dengan kaki yang diangkat di atas meja. Sembari memainkan pisau lipat di tangannya, ia menyeringai.


"Ah sialan tangan ku rasanya gatal jika kelamaan menunda itu semua."


"Roni kemari dalam hitungan 30 detik!"


Teriaknya memangil salah satu anak buahnya melalui telefon kantor, anak buah yang ia panggil pun datang dengan nafas yang memburu, berlari dari lantai 1 untuk menuju tempat sang pimpinan.


"I-iya bos."


"Siapkan mangsa, tangaku rasanya gatal sekali tidak mendapatkan mangsa selama satu Minggu ini."


"Ba-baik bos, apa ada lagi?"


"Ah tidak kau bisa pergi sekarang," usirnya akan tetapi baru satu langkah Roni melangkahkan kakinya sang bos sudah mencegahnya, "eh, saya ada tugas untukmu. Cepat mandikan dan bereskan tempat Dila pastikan tempatnya bersih dan nyaman digunakan!" Lanjutnya yang membuat Roni menelan ludah susah payah dan pamit undur diri.


Dila nama untuk harimau betina yang sangat ganas, tubuhnya yang besar membuat siapa saja yang memandikan atau membersihkan kandangnya slalu mendapatkan serangan gigitan darinya.


'ya Tuhan semoga hamba bisa selamat dalam melewati ujian mu ini.


***


Waktu pulang sekolah banyak siswa-siswi yang berbondong-bondong keluar dari lingkungan sekolah. Tak ayal 3 gadis itu berjalan beriringan menuju gerbang, "guys gue duluan ya soalnya udah di jemput," ujar Jeje.


"Oke hati-hati," jawab Meira dan Angel.


Tak berselang lama, sebuah mobil BMW datang dan berhenti tepat di depan Meira dan Angel, "Mei gue duluan ya, lo mau nebeng sampai cafe ga?" Tawarnya yang di balas gelengan kepala.


"Oke gue duluan ya, hati-hati kalau ada apa-apa kabari gue."


Meira pun mulai berjalan dan akan menyebrang, sebelum menyebrang ia melihat posisi jalan yang akan ia lalui, sepi, baru setelahnya ia mulai menyebrang.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba saja sebuah mobil sport Putih datang dari arah timur dengan kecepatan tinggi membuat tubuh mungil itu terpelanting jauh, beberapa warga mulai berdatangan dan bergerombol guna melihat korbannya.


__ADS_2