
Alle POV
Sudah hampir enam bulan aku nemempati raga Meira, semua masih sama tak ada yang berubah dan tak ayal aku pun masih mendapatkan kekerasan dari kedua orangtua Meira.
Namun, ada yang mengganjal beberapa kali aku sering melihat tuan Bagas menatap sendu kearah ku, raut wajahnya seolah-olah menggambarkan dia merindukan putri kecilnya. Bahkan tak jarang tuan Bagas memberikan perhatiannya walaupun raut wajahnya tetap datar, seperti satu bulan yang lalu.
Flashback on
Hari itu aku tetap melaksanakan aktivitas ku sebagai pembantu di rumahku sendiri entahlah beberapa hari ini aku merasa diriku sedikit kurang vit, sewaktu membersihkan meja tiba-tiba saja kepalaku terasa pusing yang sangat berat.
"Shhh, astagfirullah Ya Allah sebentar aja tinggal sedikit lagi ya Allah."
Tiba-tiba saja tuan Bagas datang sembari menyodorkan segelas air putih dan beberapa obat, "kalau sakit istirahat jangan dipaksa," ujarnya dengan raut wajah yang datar tanpa ekspresi itupun.
"Terimakasih tuan," balas ku.
Setelah itu beliau pergi beranjak, entahlah walaupun hanya perhatian seperti itu membuat ku menghangat, itu artinya secara tidak langsung tuan Bagas memperhatikan ku secara diam-diam.
Flashback off
Libur sekolah telah tiba, dan aku berencana akan pergi ke kota dimana aku dilahirkan, ingin bertemu dengan bunda dan Abang yang sangat aku rindukan. Ah, memikirkan itu membuatku tak sabar untuk segera berjumpa dengan mereka. Ah iya, aku sama sekali belum bercerita kepada kalian kalau dua bulan yang lalu pertemuan tak sengaja ku dengan Abang yang paling aku sayangi membuatku bersemangat untuk menjalani semuanya.
Flashback on
Sore ini suasana cafe benar-benar ramai dari hari sebelumnya, membuat seluruh pegawai keteteran dengan pesanan yang tidak pernah habis. Bahkan yang biasanya aku berjaga di kasir pun harus turun tangan membantu yang di dapur dan bagian kasir diambil alih oleh pemilik cafe.
"Permisi ini pesanannya silahkan dinikmati," ujarku.
"Terimakasih mba," jawabnya. Aku pun beranjak dari sana dengan seulas senyuman.
Sewaktu ingin kembali ke dapur tak sengaja aku bertabrakan dengan seorang pelanggan pria, pelanggan yang awalnya menundukkan kepalanya pun mengangkat dan betapa terkejutnya aku ketika melihat siapa orang yang aku tabrak.
Deg
"Abang Dikta," lirihku dapat kulihat bahwa lawan ku bicara terkejut.
"Maaf, kamu kenal saya?" Tanyanya.
__ADS_1
"Alle rindu abang Dikta," gumamku yang ternyata di dengar olehnya.
"Hallo kamu kenal saya?" Tanyanya sekali lagi sembari melambaikan tangan didepan wajahku yang membuatku tersadar.
"Ah maaf, mungkin saya salah orang," ujar ku.
"Ouh baiklah, saya minta maaf karna tadi sudah menabrak kamu," ujarnya yang ku balas senyuman.
Ya yang tak sengaja bertabrakan denganku tadi adalah Dikta Narendra abang yang paling aku sayangi, wajahnya banyak berubah, bang Dikta yang sekarang sangat minim ekspresi tubuhnya pun terlihat semakin kurus walaupun tak mengurangi kadar ketampanannya.
Ku pandangi terus punggung itu sampai menghilang di balik tingginya tembok, "Alle kangen Abang, Alle pengen peluk Abang," batin ku.
Flashback off
Tak menyangka bahwa awal pertemuan kita, Tuhan kembali mempertemukan ku dan bang Dikta, dari pertemuan-pertemuan itu kita banyak berbincang-bincang, aku meminta kepada Abang untuk tidak bercerita apapun kepada bunda.
Bang Dikta bercerita bagaimana bunda setelah kepergian ku yang mendadak, setelah kepergian ku bunda jatuh sakit yang mengakibatkan beliau harus opname di rumah sakit selama beberapa Minggu. Bahkan bang Dikta tak ayal sering melihat bunda melamun sembari memegang foto ku, masuk ke kamar ku menangis dan tidur di sana hanya untuk mengobati rindunya kepada ku.
Beberapa kali bang Dikta mengajak bunda untuk pindah rumah, akan tetapi bunda tidak mau karna sebuah alasan yang membuat bang Dikta tak enak hati jika membahas akan pindah rumah. "Bunda gamau pindah kalau abang mau pindah gapapa, bunda disini aja bunda nunggu adek mu pasti dia akan menemui bunda disini." Ucapan bunda itu seolah-olah bahwa bunda yakin aku akan datang lagi.
Setelah semuanya siap, aku pun beranjak dari kamar untuk pergi ke dapur membuat bekal untuk ku dan bang Dikta. Sewaktu di dapur aku berjumpa dengan Bi Imas yang kelihatan raut wajahnya bahagia.
"Iya nih non, anak bibi yang sekolah di luar negri udah lulus dan akan menetap di Jakarta," ucapnya.
"Wah selamat ya bi," ucap ku sembari memberikan pelukan singkat akan tetapi tiba-tiba raut wajahnya yang tadinya cerita perlahan berubah.
"Tapi non mungkin ini hari terakhir bibi kerja disini, anak bibi ngelarang bibi kerja lagi dan pengen bibi kumpul sama mereka," katanya.
"Terus kenapa bibi sedih?" Tanya ku.
"Kalau bibi pergi nanti non Meira sama siapa? Non Meira ikut bibi sama anak bibi ajak bagaimana non?" Tawarnya yang ku balas senyuman.
"Bi, kalau Meira ikut bibi nanti mama, papa, bang Alister sama siapa? Meira gamau ninggalin mereka bi," jawab ku.
"Tapi bibi ga tega liat non disini, bibi ga kuat tiap kali nyonya sama tuan slalu ngelakuin kekerasan sama non Meira," ucapnya aku pun langsung memeluknya sangat erat.
Bahkan disaat keluarga slalu menyiksaku Tuhan dengan baik hati mengirimkan seseorang yang slalu sayang keada diriku, aku slalu berdoa semoga Tuhan slalu memberi kebahagiaan buat Bi Imas dan keluarganya.
__ADS_1
"Udah bibi tenang aja Meira baik-baik aja kok, nanti kapan-kapan Meira main ke rumah bibi," ujar ku sembari memberikan senyum yang paling manis.
"Janji ya, non Meira harus slalu bahagia bibi bakal kangen banget sama non Meira," ucapnya sembari menyodorkan jari kelingking yang ku balas juga.
"Janji."
Bi Imas pun kembali memeluk ku kali ini tak kalah eratnya, seolah beliau menyalurkan semangat untuk ku. Kami pun melanjutkan kegiatan memasak kami, setelah itu menata masakan diatas meja.
***
Jam menunjukkan pukul 09.00 WIB aku sudah siap dengan pakaian santai ku, sembari menunggu bang Dikta menjemputku. Ketika aku berjalan ke depan ternyata bang Alister sedang mencuci motor kesayangannya, terlalu asik menatap bang Alister sehingga aku tak tahu jika bang Dikta sudah berdiri di depan pagar dengan motor sport terbarunya sembari memegang helm yang aku tebak pasti itu untuk ku. Aku pun berjalan kearahnya, bang Dikta tersenyum tipis.
"Pagi sayang," sapa Abang.
"Pagi Abang, ayo Ade udah siap," jawab ku di iringi sebuah cengiran.
Bang Dikta pun mengusap lembut rambut ku, " tapi sebelum itu Ade harus pakai helmnya dulu," ujarnya sembari memakaikan helm untuk ku.
"Cantik."
"Makasih, Abang juga ganteng hehehe."
"Ayo naik, bisa ga?" Tanyanya yang ku balas anggukan kepala.
"Udah siap?"
"Udah, ayo kita let's go!"
Ternyata semua kegiatan itu tak lepas dari tatapan Alister, Alister mencengkram kuat kain kanebo yang dia bawa dia merasa cemburu dengan itu semua.
Saat dengannya Meira tak pernah bisa tersenyum selepas itu, jangankan tersenyum bersikap manja dengannya aja Meira engga seolah-olah dia iku kuman yang harus di hindari.
***
Hallo semuanya.
Maaf ya kalau nungguin lama, jangan bosan-bosan baca transmigrasi jadi kaya! Jangan lupa juga follow akun Instagram Tasya!
__ADS_1
Instagram: tsh_nssa