Transmigrasi Mendadak Kaya

Transmigrasi Mendadak Kaya
TMK 11


__ADS_3

Meira pun menoleh, "buat Lo, pasti kedinginan kan."


"Ta-tapi,"


"Sttt, udah gue ga bakal kedinginan."


"Emm, terimakasih ka...."


"Kenzo Antariksa Prananda."


"Makasih ka Anta."


"Anta?"


"Ya, kan nama kakak Kenzo Antariksa Prananda kalau di paling Kenzo udah banyak jadi aku manggil Anta aja boleh kan ka," jawabnya diakhiri cengiran.


"No problem."


Setelah percakapan singkat itu, keduanya kembali terdiam. Hingga hujan pun sedikit mereda, Meira pun berdiri baru saja satu langkah, Meira kembali menghentikan langkahnya.


"Bareng gue aja Mei," ajak Kenzo.


"Emm, engga deh ka nanti ngerepoti kakak."


"Gapapa,"


Akhirnya Meira pun menerima ajakan Kenzo untuk pulang bersama, tanpa sepengetahuan mereka sendari tadi ada sepasang mata yang menatap mereka dengan tatapan yang sudah di artikan.


25 menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di depan rumah Meira, disana ada beberapa mobil yang terjajar rapi di garasi rumahnya. Bahkan terdengar suara gelak tawa dari dalam, setelah mengucapkan terimakasih Meira pun berjalan kedalam. Hening seketika, ketika Meira sampai di ruang keluarga.


"Gimana? Dapat berapa juta? Berapa om-om yang udah lo puasin?" Sindir Andreas.


"Hahaha, pastinya banyak yang udah di puasin," jawab Mutia.


"Sangat malu-maluin keluarga Bramantyo," sinis nyonya besar Bramantyo.


Meira yang sudah sering mendapatkan cacian hanya bisa diam, "ngapain masih disini sana pergi," usir Mutia.


Meira hanya bisa menghela nafas dan berusaha berdoa semoga keluarganya segera dibukakan pintu hatinya, 'kok bisa sih Meira betah tinggal sama manusia-manusia sok benar' kenal Alle.


***

__ADS_1


Di sebuah ruangan pria paruh baya menatap bingkai foto sebuah keluarga bahagia, senyum ceria terpampang jelas disana dengan balutan baju adat jawa. Mereka melakukan sesi foto setelah acara 7 bulanan anak kembarnya, foto yang kenangannya susah untuk di ulang kembali, kalaupun terulang kembali pun tidak dengan senyum itu.


"princes papa apa kabar?"


"kamu pasti disana tumbuh menjadi gadis remaja yang sangat cantik ya Ca, papa rindu sama kamu, papa merasa gagal untuk anak-anak papa," ujar Bagas.


Bagas tidak pernah memikirkan hal ini akan terjadi oleh keluarganya, memang manusia merencanakan tetapi Tuhan sang pembuat alur.


Flasback on


Ceklek


"kok princes papa belum tidur?" tanya Bagas ketika memasuki kamar sang princes.


"mau dibacakan dongeng dulu sama papa," jawab Meira kecil.


"baiklah papa akan membacakan kalian dongen tentang kisah dongeng putri kesayangan seluruh kerajaan," ujar Bagas sembari tersenyum dan mengusap lembut kepala kedua anak kesayangannya.


Bagas terus saja berceloteh yang membuat kedua princesnya tak sadar sudah terlelap di bawah alam mimpi, akhir kisah kedua putri pun hidup bahagia bersama keluarganya.


Bagas pun berusaha bangkit dengan pelan tanpa menimbulkan suara sedikitpun, setelah berhasil bagas pun mencium kening kedua putrinya dengan penuh cinta, "selamat tidur putri papa." Setelah mencium singkat kening sang putri Bagas pun berjalan keluar kamar dan berjalan kearah ruang tamu dimana sang istri sedang duduk menonton televisi sembari menemani si sulung belajar.


"udah ma, Alister lagi belajar apa sayang?" tanya Bagas sembari duduk di depan sang anak sulung.


"liat pa, Al gambar foto kita semua bagus tak," ujar Alister kecil yang dibalas anggukan dan senyuman tulus dari Bagas.


Bagas menoleh kearah sang istri sembari tersenyum, menggenggam tanggan sang istri, bagas membayangkan apa jadinya jika ia tak bertemu dengan istrinya. Cintya wanita yang sudah menemaninya sejak ia duduk di bangku abu-abu hingga sekarang, "ma, makasih ya mungkin tanpa mama papa engga akan jadi seperti sekarang," ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"papa ngomong apa sih! Harusnya mama yang berterimakasih sama papa karena papa sudah mau jadi suami, ayah, dan imam yang baik buat keluarga kecil kita, makasih juga untuk perjuangan papa yang berusaha menyakinkan kepercayaan keluarga papa untuk mama." Jawabnya, Bagas yang mendengar itupun ikut tersenyum dan membawa sang istri ke pelukannya.


Flasback off


Bagas pun hanya bisa menghela nafas ketika sebuah memori kelam terputar kembali seperti radio rusak di fikirannya, sudah 12 tahun lamanya semenjak kepergian putri-nya Bagas masih saja terbawa bayang-bayang masa lalu yang membuat dia berfikir jika putrinya masih hidup dan ada di sampingnya.


***


Matahari malu-malu untuk menampakkan sinarnya, seorang gadis masih nyaman di balik gulungan selimut tebal dan engga untuk bangun dari mimpi indahnya itu. Hingga sebuah ketukan yang membuatnya merasa terusik waktu tidurnya.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


"Non, bangun udah siang," teriak Bi Imas.


Yang memang Alle kalau sudah tidur pasti akan seperti kebo pun tak akan bangun kalau hanya begitu, entahlah mungkin karena semalam iya terlalu capek hingga tidurnya sangat lelap. Bi Imas yang takut sang nona terlambat pun mencoba membuka pintunya, "tau begitu aku ga perlu teriak-teriak," batin Bi Imas.


Bi Imas memikirkan sesuatu agar nona mudanya itu cepat bangun tanpa ia harus membuang banyak tenaga, sebuah ide cemerlang melintas.


"Non, kebakaran non bangun-bangun," teriak Bi Imas tepat di telinga Alle, membuat sang empu terkejut tanpa membuka matanya ia berdiri dan berlari diatas kasur.


"Tolong-tolong!"


"Bi Imas tolongin Mei!"


"Bibi!"


"Huaaa, Mei gamau mati muda bi," teriaknya.


Bi Imas yang melihat itu tak bisa menahan tawanya, "hahaha non Mei lucu kalau lagi panik," tawa bi Imas meledak ketika melihat wajah panik Meira.


Meira yang tau dirinya di kerjai pun kesal dan membuka matanya, menatap sebal kearah bi Imas "ish, bibi bahagia banget buat Meira panik," kesal Meira dengan bibir yang di monyong-monyongkan.


"Hahaha habisnya non lucu kalau lagi panik,"


"Ish, dahlah mulai sekarang kita musuhan, Meira sebel sama bibi."


"Maaf atuh non, ya udah sekarang non Meira mandi dan siap-siap ke sekolah, bibi udah siapin bekal spesial buat non Meira yang penuh cinta dari bibi,"


Meira yang mendengar itupun tersenyum, dirinya seketika rindu sang bunda, yang slalu membuatkan apa yang ia mau. "Makasih ya bi, Meira sayang bibi banyak-banyak," ujarnya sembari di akhiri kecupan di wajah yang mulai keriput itu, meninggalkan bi Imas yang menatap wajahnya itu.


'Alle kangen bunda, bunda gimana kabarnya? Alle pengen balik sama bunda dan Abang, Alle kangen kalian.'


Di dalam kamar mandi yang tak terlalu besar itu Alle menatap wajahnya yang terlihat putih bersih, wajah yang menyimpan banyak sekali luka, mungkin yang orang lain lihat Meira selalu hidup enak tanpa kekurangan apapun.


Ternyata semua interaksinya bersama bi Imas di lihat oleh sepasang mata, niat hati ingin melihat apa yang membuat suara gaduh tetapi setelah mengetahuinya membuat hatinya kembali dilanda sakit dan iri melihat pemandangan itu.


***


Yuhu happy reading guys!


TBC

__ADS_1


__ADS_2