Transmigrasi Mendadak Kaya

Transmigrasi Mendadak Kaya
TMK 17


__ADS_3

Sepulang sekolah seperti biasanya Meira pergi ketempat kerjanya, di tempat kerjanya sangat ramai banyak remaja yang selalu menyempatkan diri untuk sekedar makan, berbincang-bincang dengan teman-temannya.


"Mei, boleh minta tolong ga?" Tanya sang vokalis band disana.


Meira pun menoleh dan mengangkat sebelah alisnya, "minta tolong apa ya ka?"


"Jadi gini karna gue lagi kebelet boker please tolong bantuin gue bentar buat nyanyi ya nanti hasilnya gue kasih deh," ujarnya sembari menahan sesuatu yang ingin keluar.


"Tapi kan ka, aku harus bantu-bantu di dapur."


"Udah nanti gue yang minta izin, please bantuin ya gue udah ga kuat sumpah." Teriaknya sembari berlari kearah kamar mandi.


Meira pun hanya bisa menghela nafasnya, ia pun menaruh tasnya dan berganti baju sekolahnya dengan Hoodie dan celana legging hitam di tambah rambut yang di kuncir dan menyisakan sejumlah anak rambut. Setelah berganti baju Meira pun berjalan menuju panggung, disana team Rangga sudah siap. Ya vokalis di cafe itu bernama Ranggana Putra, adik dari sang pemilik cafe.


"Maaf ya ka, Meira telat soalnya harus ganti baju dulu."


"Iya gapapa santai aja Mei."


Mereka pun mulai menghibur semua pengunjung cafe dengan beberapa lagu, tak jarang sebagian dari mereka merekam bahkan ngelive ribuan orang menonton Meira dan terpesona dengan suaranya.


Rangga yang melihat semakin banyak pelanggan yang datang pun tersenyum miring, ternyata kakaknya tidak salah mengangkat Meira untuk bekerja disana bisa jadi penggantinya ketika ia terpepet suatu hal.


Meira yang bernyanyi sesekali menatap sang gitaris dengan tersenyum, sedangkan sang lawan tiba-tiba salting sendiri mendapatkan senyum dari Meira.


'anjir senyumnya manis banget' teriak batin Deon.


Tak hanya Deon, sebagian dari pengunjung cowo pun berteriak histeris ketika Meira melempar senyuman kearah mereka.


'mama anak mu jatuh cinta sama cewe!'


'pen bawa pulang deh rasanya'


'ga sia-sia gue jauh-jauh kesini cuma numpang WiFi aja'


'gua aja yang cewe suka sama senyumannya apalagi yang cowo'


'wah gawat cowo gue bisa-bisa suka sama tuh vokalisnya'


"Mba vokalis aku padamu!" Teriak salah seorang pengunjung.


Membuat semua pasang mata menatapnya, akan tetapi ada satu pasang mata yang membuat ia meringis karna tatapannya.


Dari tatapan itu seolah mengatakan bahwa, 'hati-hati pulang tinggal nama' membuatnya menciut.


Sewaktu mengedarkan pandangan, Meira menatap kearah sudut ruangan seolah ada saya tarik tersendiri disana. Dan benar, ternyata sendari tadi Andre melihat ia menyanyikan berbagai jenis lagu, ia pun tersenyum dan di balas senyuman juga oleh Andre.


"Terimakasih, mungkin itu saja persembahan dari saya mohon maaf apabila ada salah nada."


Saat akan turun dari panggung Meira, Rangga yang melihat itu segera berlari dan menyanyikan sebuah lagu dengan menggandeng tangan Meira.


Teman hidupku ~Tulus


Di dekatnya aku lebih tenang


Bersamanya jalan lebih terang


Menarik Meira untuk duduk kembali, dengan tangan Meira yang ia taruh di pahanya sesekali mengusapnya, pengunjung yang melihat adegan romantis itupun berteriak histeris.

__ADS_1


Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku


Berdua kita hadapi dunia


Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju


Bersama arungi derasnya waktu


Sedangkan Meira yang di perlakukan seperti itu tiba-tiba saja wajahnya memanas, ia berandai jika Rangga adalah Fabio pasti ia akan menjadi seperti princes dari kerajaan.


Kau milikku ku milikmu


Kau milikku ku milikmu


Di dekatnya aku lebih tenang


Bersamanya jalan lebih terang


Di bait selanjutnya Meira pun ikut bernyanyi bersama dengan Rangga, mata mereka bertemu, Rangga menatap netra coklat milik Meira netra yang banyak memikul banyak beban.


Ranggana menyadari akan perasaannya ketika melihat Meira pertama kali, bahkan tak jarang ia selalu membawakan sebuah lagu khusus untuk Meira.


Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku


Berdua kita hadapi dunia


Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju


Bersama arungi derasnya waktu


Banyak cobaan untuk kisah cinta kita


Jangan cepat menyerah


Kau punya aku ku punya kamu selamanya kan begitu


Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku


Berdua kita hadapi dunia


Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju


Bersama arungi derasnya waktu


Kau milikku ku milikmu


Kau jiwa yang selalu aku puja


Lagu pun berakhir di ujung sana ada seseorang yang mati-matian menahan amarahnya yang bisa jadi sewaktu-waktu meledak, ia tidak suka miliknya di pegang hanya ia saja yang boleh memegang tangan mulus itu.


***


Setelah selesai Meira izin kebelakang untuk kembali bekerja, ia tak biasa di perlakukan selembut itu bahkan dari keluarganya sekali pun.


"Hufh."


Entah ke berapa kali Meira menghela nafasnya, dengan sebuah nampan berisikan sebuah pesanan dari salah satu pelanggan ia pun berjalan mengantarkan pesanan tersebut.

__ADS_1


Semakin malam pengunjung semakin banyak yang berdatangan membuat beberapa karyawan keteteran dengan itu semua. Bahkan karyawan yang seharusnya jam sift-nya sudah selesai harus tetap tinggal di cafe untuk membantu di sana karena banyaknya pengunjung cafe hari ini.


***


Di sebuah ruangan bernuansa hitam, dengan sebuah kepala rusa yang bertengger manis di dinding dan juga bau anyir dari ruangan tersebut menambah suasana disana semakin mencengkram.


"Bagaimana apakah kalian sudah menemukannya?"


"Sudah bos, dan kita juga sudah mengarahkan beberapa anak buah untuk menyamar sebagai pembantu di sana."


"Bagus Kita harus bisa rebut perusahaan B'crop secepatnya dan kita buat mereka semua menderita." Ujar seseorang sembari tersenyum miring.


Sedangkan sang lawan bicara hanya bisa meringis ketika melihat senyum devil dari sang ketua, sang ketua pun bangkit dan berjalan menuju ke arah koleksi pedang, samurai, pistol dan bahkan ada beberapa botol racun juga di sana.


"Sebentar lagi kalian akan makan-makan besar anak-anak ku, sabar kita tunggu waktu mainnya."


"Bagas Bramantyo, bersiaplah malaikat maut mu akan segera datang hahaha."


Seseorang yang di panggil ketua dan anak buahnya keluar guna mengunjungi salah satu ruangan yang biasanya digunakannya sebagai tempat eksekusi target-targetnya.


"Buka pintunya!"


Krek


Jerusi besi yang terlihat dingin dan berkarat itu terbuka nampaklah seseorang yang meringkuk di pojok ruangan dengan wajah pusat pasinya, "hahaha bagaimana hari-hari mu tuan?"


"Tolong le-lepaskan saya, sa-saya mohon tuan."


Gelak tawapun keluar dan terdengar nyaring, "apa kau bilang? Keluar? Maksud mu keluar dan masuk ke dalam mulut Lili begitu? Baiklah aku akan kabulkan jika permintaan mu seperti itu."


"Ja-jangan tuan, saya mohon bebaskan saya kasihan keluarga saya."


"Masa bodo dengan keluarga mu, darah di balas darah dan nyawa di balas nyawa."


Sang ketua pun maju sembari tangan mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku jaketnya.


Sreng


Pisau lipat itu terbuka, pisau yang di pegangannya bertuliskan 'king' dengan lilitan ular itu sudah banyak menghabiskan ratusan drum darah segar.


"Emm, sepertinya kamu lapar ya sayang?"


"Alangkah baiknya kita mulai dari mana terlebih dahulu? Bekas di pipi ini sepertinya mulai memudar, ah tidak cocok harus aku buat ulang lagi."


Ia pun mulai menari-nari dengan pisau yang menancap di pipi targetnya, menggambar sebuah bunga mawar hitam dan tulisan 'dead' sang korban hanya bisa meringis meminta ampun pun percuma, permintaannya bahkan hanya dianggap angin lalu.


"Pengawal ambilkan air perasan jeruk sepertinya darahnya tidak mau keluar."


Sang pengawal pun segera mengambil kannya, tak butuh waktu lama sang pengawal kembali dengan seember air perasan jeruk dan di serahkan ya kepada sang ketua, sang ketua pun menerima dan tersenyum miring, ia mulai mengipratkan air itu kearah luka yang baru saja ia gambar.


"Akh, pe-perih tuan am-ampun."


"Tolong bunuh saya sekarang saja tuan saya tidak kuat."


"Oh tidak semudah itu, Gery!"


Sang ketua yang sudah bosan pun meminta kepada sang pengawal untuk mengunci kembali ruangan itu dan kembali ke dalam ruangannya

__ADS_1


__ADS_2