
Perjalanan dari Jakarta ke Bandung memakan banyak waktu lamanya, hingga akhirnya kita sampai di depan sebuah bangunan yang menyimpan banyak sekali kenangan suka duka, terlihat seorang wanita paruh baya dengan hijab berwarna Sage itu sedang menyirami tanaman dengan wajah yang sudah termakan usia.
"Assalamualaikum bunda," ucap Dikta sembari menyalimi tangan sang ibunda.
"Waalaikumsalam, eh kamu udah pulang," jawab sang ibunda, "eh kamu bawa siapa ini? Cantik banget," lanjutnya.
Dikta tak langsung menjawab, melainkan membalas ucapan sang bunda dengan seulas senyuman.
"Ayo masuk-masuk, maaf ya neng rumahnya kecil berantakan," ujarnya.
"Iya gapapa Tante,"
"Duduk dulu, sebentar ya Tante buatin minum buat kamu."
"Emm, terimakasih Tante, ga usah repot-repot,"
"Udah gapapa sebentar ya, bang temennya temenin sebentar ya,"
Meira menatap sekeliling rumah itu dengan tatapan sendu, banyak sekali gang berubah dari rumah ini mulai lai dari cat hingga letak semua barang.
"Ini neng tehnya silahkan di minum, maaf ya Tante cuma punya ini," ujarnya sembari tersenyum ramah.
"Ah gapapa Tante, maaf kalau sebelumnya Meira ngerepoti Tante," jawab ku, "oh ya Tan ngomong-ngomong tadi aku ga sengaja liat figura ada foto gadis cantik itu anak Tante?" Lanjutku.
Maya pun tersenyum sendu, mengingat kembali putrinya yang 6 lalu kembali dan tidur nyenyak bersama suaminya, "iya itu anak Tante."
"Kalau boleh tau sekarang dia dimana Tan?"
"Dia pergi jauh, sangat jauh bahkan dia pergi tanpa berpamitan apapun kepada Tante, dia pergi secara tiba-tiba,"
"Em, kalau boleh tau perginya kemana? Dan apa dia anak yang bandel? Sehingga tidak berpamitan kepada Tante?"
"Dia pulang menghadap sang pencipta, bukan dia anak yang sangat baik bahkan karena kebaikannya Tuhan lebih sayang sama anak tante,"
Meira yang melihat perubahan ekspresi dari Maya pun memeluk tubuh rapuh itu, pelukan itu masih sama seperti 6 bulan lalu, hangat dan nyaman.
'maafin Alle Bun, udah buat bunda sedih.'
"Anak Tante itu namanya Allen Putri Daisha, anak yang manis, cantik, dan sangat ceria semenjak kepergiannya 6 bulan kemarin, suasana rumah yang awalnya penuh warna tiba-tiba gelap gulita semua warna itu perlahan menghilang.
Wajah yang slalu terlihat ceria itu yang membuat Tante semangat buat menghidupi keluarga, Tante banting tulang buat cari uang untuk sekolah Alle dan Dikta. Karena sifat keras kepalanya terkadang dia nekat untuk jualan online padahal Tante sudah sering ngelarang." Maya bercerita sembari tersenyum, mengingat semua kelakuan Alle yang membuatnya tersenyum.
Flashback on
__ADS_1
"Assalamualaikum bunda, anak mu yang manis ini sudah pulang loh mana red carpetnya bunda yuhu!" Teriak Alle.
"Ya Allah Alle, udah berapa kali bunda bilang ini rumah dan kalau masuk rumah jangan teriak bisa-bisa telinga bunda lepas karena kamu teriak-teriak."
"Hehehehe ampun ibunda ratu, oh iya ibunda ratu mau ke toko? Alle ikut ya bunda please."
"Udah kamu di rumah aja, pasti kamu capek baru pulang sekolah."
"Ayolah bunda, Alle mah kuat gakan pernah ngerasain apa itu capek."
Sang bunda pun menghela nafasnya dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Alle yang melihat itupun berjingkrak bahagia dan mencium pipi sang bunda.
Tak membutuhkan waktu lama, Alle sudah siap dengan baju kasualnya simple tapi tak mengurangi kadar kecantikannya. "Ayo bunda, Alle udah siap," ujarnya sembari tersenyum cantik.
"Ayo, kamu ga mau makan dulu?" Tanya sang bunda yang di balas gelengan kepala.
Merekapun berjalan keluar, berjalan beriringan menuju toko yang tak jauh dari rumah mereka. Hingga akhirnya langkah mereka terhenti di sebuah ruko bertuliskan 'DAISHA FLORES' toko yang menyediakan banyak sekali berbagai macam bunga, toko yang memiliki 3 karyawan, toko yang slalu ramai pembeli.
"Selamat datang ibu dan non Alle."
Maya pun menganggukkan kepalanya, "gimana Re toko ramai atau tidak?" Tanyanya kepada salah seorang karyawan yang bertugas di kasir.
"Lumayan Bu, tadi ada pesanan buket bunga dan juga ada paket kiriman buat non Alle,"
"Ada di belakang non,"
Alle pun bergegas menuju belakang, membuat sang bunda geleng-geleng keada bahkan tak ayal hampir setiap hari kurir paketĀ mengirimkan paket yang mengatas nama kan Allen Putri entah apa yang di beli oleh anaknya itu.
"Kamu udah makan dan shalat Re?"
"Alhamdulillah sudah Bu,"
"Temen-temen mu yang lain?"
"Sudah juga Bu, mereka Agi beristirahat di belakang,"
"Oalah ya sudah kalau begitu, saya ke atas dulu ya Re nanti kalau ada apa-apa hubungi saya,"
"Baik Bu."
Seharian ini Alle habiskan di toko bunga bersama sang ibunda, dia tinggal berdua bersama sang bunda kakak tercintanya sedang melanjutkan studinya di salah satu universitas negeri yang ada di Jakarta.
"Ah gimana ya kabar Abang? Apa aku coba telfon Abang aja kali ya,"
__ADS_1
Sambungan telefon itu terus berjalan, hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 17.45 waktunya shalat Magrib, Dikta pun mengakhiri panggilan tersebut.
Sewaktu ingin mengambil air wudhu tak sengaja ia melihat pintu kamar sang bunda yang terbuka, terdengar suara batuk yang tak henti-hentinya.
"Astagfirullah bunda, minum dulu bunda," pekik Alle.
"Makasih sayang."
"Bunda kalau capek istirahat aja, Alle gamau bunda sakit,"
"Bunda baik-baik aja sayang, bunda cuma batuk biasa."
Alle menatap sang bunda dengan mata yang berkaca-kaca, dia merasa bersalah harusnya dia yang bekerja bukan sang bunda.
"Bunda, maafin Alle kalau Alle cuma bisa ngerepotin bunda harusnya bunda duduk aja di rumah biar Alle yang cari uang buat bunda," lirihnya.
"Sttt, anak bunda ga pernah ngerepotin kok. Kan sudah seharusnya bunda yang cari nafkah buat anak-anak bunda, sekarang tugas Alle belajar biar jadi orang sukses."
"Tapi Alle gamau bunda kecapekan, Alle takut bunda,"
"Kalau bunda diem di rumah bunda yang malah ngerasa sakit semua,"
Air mata yang di tahan pun tak terbendung kan kali, air mata itu berjatuhan. Secara tiba-tiba Alle memeluk tubuh ibunya dengan erat, seolah-olah menggambarkan bahwa dia takut terjadi sesuatu pada ibunya.
"Sudah bunda baik-baik aja, sekarang Alle ambil wudhu kita shalat berjamaah dan kirim doa buat ayah," ujarnya yang dibalas anggukan kepala.
***
Tak lupa setelah menunaikan kewajiban mereka sebagai umat muslim, mereka juga mengirimkan seuntai doa untuk pahlawan mereka yang telah pergi meninggalkan orang-orang tersayangnya.
"Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, kepadamu hamba memohon dan kepada mu hamba meminta...."
Doa yang begitu besar membuat sang ibu yang mendengar pun menintihkan air matanya, semenjak kepergian sang suami semua anak-anaknya di paksa dewasa oleh waktu. Apalagi anak perempuannya, gadis kecil yang slalu bersikap manja harus kehilangan cinta pertamanya.
'lihat lah mas, anak kita sudah tumbuh menjadi gadis kuat, cantik dan dewasa bahkan aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya ia jika harus kehilangan ku suatu saat nanti'
Selesai berdoa Maya menoleh kearah Alle sembari memberikan senyum terbaiknya, dan memberikan pelukan hangat.
"Jadi anak yang berbakti kepada orang tua, tetap jadi anak yang ceria walaupun semesta slalu menguji pundak mu"
"Makasih bunda, udah mau jadi sandaran buat Alle."
"Sama-sama sayang."
__ADS_1